Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 191 - Mata Genit


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


" Ale, tunggu! " pekik Devandroe memanggil Alexandra yang baru saja kembali melangkah bersama kedua Orang Tuanya juga diantarkan oleh Raynevandra, Alexandra yang merasa dipanggil namanya pun langsung berhenti dan menoleh ke arah sumber suara, mata Raynevandra nampak memicing tajam seketika.


" Iya, Dev... Ada apa? " ucap Alexandra dengan diiringi senyum teduh yang membuat hati Raynevandra didera rasa cemburu karena senyum teduh Kekasihnya ditujukan untuk Devandroe.


" Aku pengen ngomong sama kamu... Sebentar aja. " ucap Devandroe memohon tanpa memperdulikan tatapan mata Raynevandra yang tidak bersahabat.


" Besok aja, ya... Ini udah malem... Aku besok pasti kesini lagi buat jenguk Daddy... " tolak langsung karena Alexandra sudah melihat ekspresi marah dari calon Suaminya.


" Sebentar aja... " jawab Devandroe yang masih memaksa, Alexandra nampak bingung akan menjawab apa.


" Lo nggak denger Alexa ngomong apa! " bentak Raynevandra murka, Papi dan Mami juga Alexandra nampak terkejut mendengar teriakan Raynevandra, keluarga Raynevandra pun ikut terkejut hingga menoleh juga, Eric dan Marcello pun langsung mendekati mereka.


" Gue cuma mau ngomong sebentar sama Ale! " jawab Devandroe kesal.


Trap... Trap... Trap...


" Kenapa, Ray? Jangan teriak - teriak, ini Rumah Sakit. " ucap Eric kepada Raynevandra.


" Udah malem, kamu harus istirahat. " ucap Raynevandra yang malah berucap kepada Alexandra dan tak menjawab ucapan Eric.


" Kasihan Raynevandra Junior kalau Mamanya terlalu capek. " lanjutnya menggoda Alexandra sekaligus memanas - manasi Devandroe meski pikirannya masih kalut memikirkan kondisi Evan, tangan Devandroe pun mengepal erat seketika tak terima dengan sikap Raynevandra juga sedikit kesal karena merasa Alexandra mengabaikannya.


" Pulang dulu sama Mama ya, Nak... Papa masih harus temani Opa Daddy disini... " lirih Raynevandra yang kini sudah bersimpuh di lantai sembari mngecupi perut Alexandra yang berbalut dress bermotif bunga - bunga yang dikenakan oleh Alexandra, Alexandra nampak tersipu juga tersenyum sambil mengusap lembut kepala Raynevandra, kedua Orang Tua Alexandra serta Eric dan Marcello pun nampak tersenyum juga, tapi tidak dengan Devandroe yang kian menatap nyalang kepada Raynevandra.

__ADS_1


" Papa Baby juga nggak boleh capek... Papa Baby harus tetap kuat, demi kita dan Opa Daddy... " jawab Alexandra mesra sembari menarik Raynevandra agar kembali berdiri, semakin panas saja hati Devandroe melihat keduanya yang nampak sangat mesra.


" Ray titip Alexa ya, Pi, Mi... Kalau ada apa - apa sama Alexa tolong kabari Ray. " ucap Raynevandra kepada kedua calon Mertuanya.


" Kalau lagi jatuh cinta memang serasa dunia milik berdua ya, Pak Eric... " sindir Papi Salman kepada Raynevandra tapi berbicara kepada Eric, Eric pun mengangguk sambil tersenyum tipis.


" Jangan khawatir, Ray... Mami dan Papi yang merawat dan menjaga Lexa dari kecil... Dan sekarang kamu baru bilang titip Lexa sama kami... Posesive sekali sepertinya ini. " ledek Papi Salman kepada Raynevandra, Raynevandra langsung menunduk malu, Alexandra merasa gemas dengan sikap Raynevandra.


" Seperti Evan sekali dia, Pak Salman... Dari luar terlihat angkuh dan arogan, suka teriak juga, tapi sebenarnya Family Man sekali. " jawab Eric sambil tersenyum dan mengusap kasar kepada Raynevandra, Pak Salman dan Bu Syahnaz pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


" Ya sudah... Kalau begitu kami permisi pulang. " pamit Papi Salman kepada Eric, dan Eric pun langsung mengangguk, Papi Salman nampak menepuk pundak Raynevandra sambil tersenyum.


