Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 10 - Kaku


__ADS_3

" Lo gimana bisa sih sampai kecolongan parah kaya gini? " tanya Evan pelan tapi penuh dengan penekanan sembari menenggak wine di tangan kanannya sementara tangan kirinya mencapit rokok yang selalu setia bersamanya, mereka semua sudah selesai makan malam di rumah Evan setelah perdebatan tadi, dan kini Eric dan Evan sedang duduk berdua di ruang kerja Evan.


" Gue tau Gue salah. Gue sama Sea juga nggak bisa awasin Nala dua puluh empat jam fuell meski Gue sama Sea juga Bianca tetep mantau Nala. " jawab Eric frustasi dan menenggak juga wine yang dilegangnya.


" Alasan klise! " sinis Evan sembari mengepulkan asap rokoknya ke udara.


" Gue sama Rayne juga sibuk. Dua anak Gue juga hidup jauh dari Gue. Tapi Lo lihat sendiri, Steve sama Zee fine - fine aja. " lanjutnya kemudian menghisap kuat rokoknya.


" Apa yang dilakuin Steve sama Zee juga Lo nggak tau. Nggak seharusnya Lo ngomong kaya gini sama Gue. " jawab Eric sembari mengehembuskan asap rokoknya juga.


" Gue tau itu. " jawab Evan.


" Bukannya Gue ngebebasin mereka karena memang kehidupan di Luar Negeri itu bener - bener bebas. Tapi seenggaknya Gue selalu bilang sama mereka, cukup mereka tau saja seberapa bejatnya Gue zaman dulu. Dan itu cukup untuk mereka jadikan pelajaran saja, tidak untuk mereka tirukan. " jelas Evan dengan tegas.



" Untuk Zeevanea, Gue yakin seratus persen kalau sampai saat ini dia bisa jaga diri. " ucap Evan lagi penuh keyakinan, Eric hanya mendengarkan, Evan menghembuskan asap rokoknya ke arah wajah Eric.


" Kalau Stevano itu sepertinya kaya, Lo... Diem - diem ngehanyutin. Dan ini yang lebih Gue takutin. " jelasnya.


" Lo yang pendiem nyatanya bisa sampai bikin Kak Sea hamil waktu kalian masih sama - sama kuliah. " lanjutnya.


" Ya iya secara Zee barbar gitu... Takut juga yang mau deketin dia. " jawab Eric sambil terkikik, Evan pun juga, kepulan asap rokok keduanya menguar ke seluruh ruangan.


" Tapi kalau Steve emang Steve pendiem gitu... Tapi Gue rasa bisa ngehanyutin juga sih. Di kantor aja langsung riuh kalau Steve dateng kerja. " lanjutnya, Evan pun mengangguk sembari menarik sebelah sudut bibirnya.


" Perkara Nala ini semakin buat Gue untuk ekstra bentengi Steve meski Gue nggak mau terlihat mencolok yang nantinya akan membuat Steve nggak nyaman karena merasa Gue kekang. " imbuhnya, kepulan asap rokok keduanya kembali beradu di udara.


" Kalau soal Nala, Gue pikir Lo cuma kurang fleksibel aja sama Nala. Gue tau Lo nggak bisa ngomong sama Nala dari hati ke hati lebih dalam meski Lo Papinya karena kekakuan Lo selama ini. Lo emang pendiem, Lo nggak banyak omong. Tapi pembawaan Lo kaku. " lanjutnya, menoleh pada Eric dan menenggak lagi wine yang baru saja dituangkan ke dalam sloki.


" Nala itu kaya Gue... Nggak bisa dipaksa, nggak bisa dikekang. Dia cuma butuh orang yang bisa ngertiin dia. Dan mungkin dia nggak dapetin itu dari sikap Lo selama ini. " imbuhnya, kepulan asap rokoknya mengiringi ucapannya.


" Lo emang nggak pernah marah ataupun teriak sama Nala. Tapi coba ngomong berdua sama Nala... Orang Tua sama anak itu nggak harus selalu serius meski tetap harus serius. Kalau Lo lebih fleksibel sama dia, Lo nggak kaku sama dia, dan Lo tunjukin kalau Lo memang Papi yang baik buat dia, Gue yakin Nala pasti nurut apa kata Lo. " imbuhnya lagi, Eric pun menganggukkan kepalanya sependapat dengan Evan.


" Dan untuk perkara Nala ini, Gue di pihak Nala. Gue ngerasa Nala beneran nggak hamilin itu Cewe. " tegas Evan, Eric mendiam seketika.


" Andru sama Ray kemana? Kok dari tadi Gue nggak ketemu. " tanyanya, ia merasa pembicaraan tentang Nala sudah selesai.


" Nginep di rumah Mama. " jawab Evan.

