Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 7 - Mas Evan


__ADS_3

Tanpa terasa, sudah hampir satu Minggu ini si kembar di rumah dan keduanya sama - sama sibuk belajar menggeluti bisnis kedua Orang Tuanya. Hubungan sembunyi - sembunyi itu pun tetap rapih dalam persembunyiannya. Stevani juga selalu meluangkan waktu untuk bertemu Maura selepas ia pulang dari kantor Daddynya. Meski seringkali tak lama, tapi kerinduan keduanya sudah cukup terobati dengan pertemuan itu.


Dan sekarang kebetulan hari Sabtu, Stevano nampak bersantai sendirian di rumah sembari melakukan panggilan video dengan Maura. Queen dan Zeevanea pergi ke galeri sementara Evan pergi golf dengan kolega - koleganya sedari pagi tadi.


Maura :


Bee...


panggil Maura.


Steve :


Hemmm...


jawabnya dengan menatap dalam wajah Maura yang terpampang di layar ponselnya.


Maura :


Aku kangen...


lirih Maura memanja.


Steve :


Aku juga sama, Beb...


balas Steve sembari tersenyum.


Ini dari tadi makanya aku VC kamu.


lanjutnya dan memang sudah sedari tadi mereka mengobrol, tapi Maura tetap merasakan kerinduan yang teramat kepada Kekasihnya.


Maura :


Kamu nggak pengen ngajak aku jalan gitu?


Mumpung week end dan kamu lagi free.


tanyanya manja


Steve :


Mau jalan kemana?


tanya balik Steve.


Maura :


Terserah kemana aja...


Asalkan berdua sama kamu.


jawabnya.


Steve :


Mau nonton?


tawar Steve.


Maura :


Boleh...


jawabnya sumringah.


Steve :


Papa di rumah, nggak?


tanyanya.


Maura :


Ada...


jawabnya lesu.


Itu lagi di bawah sama Uncle Jeff.


jelasnya.


Steve :


Ada Daddy disitu?


tanyanya lagi.


Maura :


Nggak ada, lah...


Kan tadi kamu bilang kalau Daddy pergi main golf.


jawabnya.


Steve :

__ADS_1


Tapi ketemuan di mall langsung nggak papa, kan?


tanya Steve tak enak hati karena tak bisa menjemput Maura ke rumahnya lantaran Papa Maura berada di rumah.


Maura :


Biar aku aja yang jemput kamu.


Di rumah beneran sepi, kan?


jawab Maura.


Steve :


Ya udah aku tungguin.


jawab Steve sembari menganggukkan kepalanya.


Maura :


Tutup dulu kalau gitu.


ucapnya, Steve pun mengangguk.


See ya, Bee...


ucap Maura pamit.


Steve :


Kamu ati - ati, aku tunggu di rumah.


jawab Steve, Maura menganggukkan kepalanya dan panggilan pun terputus.


Tut... Tut... Tut...


Setelah mengakhiri video call tersebut, keduanya pun langsung bersiap pergi berkencan. Empat puluh menit kemudian, sampailah mobil yang ditumpangi Maura di depan gerbang rumah Steve. Setelah menghubungi Steve, Steve pun keluar dan keduanya langsung berangkat.



Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Miss you... lirih Maura yang langsung menghamburkan pelukannya kepada Steve saat Steve sudah masuk ke dalam mobil dan Sopir pun langsung bergegas, senyum bahagia keduanya pun bertemu.


Aku juga rindu kamu... balas Steve dan semakin merengkuh Maura ke dalam dekap hangatnya.


Cup...


Cup...


" Mau nonton apa? " tanya Steve.


" Terserah aja lah, Bee... Yang ada disana aja, kalau ada sih pengennya nonton yang roman - roman aja. " jawabnya dan sudah kembali berada di bawah pelukan hangat sang Kekasih.


" Ya udah, terserah kamu aja. Aku ngikut. " jawab Steve sembari memeluk mesra Maura sembari menikmati jalanan di hari yang hampir siang ini.


Kriiing...


Zee :


Ya, Bebikuh...


ucap Zeevanea menjawab teleponnya, tertera nama Kakak Anya di layarnya.


Anya :


Lo sibuk, nggak?


tanya Anya.


Zee :


Ini lagi di galeri sama Mommy.


jawabnya, Rayne yang sedang menghias memasangkan gaun oada manequin pun menoleh sekilas


Anya :


Besok ada balap mobil, Gue punya dua tiket.


Nonton, yuk...


Ini temen - temen Gue juga banyak yang mau nonton.


Jadi kita bisa nonton rame - rame sama mereka.


ajaknya.


Zee :


Boleh...


Besok jemput Gue kalau gitu.


jawabnya.

__ADS_1


Anya :


Lo aja yang jemput Gue.


