Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 255


__ADS_3

"Hahahaha, apa kamu kira aku orang bego apa yang tidak menyadari bahwa kamu berdiri menguping apa yang kami lakukan haaaa!!" hardik Fatir yang sudah sangat marah.


Sedangkan Linda hanya jadi penonton saja dan dalam keadaan yang masih setengah te lan jang tanpa sehelai benang pun.


"Apa kamu marah! jika aku melempar anak ini?" Geramnya Fatir yang menghadap ke arah Linda.


"Sesuka hatimu saja sayang, lagian dua anaknya wanita murahan itu jadi aku sangat bersyukur jika dia mati di tanganmu!" Sarkasnya Linda.


"Mama tolong!! aku Mama! aku sangat takut, aku tidak akan membocorkan rahasia Paman sama Mama," iba Arman yang terus memohon agar dirinya dilepaskan dan tidak disiksa lagi.


"Jangan panggil aku Mama, aku ini bukan Mama kandung kamu, Mama kamu itu sudah pergi dari sini dan bahkan dia tidak pernah kasihan dan sayang sama kamu sedikitpun buktinya ia membuang kamu di panti asuhan dan menikah lagi dengan pria selingkuhannya," gertak Linda yang ingin mencuci otaknya Arman agar membenci Mama kandungnya.


"Kamu sudah sadar haaaaa, kamu itu cuma anak pungut di sini jadi jangan dik jadi tuan Muda, kamu itu hanya sampah yang dibesarkan oleh Hendr!i" bentak Pak Fatir lagi.


Arman sudah menangis tersedu-sedu dan tidak habis pikir dengan kenyataan yang baru dia dengar langsung dari mulut mamanya yang selama ini dia sudah anggap orangtuanya sendiri ternyata dia hanya anak pungut.


Arman kecil mulai marah dan berusaha untuk meraih tangan Pak Fatir dan usahanya berhasil dan langsung menarik tangan Pak Fatir lalu menggigitnya dengan sangat kuat dan kencang.


"Aaaaahhhh!!" teriak Pak Fatir yang suaranya yang melengking memenuhi ruangan Villa yang sangat besar itu.


"Aaaaaaahhh Papa!! Toooooolonggg Arman!!" Pekik Ahmad Arman.

__ADS_1


Arman lalu dilempar oleh Pak Fatir ke arah tembok dan kepala Arman langsung terbentur dengan kuat, darah segar menetes membasahi seluruh wajah Arman. Arman perlahan-lahan matanya mulai kabur dan akhirnya pingsan juga.


"Aaaaaaahhhh Papa!!" Jeritnya Arman.


Nafas Arman memburu, seakan-akan tidak ada lagi pasokan udara yang masuk ke dalam rongga hidung hingga masuk ke paru-parunya, keringat membasahi sekujur tubuhnya, bahkan baju tidurnya pun sudah basah


Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu mendinginkan panasnya tubuh Arman. lagi-lagi aku bermimpi itu dan hampir setiap malam mimpi itu selalu menghantuiku, selalu datang membayangi hidupku.


Arman mencari gelas yang biasanya berada di atas meja nakasnya, tapi tumben tidak ada apa-apa. Arman menyingkap selimutnya lalu berjalan ke arah luar. Dan perlahan menuruni undakan tangga satu demi satu. Bu Elisabeth dan Pak Ade berjalan ke arah gudang penyimpanan alat-alat atau barang-barang lama.


Banyak barang furniture atau pun lukisan dan beberapa barang-barangnya yang masih tersimpan utuh dan teratur, walaupun ada banyak sarang laba-laba dan debu di sana sini. Ada sebuah kotak kayu jati yang sudah usang bahkan hampir lapuk dimakan rayap.


Debu berterbangan dan mengenai wajahnya Pak Ade, "Huhuu," terbatuk pak Ade.


Setelah kotak kayu jati itu terbuka, tampaklah ada banyak mainan dan pakaian bayi Arman. Pak Ade mengeluarkan beberapa barang-barang yang ada.


