Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 139 - Raynevandra !!!


__ADS_3

Plak!!! Plak!!!


Dua bunyi tamparan beruntun itu dilayangkan Evan kepada Putra Bungsunya. Tangan Evan bergetar... Bukan karena takut tapi karena kini ia tengah dilanda amarah yang membuncah. Kepala Raynevandra pun menoleh kanan kiri bergantian karena tamparan keras Daddynya.


Hiks... Hiks... Hiks...


" Jangan, Mas! Hiks... Hiks... Hiks... " Rayne semakin menangis terisak, Rayne dan Evan baru saja datang menghampiri Raynevandra, tamparan keras itulah sambutan dari Evan kepada Putra Bungsunya, Rayne langsung memeluk Raynevandra erat, tubuh lemahnya bergetar hebat dalam pelukan Putra kesayangan yang paling terkenal dengan keromantisan dan kasih sayangnya itu, Raynevandra hanya diam sambil menundukkan kepala dan juga membalas pelukan Mommynya, mata tajam Evan seolah menghunus menelanjangi Raynevandra yang berdiri di hadapannya.


" Kenapa jadi seperti ini, Ray... " lirih Rayne sambil terisak.


" Ray salah, Momm... Ray akan mempertanggung jawabkan kesalahan Ray. " jawab Raynevandra pelan tapi tersirat ketegasan di dalam kalimat yang diucapkan.


" Harus, Sayang! Ray memang harus mempertanggung jawabkan semuanya. Mommy tau Ray adalah anak yang bertanggung jawab. " lirih Rayne menjawab sambil mendongak menatap Putranya yang memang tingginya lebih tinggi darinya, Raynevandra mengangguk pelan sembari mengusap lembut air mata Mommynya, mata Raynevandra juga nampak berkaca - kaca tapi sekuat tenaga ia menahannya agar air matanya tidak tumpah di hadapan Mommynya.


" Ayo kita pulang. Biar dia urus sendiri semuanya. " tegas Evan, Rayne langsung menoleh menatap Evan dengan menggeleng - gelengkan kepalanya tak mau meninggalkan Raynevandra.


" Anak kita butuh dukungan, Mas... Jangan malah ditinggal. " ucap Rayne dengan berderai air mata.


" Dukungan? " tanya Evan kembali mengulang ucapan Rayne, kening Evan berkerut.


" Dukungan membenarkan kesalahannya maksudmu? " lanjut Evan bertanya tegas kepada Istrinya.


" Anak kita memang salah, Mas... Tapi kita juga harus tetap mendukungnya untuk bangkit dan mempertanggung jawabkan kesalahan yang telah diperbuatnya. " jawab Rayne.


" Whatever! " ucap Evan datar kemudian langsung berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Rayne dan Raynevandra.


Trap... Trap... Trap...


" Mas Evan jangan pergi, Mas... Raynevandra butuh kita. " lirih Rayne yang mencoba menahan Evan tapi Rayne tetap berdiam menggenggam tangan Raynevandra, Rayne tak akan tega meninggalkan Putranya seorang diri dengan masalah berat yang kini tengah dihadapi.


Hiks... Hiks... Hiks...


Flashback On :


" Sakit, Baby... Eumphhh... Akh... Sakith. " rintih Alexandra kala Raynevandra kembali memacu tubuhnya kencang untuk yang ketiga kalinya saat ini, Alexandra bahkan sudah hampr menangis dibuatnya.


" Aku sampai, Baby... Ohhh... Nikmatnya. " jawab Raynevandra terengah dan sampai pada pelepasannya, tubuh Raynevandra pun ambruk di atas tubuh Alexandra, peluh keringat bersama mereka pun membaur kembali seiring dengan ambruknya Raynevandra di atas tubuh Alexandra.


Hiks... Hiks... Hiks...

__ADS_1


" Loh, kanapa nangis? " tanya Raynevandra bingung karena melihat Alexandra langsung menangis setelah mereka berdua melakukan penyatuan yanh ketiga kalinya.


