Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 254


__ADS_3

Nyonya Elisya mencari barang-barang peninggalan Arman sewaktu masih bayi di dalam lemarinya tapi tidak menemukan sedikitpun. Bu Elisabeth teringat dengan kepala pelayan di rumahnya yaitu Pak Ade. Bu Elisabeth berjalan ke arah dapur untuk bertemu pak Ade.


"Maaf nyonya mencari siapa?" tanya Pak Ade.


"Saya ingin berbicara dengan bapak, apa bapak ada waktu?" tanya Nyonya Elisabeth.


"Boleh," ucap singkat Pak Ade.


Mama Elisabeth dan Pak Ade berjalan ke arah ruangan tengah dan di sanalah mereka berbincang-bincang tentang masa kecil Arman hingga larut malam.


Anak itu terlahir bagai kertas kosong yang masih putih dan yang mengisi kertas itu adalah lingkungan pergaulan, lingkungan di dalam keluarganya sendiri dan larakter turunan genetik dari ke dua orang tuanya.


"Jangan pukul saya lagi Ma, Arman tidak kuat lagi, Arman mohon Mama sakit huuuuhuuuuhuu," ratapnya suara tangis kesakitan Arman tidak dihiraukan oleh mamanya.


Ruangan sempit selalu menjadi saksi teriakan dan tangis kesakitan dari Arman kecil. Sejak Arman berumur 5 tahun Arman sudah kerap kali mendapatkan perlakuan yang sangat kasar bahkan tidak berperikemanusiaan.


Hingga usianya menginjak 10 tahun. Perlakuan kasar tersebut Arman dapatkan jika sang papa pergi ke luar kota atau pun keluar negri. Entah hanya kesalahan kecil saja atau pun hanya masalah sepele bahkan jika perempuan itu habis minuman keras pasti Arman yang akan jadi sasarannya.

__ADS_1


Hidup Ahamd Arman kecil bagaikan di Neraka tapi dengan pintarnya Mamanya bersilat lidah dan menyembunyikan semua itu dari Pak Hendry. Semua orang yang berada di Villa itu di ancam oleh Linda jika ada yang buka mulut.


Arman juga sering melihat langsung Mamanya berselingkuh di depan matanya Arman dengan ber-bagai pria. Ia yang sudah tersungkur di lantai masih saja terus dipukuli hingga punggungnya berdarah dan memar. Tapi, perempuan itu sama sekali tidak menghiraukan teriakan kesakitan dan permintaan dari Arman kecil.


"Ini lah akibatnya jika kamu tidak mau mendengar semua perkataan Mama," ucap Mama Linda yang tersenyum licik ke arah Arman.


"Ampun ma, Arman janji tidak akan nakal lagi dan akan mendengar semua perkataan Mama," ucap Ahmad memelas yang menghiba belas kasihan pada mamanya sambil merayap ke arah kaki Mamanya.


"Begitu dong, kan bagus kalau kamu jadi anak yang tidak membangkang dan selalu patuh apa kata-kata Mama dan siapa suruh lahir dari rahim perempuan luknuct itu," ketusnya Bu Linda lagi yang sudah berjongkok di hadapan Arman yang masih tengkurap.


Pak Amir berlari tergopoh-gopoh kehadapan Linda selaku Nyonya besar di Villa itu, "Iya nyonya," balasnya Pak Amir yang sedari tadi menundukkan kepalanya yang tidak berani menatap langsung wajah Linda.


"Bawa anak ini untuk kamu obati dan ingat jangan sekali-kali kamu buka mulut tentang apa yang selalu aku lakukan padanya kepada tuan besar atau pun orang luar, camkan itu baik-baik!!" Ancam Linda sambil menunjuk langsung wajah Pak Amir.


Pak Amir hanya menganggukkan kepalanya dan kembali bersedih melihat kondisi Arman yang sudah merintih kesakitan.


"Tuan muda baik-baik saja kan? Tuan muda yang sabar yah," lirihnya Pak Amir sambil menggendong tubuh kecil Arman.

__ADS_1


Lima tahun bukan waktu yang singkat, selama 5 tahun lamanya Arman sering kali mendapatkan perlakuan seperti itu. Hingga suatu hari Arman tanpa sengaja melihat mamanya bermain kuda-kudaan dengan pria yang selama ini menjadi anak buah papanya.


Arman meneteskan air matanya karena merasa kasihan dengan Papanya yang siang malam berkerja untuk mencari uang sedangkan mamanya hanya menghamburkan uang Papanya dengan berfoya-foya di Bar.


Memberikan uang kepada selingkuhannya hingga bepergian ke luar negeri bersama kekasih gelapnya. Dan waktu itu umurnya Arman kira-kira 10 tahun. Pak Hendry sedang ke luar Kota untuk mengunjungi salah satu proyek barunya, Arman menutupi mulutnya dengan tangan kecilnya agar tidak bersuara.


Tapi Arman Ingin berlari dari tempat itu saat dirinya mendengar kalau selingkuhan Mamanya bercerita akan melenyapkan nyawa Papa nya setelah mereka mengambil seluruh kekayaan Papanya.


Arman ingin berlari ke luar rumah, tapi kakinya tersandung ujung meja sehingga dia ketahuan oleh Linda dan selingkuhannya. Arman berusaha untuk melarikan diri dari sana, tapi langkahnya terhenti saat tangan besar dari Fatir selingkuhan Linda berhasil meraih kera bajunya Arman dan langsung mengangkat tubuh Arman.


"Tolong Paman jangan sakiti saya, saya tidak dengar apa-apa," rengek Arman yang tubuhnya sudah menggantung di langit-langit rumah.


"Hahahaha, apa kamu kira aku orang bego apa yang tidak menyadari bahwa kamu berdiri menguping apa yang kami lakukan haaaa!!" hardik Fatir yang sudah sangat marah.


Sedangkan Linda hanya jadi penonton saja dan dalam keadaan yang masih setengah te lan jang tanpa sehelai benang pun.


"Apa kamu marah! jika aku melempar anak ini?" Geramnya Fatir yang menghadap ke arah Linda.

__ADS_1


__ADS_2