__ADS_1


" Mereka nantangin Gue basket, dan mereka kalah dari Gue. Gue bilang Gue bakalan stop uang jajan mereka selama sebulan kalau mereka kalah dari Gue. Kaburlah mereka ke rumah Mama buat cari perlindungan uang jajan. Padahal Gue juga bercanda kali soal nyetop uang jajan mereka. Pasti ngerengek Mommynya kalau sampai Gue lakuin itu. " jelas Evan sambil terkekeh, Eric pun juga.


" Nala pernah bilang sama Gue, kalau dia pengen buka sekolah basket. " celetuk Eric, Evan langsung mendongakkan kepalanya.


" Dukung aja selama positive. " jawab Evan santai tapi tegas, keduanya bersamaan menenggak wine yang baru dituang.


" Tapi masalahnya Nala nggak mau ke kantor sama sekali. " jawab Eric.


" Gue udah bilang sama dia, Gue bakal setuju kalau dia tetep mau belajar ngantor juga. " jelasnya.


" Gimanapun juga Nala sama Steve itu nantinya yang akan gantiin kita di perusahaan. Kalau Nala masih ogah - ogahan kaya gini sampai nanti, Gue yakin kalau Gue udah mati dia baru akan sadar seperti Lo waktu ditinggal Papa dulu. Lo beruntung Steve nggak bengal macem Lo. " tukasnya sembari memijit pangkal hidungnya dan menghela nafas berat.



" Dan Lo yang kebagian bengalnya Nala. " jawab Evan.


" Ini kesempatan Lo dong buat ngomong dari hati ke hati sama Nala sebelum Lo dibuat jantungan sama tingkah Nala selanjutnya yang kita sendiri pun tidak tau kedepannya... " lanjut Evan.


" Udah sering... " jawab Eric datar dan sudah berkali - kali Eric membicarakan hal ini dengan Nala tapi tetap saja mereka belum menemukan titik temu dari pembicaraan ini.


" Ya usaha terus, dong... " jawab Evan, Eric langsung mencebikkan bibirnya.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Belum tidur, Kak? " tanya Evan yang baru saja masuk ke dalam kamar Steve, Evan mencium aroma asap rokok disana tapi Evan diam saja karena sampai saat ini Evan tidak pernah melihat Putranya itu merokok.


" Eh... Belum, Dadd... " jawab Steve, Evan pun ikut rebahan di samping Steve.


" Lagi ngapain? " tanya Evan.


" Lagi main Mobile Legend, Dadd... " jawab Steve tanpa mengalihkan pandangannya karena permainannya sedang seru, Evan pun terdiam dan ikut memperhatikan layar ponsel Putranya yang sedang menampilkan adu pedang.


" Daddy kok belum tidur? " tanya Steve kemudian setelah beberapa saat Evan menemaninya bermain game.


" Iya... Baru selesai ngobrol sama Papimu. " jawab Evan, Steve pun mengangguk.

__ADS_1


" Ya sudah, lanjutin... Daddy mau lihat Zeevanea. Jangan terlalu larut juga bobonya. " lanjut Evan dan langsung beranjak setelah mencium singkat kening Putranya, Stevano masih terlihat asik dengan permainannya.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


Cup...


Ketika membuka pintu kamar Zeevanea, Evan hanya berdiam sejenak disana. Setelah membenarkan posisi selimut Zeevanea yang melorot, Evan pun langsung beranjak setelah mengecup kening Putri kesayangannya dan berjalan menuju kamar yang ditempati Nala ketika menginap di rumahnya.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Lagi ngapain, Bang? " tanya Evan pada Nala saat sudah masuk ke dalam kamar.


" Ini main Mobile Legend. " jawab Nala dan menoleh singkat pada Evan, Evan pun duduk di samping Nala yang sedang duduk di lantai, di samping ranjang besarnya.


" Kamu nggak ngerokok? " tanya Evan, Nala langsung menggeleng.


" Anak basket ngerokok itu ya Daddy. Tapi kadang - kadang aja sih ngerokok kalau lagi pusing. " celetuknya santai, Evan langsung terkikik.


" Papimu juga perokok. " sanggah Evan yang tak mau kalah.


" Pusing mikirin apa coba orang pegang perusahaan aja ogah. " lanjutnya setengah menyindir Nala.


" Ya mikirin lainnya, lah... Papi juga mulai ngerokok kan pas udah lulus kuliah. " jawabnya santai dengan tetap menatap layar ponselnya, dan memang ucapan soal Eric itu benar adanya.


" Daddy aja dulu yang masih SMA udah berani ngerokok santai. " lanjutnya meledek Evan, karena memang ia juga tau cerita itu, Evan menatapnya sembari menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah jangan tidur terlalu larut." ucap Evan dan langsung berdiri dari duduknya setelah mengecup singkat kening Nala.


" Ok, Boss!!! " jawab Nala santai, Evan pun beranjak keluar dari kamar Nala menuju kamarnya sendiri.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


__ADS_2