
Pricilla berusaha untuk membujuk suaminya itu. Walaupun sulit untuk membujuk dan meyakinkan kepada suaminya, tapi Cilla tetap dia lakukan agar suaminya tidak menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Kesalahan apapun yang diperbuat oleh kedua orang tua, anak tidak sepatutnya marah dan dendam kepada mereka tapi melainkan mendoakan agar beliau sadar dari kekeliruannya.
Anak tetap wajib untuk berbakti kepada kedua orang tua dalam kondisi dan keadaan apa pun itu.
"Abang bagaimana pun mereka adalah ke dua orang tua Abang, tidak sepantasnya Abang bersikap kasar dan keras terhadap mereka," jelas Cilla dengan penuh kelembutan.
Andreas hanya menatap sepintas ke arah istrinya lalu kembali menatap tajam ke arah Papinya. Bukan dia marah kepada orang tuanya, tapi sifat dan tingkah laku mereka yang memutuskan untuk menjodohkannya dengan perempuan yang tidak dia suka dan cintai.
Di dalam relung hatinya yang paling terdalam, Andreas merasakan kerinduan yang sangat kepada mereka, terutama kepada Maminya. Tetapi, rasa kecewanya berhasil menutupi kerinduannya itu.
"Maafkan Andreas mi, aku sangat merindukan Mami, tapi di sisi lain aku terlanjur kecewa dengan kenyataan jika kalian diam-diam memutuskan untuk menikahkanku dengan Laila gadis yang egois itu." Batinnya Andreas.
Pricilla sangat tahu dan mengerti dengan apa yang diputuskan oleh suaminya karena masih dalam keadaan yang marah dan tidak menerima dengan keputusan kedua orang tuanya. Rasa kecewanya menutupi kerinduannya kepada Mamanya.
Emilia terus berjalan ke arah putranya, walaupun nantinya mendapatkan penolakan beliau tetap berusaha untuk mendekati putranya itu. Dengan mengulurkan tangannya ke arah tangan putranya itu.
"Andreas putranya Mami, gimana kabarnya sayang?" tanya Emilia dengan matanya sudah berkaca-kaca menahan kerinduan pada putra sulungnya itu.
Andreas tidak bergeming sedikit pun, hanya mampu terdiam seribu bahasa. Pricilla berniat menegur ibu mertuanya, tapi takut nanti Andreas marah kepadanya sehingga dia terpaksa mengurungkan niatnya tersebut.
Pricilla menyentuh lengan suaminya agar suaminya membalas perkataan dari Maminya.
"Abang, Abang," ucapnya Cilla.
__ADS_1
Pricilla terus berusaha untuk membuat sadar suaminya, dia berharap suaminya hatinya berubah dan menerima permintaan maaf dari ke dua mertuanya itu.
"Ya Allah luluhkan dan lembutkanlah hati dan perasaan suamiku," Cilla membatin.
"Andreas maafkan Mami sayang, Mami tidak bermaksud untuk melukai hati dan perasaan kamu, Mami dan Papi hanya berencana sayang, kami belum berniat untuk menikahkan kalian, lagian Mami menentang keputusan dari Papi kamu dan Alhamdulillah Papi setuju dengan permohonan Mami," jelasnya panjang lebar.
Emilia meneteskan air matanya saking sedihnya melihat putranya yang selama ini sangat penurut, sekarang harus membangkang dan benci kepadanya hanya karena gara-gara rencana yang hanya sekedar basa-basi semata saja.
Adrian hanya menatap ke arah anak dan istrinya. Dia terdiam sedari tadi, tidak mampu berucap sepatah kata pun juga. Delia dan Arya juga hadir di dalam ruangan keluarga tidak bisa berbuat banyak atau sedikit mencampuri urusan mereka.
Mereka hanya menjadi pengamat dan pendengar setia saja tanpa ingin menggurui mereka, belum saatnya ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Sayang, lihat Mami, sebesar itu kah rasa bencimu sama Mami? apa Mami tidak ada lagi artinya di dalam hidupmu sayang?" tanya Emilia yang ingin memegang dagu putranya, tapi selalu Andreas menolehkan dan menepis tangan perempuan yang telah melahirkannya.
Andreas berjalan meninggalkan Maminya yang berdiri di samping istrinya. Andreas tak lupa menarik tangan istrinya untuk segera ke atas lantai dua tempat di mana kamar pribadinya berada.
Dia menangis tergugu melihat anaknya tidak menghiraukan dirinya sedikit pun. Hatinya hancur melihat putranya berlalu dari hadapannya.
"Andreas!! berhenti!! seperti itu kah caramu bersikap kepada orang tuamu?" teriak Adrian yang mulai tersulut emosinya.
Andreas hanya melirik sesaat ke arah Papinya tanpa membalas perkataan dari Papinya yang cukup emosi itu. Dia melenggang pergi tanpa sepatah kata pun lagi. Tetapi isyarat dari sorot matanya menandakan dia sedang tidak baik-baik saja.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Maaf jika ada kesalahan dalam pengetikannya atau Typonya...
__ADS_1