
Beberapa waktu berlalu, anak - anak Rayne dan Evan pun sudah kembali berkumpul bersama dan bersiap untuk bertolak kembali ke Jakarta bersama para anggota gerombolan yang lain meski mereka semua juga ada yang berbeda pesawat. Rayne dan anak - anaknya pun juga sudah mendapatkan kabar dari Raka jikalau Raka dan Evan ternyata sudah kembali ke Jakarta sejak pagi tadi setelah Evan beranjak meninggalkan Restoran yang langsung dikejar oleh Raka. Tetapi meskipun sudah banyak Tamu Undangan dari Ulang Tahun Sandra yang beranjak pulang, masih ada juga beberapa yang memutuskan untuk berdiam lebih lama di Bali sembari menikmati liburan bersama keluarganya. Tapi sebelum gerombolan ini bertolak kembali ke Jakarta, mereka memutuskan untuk makan siang dulu di Resort.
Sreeek!!!
Bughhh!!!
" Nikih!!! " pekik Zeevanea pelan dan terengah karena saking terkejutnya, Nicholas tiba - tiba menariknya diam - diam dari barisan keluarganya yang sedang berjalan keluar dari kamar yang ditempati oleh Rayne.
" Sssttt!!! " ucap Nicholas berbisik sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Zeevanea.
" Kamu jadi pulang sekarang, Sayang? " tanya Nicholas sambil celingukan untuk memastikan, Zeevanea pun mengangguk.
" Kamu ati - ati, ya... Kabarin aku kalau ada apa - apa ataupun kalau udah sampai Jakarta. Aku baru pulang besok. " ucapnya sambil menatap Zeevanea, berpesan sambil memegangi kedua bahu Zeevanea dengan kedua tangannya, Zeevanea langsung mencebik mendengar ucapan yang dinilainya lebay itu.
" Iya. " jawabnya malas.
Cup...
Nicholas langsung memindahkan tangannya ke belakang leher Zeevanea. Memegangi tengkuk Zeevanea kala ia bersiap akan mencium bibir Zeevanea. Zeevanea gelagapan tapi juga tak menolak.
" Aku cinta kamu, Zeevanea... " ucap Nicholas tulus sembari mengusap lembut sisa basahan ciuman mereka di bibir Zeevanea.
" Aku tau itu... " jawab Zeevanea sendu, Nicholas tersenyum karena ia dapat memaklumi kondisi hubungan mereka.
" Kamu juga ati - ati disini. " pesan balik Zeevanea untuk Nicholas, Nicholas mengangguk diiringi dengan binar kebahagiaan.
" Aku duluan. " lanjutnya, Nicholas pun mengangguk tapi tangannya masih menggenggam tangan Zeevanea seolah enggan untuk berpisah barang sebentar saja.
" Aku antar ke depan. " jawabnya, Zeevanea pun mengangguk dan keduanya pun berjalan bersama menuju pintu keluar dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
" Grandma... Grandpa... " ucap Nicholas kala melihat Grandma dan Grandpa nya sedang berjalan keluar juga bersama kedua Putra dan kedua Menantunya, juga bersama para anak - anak.
" Loh, loh... Udah berani gandeng Cewe ini Cucu Oma. " ucap Nenek Nicholas kaget sambil tersenyum dan geleng kepala, Nicholas langsung nyengir sementara Zeevanea langsung melepas cepat tautan tangan mereka, nampak Brian yang ada disana terkikik tipis setelah melihat Zeevanea melepas tangan Kakaknya.
" Mamih nggak kenal siapa yang digandeng Nicky? " tanya Dygta menimpali sambil tersenyum jahil kepada Zeevanea, Ibu dari Dygta ini pun semakin menatap lekat kepada Zeevanea dan berpikir seolah wajah itu tak asing baginya.
" Ini Vava, Grandma... " lirih Zeevanea malu - malu sambil tersenyum kikuk.
" Astaga, Cucu Grandma udah sebesar ini!!! " pekik Mami dari Dygta ini dan langsung memeluk Zeevanea dan juga tak henti mengecupi kepala Zeevanea, ledekannya kepada Nicholas seolah menguar begitu saja saking kagetnya melihat Zeevanea, Kinan dan Joana langsung bersitatap melihat kedekatan mereka, begitupun anak - anak Aga, sementara Nicholas nampak tersenyum bahagia melihat kedekatan Kekasih dan Neneknya.
" Cantik sekali ini Cucu Grandma... " lanjutnya setelah mengurai pelukannya dan tetap menatap kagum akan kecantikan Zeevanea, Zeevanea hanya nyengir santai.
" Terbang nanti dia Mih kalau dipuji terus... " sahut Aga sambil terkikik.
" Uncle julid, ih. " jawab Zeevanea sambil melirik Aga yang masih terkikik.
" Berani banget sekarang Princess ini ngatain Uncle julid... Dulu aja kalau Uncle datang nggak dibawa jalan langsung mencak - mencak. Kak Dygta aja nggak bisa nenanginnya. " ledek Aga, Zeevanea langsung mencebik acuh.
