
Pak Hendri pun berdiri lalu berjalan ke arah istrinya dan langsung memeluk tubuh istrinya untuk menenangkan Mama Elisabeth.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya pak Hendri yang masih memeluk istrinya.
Arman juga sering melihat langsung Mamanya berselingkuh di depan matanya Arman dengan ber-bagai pria. Ia yang sudah tersungkur di lantai masih saja terus dipukuli hingga punggungnya berdarah dan memar. Tapi, perempuan itu sama sekali tidak menghiraukan teriakan kesakitan dan permintaan dari Arman kecil.
"Ini lah akibatnya jika kamu tidak mau mendengar semua perkataan Mama," ucap Mama Linda yang tersenyum licik ke arah Arman.
"Ampun ma, Arman janji tidak akan nakal lagi dan akan mendengar semua perkataan Mama," ucap Ahmad memelas yang menghiba belas kasihan pada mamanya sambil merayap ke arah kaki Mamanya.
"Arman Mas, Arman.." ucap Bu Elisabeth yang terbata karena nafasnya ngos-ngosan.
"Apa yang terjadi dengan Arman Elizabeth?" tanya Pak Hendri yang sudah khawatir dengan keadaan putra angkatnya.
Pak Hendri lalu melepaskan pelukannya lalu memegang dua lengan istrinya kemudian menatap ke dalam ke dua mata Istrinya. Mama Elisabeth semakin menangis tersedu-sedu. Pak Hendry jadi kebingungan tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi.
"Arman hanya demam mas dan aku sudah membantunya mengobati demamnya," jawab Mama Elisabeth.
__ADS_1
"Ayok kita duduk dulu, tenangkan diri kamu," bujuk pak Hendri lalu membawa mama Elisabeth untuk duduk di kursi.
Pak Hendri pun memegang tangan Mama Elisabeth agar berbicara yang jelas dan tidak membuat khawatir. Setelah tangisnya reda Mama Elisabeth pun mulai membuka mulutnya untuk berbicara.
"Tolong jelaskan kepadaku di Panti asuhan mana Mas bertemu dengan Arman dan tolong jangan ada yang ditutupi apa pun itu!" Pintanya bu Elisabeth dengan wajah yang serius.
Sebelum menjawab Pak Hendry berfikir sejenak dan tidak mengerti kenapa tiba-tiba Istrinya bertanya seperti itu.
"Ada apa dengan Arman kenapa kamu ingin mengetahuinya?" tanya balik pak Hendri.
Mama Elisabeth kembali menangis tersedu-sedu, "Arman Mas, Arman adalah putra kita Daniel yang menghilang," timpalnya Bu Elisabeth.
"Hati dan perasaan seorang Ibu tidak mungkin salah Mas, dan aku melihat ada dua buah tanda lahir di punggungnya Arman Mas dan tidak mungkin ada beberapa orang yang sama dengan tanda lahir itu dan sewaktu bayi Aku memasangkan gelang sepasang ke tangan kecil mereka," ungkap Bu Elisabeth yang menirukan saat dirinya memasangkan gelang tersebut ke tangan mungil anak kembarnya Daniel dan Daniela.
"Kalau dugaanmu benar adanya pasti ada unsur kesengajaan di sini, karena yang membawa Arman ke rumah ini adalah mantan istriku dan setiap kali aku ingin mendatangi langsung panti asuhan Luna selalu menolak untuk membawa aku ke panti asuhan tersebut dengan berbagai alasan," jelasnya Pak Hendri.
"Mas bagaimana kalau kita tes DNA saja untuk memastikan kalau Arman akan kita atau bukan kalau sudah keluar hasilnya kita baru mencari Luna untuk meminta penjelasan padanya dan jangan sampai Daniela juga masih hidup Mas? tapi aku berharap Daniela masih hidup Mas," tuturnya Bu Elisabeth panjang lebar.
__ADS_1
"Tunggu aku akan menelpon dokter pribadi kita Dokter Rusman untuk bertanya tentang prosedur untuk Tes DNAnya," ucap oak Hendri yang langsung menelpon Dokter Rusman.
Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk berjalan ke arah kamar Arman dan mengambil beberapa lembar rambut dan sedikit tetesan darah milik Arman.
"Kita sudah dapat, aku akan segera ke rumah sakit dan Aku mohon jaga Arman dengan baik," pintanya Pak Hendri.
"Baik Mas, dan tanpa Mas suruh aku akan merawat dan menjaga Arman walaupun Arman nantinya ketahuan bukan putra kita" ucap Mama Elisabeth yang sedikit lesu jika hasilnya nanti mengatakan Arman bukan anaknya.
Pak Hendri bergegas ke rumah sakit untuk mengetes Rambut dan sedikit darah milik Arman, "Ya Allah kenapa hati ini menyatakan kalau Arman adalah putraku yang hilang, kalau Arman adalah putraku tolong dekatkan dia denganku dan bukalah pintu hatinya untuk berubah dan menjadi manusia yang lebih baik lagi," harapan Bu Elisabeth.
Mama Elisabeth mencari barang-barang peninggalan Arman sewaktu masih bayi di dalam lemarinya tapi tidak menemukan sedikitpun. Bu Elisabeth teringat dengan kepala pelayan di rumahnya yaitu Pak Ade. Bu Elisabeth berjalan ke arah dapur untuk bertemu pak Ade.
"Maaf nyonya mencari siapa?" tanya Pak Ade.
"Saya ingin berbicara dengan bapak, apa bapak ada waktu?" tanya Nyonya Elisabeth.
"Boleh," ucap singkat Pak Ade.
__ADS_1
Mama Elisabeth dan Pak Ade berjalan ke arah ruangan tengah dan di sanalah mereka berbincang-bincang tentang masa kecil Arman hingga larut malam.