BuElisabeth memperhatikan setiap lembar baju Kecilnya Arman. Mama Elisabeth pun meneteskan air matanya. Kemudian memeluk pakaian bayi itu, Mama Elisabeth mengingat baik pakaian itu yang dulu sewaktu Mama Elisabeth masih mengandung ke dua anak kembarnya Dia lah yang menyulam sepasang pakaian itu.


"Anakku Mama kangen nak," imbuhnya Bu Elisabeth yang kembali meneteskan air matanya.


Setelah pak Ade memeriksa semua barang bekas Arman, Mama Elisabeth sama sekali tidak menemukan barang yang bisa dia ambil sebagai bukti Kalau itu barang peninggalan anak kembarnya. Pak Ade menutup kembali penutup Kotak kayu jati itu dan ada suara benda jatuh dari penutup kotak tersebut.

__ADS_1


Mama Elisabeth yang mendengarnya langsung mencari sumber suara itu. Pak Ade pun ikut membantu mencarinya. Mereka mencari ke mana-mana benda itu dan ternyata benda itu menggelinding hingga ke bawah kolong meja.


Sudah Liam hari Arman di rawat di Rumah Sakit dan selama itu pula Mama Elisabeth tidak pulang ke Villa dan sudah hampir hampir dua Minggu Mama Elisabeth tidak bertemu dengan anaknya dari suaminya terdahulu yaitu pak Wiguna Albert Kim Said. Ada kerinduan yang membuncah di dada Mama Elisabeth Kepada ke dua putrinya sedangkan Arya dan Delia setiap hari mereka berkomunikasi walaupun hanya lewat telpon saja. Mereka sudah melepas rindu. Arya sebenarnya masih kecewa dengan sikap dan kelakuan Papa sambungnya mengingat kejadian dulu, karena pak Hendry dan anaknya lah yang menyebabkan kematian Oma Estella dan hingga oak Wiguna tertembak dan berujung koma.


Tapi Arya tidak ingin membuat Mamanya tertekan dan terbebani sehingga Arya dan Delia berusaha untuk terus mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya. Karena memendam rasa kecewanya, benci dan dendam tidak kaan membuat seseorang bisa hidup dengan tenang dan bahagia.


Arman masih mendiamkan Mama Elisabeth dan sama sekali tidak ingin berbicara dengan ibu kandungnya sendiri. Tapi Mama Elisabeth mengerti dan memberikan waktu bagi Arman untuk membiasakan dirinya hidup bersama Mama Elisabeth. Seperti itulah kehidupan, jika ada anggota baru yang datang ke dalam keluarga inti pasti ada rasa canggung, malu maupun segan dengan orang baru tersebut.


Setelah dokter melakukan pemeriksaan kepada Arman dan diputuskan kalau hari ini Arman sudah bisa pulang.


"Dokter gimana dengan hasil pemeriksaan putraku, apa sudah membaik atau gimana??" Tanya Mama Elisabeth.


"Alhamdulillah putra ibu sudah membaik dan hari ini juga sudah bisa pulang tapi obatnya harus rutin diminum, kontrol ke sini jika ada keluhan dan ini resep obat untuk ibu tebus" jelas dokter tersebut sambil menyerahkan secarik kertas resep obat.


"Makasih banyak dokter" ucap Mama Elisabeth setelah mendengar kabar tersebut.


Mama Elisabeth kemudian menghubungi nomor handphone suaminya untuk mengabarkan kabar tersebut. Mama Elisabeth mengemas seluruh barang bawaanya selama di rumah sakit. Arman dibantu oleh perawat me Atas kursi roda dan mama Elisabeth sendiri yang langsung mendorong kursi roda putra sulungnya.


"Pak Ade bisa minta tolong ambilkan kotak itu?" ucap Nyonya Elisabeth sambil menunjuk ke arah bawah meja.


"Baik Nyonya," ucap Pak Ade Hasan.

__ADS_1


__ADS_2