
" Vava!!! " ucap suara bariton seorang Pria, Zeevanea langsung menghentikan langkahnya karena nama itu dulu sempat menjadi nama panggilan masa kecilnya kala masih di Venesia dan suara itu pun seolah familiar di telinganya.
Zeevanea yang sudah berjalan beberapa langkah dengan Anya langsung berhenyi di tempatnya. Zeevanea pun langsung menoleh kembali ke belakang, ke arah sumber suara yang memanggil nama kecilnya.
" Lo kenapa sih? " tanya Anya bingung.
" Ada yang panggil Gue... " jawab Zeevanea datar dan mata indah Zeevanea pun beradu dengan mata si Pria tersebut ketika Zeevanea sudah membalikkan badannya dan menatap ke arah yang dirasa sumber suara itu berasal, Anya hanya mengernyit bingung, perasaan yang dipanggil nama Vava bukan nama Zeevanea.
Trap... Trap... Trap...
" Kamu lupa sama Daddy, Nak? " lirih si Pria tersebut yang langsung maju beberapa langkah untuk mendekat pada Zeevanea yang gantian kini terlihat membeku di tempatnya, tatapan Zeevanea dan si Pria ini terkunci dalam, si Perempuan tadi hanya diam sembari menatap kebingungan seperti Anya saat ini.
" Dadd...ddy... " lirih Zeevanea terbata saking tak percayanya, si Pria ini pun menganggukkan kepalanya sembari menatap Zeevanea yang masih dengan keterkejutannya.
" Iya, Sayang... Ini Daddy. " jawab si Pria dan langsung merengkuh Zeevanea ke dalam pelukan hangat yang sudah berpuluh tahun tak pernah terjadi lagi setelah ia meninggalkan negara ini karena ingin menghapus luka hati atas kegagalan cinta pertamanya dulu.
" Dadd...ddy Dyg...ta... " ucap Zeevanea taerbata dalam dekap hangat sang Pria, Pria ini pun menganggui sembari tetap memeluk Zeevanea penuh kerinduan dan terus mengusap lembut kepala Zeevanea.
Zeevanea melepaskan pelukan itu dengan perasaan yang macam - macam. Ditatapnya mata si Pria yang dipanggilnya Daddy Dygta itu dengan seksama. Seolah ia sedang mengumpulkan kembali pecahan - pecahan kepingan memori masa kecilnya dulu. Mata Zeevanea mulai terlihat mengembun, mata indah itu berkaca - kaca setelah ia terdiam sesaat sembari menatap wajah si Pria yang kini tak henti mengulas senyum manisnya.
__ADS_1
" Daddy kemana saja!!! " pekik Zeevanea yang langsung membentak dan langsung menghambur kasar untuk memeluk sang Pria ini, sampai si Pria ini sedikit terhuyung ke belakang saking kagetnya meski tak sampai jatuh juga.
" Menjauh dari Mommymu yang tak mungkin bisa direngkuh... " jawab Pria bernama Dygta ini dengan santainya, Zeevanea pun merenggangkan pelukannya dan menatapnya sembari memicingkan matanya, memang Zeevanea kecil tidak begitu paham perihal apa yang akhirnya memisahkan Mommynya dengan Dygta, yang Zeevanea dapat simpulkan kala itu adalah semenjak ketika Daddy kandungnya muncul di hadapan mereka hubungan Mommynya dengan Dygta lambat laun menjadi kian renggang, hingga akhirnya ia tak pernah bertemu lagi dengan sosok Dygta sampai ia besar dan barulah mereka kembali bertemu tanpa sengaja di toko tas tadi.
" Pasti takut sama Mas Evan, kan? " goda Zeevanea sambil menyeka air mata harunya yang tiba - tiba menetes.
" Nggak boleh gitu ah panggilnya. Itu Daddymu kenapa dipanggil Mas. " ucap Dygta menasehati Zeevanea, Zeevanea langsung mencebik, Dygta semakin gemas melihat Zeevanea yang dirasanya perangainya seperti Evan.
" Sayang... Kenalin ini Zeevanea, Putrinya Rayne sama Evan. " ucap Dygta pada si Perempuan yang berebut tas bersama Zeevanea tadi, Perempuan itu pun mendekat ke arah mereka.
Trap... Trap... Trap...
" Salim dulu sama Mamimu... Ini Mami Kinan, Istrinya Daddy... " ucap Dygta memperkenalkan Istrinya kepada Zeevanea.
" Saya Zeevanea, Aunty... " ucapnya kaku setelah ia mencium punggung tangan Istri Dygta, Kinan nampak tersenyum menatap Zeevanea, tentu Kinan juga paham siapa sosok muda nan cantik di hadapannya ini karena Suaminya juga jelas sudah menceritakan semuanya kepadanya, dan Kinan lah yang akhirnya mampu membawa Dygta kembali bangkit dari keterpurukannya dahulu kala ia kehilangan cinta pertamanya yang syarat akan kepedihan yang teramat mendalam.
