Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 205 - Tidak Berkualitas


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


Selepas kepergian Teo beserta Sandra dan Maura, Raynevandra pun langsung mengajak Alexandra untuk beristirahat. Devandroe dan Stevano juga sudah tak lagi bergabung bersama mereka karena keduanya sudah berada di dalam kamar masing - masing terlebih dahulu.


" Kenapa ini si Cantik ini kok tiba - tiba jadi pendiam seperti ini Kakek perhatiin, hmm? " tanya Ayah Rudi kepada Zeevanea yang memang hanya diam tidak menimpali obrolan keluarganya sama sekali.


" Masih takut pasti dia, Kek... Kan dia yang bikin Daddy masuk Rumah Sakit. " sahut Nala menjawab seenaknya.


" Kalau sampai Daddy kenapa - kenapa jelas dia yang akan lebih menyesal daripada kita semua. " lanjutnya berapi - api.


" Nala... Udah. " potong Sea yang mencoba menghentikan ucapan Nala yang selalu ada - ada saja untuk menyela pembicaraan untuk memicu perdebatan meski seluruh keluarga mereka juga sudah mengetahui jikalau Evan masuk Rumah Sakit setelah bertengkar dengan Zeevanea, mata Zeevanea pun langsung membelalak menatap Nala dengan geram dan tak terima karena Nala mencampuri urusannya, Ayah Rudi pun langsung menatap Evan dan Zeevanea secara bergantian.


" Didiemin sama Daddy? " tanya Ayah Rudi lagi kepada Zeevanea, Zeevanea hanya diam dan malah membuang muka dengan menampakkan ekspresi wajah malasnya.


" Ayah tau kalau aku selalu mengatakan apa pun itu tentang keluarga kami... Dan aku rasa Zeevanea juga sudah sangatlah paham akan aturan - aturan itu. Apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan pasti Zeevanea juga sudah sangat paham. " sahut Evan menyela pembicaraan Ayah Rudi.


" Keputusanmu tetap sama? " tanya Ayah Rudi kepada Evan.


" Keputusan Evan tetap sama. " jawab Evan tegas sambil menatap dalam kepada Zeevanea.


" Terlepas dari siapa yang membuat kesalahan dan siapa yang harus tersakiti karena melanggar keputusan Evan, keputusan Evan tetap sama karena aturan - aturan itu diberlakukan sebelum Zeevanea menjalin hubungan dengan Nicholas. " lanjutnya menegaskan, Ayah Rudi pun nampak mengangguk - anggukkan kepalanya paham akan penjelasan Evan.


" Jadi Zeevanea yang salah menurutmu? " tanya balik Ayah Rudi.

__ADS_1


" Mommy-nya yang salah karena tidak bisa mendidik Zeevanea dengan benar sampai Zeevanea melanggar peraturan yang Evan buat. " jawab Evan tegas dan bijak sambil menatap sekilas kepada Rayne tanpa membahas perselingkuhan Rayne di masa lalu.


" Dan Zeevanea juga salah karena melanggar peraturan Evan meski Zeevanea sudah mengetahui adanya peraturan tersebut. " lanjutnya kembali menegaskan.


" Apakah kamu masih merasa cemburu jika Rayne bertemu dengan Dygta meski kejadian itu sudah lama berlalu? " sahut Eyang Alam yang ikut angkat bicara.


" Jelas, Eyang. Karena Evan mencintai Mommy-nya anak - anak. " jawab Evan tegas.


" Meski sama - sama menyakitkan tapi akan lebih baik diputuskan saat sedang cinta - cintanya daripada ditikung dari belakang. Itu sangat lebih menyakitkan. " tegas Evan.


" Jadi karena kecemburuan inikah alasanmu untuk tetap tidak mau berdamai dengan Nitinegara? " tanya Eyang Alam lagi.


" Bukan! " tegas Evan, semua orang nampak menatap bingung juga penasaran dengan Evan.


" Menjadi seorang pria mengharuskan kita menerima segala sesuatu yang diberikan kehidupan kepada kita. " ucap Evan yang mulai menjelaskan alasannya.


Dan Pria sejati akan bisa menempatkan sikap dengan begitu baik, terutama ketika ia diharuskan mengambil keputusan. " lanjutnya.


" Kalau ingin menemukan seorang pria sejati, lihatlah bagaimana ia bertanggung jawab dengan keputusannya. " tukasnya sambil tersenyum smirk ketika menatap Zeevanea.


" Lalu apa hubungannya kata - kata panjangnmu itu dengan Nitinegara? " tanya Ayah Rudi.


" Apakah dari semua perkataan yang Evan ucapkan tadi menunjukkan bahwa semua itu ada pada Bajingan tengik itu? " jawabnya yang malah berbalik bertanya kepada Ayah Rudi.

