Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 89


__ADS_3

"Kalau gitu tunjukkan kepada Kami apa bukti kuat yang menyatakan jika Jefri bertindak sesuai dengan apa yang Kamu katakan?" Tanyanya Emre.


Emre semakin memperkeruh suasana dan berniat untuk menjatuhkan dan meruntuhkan keegoisan dan keangkuhan Mark.


"Kalau Nenek dan Uncle tidak percaya, silahkan lihat rekaman video yang sempat Zack rekam tadi," tutur Zack lalu menyerahkan hpnya ke hadapan Pamannya Emre.


Emre pun maju ke hadapan Zack dan memeriksa hp itu dengan seksama. Emre dan Mama Elisabeth tersenyum licik dan bahagia karena punya kartu as untuk menjatuhkan dan menggagalkan rencana dari Mark.


"Ini tidak mungkin!! pasti ada kesalahan di sini?" tanya Mama Elisabeth yang menutup mulutnya dengan penuh drama dan akting yang sungguh memukau.


"Ada apa Elizabeth?" tanya Mami Clara.


Mama Elisabeth segera menyodorkan hpnya Zack ke tangannya. Mama Elisabeth berharap penuh pada Mami Clara.


"Ya Allah, apa yang terjadi sebenarnya ini, Jefri tidak cocok dan tidak pantas menjadi cucu menantuku sampai kapan pun," batinnya Nyonya Clara.


Mami Clara mendekati putranya yang tidak bergeming sedari tadi.


"Lihat ini baik-baik!! buka matamu lebar-lebar, apa pria yang berkelakuan bejak seperti ini yang kamu harapkan jadi cucu menantuku haaaa!!" Geram Bu Elisabeth.


Mami Clara sudah geram melihat bukti kejelekan dan kemunafikan dari Jefri. Beliau sangat tidak percaya karena selama ini yang dia kenal Jefri Pria yang religius, agamis, selalu bertutur kata yang sopan santun, tidak pernah mengecewakan dan mengungkap rahasia sikap jeleknya.


"Aku tidak menyangka jika Jefri Pria brengsek," ujar Mami Clara lagi.

__ADS_1


Mark yang penasaran dan tidak percaya dengan apa yang mereka katakan akhirnya mengambil hp itu dan memeriksa dengan detail gambar yang ada di dalam rekaman video itu apa asli atau sekedar gambar editan semata. Zack memegang tangan istrinya agar percaya padanya dan tidak perlu khawatir ataupun takut.


Zack yakin dengan memperlihatkan bukti itu, hubungan Pernikahannya yang baru sekitar sejam lalu direstui. Raut wajah Mark berubah dan tidak bisa terbaca dan ditebak sama sekali oleh siapa pun.


Dia mengepalkan tangannya hingga tulang-tulang dan urat-urat tangannya begitu nampak jelas. Eliana pun muncul sedari tadi hanya berdiri mematung dan menjadi saksi bisu dari pertengkaran dan drama yang diciptakan oleh suaminya.


Ia segera berjalan ke arah suaminya berada. Semua menatap tidak percaya kedatangan Eliana ke Masjid tersebut. Mereka sama-sama terdiam saat mengetahui siapa sosok orang yang datang saat itu.


"Elliana, putriku," tutur Mama Elisabeth.


"Makasih banyak Zack kamu sudah membuka mataku dan mengetahui dengan sangat jelas siapa sebenarnya pria yang akan dinikahkan oleh suamiku untuk putri pertamaku," puji Elliana.


Mark menoleh ke arah istrinya berada. Mark terkejut dengan kehadiran istrinya di tengah-tengah mereka.


Elliana baru kali ini dan untuk pertama kalinya dia menentang keputusan dari suaminya. Selama dia menikah sedikit pun tidak pernah menentang atau pun menolak apa saja yang sudah diputuskan oleh suaminya.


Ia akan manut saja walaupun di dalam hatinya tidak menyetujui hal tersebut, tapi demi keluarganya dia ikhlas menerima semuanya tanpa ada bentuk protes darinya.


"Mas apa Kamu ingin melihat putri kecilku bersedih hingga ujung usianya, apa Kamu tidak pernah sedikitpun memikirkan keinginan mereka? sudah cukup Mas mengekang dan mengatur hidup anak-anakku," bentaknya Eliana dengan marah.


Wajah Eliana kali ini tidak seperti biasanya yang selalu berwajah teduh, tenang dan penuh kesabaran.


"Kalau Mas tidak merestui mereka, maafkan Eliana jika hari ini adalah hari terakhir kita bertemu," ujarnya Eliana.

__ADS_1


Eliana segera berjalan ke arah anak dan menantunya berada. Dia tidak peduli lagi dengan tanggapan dan komentar dari siapapun. Elliana menarik tangan keduanya dan berjalan melewati suaminya yang sedari tadi terdiam dan membisu. Langkah kakinya terhenti sesaat setelah berada di samping suaminya.


"Maafkan Eliana Mas, kita akhiri semuanya cukup sampai di sini saja," tuturnya Elliana dengan penuh keyakinan hatinya.


"Moms!" ucap Key yang air matanya sudah membanjiri wajahnya yang cantik dengan polesan make up-nya.


Eliana tidak perduli perkataan dari anaknya. Eliana terus menarik tangan Zack dan Key. Mereka berjalan ke arah tempat mobilnya berada.


"Pak supir jalan," ucapnya setelah mereka sudah berada di dalam mobil dan duduk di tempat masing-masing.


Satu persatu orang-orang meninggalkan ruangan Mesjid tersebut.


"Pak penghulu tolong urus semua buku dan akta nikah cucuku dan kalau selesai antar ke rumah." Ujarnya.


"Baik Nyonya," jawab Pak penghulu.


"Ini ada sedikit uang untuk bapak, makasih banyak sudah membantu dan menikahkan cucuku," ucap Nenek Elisabeth yang memberikan amplop putih berisi beberapa sejumlah uang yang cukup banyak.


"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak Nyonya." Ujar Pak Penghulu.


Mama Elisabeth hanya tersenyum menanggapi perkataan dari pak penghulu. Pak Penghulu sangat bahagia karena gaji yang dia dapatkan malam ini seumur hidupnya yang paling banyak bahkan sangat banyak.


Mobil yang mereka tumpangi sudah meninggalkan Masjid. Eliana akan memboyong anak dan menantunya pergi jauh dari Indonesia agar hidup mereka bisa aman dari pengganggu.

__ADS_1


__ADS_2