
Tanpa terasa, lima hari sudah Alexandra dirawat di Rumah Sakit pasca insiden pendarahan yang dialaminya akibat gempuran keras Raynevandra. Kini, Alexandra dan kedua Orang Tuanya, juga Kakaknya yang baru bisa pulang dari Luar Negeri sedang bersiap untuk pulang dari Rumah Sakit. Tak ketinggalan si tampan Raynevandra yang juga sudah jelas berada disana. Setelah Raynevandra mengurus semuanya, mereka pun langsung bergegas pulang ke rumah Alexandra.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
" Papa... " ucap Alexandra sambil mengusap perutnya dan menatap Raynevandra yang sedang mengemudi, kedua Orang Tua juga Kakak Alexandra berada dalam mobil terpisah dengan mereka.
" Maafin aku, ya... Aku udah bikin kamu kaya gini disaat kita masih sekolah... " ucap Raynevandra sendu sembari menatap Alexandra, Raynevandra juga ikut mengusap lembut perut Alexandra dengan sebelah tangannya sementara satu tangannya lagi sedang mengemudi.
" Aku juga salah... Janganlah menyalahkan dirimu sendiri. Ingatlah jika aku juga sering memintanya darimu. " jawab Alexandra sambil menatap Raynevandra, dan memang benar adanya jika terkadang Alexandra lah yang memancing Raynevandra untuk menjamahnya.
" Setelah ini home schooling aja, ya... " ucap Raynevandra.
" Nanti dulu, lah... Perut aku masih bisa ditutupi. Aku juga masih pengen sekolah bareng kamu, bareng temen - temen yang lainnya. " jawab Alexandra sendu, Raynevandra seolah tercubit hatinya mendengar hal ini, ia kerasa seilah telah merampas masa - masa SMA yang indah untuk Alexandra
" Iya udah terserah kamu... Tapi menurut aku ya lebih baik kamu home schooling aja biar nggak kecapean juga. Kasihan twins kalau Mamanya kecapean. " jawab Raynevandra mengutarakan maksud ucapannya meski sejujurnya juga sedih karena Alexandra sebentar lagi tidak akan oergi ke sekolah karena perutnya yang akan semakin membesar.
" Iya, Papa... Papa bawel juga ternyata. " jawab Alexandra sambil menirukan suara anak kecil, janin yang dikandung oleh Alexandra adalah janin kembar, maka dari itu Raynevandra menyebutnya twins.
Miris memang rasanya merasakan Kekasihnya hamil disaat mereka berdua masih resmi berseragam SMA. Raynevandra sendiri sebenarnya juga malu karena perbuatannya ini sampai menghasilkan dua janin kembar yang sekarang bersemayam di dalam perut Alexandra. Tapi Raynevandra tetap tegas bertindak, ia juga harus cepat memikirkan ke depan untuk hidupnya dan Alexandra juga dengan kedua calon anak - anaknya kelak. Raynevandra tak mau larut dalam sesal dan keterpurukan. Kerasnya didikan Evan yang bertahun - tahun ditempanya membuatnya menjadi pribadi yang sigap disegala lika - liku medan kehidupan. Percuma menyesal terlalu dalam jika pada kenyataannya Raynevandra dan Alexandra pun sangat menikmati ketika keduanya berada dalam pergulatan gairah asmarandananya yang menggelora. Ya memang ada berjuta rasa sesal yang menghinggapi benak Raynevandra maupun Alexandra akan terlalu jauhnya tindakan yang telah mereka lakukan, tapi Raynevandra tetap terus berfikiran maju ke depan untuk segera bangkit dan menata kembali kehidupannya yang kini tengah berada pada titik terendahnya. Tentunya juga terus menyemangati Alexandra agar tidak larut dalam rasa sesal juga malu, menyemangati Alexandra agar tidak merasa berkecil hati dengan keadaan yang terjadi kepada mereka saat ini.
Dicibir dan dihina itu pasti jelas akan dialaminya karena perbuatannya ini jikalau ada orang tak suka yang mengetahuinya... Diamuk Daddy kesayangannya pun sudah jelas iya dan sudah diterimanya, bahkan hingga saat ini hubungannya dengan Evan pun masih terbilang renggang. Tapi ada satu ganjalan di dalam hati yang dirasanya lebih memberatkannya saat ini... Entahlah... Hanya Raynevandra yang tau.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Kamu mau langsung istirahat? " tanya Raynevandra saat keduanya baru saja sampai di rumah Alexandra dan langsung masuk ke dalam rumah bersama kedua Orang Tua serta Kakak Alexandra.
" Temenin, ya... " ucap Alexandra pelan sambil bergelanyut manja di lengan Raynevandra.