__ADS_1


" Ayah tidak pernah mengenalnya... Jelas Ayah tidak bisa menjawab pertanyaanmu. " jawab Ayah Rudi.


" Pria sejati tidak akan berbohong, meski itu untuk keuntungannya. " ucap Evan.


" Bajingan tengik itu tidak bisa bersikap tegas akan keputusannya dan bahkan rela melakukan kebohongan demi kepentingannya semata tanpa memperdulikan banyak orang lainnya yang akan terluka atas kebohongannya. " tegas Evan menyimpulkan kalimat panjangnya semula, Ayah Rudi nampak berpikir sambil menatap dalam kepada Evan.


" Meski sekarang Bajingan Tengik itu sudah berkeluarga dan nampak hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, Ayah bisa tembak kepala Evan kalau ada yang bilang kalau sudah tidak ada lagi nama Mommy-nya anak - anak di dalam hati kecilnya. " tegasnya penuh dengan aura keangkuhan yang membahana.


" Jadi selama ini dia berbohong karena masih menyimpan cinta untuk Rayne maksudmu? Kalau ini ya berarti kamu masih cemburu namanya, Van... " timpal Papi Ardhi bertanya setelah sekian lama tadi hanya menjadi pendengar mereka saja.


" Bukan perkara cemburunya yang Evan bicarakan, Pi... " jawab Evan dan berpindah menatap Papi Ardhi.


" Tapi perkara sikap... Sikap Bajingan Tengik itu yang bahkan tidak bisa membuat keputusan tegas kepada dirinya sendiri untuk tidak membohongi keluarganya terlebih hati kecilnya sendiri demi keuntungannya semata juga. Keuntungan atas kebohongannya yang tetap mencintai Mommy-nya anak - anak dalam diam meski sudah berkeluarga bertahun - tahun lamanya. " tukasnya tegas, mereka semua disana nampak saling tatap dan terus mencerna penjelasan Evan yang sangat panjang lebar.


" Ayah pusing jadinya, Van... " ucap Ayah Rudi sambil geleng kepala saking panjangnya ucapan Evan, sementara Evan langsung terkikik sambil geleng kepala.


" Pria sejati itu pasti mencintai istrinya dan menempatkan keluarganya sebagai hal terpenting dalam hidupnya. Meski Pria sejati tidak terlahir hanya untuk mencintai, tapi Pria sejati terlahir untuk menjalani banyak petualangan dengan penuh keberanian, dan cinta adalah salah satu pengalaman yang ia pelajari dalam perjalanannya. " jawab Evan yang masih terus berucap panjang lebar bak puisi cinta yang tiada habisnya, semua orang disana pun nampak terus menatap serius kepada Evan dan mendengarkan kata - kata Evan yang panjang lebar itu dengan seksama seolah Evan tengah menceramahi mereka semua.


" Menjadi pria sejati juga bukanlah hanya mengenai tentang maskulinitas, melainkan tentang kualitasnya. " jawab Evan sambil tersenyum sinis kepada Ayah Mertuanya yang kini bahkan sudah memijit pelipisnya.


" Jadi... Menurut Evan, Bajingan Tengik itu sama sekali bukanlah seorang figur Pria sejati. Dimana ketegasan dan kecintaan terhadap Istrinya yang sama sekali tidak ada di dalam sanubarinya. Bajingan Tengik itu hanyalah seorang Pria yang sama sekali tidak berkualitas. " tukas tegas Evan sambil tersenyum teduh menatap kepada Zeevanea yang sedari tadi terlihat malas mendengarkan celotehan panjang kali lebar kali tinggi yang diucapkan oleh Evan, Evan langsung tersenyum sinis kepada Zeevanea karena penjelasannya pun kini sudah diucapkan dengan lantang dengan semua kemampuan berlogikanya.


" Lalu... Pantaskah Orang Tua yang tidak tegas dan tidak menyayangi keluarga dengan sepenuh hati seperti itu dijadikan panutan Ayah Mertua untuk Putri kesayangan seorang Evano Gamya Kalandra? " tanya Evan tegas dengan tersenyum teduh kepada Zeevanea.

__ADS_1


" Daddy harap kamu paham akan alasan penolakan Daddy terhadap hubunganmu bersama Nicholas. Bukan hanya karena luka lama Daddy yang masih menganga, tapi juga karena kualitas Bajingan Tengik itu yang sama sekali tidak ada. " lanjutnya berucap tegas kepada Zeevanea tercintanya.


" Daddy tidak akan semudah itu menyerahkan Putri kesayangan Daddy kepada keluarga yang tidak berkualitas. " imbuhnya penuh dengan ketegasan.


__ADS_2