
"Kalau kami tidak boleh masuk baiklah saya akan menelpon tim pengacara saya dan meminta bantuan kepada polisi," ucap Aswin yang menggertak ke dua petugas tersebut dan ingin melihat reaksi mereka.
Dan ternyata dugaan mereka benar ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Adit segera menghubungi nomor handphone Pengacara dan pihak kepolisian untuk segera datang ke rumah sakit tersebut.
Untung Saja mereka sudah merencanakan dan menyiapkan semuanya sebelum datang ke sana. Polisi dan pengacara langsung mencari pihak penanggung jawab rumah sakit bahkan dokter Rindiani yang datang saat itu kaget dengan suasana ricuh di rumah sakit. Karena pihak rumah sakit bersikeras untuk tidak mengijinkan mereka masuk.
.
"Maaf ada Apa?" tanya Dokter Rindiani yang sekaligus penanggung jawab rumah sakit yang menangani beberapa pasien juga.
"Maaf dokter Kami tidak diijinkan untuk masuk menjenguk keluarga kami yang sakit dengan alasan katanya keluarga kami itu depresi berat dan tidak dalam kondisi yang baik bahkan katanya sudah menyakiti seseorang perawat makanya dari itu kami ingin melihatnya secara langsung," jelas Adit Wiguna Wiratama.
"Tolong berikan laporan hasil pemeriksaan Nona Hana kepada saya," perintah Dokter Indi yang tidak ingin menerima bantahan.
Setelah beberapa saat, Dokter Rindu mengijinkan mereka untuk masuk tapi masih ada beberapa pegawai yang melarang mereka. Sehingga dokter Indi mengambil keputusan untuk mengamankan pegawai yang melanggar tersebut untuk dibawa ke kantor polisi.
Tapi dokter yang sering menyuntikkan obat ke tubuh Hana segera menghubungi bosnya dan menginformasikan bahwa mereka sudah curiga.
Karena terburu-buru untuk pergi Dokter gadungan tersebut meninggalkan barang bukti berupa botol bekas yang masih ada sisa obatnya dan spuitnya alat yang dipakai untuk menyuntikkan obat tersebut.
Adit dan yang lainnya segera berjalan menuju kamar perawatan Hana. Ia dan Aswin terkejut melihat ruangan tersebut yang tidak seperti kamar rumah sakit melainkan seperti tempat penyiksaan saja.
Dokter Rindi pun tidak menyangka jika ada ruangan seperti itu di dalam rumah sakit yang dipimpinnya padahal Dokter Rindi sudah lebih sepuluh tahun bekerja di rumah sakit jiwa tersebut.
"Hana!! Kamu ada dimana dek!!" Teriaknya Adit.
__ADS_1
Adit mencari keberadaan Hyuna dan ternyata Hana sudah terkapar di lantai dengan kondisi yang sangat mengenaskan, tubuhnya Hana penuh dengan luka, badannya kurus padahal belum satu bulan dirawat.
"Kakak tolong!!" Jeritnya Hana dengan suaranya yang parau dan melambaikan tangannya ke arah Adit saat menyadari dan mendengar suaranya Adit.
"Ya Allah Hana!" Pekiknya Adit.
"Alhamdulillah Makasih banyak sayang," puji Hyuna yang melap sisa makanan yang ada di sekitar area bibirnya.
Tapi yang membuat Alan kembali pusing setelah mendengar perkataan dari Hyuna yang menginginkan dibuatkan lagi coto khas Makassar. Alan tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Hyuna.
"Ya Allah cobaan apa lagi ini?" Batinnya Alan.
Tanpa menunggu lama Adit segera menggendong Hana dan berlari ke arah luar untuk membawa Hyuna ke rumah sakit DA untuk mendapat penanganan serius.
