
"Ya Allah apa aku harus jawab ya di hadapan Abang Elang, tapi gimana jika dia menyakiti hatiku dan mengecewakan aku nantinya." Batinnya.
Zoe memandang ke arah luar jendela kaca yang tinggi itu. Dia bersandar di ujung meja kerja adiknya. Zidane yang mengetahui kegelisahan hati kakaknya hanya terdiam dan tidak ingin ikut campur dan banyak bertanya.
Kecuali Zoe sendiri yang curhat dengannya barulah dia sedikit memberikan masukan atau apa lah itu. Mata indah dengan bulu mata lentiknya masih asyik menatap langit biru di atas sana.
Cinta iya, sayang iya juga tetapi, untuk maju ke titik dan jenjang yang lebih serius sulit dia lakukan. Terlalu banyak pertimbangan yang muncul di dalam benaknya. Rasa takutnya lebih dominan merajai hati dan pikirannya.
Senja sudah menyapa, sang Matahari sudah kembali ke peraduannya digantikan oleh Sang Dewi Malam. Malam yang begitu sepi di dalam sebuah ruangan. Di mana duduk seorang perempuan yang sangat cantik dengan jari jemarinya yang masih setia menekan mouse komputernya. Di hidung mancungnya terpasang sebuah kaca mata khusus dia pakai jika menghadapi komputer.
Dia sebenarnya tidak ingin terjun di dunia bisnis, tetapi hari ini dan saat itu juga dia harus terjun langsung membantu saudara kembarnya. Dia adalah Zoya Saldana Arya Wiguna Said.
Dia yang kuliah di kedokteran mengambil jurusan Dokter anak, hari ini demi tidak ingin mengecewakan Neneknya, dia bekerja di Perusahaan Sinopec Group peninggalan kakeknya Pak Wiguna.
Sedangkan di kursi yang tidak jauh dari tempatnya berada. Dia sedari tadi memperhatikan kekasih pujaan hatinya sekaligus tunangannya walaupun belum resmi. Dia sesekali membantu Zoe, jika menemui masalah atau pun kendala.
"Ternyata asyik juga, punya seseorang yang penting dalam kehidupan kita dan dia bisa diandalkan dalam segala hal."
Tatapannya sesekali tertuju pada sosok pemilik mata tajam bak Elang dan hidung mancung yang menukik tajam itu. Sedangkan orangnya sedang santai, walaupun dia mengerjakan beberapa pekerjaan dari Zoe.
Tetapi tidak membuatnya kelimpungan maklum lah itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Elang berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah Zoe. Dia meletakkan berkas di hadapan Zoe.
"Ada seseorang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," tuturnya.
Zoe melirik ke arah Elang dan mengerutkan keningnya tanda dia tidak mengerti maksud dari perkataannya.
"Ada orang yang telah menyalahgunakan wewenangnya di Perusahaan dan itu sudah terjadi sejak lima tahun lalu," jelasnya.
__ADS_1
"Maksudnya Abang ada seseorang yang korupsi gitu?" Tanyanya dengan raut wajah kebingungan sekaligus terkejut.
Dia tidak menyangka jika hal itu terjadi di Perusahaan Kakeknya padahal aturan sudah sangat baik dan memanjakan semua karyawannya dengan berbagai macam bonus setiap bulannya.
"Kalau kamu tidak percaya ini bukti-buktinya dan lengkap dengan siapa pelakunya," terangnya.
Elang berdiri di depan Zoe yang sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celananya. Zoe mulai membuka lalu membacanya dengan seksama dan sangat teliti.
Matanya hampir copot dari tempatnya saat membaca nama orang itu. Dia langsung menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan itu.
"Ini tidak mungkin!!! Pasti ada kesalahan data di sini Abang?" Jawabnya yang sangat tidak ingin mempercayai fakta tersebut.
"Emangnya siapa orang itu? Sehingga membuat Kamu shock seperti itu?" Tanyanya sambil duduk di ujung meja kerjanya Zoe.
Zoe tidak sanggup menyebutkan dan menjelaskan siapa pemilik nama tersebut. Dia tidak tahu harus menjelaskan mulai dari mana awalnya.
"Adiguna, dia adalah putra dari sepupunya Mama yang dari kampung, Paman Adijaya nama ayahnya dan dia adalah sepupunya Mama Delia," jelasnya yang sangat tidak percaya dan menyangka saudaranya sendiri yang berbuat culas dan curang di Perusahaannya.
Zoe hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia khawatir dengan reaksi dari mamanya serta Kakek dan Neneknya yang ada di kampung.
"Jangan biarkan sedikit pun tumbuh benalu dan parasit seperti dia di perusahaan kamu jika ingin melihat perusahaanmu berdiri terus hingga anak cucumu," jelasnya Elang.
"Jadi, aku harus gimana?" Tanyanya yang memandang ke arah Pria yang tidak jelas statusnya di antara mereka.
"Kita datangi ke rumahnya pamanmu itu lalu berbicara baik-baik, jika dia tidak ingin diajak kerja sama baru Kamu tempuh jalur hukum atau kekeluargaan dengan memberitahukan kepada semua anggota keluargamu terutama Ayah dan Mama," jelasnya.
__ADS_1
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...