" Perutku sakit... " lirih Alexandra dengan terisak dan berderai air mata, Raynevandra nampak bingung harus berbuat apa, Raynevandra mengusap lembut perut polos Alexandra dengan pelan dan perlahan untuk meredakan sakit yang dirasakan oleh Alexandra.


" Sakit banget, Baby... " lanjutnya diiringi dengan ringisan kesakitan di bibirnya.


" Masih sakit? " tanya Raynevandra, Alexandra pun mengangguk pelan sembari memegangi tangan Raynevandra yang sedang mengelus perutnya, tapi kemudian Alexandra berusaha bangun untuk duduk, Raynevandra pun membantunya.


" Darah apa ini? Kamu datang bulan? " tanya Raynevandra terkejut setelah melihat noda darah di sprei tempat tidur Alexandra setelah tubuh Alexandra dipindahkan, Alexandra tak menjawab, ia masih menangis menahan kesakitan yang berasal dari perutnya.


Dengan gerakan cepat, Raynevandra langsung mencari tisu basah untuk membasuh bagian inti Alexandra yang diduganya adalah sumber dari keluarnya darah tersebut. Tapi Raynevandra semakin terlihat panik kala melihat darag segar itu masih saja merembes dari sana meski ia masih mengusapnya dengan tisu basah. Saat Raynevandra masih berada dalam kebingungannya, tiba - tiba saja Alexandra ambruk. Tubuh bergetar karena menangis terisak itu pun melemah seketika seiring dengan hilangnya kesadaran Alexandra.


" Baby! " pekik Raynevandra panik, dadanya kian berdegub kencang, ia tak mengira jika Alexandra akan sampai jatuh pingsan.


" Baby, bangun! Jangan buat aku takut! " ucap Raynevandra panik sambil merayap naik agar bisa menatap Alexandra, Raynevandra menepuk - nepuk pelan pipi Alexandra tapi Alexandra hanya diam saja tak bergerak.


Akhirnya Raynevandra pun langsung memakaikan kembali pakaian Alexandra. Setelah selesai dengan Alexandra, Raynevandra pun memakai pakaiannya sendiri dengan cepat kemudian Raynevandra langsung menggendong Alexandra. Membawanya keluar dari dalam kamar menuju Rumah Sakit terdekat.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Memang sebelumnya Rayne tidak pernah periksa ke Rumah Sakit, tapi karena Dokter Kandungan yang menangani kehamilan sebelumnya meninggal maka kini Rayne dan Evan pun harus mencari Dokter baru untuk memeriksakan kandungan Rayne. Rayne dan Evan sendiri sebenarnya masih terlihat kikuk karena masalah mereka sebelumnya yang sampai kini belum juga bertemu dengan kata damai. Tapi Evan selalu mengingat jadual kontrol kehamilan Istrinya maka dari itu Evan pun mengajak Rayne untuk pergi ke Rumah Sakit.


Berbeda dengan Rayne dan Evan yang langsung menuju Poli Obgyn setelah membaca plang di depan lobby Rumah Sakit, Raynevandra langsung menggendong Alexandra dan berlari ke ruang UGD. Dan tanpa tunggu lama, Alexandra pun langsung ditangani. Raynevandra sendiri diperintahkan keluar oleh Dokter yang menangani Alexandra.


Trap... Trap... Trap...


Langkah lunglai Pemuda tampan ini pun terhenti di depan pintu ruang UGD. Seketika itu juga tubuhnya luruh ke bawah... Raynevandra terdiam bersama kekhawatirannya. Yang ia tahu saat ini hanyalah ia merasa bersalah karena membuat Alexandra kelelahan hingga jatuh pingsan. Meski Raynevandra sadar jika permainan babak ketiga tadi Alexandra lah yang memintanya. Pakaian yang terkena lumuran darah Alexandra pun diabaikannya begitu saja. Ia sudah tak perduli lagi dengan penampilannya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Alexandra seorang. Raynevandra ingin Alexandranya segera siuman, itu saja.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


" Permisi, Dek... Kamu keluarga Pasien yang pendarahan tadi? " tanya Suster yang baru saja keluar dari ruang UGD dan menghampiri Raynevandra.


