Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 26. Lamaran Yang Sukses


__ADS_3

Alexander kembali menatap kearah Nenek Elisabeth dan berkata, "Tapi bagaimana dengan kedua orangtuanya Amanda Nenek, sebaiknya mungkin kita bertanya kepada mereka, apa mereka setuju untuk menerima lamaranku atau tidak."


"Kamu tenang saja nak kalau tentang kedua orang tuanya Amanda kamu tidak perlu merisaukannya ataupun berfikiran yang tidak-tidak, insya Allah mereka setuju dengan keputusan dan pilihan Amanda," pungkas Nenek Elisabeth yang mengerti kegelisahan dan kegundahan yang terpancar dari raut wajahnya Alexander.


Agung pun mengeluarkan sebuah kotak beludru warna merah yang berisi sepasang cincin kawin.


Agung tersenyum lalu menyerahkan kotak tersebut ke hadapan Nenek Elisabeth, Nenek Elisabeth menyambut baik pemberian dari Agung lalu membuka kotak itu yang berisi sepasang cincin.


"Amanda sini jarimu sayang, biarkan Agung menyematkan cincin tersebut sebagai tanda Kamu sudah menerima lamarannya," jelas Neneknya.


Amanda tanpa sungkan dan ragu langsung mengulurkan tangan kirinya ke depan Agung calon suaminya.


Agung mengambil satu cincin khusus untuk Amanda. Agung kemudian menyematkan cincin tersebut di jari manisnya Amanda. Begitu pun sebaliknya Agung tanpa ragu dengan semangat membara dan kebahagiaan yang meluap di dadanya meraih tangan Amanda.


Ia lalu memasukkan perlahan cincin tersebut yang sangat pas dan cocok di jari manis Amanda. Tidak seorang pun yang berada di dalam sana yang tidak ikut merasakan kebahagiaan melihat keduanya sudah resmi bertunangan dan akan segera menikah.


Mereka berbincang-bincang santai hingga larut malam. Zoya yang awalnya takut jika yang datang melamar adalah Elang walaupun Zoya tidak menampik jika Dia pun berharap jika Elang datang melamarnya sesuai dengan perkataannya tadi.

__ADS_1


Ucapan selamat pun berdatangan serta berbagai doa dihaturkan oleh semua sepupu dari Amanda. Agung pun memutuskan satu bulan ke depan mereka akan menikah di Tanah Air Indonesia.


"Amanda tolong antar Pak Alexander ke depan kasihan kalau harus kesasar tidak tahu jalan pulang," titah Keyna yang tersenyum penuh arti ke arah Amanda.


Alexander yang kebetulan sudah pamit ingin pulang ke rumahnya. Alexander sudah hampir tujuh tahun tinggal dan menetap di London Inggris setelah resmi menjadi salah satu dosen termuda di Kampus tempat Amanda kuliah di Oxford University.


Amanda tersenyum manis ke arah Kakak sepupunya itu.


"Mari Pak saya antar ke depan," ucap Amanda yang menundukkan kepalanya saking groginya.


"Makasih banyak," ucap singkat Alexander.


Amanda pun yang mengetahui jika ditatap seperti itu hanya bisa tersipu malu. Hingga mereka sudah berada di dalam garasi.


"Amanda Mas ingin meminta sesuatu Sama Kamu," tanya Agung.


"Bapak mau meminta sesuatu yang bagaimana? Amanda tidak mengerti dengan maksud dari bapak," jawabnya sambil memainkan jarinya Amanda dan kembali menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan panggil bapak terus, panggil aku Mas Agung mulai sekarang," tanpa aba-aba Agung mengangkat dagu Amanda agar pandangan mereka bertemu dan sejajar.


Amanda tersipu malu-malu saat mata mereka saling bertemu dan saling menyalami ke dalam bola mata mereka seakan-akan mereka saling menyelami rasa yang ada di dalam lubuk hati mereka.


"Mas Agung," tutur lembut Amanda yang mendayu-dayu di telinga Agung.


"Ya mulai sekarang dan detik ini kalau tidak ada orang lain Kamu panggil Mas Agung, tapi jika Kita berada di lingkungan Kampus Kamu tinggal panggil aku Pak Alexander seperti yang biasa Kamu lakukan,"jelas Agung panjang lebar.


"Baik Mas Agung," jawab Amanda.


Agung refleks mendaratkan bibirnya di atas kening Amanda yang membuat ke duanya grogi dan debaran jantung mereka semakin memompa lebih cepat sehingga telinga mereka mampu terdengar saking kuatnya jantung mereka berdetak.


Dua insan yang sama-sama adalah pengalaman pertamanya dalam mengenal cinta membuat mereka saling bertatapan dan mematung. Agung pun kembali membisikkan sesuatu ke telinga Amanda.


"Jika kelas kamu usai besok, kamu temani Mas ke rumah temannya Mas yah," suara lembut yang terlontar dari bibirnya membuat Amanda jantungnya kembali berdendang ria.


Amanda hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan pertama sekaligus menjadi kencan pertama mereka setelah resmi menjadi calon suami istri. Agung kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pulang.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Agung sebelum mobilnya melaju meninggalkan Amanda yang terdiam mematung merenungi dan mengingat saat Agung mencium keningnya.


__ADS_2