" Panggil Mami saja... Daddymu sudah banyak cerita tentang keluarga kalian. " jawab Kinan dengan senyum tulusnya, Zeevanea pun menganggukkan kepala dengan pelan.
" Iya, Mi... " ucapnya pelan, Dygta dan Kinan saling pandang dan kembali tersenyum kala menatap pada Zeevanea.
__ADS_1
" Oiya, Dadd, Mi... Ini Kakak Anya. Anaknya Papici. " ucap Zeevanea memperkenalkan Anya kepada Dygta dan Kinan, Anya yang sedari tadi terpaku dengan kalimat mereka langsung mendekat dan mencium punggung tangan keduanya bergantian tanpa kata karena kini ia tengah dilanda kebingungan atas situasi ini.
" Anaknya Richie sama Sea? " tanya Dygta memastikan, Anya dan Zeevanea pun mengangguk bersamaan.
" Kita cari makan, yuk... Sambil ngobrol santai. " ucap Dygta yang kembali membuka suara.
" Tapi aku berempat, Dadd... Aku sama Kakak Anya sama dua temenku. " ucap Zeevanea.
" Nggak papa, Sayang... Ajak aja temennya. " ucap Kinan lembut, Zeevane jadi tak enak hati karena tadi sempat berdebat dengan Kinan tapi tetap saja wajah yang terlihat arogan seperti Bapaknya itu berhasil menyembunyikan ketidak enakan hatinya.
Mereka berempat pun langsung beranjak setelah Zeevanea, Anya, Valerie, dan Aluna membayar tas yang dibeli masing - masing. Tapi Aluna dan Valerie tak ikut bergabung dengan kedua Sahabatnya beserta Dygta dan Kinan karena Orang Tua Valerie mengabarkan jika mereka baru saja tiba dari Luar Negeri. Akhirnya Valerie dan Aluna pun pamit undur diri. Jadi tinggalah mereka berempat yang kini berjalan ke arah sebuah restoran Jepang yang ada di area mall tersebut.
Trap... Trap... Trap...
Setelah Pelayan datang, mereka berempat pun langsung memesan makanannya. Setelah Pelayan selesai mencatat menu pesanan mereka berempat, Pelayan tersebut pun kembali ke tempatnya untuk menyerahkan pesanan baru tersebut. Tak lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang dan mereka langsung menyantapnya sembari melanjutkan obrolannya. Sesaat kemudian setelah makanan mereka sudab tandas, Kinan pamit ke toilet sementara Anya pamit menepi sebentar karena sang Kekasih kini tengah menghubunginya. Tinggalah Zeevanea dan Dygta yang duduk bersama.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
Tapi tanpa keduanya sadari, kala keduanya sedang ngobrol santai, nampak seorang Pemuda yang sedang berjalan bersama beberapa rekannya nampak menatap tajam kepada mereka berdua. Tangan si Pemuda tersebut terlihat keluar dari saku celananya dan kemudian mengepal kuat sembari menatap kedekatan yang terjalin diantara Zeevanea dan Dygta di depan sana. Senyum merekah Zeevanea yang bersahutan juga dengan senyum Dygta membuat hatinya terbakar. Dadanya terasa begitu sesak. Obrolan - obrolannya bersama beberapa rekannya tadi pun perlahan terabaikan begitu saja karena kini konsentrasinya tertuju pada Dygta dan Zeevanea yang terlihat tertawa bersama dengan santainya. Sebenarnya ia juga hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa - apa mengingat keberadaan rekn - rekannya yang kini tengah bersamanya.
Dalam hati yang berkecamuk itu pun dia hanya bisa menatap geram melihat sosok tegas nan penyayang yang selama ini dikaguminya nampak duduk mesra dengan seorang Gadis belia yang beberapa hari terakhir ini dijulukinya sebagai Sugar Baby dari Evano Gamya Kalandra. Air muka si Pemuda ini pun semakin terlihat keruh karena Dygta dan Zeevanea tak segan berpelukan hangat. Apa lagi terlihat jika Dygta sangat memperlakukan Zeevanea dengan penuh kasih sayang. Ia seolah menolak pemandangan yang dinilainya menjijikkan itu terjadi di hadapannya. Di depan mata kepalanya sendiri kini ia menyaksikan dengan jelas jika sang Ayah tercinta tengah duduk berdua dengan sangat mesranya bersama seorang Sugar Baby yang beberapa hari lalu dipergokinya bersama salah seorang Orang Tua dari Sahabat baiknya sendiri. Tapi kemudian, teman - teman Pemuda ini pun mengajaknya berpindah tempat karena makanan yang mereka cari sudah habis. Jadi si Pemuda ini pun tak bisa mengamati Zeevanea dan Dygta hingga akhir.