" Iya, Sus... " jawab Raynevandra cepat dan segera berdiri dari duduknya.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


" Bagaimana keadaan Pasien itu, Sus? " tanya seorang Dokter yang nampak tergesa - gesa menuju ke ruang UGD.


" Sepertinya memang pendarahan karena hamil, Dok... " jawab Suster tersebut, Raynevandra masih diam menunggu Suster tersebut mengajaknya berbicara lagi, Dokter yang baru datang itu langsung berlari masuk ke dalam UGD, tapi ternyata Suster itu pun berbalik badan.


" Suster, tunggu. " pekik Raynvandra memanggil Suster itu, Susternya pun langsung menoleh kembali pada Raynevandra.


" Keadaan Alexandra bagaimana? " tanya Raynevandra cepat.


" Eh, maaf Dek... " ucap Suster yang jadi tak enak hati merasa mengabaikan Raynevandra yang sebelumnya diajak bicara.


" Pasien diprediksi sedang mengandung... Jadi pendarahan yang dialaminya karena berhubungan dengan janin di dalam perutnya. Dokter Mia tadi adalah Dokter Kandungan, jadi kita harus menunggu kepastian dari Dokter Mia terlebih dahulu. " jelas Suster panjang lebar, Raynevandra kembali terdiam bungkam setelah mendengar penjelasan panjang lebar yang Suster tersebut lontarkan, setelah melihat Raynevandra hanya diam saja, Suster tersebut pun langsung masuk kembali ke dalam ruang UGD.


Trap... Trap... Trap...


Setelah kembali menunggu dengan perasaan yang kian tak karuan, nampak kembali Dokter Mia berjalan keluar menuju ke arah Raynevandra. Sementara Rayne dan Evan yang baru saja selesai menebus obat di apotek Rumah Sakit pun kini sedang berjalan keluar.


Trap... Trap... Trap...


" Anda keluarga Pasien atas nama Nona Alexandra? " tanya Dokter Mia, Raynevandra mengangguk.


" Gimana keadaannya, Dok? " tanya Raynevandra menggebu - gebu.


" Alexandra sudah siuman... Kini Alexandra tengah mengandung, dan usia kandungannya menginjak lima belas minggu. " jelas Dokter tersebut, mata kembali membola, bibir ikut membulat, gemuruh di dada yang kian berdegub kencang inilah yang kini tengah tertampil dalam perawakan Raynevandra yang sedang berdiri berhadapan dengan Dokter Mia di depan ruang UGD, Dokter Mia mengetahui nama Alexandra karena memang tadi ia menanyai Alexandra saat baru saja siuman.


" Tolong segera dikabarkan kepada Suami atau Orang Tua Pasien, ya... Pasien sangat membutuhkan dukungan dari orang - orang terdekat. " ucap Dokter Mia lagi sambil menatap Raynevandra yang masih muda, Dokter Mia tak menyangka jika Raynevandra adalah penebar benih kehamilan di dalam rahim Alexandra.


" Saya, Suaminya. " tegas Raynevandra, kepalanya menatap tegas kepada Dokter Mia.


" Baiklah... Kalau begitu saya ingin bicara lebih lanjut tentang kondisi Nona Alexandra lebih lanjut dengan anda. " ucap Dokter Mia, Raynevandra pun mengangguk.


" Saya akan menemui Alexandra sebentar. " ucap Raynevandra.


" Baiklah... Saya akan menunggu di ruangan saya. " jawab Dokter Mia kemudian beranjak setelah sama - sama mengangguk dengan Raynevandra.


Trap... Trap... Trap...


" Raynevandra!!! " teriak Evan murka, Raynevandra yang baru saja akan membuka pintu ruang UGD itu pun langsung menoleh, Raynevandra jelas menghafal dengan fasih akan suara yang baru saja berteriak menggelegar itu.


Flashback Off :

__ADS_1


__ADS_2