" Kenapa nggak pernah main ke rumah Grandpa? Nggak diijinin sama Daddymu? " tanya Papi Wirya ini kepada Zeevanea, Zeevanea langsung menggeleng sambil tersenyum.
" Vava masih belum selesai kuliah di Paris, Granpa... Ini pulang juga lagi liburan, dan ke Bali ini juga sebenernya ngikut Daddy kerja. " jawabnya jujur sambil nyengir, kedua Orang Tua ini pun mengangguk.
Trap... Trap... Trap...
" Dek, ditungguin juga malah ngendon disini sama Nico! " ucap Stevano yang tadinya mencari Zeevanea bersama Rayne karena merasa Zeevanea tertinggal dan kini baru saja mendapati Zeevanea yang sedang bersama keluarga Nitinegara, Nicholas nampak tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Stephen... " panggil Papi Wirya sambil menatap Stevano, Stevano diam menatap Orang Tua beruban ini dengan seksama.
" Lupa pasti ini... " sela Mami Dygta yang bernama Mami Dina, Stevano pun langsung menatap Dygta dan Aga bergantian.
" Grandpa sama Grandma, Kak... " sahut Zeevanea, Stevano pun langsung mencium punggung tangan keduanya bergantian.
__ADS_1
" Dua - duanya persis mendiang Opanya ya, Queen... " ucap Mami Dina kepada Rayne.
" Iya, Mih... Yang tiga mirip almarhum Papa semua, yang Bungsu aja yang mirip Mas Evan, nggak ada yang mirip aku. " jawab Rayne sambil tersenyum kikuk.
" Yang mirip Mas Dygta nggak ada, ya? " goda Aga pada Rayne dan Dygta, keduanya langsung mendiam dan Aga malah nyengir, Kinan yang juga berada disana langsung membeku seketika begitupun Joana yang langsung menatap Aga.
" Uncle jangan mulai, deh! " ketus Zeevanea, Aga malah semakin terkikik.
" Oiya, Pi... Aku cuma mau bilang, apa nggak sebaiknya Papi bicara sama Daddy soal pelukan Papi sama Mommy semalem? Untuk minta maaf, mungkin... " tanya tegas Stevano menyela berbicara pada Dygta, Dygta pun semakin terlihat kaku karena Stevano mengatakan hal ini di depan banyak orang, Rayne menatap Stevano sambil menggeleng tapi Stevano berpikir untuk tetap membahas hal ini.
" Aku tau Papi masih ada hati sama Mommy, dan itu salah. Ada Daddy juga ada Istri Papi juga yang harus dijaga perasaannya. " lanjutnya sambil menatap Dygta penuh ketegasan.
" Maaf kalau mungkin Papi menganggap Steve lancang... Tetapi... Tanpa mengurangi rasa hormat Steve sama Papi, Steve mohon dengan sangat, Papi bisa menempatkan diri dan bersikap biasa saja terhadap Mommy karena hubungan Papi dan Mommy adalah masa lalu yang sudah lama berakhir. " imbuhnya tenang penuh ketegasan.
" Aku duluan ya Mih, Pih... Udah ditungguin sama yang lain mau makan siang abis itu mau langsung balik ke Jakarta. " pamit Rayne sungkan karena Stevano tetap mengatakan hal ini di depan banyak orang, kedua Orang Tua ini pun mengangguk setelah sesaat menatap Dygta.
Trap... Trap... Trap...
" Queen... " panggil Dygta, Rayne yang semula sudah beranjak pun langsung berhenti dan menoleh.
" Joana cerita soal rumah kita di Paris... " ucap Dygta mulai mengeluarkan maksud panggilannya, Rayne diam memperhatikan Dygta, mata Keyra langsung membelalak setelah sang Kakak Ipar mengatakan rumah kita kepada Rayne.
" Rumah itu kado ulang tahun buat kamu... Kamu berhak sepenuhnya atas rumah itu meskipun sekarang kita tak lagi bersama." lanjutnya dengan menatap Queen dalam.
" Terserah kamu mau dibiarin kosong apa mau dijual atau mau diapakan... Tapi kalau untuk ditempati Joana aku nggak setuju. " lanjutnya menjelaskan, Rayne hanya diam memperhatikan tanpa menjawab.
" Dan sebaiknya, bawa Dokter dari Resort untuk jaga - jaga di perjalanan. " imbuh Dygta berucap penuh perhatian, tapi Rayne pun juga masih saja diam.
" Kamu sakit, Sayang? " sela Mami Dina yang langsung terlihat khawatir, Rayne langsung menggelengkan kepalanya.
" Hamil muda, Mih... " jawab Dygta karena Rayne nampak kikuk.
" Kami permisi, mari semuanya. " ucap Stevano memotong, berpamitan kembali dan langsung menggandeng Mommynya.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Bukan hanya Aga dan Rere yang harus bicara, tapi kamu juga. " ucap Papi Wirya tegas dengan menatap Dygta.