
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu hingga ke dalam kamar, soalnya tidak enak aku masuk lebih jauh lagi, kita ini tidak ada hubungan apapun, keluarga juga bukan," tutur Zoya yang menolak mengantar ke dalam kamar pribadinya Elang.
"Kalau begitu Kita menikah saja gimana?" tanya Elang yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zoya.
"Hahahaha!!" Zoya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Elang.
Tawanya Zoya menggema di seluruh ruangan Apartemen mewah tersebut.
Elang pun tak menyangka jika perkataan itu meluncur dari bibirnya. Bahkan Elang tidak tahu kenapa kata-kata itu yang terucap dari bibirnya. Entahlah apa itu serius atau hanya ucapan sepintas dari Elang yang tidak dipikirkan sebelumnya.
Zoya hanya terdiam tanpa ada tanggapan darinya. Zoya hanya menatap Elang dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan. Elang hanya terdiam sambil menyunggingkan senyum tipis khasnya. Selama mengenal Zoya Elang sering sudah tersenyum, walaupun hanya di hadapan Zoya saja senyuman itu akan terlihat.
"Apa maksudnya, apa dia anggap pernikahan itu hanya permainan saja," gumam Zoe.
Zoya menatap ke dalam bola matanya Elang dan mencari kesungguhan atau pun kebohongan dari arti perkataan Elang. Zoya tidak menemukan adanya kebohongan atau pun hanya sekedar bercanda saja.
"Maaf aku tidak bermaksud apa-apa, tapi kalau boleh jujur aku serius dengan perkataan ku," timpal Elang lagi.
__ADS_1
"Maaf pernikahan bagiku bukanlah permainan, lagian tidak mungkin Kamu serius menikahiku, padahal kita baru beberapa jam yang lalu bertemu, mengenal nama Kamu saja aku tidak tahu, aku yakin pasti Kamu pun tidak tahu tentang aku," ucap Zoya panjang lebar lalu menatap kembali ke dalam matanya Elang.
"Benar sekali apa yang Kamu katakan itu, tapi apa mencintai Kamu harus butuh alasan dan harus mengenal Kamu lebih lama baru cinta itu bisa hadir di dalam sini," ucap Elang yang menunjukkan ke arah dadanya.
Zoya hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Elang.
"Pikirkan matang-matang keputusan yang Anda ambil, ingat Pernikahan itu bukanlah permainan, semua yang kamu katakan, sebaiknya renungkan apa yang Kamu katakan," ucap Zoya lalu berjalan ke arah pintu yang kebetulan belum sempat Elang tutup rapat.
Elang berdiri ingin mengejar Zoya dan menjelaskan kepadanya bahwa dia sangat serius untuk menikahi Zoya dengan cara apa pun itu, Elang tidak peduli dengan perbedaan diantara mereka. Langkahnya yang baru selangkah langsung terhenti di karenakan, hpnya berdering.
Elang segera mengangkat teleponnya dan bergegas berjalan ke arah luar dan tidak lupa memberikan perintah kepada anak buah kepercayaannya untuk segera mengawasi dan mengamankan apartemennya. Langkah Elang ke parkiran cukup panjang dan lebar.
Elang membuka laci dashboard mobilnya lalu membuka box Kotak tempat penyimpanan topengnya yang selalu dia pakai untuk menemaninya dalam beraktivitas sehari-hari jika akan berangkat menuju markasnya. Elang memakai mobil yang berbeda dengan mobil yang tadi dia pakai.
Zoya tidak menyangka dengan apa yang dia alami hari ini. Seumur hidupnya untuk pertama kalinya dekat dengan seseorang pria dan Pria itu juga ingin menikahinya. Zoya tersenyum merasa aneh dengan sikap Elang. Sambil menyetir mobilnya, Zoya menggelengkan kepalanya.
"Pria aneh," ucap Zoya.
__ADS_1
Zoya hari ini tidak pulang ke Apartemennya, tapi mengemudikan mobilnya kearah kediaman neneknya. Sudah hampir dua minggu tidak kembali.
Rencana awalnya nanti bulan depan akan kembali ke kediaman Nenek Elisabeth tapi, tadi sebelum masuk ke dalam mobilnya, kakak sepupunya menelponnya untuk segera pulang ke rumah itu.
Dengan santai Zoya memajukan mobilnya dan setiap kali mengingat perkataan Elang membuatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Bukan Elang saja yang selama ini menyatakan ingin melamarnya, tapi hanya Elang yang cukup berani mengatakan langsung di hadapannya.
Zoya segera memarkirkan mobilnya di dalam garasi rumahnya. Zoya melihat ada sebuah mobil mewah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya terparkir rapi di sana. Zoya turun dari mobilnya dan mengelilingi mobil itu.
"Sepertinya aku pernah melihat mobil itu, tapi di mana?" tanyanya lalu memutar dan mengitari mobil itu.
Zoya sudah berfikir keras tapi tidak menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sendiri yang merasa familiar dengan mobil putih itu. Zoya menyerah dan tersenyum sendiri dengan sikapnya yang sudah memutar otaknya, tapi tetap nihil.
Zoya berlari kecil hingga ke depan pintu rumah neneknya, dan sekilas dan samar-samar mendengar perkataan orang yang berada di dalam ruangan tamu neneknya.
"Saya datang ke sini dengan niat dan maksud yang baik, Saya ingin melamar salah satu cucu perempuan Nyonya Elisabeth," ucap pria yang sudah berhasil dilihat punggungnya oleh Zoya.
Pria itu memakai kemeja warna biru Dongker dipadukan dengan celana panjang jeans biru tua yang sangat pas dan cocok orang itu pakai.
__ADS_1
Hati Zoya perlahan berdebar dan semakin penasaran dengan sosok pria itu, tapi langkahnya seolah terhenti seakan-akan ada lem yang menempel di kedua kakinya itu.
"Ya Allah…. siapa pria itu dan siapa yang dia akan melamar, apa ini maksudnya Kak Key menyuruhku untuk pulang?" Cicitnya yang kebingungan dengan apa yang terjadi di dalam ruangan itu.