Dokter Rindi segera mengambil botol itu lalu memeriksanya dan mengatakan kalau obat itu tidak cocok dan sangat berbahaya jika dalam jangka waktu lama dipakai oleh seseorang. Dokter Rindi pun malu karena dibawah pimpinannya ada kejadian yang sangat mencoreng reputasi dan nama instansi kedokteran.
"Bantu pihak polisi untuk mencari pelaku nya!" perintah dokter Rindi kepada pihak keamanan rumah sakit setelah menemukan botol obat dan suntikan yang tercecer di lantai.
Semua pegawai dan suster yang menghalangi Adit juga sudah diamankan oleh pihak kepolisian tetapi polisi langsung menyerahkan mereka kembali ke tangan anak buah Adit agar mereka yang menangani komplotan penjahat tersebut.
Aswin mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Dokter yang menangani Hana dan anggotanya selama ini. Adit tanpa segan sudah meneteskan air matanya melihat kondisi Hyuna.
"Maafkan kakak yang tidak becus menjagamu," ratapnya Adit yang tidak kuasa menahan tangisnya melihat Hana.
Anggota keluarga Wiguna sudah berada di rumah sakit menunggu kedatangan Hanama. Mereka sudah menangis setelah mengetahui yang terjadi dengan Hyuna.
__ADS_1
"Ya Allah Hana! Maafkan kami yang tidak percaya jika kamu sudah sembuh dan lebih percaya kepada Dokter itu," kilahnya Ibu Ratu mamanya almarhum Ricky.
Mama Elisah langsung mengelus tangan mertuanya Hana sekaligus kakak sepupunya itu.
"Sabar dan kita harus menjaga Hyuna demi kesembuhannya, kasihan bayinya yang harus hidup tanpa kasih sayang Maminya." ucap Mama Elisabeth.
"Tapi aku curiga dengan semua yang terjadi di dalam keluarga kita jika ada seseorang yang sengaja membuat semua ini untuk menghancurkan keluarga besar kita," geramnya Dinda yang penuh dengan amarahnya.
"Mulai dari kejadian penculikan Dinda, Rafli tertembak karena Asifa diculik, dan terakhir kecelakaan yang dialami oleh Ricki yang membuat Ricky harus meninggal dunia," ucap Eda.
"Apa mungkin dia dalang dibalik semua kejadian ini, tapi apa ia belum ikhlas dan menerima kenyataan yang sudah digariskan oleh Allah kepada kami?" Batinnya Bu Elisyah pada dirinya sendiri.
Hana pun sudah dilarikan ke dalam ruangan untuk segera mendapatkan penanganan intensif. Semua orang kembali menangis melihat kondisi Hana yang baru dua minggu lebih dirawat di RS, tapi sudah tampak seperti mayat hidup saja.
Hanya karena persoalan cinta yang tidak berbalas sehingga membuat seseorang menjadi dendam dan gelap mata. Bahkan harus hidup dalam dunia kegelapan. Apa susahnya untuk berdamai dengan masa lalu dan menerima kenyataan yang ada. Harus lebih sabar dan ikhlas menerima takdir yang sudah digariskan oleh Allah.
"Ya Allah sampai kapan cobaan yang engkau berikan kepada kami akan berakhir?" Ketusnya Ibu Ratu mertuanya Hana.
Sudah berjam-jam Haba di dalam ruangan intensif, suster pun sudah keluar masuk membawa peralatan dan obat-obatan tetapi kondisi Hana masih ktitis.
"ya Allah selamatkan lah anakku dan sehatkan lah dia kembali agar segera berkumpul dengan kami seperti dulu lagi," Lirihnya Mama Elisah.
Mereka tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan medis dari Hana. Edah menelpon Aswin suaminya untuk mengetahui perkembangan dari pencarian dokter yang menangani Hana.
Tapi dokter tersebut berhasil lolos dan ternyata dia bukanlah dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Karena Aswin sudah mencari informasi tentang jati dirinya ternyata namanya tidak tercantum di dalam daftar nama-nama dokter yang bekerja di rumah sakit jiwa Harapan.
__ADS_1