
"Siap Pak, kenapa bukan dari dulu saja untuk mengijinkan kami menikah," gurau Arman.
"Emangnya kamu punya calon istri yang pantas kamu jadikan istri, selama ini kamu hanya membawa ke rumah ini perempuan yang tidak jelas gitu," candanya Pak Hendry sambil tersenyum melihat reaksi putra pertamanya yang sudah kebelet kawin.
Mereka tertawa setelah mendengar perkataan dari Pak Hendry yang mengatakan bahwa Arman baru menemukan perempuan yang cocok dan benar.
Setelah beberapa hari, Ibu Elisha meninggalkan kediaman keluarga besar Wijayanto Kusnadi Albert Smit dan telah memutuskan untuk menetap di Villa milik suami keduanya.
Hari ini Bu Elisha kembali menginjakkan kakinya kembali ke rumah utama. Air matany tak terbendung lagi, ia harus kembali mengingat masa lalunya bersama dengan ketiga anaknya dan bersama suaminya Pak Wijayanto.
Tangis Nyonya Elisyah langsung tak terbendung lagi. Dia melihat setiap sudut rumahnya dan setiap kali itu juga dirinya terbayang dengan kebersamaannya dengan semua anak-anaknya dan cucunya.
__ADS_1
Andai Bu Elisha bisa memutar balik waktu mungkin Mama Elisabeth akan mengatur semuanya sesuai dengan kehendaknya tapi itu tidak mungkin terjadi dan sangat mustahil.
Beliau masuk ke dalam rumahnya dengan perlahan seakan-akan dirinya menyelami semua jejak kenangan dirinya bersama keluarganya yang terdahulu.
Bu Elisha tidak mungkin bisa untuk melupakan kenyataan bahwa dirinya pernah menjadi nyonya besar di kediaman utama bahkan sampai detik ini dirinya masih berstatus Nyonya besar walaupun dirinya sudah menikah dengan mantan suaminya.
Bu Elisah berjalan perlahan ke ruang utama rumahnya dan berdiri mematung menatap lukisan wajah dari suaminya Pak Wijayanto. Air matanya kembali menetes dari ujung pelupuk matanya.
"Mas, aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu selama Mama tidak ada di sini?" Lirihnya Bu Elisa dihadapan lukisan suaminya.
Semuanya kenangan indah itu berputar di kepala Bu Elisha bagaikan rekaman kaset yang terekam dengan jelas dan sangat detail. Dia pun beralih ke lukisan ke dua putrinya yang membuat air matanya tidak terbendung lagi.
__ADS_1
Bu Elisha semakin terisak jika mengingat kembali penolakan kedua putrinya untuk bersatu dengan suami pertamanya. Mereka tidak setuju karena bagi mereka semua masalah yang terjadi selama ini di dalam keluarga besar dikarenakan gara-gara Pak Hendra dan Arman.
Mama Elisyah melangkahkan kakinya ke atas tangga tapi langkahnya terhenti ketika Bebizie langsung berlari dan memanggilnya.
"Grandma!" teriak Zi anak ketiga Raditya Dinda.
Bu Elisha segera pun kembali menuruni undakan tangga dan berjalan ke arah cucu kesayangannya. Ia langsung menggendong tubuh Zidane yang semakin besar saja. Sekarang Zidane sudah berumur hampir lima tahun.
"Nenek kangen banget sama Zi," ujarnya Nyonya Elisha yang sudah menggendong cucunya itu.
"Zidane juga kangen sama Nenek, gimana kabarnya grmadma apa baik-baik saja?" tanya Zidane.
__ADS_1
"Alhamdulillah Nenek baik-baik saja, kalau Zi gimana kabarnya Apa Zi, hari ini puasa?" tanya lagi Mama Elisah yang membawa tubuh cucunya untuk duduk di kursi ruang tengah rumahnya.
"Alhamdulillah Zi juga baik dan sehat, saya juga puasa Grandma nanti habis shalat zhuhur aku baru buka puasa," jawab polos Zi.