Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 229


__ADS_3

"Alhamdulillah Makasih banyak Nak, Emre tidak salah memilih istri dan Oma bahagia kalian bersedia" ucap Oma Ella dengan penuh rasa syukur.


Rimah lebih antusias menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur dan bahagia karena, dirinya dirinya dimanjakan oleh Emier dan keluarganya. Bahkan peraturan yang selama ini sudah ada dan turun temurun mereka jalani dan patuhi sudah dihapus dan tidak akan pernah dibuat ataupun dijalankan seperti yang telah lalu yang hanya membuat dan menyisakan tangis duka yang mendalam saja.


Paman Husain dan anak-anaknya juga sudah sering berkunjung ke istana Oma Ella padahal dulunya numpang melewati rumah itu saja mereka akan berpikir panjang terlebih dahulu.


Happy Reading...


Emir menyesap minumannya dengan penuh penghayatan seraya berkata, "Paman! Pasti tau siapa Ibu kandungku, aku mohon padamu paman untuk menjelaskan tentang beliau di hadapanku sekarang," pintanya Emier yang sangat berharap.


Emir sangat ingin mengetahui tentang siapa ibunya. Mereka berbincang-bincang disaat mereka sedang duduk santai di sore hari itu di bawah pohon cemara dan pinus yang ditemani dengan secangkir kopi khas Turki dengan kue tradisional khas Indonesia.


Paman Hussein tidak langsung menjawab pertanyaan dari keponakannya seakan-akan berfikir sejenak untuk memulai bercerita dari mana. Paman Hussein perlahan tapi pasti menghirup aroma kopi dan menikmatinya dengan penuh takzim dan penuh penghayatan.


Paman Hussein menatap ke arah pohon cemara dengan pinus saling melambaikan yang kadang daunnya berguguran diterpa angin yang berhembus.


Pak Husein mulai membuka suaranya, "Mami kamu adalah perempuan yang baik hati, periang dan suka menolong orang lain tapi mami kamu bukan orang pribumi melainkan asli Indonesia. Awalnya kepercayaan dan keyakinan papi kamu berbeda dengannya tetapi, karena kebiasaan beliau melihat kami sehingga ia mendapat hidayah dan sukarela mengikuti ajaran yang kami yakini," tuturnya Pak Husein.


Beliau menjeda beberapa saat perkataannya lalu menatap ke pohon yang mengelilingi sekitar taman itu.

__ADS_1


Pak Husein berdehem sebelum melanjutkan kembali pembicaraannya," bahkan sebelum kami seakidah kami sangat ingin tahu apa alasannya dan beliau menjawab karena aku mencintai keyakinanmu yang mencintai kedamaian dan di dalam kepercayaan kalian tidak ada namanya kasta dan golongan tertentu yang mayoritas maupun minoritas, Intensitas pertemuan mereka yang bisa dibilang setiap hari bertemu sehingga tumbuh rasa cinta dan mereka pun memutuskan untuk menjalin hubungan, walaupun diam-diam singkat cerita akhirnya mereka memutuskan untuk menikah, kalau kamu ingin lebih mengetahui dan mengenal Mami kamu datang lah ke alamat ini," jrlasnuy Pak Hussein sambil menyodorkan sebuah foto dan secarik kertas yang berisi alamat maminya Emier berada selama ini.


"Apa Oma tidak akan marah jika Aku mencari Mami paman? aku takut Oma tersinggung dan membuat Oma marah." Tampiknya Emir yang masih betah memandang daun yang berguguran tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.


"Insya Allah Oma akan mengerti dengan keadaan kamu, kalau perlu tanyakan langsung kepada Oma agar kamu juga bisa melangkah untuk memutuskan dan tahu apa yang harus kamu lakukan," balasnya Paman Husein lagi.


Emir terdiam dan membenarkan perkataan dari Paman Hussein, "Oma mengijinkan atau tidak aku tetap akan mencari Mami apapun yang terjadi nantinya," pungkasnya Emier.


"Keputusan ada di tanganmu Nak," timpalnya Paman Husein.


Pak Husein kemudian berdiri lalu yang beranjak dari tempat duduknya kemudian menepuk pundak keponakannya itu Emier sambil tersenyum.


"Oma ada di dalam kamarnya kah Paman?" tanya Emier pada Paman Saliem yang kebetulan baru saja dari kamarnya Nyonya Besar Oma Ella.


"Oma ada di dalam kamarnya dan sepertinya Oma bermain dengan anak-anak Tuan Muda," jawab Paman Salim dengan menundukkan wajahnya.


"Makasih banyak Paman," ucap Emir lalu berlari kecil ke dalam kamar Oma Ella yang masih ada beberapa meter dari tempatnya sekarang berdiri.


Paman Salim adalah kepala pelayan keluarga Oma Ella yang sudah bekerja sebelum Emre lahir. Tawa riang dari suara anak Emier membuat suasana kamar Oma menjadi ramai. Oma tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah lucu dari kedua cicitnya.

__ADS_1


Nyonya Ella sangat bersyukur karena berkat kehadiran cicitnya, hari-hari Oma Ella lebih berwarna dan bermakna. Oma Ella malah ingin hidup lebih lama lagi dan ingin melihat dan mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Emir hingga dewasa.


Harapan dan doa seorang nenek buyut yang ingin hidup lebih lama lagi demi cicitnya. Emre tersenyum bahagia karena Oma Ella bisa berbaur dengan ibu mertuanya, bahkan kemarin oma Ella belajar masak makanan khas Indonesia.


Dan yang membuat heboh seluruh isi rumah saat neneknya Zeya masak sayur tumis jengkol. Karena penasaran dengan rasa dari masakan khas tersebut yang ada hanya ifi Indonesia.


Neneknya Zeya belum menjelaskan kepada mereka, mereka sudah berlomba-lomba untuk mencoba makanan itu terutama jengkol. Awalnya mereka suka dengan ciri khasnya tetapi saat ada seseorang yang ingin buang air kecil, orang tersebut heran dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Ya Allah bau apa itu rasanya pengen muntah," ucap maid A yang menutup hidungnya.


Paman Salim sedikit dibuat juga kaget dengan apa yang terjadi pada mereka. Mereka terus mengeluh karena tiba-tiba mereka mencium baunya yang sangat menyengat dari dalam mulut pak Samil. Semua yang ada di sana langsung pengen muntah hanya mencium bau mulut mereka sendiri.


"Ya Allah baunya wuek wuek,, kamu belum sikat gigi kah Mira?" tanya Mina sambil terus menutup hidungnya.


"Maaf tadi aku ingin menyampaikan hal ini tapi kalian langsung mencoba makanannya tanpa bertanya sebelumnya," gurau ibu. Bu Mirah.


"Baru kali ini aku makan makanan yang membuat semua ingin muntah, awal makan enak sih tapi setelah makan insya Allah," ucap Pak Samil yang menyesal dengan apa yang dia lakukan.


Semua segera membersihkan diri mereka masing-masing bahkan ada yang sikat gigi berulang kali tetapi bau menyengat yang tercium dari mulut mereka belum berhenti juga hingga keesokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2