Papi ribet, nggak kasih izin kayanya.


ucapnya.


Zee :


Ya udah besok Gue jemput Lo.


jawabnya.


Anya :


Oke.


Bye...


ucapnya.


Zee :


Bye, Sissy...


jawab Zeevanea dan langsung mematikan panggilan telepon tersebut.


Tut... Tut... Tut...


"Siapa, Dek? " tanya Rayne yang tetap fokus pada manequinnya.


" Siapa lagi kalau bukan Kak Anya. " jawabnya, Rayne langsung berhenti menatap manaquinnya dan berpindah mentap Putrinya.


" Aku besok nonton balab mobil sama Kakak Anya ya, Momm... " ucapnya meminta izin pada Mommynya.


" Mommy ngizinin aja asal kamu bisa bawa diri dan nggak macem - macem. Izin langsung juga sama Daddy. " jawab Rayne.


" Beres. Mas Evan mah gampang. " jawabnya dengan cengengesan, Rayne pun langsung tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


" Lagian sama temen - temen Kakak Anya juga kok. Perginya rame - rame. " jelasnya.


" Yang penting kamu harus hati - hati. " pesan Rayne, Zeevanea pun menganggukkan kepalanya.


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Mas Evannn... " teriak Zeevanea heboh kala melihat sang Daddy yang baru saja pulang golf langsung menyusul ke galeri, Zeevanea pun langsung berhambur memeluk Daddynya, Rayne dan Evan saling tatap sembari tersenyum melihat tingkah Putrinya.


" Bisa nggak panggilnya yang bener? " protes Evan setelah mencium puncak kepala Putrinya dengan gemas.


" Emang salah kalau Mommy panggil Daddy Mas Evan? " ledek Zeevanea.


" Kan Mommy yang panggil Mas Evan. Lah barusan ini yang manggil kamu, apanya coba yang bener kalau kamu yang panggil Daddy kaya gitu... " jawab Evan tak mau kalah dengan memasang wajah menjengkelkannya, Zeevanea pun menciumi pipi Evan berkali - kali.


" Males ah! Uda tua ngambekan. " ucap Zeevanea dan mengurai pelukannya, Evan pun berpindah memeluk Rayne.


Cup...


" Baru pulang, Mas? " tanya Rayne setelah mencium punggung tangan Evan dan Evan mengecup singkat bibirnya.


" Iya, langsung kesini. " jawab Evan.


" Pulang, yuk... " ajak Evan kemudian.


" Lah terus aku gimana? " potong Zeevanea cepat sebelum Rayne sempat menjawab.


" Ditinggalin sendirian gitu sementara Daddy sama Mommy mesra - mesraan di rumah? " lanjutnya melayangkan protesnya.


" Di galeri banyak orang, nggak usah sok bilang sendirian. " jawab Evan, Zeevanea pun langsung mengerucutkan bibirnya.


" Daddy sama Mommy pulang dulu... Mau prosesin Adek bayi buat kamu. " ucap Evan lagi dengan santainya, Rayne pun langsung menatapnya karena Evan berucap seperti itu.


" Malu, ih! Masa aku udah gede gini masih mau dikasih Adek bayi! " protes Zeevanea tak setuju.


" Aku tuh udah gede ya, Dadd... Bentar lagi aku juga bakalan nikah dan terus bakalan punya Anak juga. " jelasnya menggebu - gebu, Rayne dan Evan memperhatikan saja.


" Kalau nanti aku Punya Anak dan sepantaran sama Adek aku, malu dong. " lanjutnya.


" Emang kamu udah punya Pacar sok - sok an mau nikah dan sampai ngomongin Anak segala? " cibir Evan sembari menahan tawanya.


" Ya belum... Tapi kan sama aja. " jawabnya dengan memberengut kesal.


" Udah... Kerja yang bener gih biar bisa jadi Desainer handal kaya Mommy. Daddy bawa pulang Mommy dulu. " potong Evan dengan senyum smirknya.


Cup...


Cup...


Evan dan Rayne mengecup singkat bibir Zeevanea yang masih mengerucut itu secara bergantian kemudian langsung beranjak.


Trap... Trap... Trap...


" Daddy! " pekik Zeevanea kala Evan dan Rayne sudah berada di ambang pintu, Zeevanea pun menghampiri mereka.


" Aku besok boleh nonton balab mobil sama Kakak Anya, ya? " tanyanya pada Evan.

__ADS_1


" Boleh... Asal hati - hati, jangan bar - bar. " jawab Evan sembari tersenyum misterius tanpa ada yang tau maksudnya, Rayne langsung menggelengkan kepalanya, sementara Zeevanea menganggukkan kepalanya, Evan dan Rayne pun melanjutkan langkahnya.


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2