
Neneknya membalas pelukan dari cucu ketiganya itu.
"Nenek terima tawaran Nenek Elisabeth saja, agar Nenek tidak kesepian lagi di sini, Insya Allah Kakek dan Daddy Mark pasti akan mengerti."
"Nenek akan pertimbangkan Permintaan Nya Nenek Kamu, kalau Nenek sudah siap ke sana pasti akan segera menelpon Kamu atau Keyna.
"Amanda pamit dulu yah Nek, jaga kesehatan Nenek, dan jangan lupa jangan terlalu bersedih dan terpuruk dalam kesedihannya Nenek, assalamu alaikum Nek."
"Waalaikum salam, hati-hati sayang, insya Allah akan saya laksanakan apa pun yang Kamu katakan."
Neneknya tidak ingin melepas pelukan dari cucu perempuannya tersebut.
"Jujur saja Nenek sangat sedih melihat kalian akan pergi jauh meninggalkan Nenek, tapi itu yang terbaik untuk kalian."
Kematian adalah hal yang mutlak terjadi pada tiap-tiap jiwa.
"Sesungguhnya sholat ku ibadah ku hidupku dan matiku hanya Allah untuk allah Tuhan semesta alam."
Kematian tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kita lah yang menunggu kematian dengan bertaubat.
Berbagai karangan bunga yang bertuliskan selamat jalan Mark memenuhi pekarangan hingga ke depan pagar rumahnya. Saking banyaknya hingga sampai detik ini masih berdiri berbaris di sepanjang jalan.
Hal itu menandakan, bahwa banyak yang menghujat akhir hidupnya Mark dan banyak juga yang berempati dan berduka atas kepergian dan kematian Mark.
Sudah satu bulan lamanya, dua minggu lamanya, Mark Zuckerberg meninggal dunia. Tapi, duka masih menyelimuti anak-anak dan Maminya. Tetapi, Amanda masih sering meneteskan air matanya, jika kembali mengenang kebersamaan mereka semasa hidupnya Mark.
"Daddy selamat jalan, Surga tempatmu Daddy, maafkan Amanda jika, Amanda punya banyak kesalahan selama ini."
Doa yang selalu dipanjatkan oleh Amanda dan anaknya jika setiap kali selesai shalat. Arya dan yang lainnya hari berencana untuk mengunjungi rumah Mark yang ada di Paris,rumah kediaman Maminya Mark.
Mereka akan berbondong-bondong berziarah ke makam Mark. Setelah mengetahui kedatangan dari uncle dan Auntynya Amanda sangat bahagia mendengarnya. Tak terkecuali dengan Maminya Mark.
__ADS_1
Amanda dan Alexander Agung segera menuju Bandara setelah dia mengetahui, bahwa pesawat pribadi yang mereka tumpangi sudah mendarat di Charles De Gaulle airport.
Setelah melihat Aunty Delia, Amanda segera berlari ke arahnya. Amanda tak segan memeluk tubuh Delia. Dia mencurahkan segala kesedihannya di dalam pelukan Delia.
Di antara banyaknya Aunty yang dia miliki, Delia lah yang paling dekat dengannya. Delia mengelus punggung Amanda yang sudah terisak dalam tangisnya.
"Kamu harus sabar menghadapi semua ini, Aunty yakin Amanda pasti bisa."
"Betul apa yang dikatakan oleh Auntymu, semua ini sudah takdir ilahi, jadi kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan bersabar untuk jalaninya semua," Arya menimpali perkataan dari istrinya.
"Sebaiknya kita istirahat saja hari ini Uncle, besok pagi saja kita ke makam Daddy," ujarnya.
Mereka meninggalkan Bandara menuju kediaman Neneknya Amanda ibu Margaretha.
Yang hadir diantara mereka hanya minus Eliana dan anak-anaknya. Mereka tidak bisa hadir karena Key yang ngidam sehingga memutuskan untuk tidak ikut bersama mereka.
Kedatangan mereka membawa kebahagiaan yang dirasakan oleh Mami Margaretha, karena rumahnya kembali ramai penuh dengan canda tawa.
Mereka satu persatu berpelukan dan memberikan semangat agar bisa tersenyum menjalani kehidupan sehari-harinya untuk ke depannya. Mami Margaretha memasak banyak makanan malam khusus untuk menyambut kedatangan mereka.
Berbagai menu khas Prancis sudah terhidang di atas meja. Mereka menikmati acara makan malam tersebut dengan santai sambil sesekali berbincang-bincang santai.
"Mami masakannya sangat lezat, apa ini dimasak oleh Chef handal Mami?" Delia menatap dengan penuh takjub ke arah Mami Margaretha.
Hanya senyuman yang disuguhkan oleh Mami Margaretha ke arah Delia yang sudah penasaran.
"Alhamdulillah, semua yang masak ini adalah Nenek Aunty, katanya tadi nenek sengaja terjun langsung ke dapur untuk memasak khusus kita semua," timpal Amanda yang menjawab pertanyaan dari Delia.
Mami Margaretha yang malu-malu mengakuinya. Awalnya tidak yakin dengan masakannya, tapi beliau bersemangat untuk memberikan masakan dan mempersembahkan khusus untuk mereka yang spesial datang.
"Alhamdulillah, makasih banyak Mami, Rina sangat suka semua makanan yang ada di depanku," jelasnya Rina yang mengakui kehebatan Mami Margaretha dalam mengolah bahan makanan dan bumbu-bumbu dapurnya.
__ADS_1
...****************...
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...
__ADS_1