" Nggak usah dianterin keluar, kamu disini aja. " lanjutnya berucap kepada calon Menantu, Raynevandra pun mengangguk.


Trap... Trap... Trap...


Puk!


" Dasar genit! " pekik Marcello sambil terkikik juga menepuk kepala Raynevandra pelan setelah mendapati Raynevandra mengedipkan sebelah matanya kepada Alexandra.


" Cello... " sela Eric memperingatkan tapi Marcello dan Raynevandra hanya terkikik saja sementara Devandroe mengikuti mereka dengan wajah yang dilipat dalam dan gemuruh di dada yang kian menggelora.


" Genit dia, Pi! Masa iya kedipin sebelah matanya ke Cewenya. " jelas Marcello sambil melirik Raynevandra.


" Yang penting bukan Cewemu yang dikedipin matanya sama Ray ya udah biarin aja biar Ray seneng. " jawab Eric sekenanya.

__ADS_1


" Kalau kaya gitu ceritanya ya ngajakin perang namanya, Pi. " sungut Marcello.


" Nggak mungkin ngajakin perang kaya gitu si Ray, Nak... Udah mau jadi Bapak juga dia masa iya masih mau ngedipin mata sama Cewe lain. " jawab Eric yang masih saja penuh kesantaian.


" Lo juga kepedean ngatain Gue sampai kaya gitu. " sahut Raynevandra tak terima.


" Calon Gue lebih menggoda, tau! " pekiknya sombong.


" Asal jangan menggoda orang lain selain Lo aja. Hahaha... " jawab Marcello sekenanya diiringi dengan gelak tawa renyah, Raynevandra pun langsung mencebikkan bibirnya.


Trap... Trap... Trap...


" Evan kenapa? " tanya Ayah Rudi panik, ia baru saja tiba disana bersama Richie dan Vivian juga Bunda Sekar, mereka nampak datang dengan tergesa - gesa, Eric lah yang tadinya mengabari mereka.


" Aku nggak tau, Yah... Mas Evan tiba - tiba pingsan dan sampai sekarang belum sadar juga. " lirih Rayne pelan yang langsung menghamburkan diri untuk memeluk Ayahnya.


" Kalian berdua bertengkar? " tanya Ayah Rudi lagi, setahunya memang Evan juga sehat dan baik - baik saja, Rayne menggeleng tapi juga nampak bingung harus menjawab bagaimana kepada Ayahnya.


" Daddy ribut sama Zee... Ribut soal Zee sama Nico... " sela Stevano berucap jujur, Ayah Rudi nampak menghela nafas berat, ia merasa obrolannya dengan Evan sebelumnya nampak tidak bisa merubah keputusan Evan, Zeevanea yang semula menatap sejak kedatangan mereka nampak kembali menundukkan kepalanya diiringi dengan air mata yang kembali menderas meski tanpa suara.


" Kalian tenang saja... Evan pasti baik - baik saja. Biarkan saja dulu Dokter menangani hingga selesai... Mungkin Evan juga butuh istirahat, butuh ketenangan. " jawab Ayah Rudi resah meski raut wajahnya tetap terlihat tenang menunjukkan seolah tidak terjadi apa - apa.


" Stress berat kali, Yah... Masalah baru terus datang kaya nggak ada hentinya nerpa mereka. " sahut Richie berasumsi, Ayah Rudi hanya mengangguk dengan tatapan menerawang ke depan, banyak pula dugaan - dugaan asumsi lain yang memutar di kepala keluarga Armaya mengenai tumbangnya Evan yang terasa sangat mengejutkan bagi mereka.


Siapa yang bisa menyangka, sosok gagah tegas yang terkenal gahar, garang, dan arogan ini nyatanya juga bisa terkulai lemah tak berdaya hingga tak sadarkan diri sampai sekarang ini. Suasana di depan ruang ICU ini nampak kembali sepi... Selain karena malam semakin larut, Dokter yang menangani Evan di dalam sana pun belum juga menunjukkan tanda - tanda untuk keluar dari dalam sana. Jelas saja suasana terasa kian mencekam karena mereka semua mengkhawatirkan keadaan Evan.

__ADS_1


__ADS_2