" Banyak orang, Baby... Aku nggak enak sama Orang Tua kamu. " jawab Raynevandra lirih.
" Ya udah aku nggak mau istirahat kalau Papa Baby nggak mau temenin Mama Baby. " jawab Alexandra cemberut.
" Aku nggak akan pulang, aku tunggu kamu disini. Tapi kamu harus istirahat. Kasihan twins kalau Mamanya kurang istirahat. " jawab Raynevandra mengambil jalan tengah, ucapan Dokter beberapa hari lalu perihal mood swing yang seringkali dialami oleh Ibu hamil membuatnya tak tega meninggalkan Alexandra.
" Jangan ditinggal... " rengek Alexandra menahan tangan Raynevandra untuk tidak keluar dari dalam kamarnya.
" Aku tungguin di bawah. Aku mau kerjain tugas juga. " jawab Raynevandra sungkan dengan keluarga Alexandra.
Trap... Trap... Trap...
" Maafin aku, ya... Aku nyesel kenapa di saat melakukannya aku nggak berpikiran jauh ke depan kalau apa yang kita berdua lakukan sampai membuahkan dua janin tak berdosa ini... " lirih Raynevandra berucap sendu, keduanya duduk berdua di sofa yang ada di dalam kamar luas Alexandra.
" Aku juga salah, Baby... Kamu jangan salahin diri Papa sendiri terus - menerus... " jawab Alexandra.
" Maafin aku yang tanpa sengaja telah merampas indahnya masa - masa SMAmu dengan hadirnya dua janin di dalam perutmu sekarang ini... " ucap Raynevandra.
" Tolong jaga mereka... Jangan pernah sekalipun berpikiran untuk menggugurkannya meski nanti akan banyak orang di luaran sana yang menghujat kesalahan kita ini. Mereka tak berdosa, mereka tetap darah daging kita. Dan kita akan semakin berdosa kalau menggugurkan mereka. Kamu nggak usah khawatir, aku akan bertanggung jawab... " jelas Raynevandra panjang lebar dengan mata berkaca - kaca.
__ADS_1
" Bukan itu yang aku takutkan saat ini, Baby... " jawab Alexandra juga dengan mata yang ikut berkaca - kaca.
" Aku takut Om Evan nggak mau nerima aku dan anak kita... " ucap Alexandra pelan, dan tumpahlah sudah air matanya.
" Sekalipun Daddy menolakmu, Daddy tidak akan tega untuk menolak Cucunya. Dan aku juga tidak akan tinggal diam jika memang benar Daddy menolak kalian. " jawab Raynevandra yang juga ikut menitikkan air mata, ia teringat perdebatannya dengan Evan, bahkan sampai saat ini Alexandra belum mengetahui jikalau Raynevandra sudah tak lagi tinggal di rumah Orang Tuanya.
" Tapi aku akan pastikan... Daddy tidak akan menyakiti kalian. Percaya sama aku. " tegasnya, keduanya pun langsung berpelukan dengan saling menangis sesenggukan.
Sementara kedua Orang Tua Alexandra beserta Kakak Alexandra pun kini juga sedang membicarakan perihal Alexandra dan Raynevandra di ruang keluarga.
" Gimana ceritanya sih Mi kok sampai kejadian kaya gini? " tanya Kakak Alexandra kepada Maminya.
" Adikmu mengatakan jika sebenarnya Raynevandra lah yang menolongnya sehingga terjadi hal ini. " jawab Mami Alexandra.
" Memangnya Lexa kenapa? Kenapa bisa sampai ditolong dengan cara seperti ini? " tanya Kakak Alexandra kian penasaran.
" Papi dan Mami memang belum bertanya terlalu jauh perihal ini... Kami masih menunggu keadaan Adikmu membaik. Kasihan Adikmu... Meski perbuatan mereka salah, tapi Adikmu juga butuh dukungan penuh dari kita semua agar tidak semakin terpuruk dengan keadaannya saat ini. " jawab Papi Alexandra dengan penuh kebijaksanaan.
" Terus sekolahnya gimana? Nanti lama kelamaan perut Lexa akan semakin besar. " tanya Kakak Alexandra lagi.
" Biar Alexa home schooling saja. " jawab Papi Alexandra, Kakaknya pun mengangguk juga tetap berpikir mengenanai Adik kesayangannya.
" Tapi Cowonya mau tanggung jawab, kan? " tanyanya lagi memastikan.
__ADS_1
" Kalau Ray tidak mau bertanggung jawab sudah pasti Ray tidak akan menemani Lexa setiap hari. Papi yakin Ray akan benar - benar bertanggung jawab. Dan Papi yakin Ray itu anak yang baik. " jawab Papi Alexandra dengan penuh keyakinan.