
Seharian ini baik Zeevanea maupun Nicholas terlihat lebih banyak diam dan merenung. Keduanya sama - sama tengah memikirkan akan kelanjutan dari kisah cinta mereka yang sudah jelas akan mendapatkan penolakan keras dari Evan. Meski sudah sejak awal hubungan ini terjalin dan keduanya sudah membicarakan dan bersiap dengan penolakan Evan, akan tetapi kini mereka kian merasa berdebar karena benar - benar akan menghadap kepada Evan meski Zeevanea sendiri masih meminta sedikit waktu tenggang kepada Nicholas. Nicholas yang memang sudah merasa sangat mantab dan sangat siap untuk melanjutkan hubungan percintaannya dengan Zeevanea kini tengah bergelut dengan pikirannya yang sedang memikirkan ketakutan yang tengah dialami oleh Kekasih tercintanya. Dan kini, seharian ini Pria tampan ini hanya berdiam menghabiskan waktunya dengan merenung di dalam kamarnya.
Kalau ditanya takut, sudah pasti Nicholas juga takut... Tetapi ketakutan Nicholas bukanlah karena takut menghadapi Evan. Melainkan yang Nicholas takutkan saat ini adalah jikalau sampai Evan memisahkannya dengan Zeevanea dan ditambah lagi Nicholas juga merasa takut jika nantinya Zeevanea tiba - tiba memilih menyerah dan melepaskan Nicholas begitu saja. Meski dalam hal ini Zeevanea juga tidak bisa dipersalahkan jikalau memang hal itu benar - benar terjadi kepada mereka berdua. Sudah tak dapat dipungkiri lagi, bagaimanapun juga Evan adalah Ayah kandung dari Zeevanea. Sementara Nicholas? Nicholas hanyalah sesosok orang lain yang baru saja datang pada kehidupan Zeevanea. Nicholas merasa perjuangannya pun akan sia - sia nantinya kalau Zeevanea menyerah di tengah jalan tanpa melanjutkan perjuangan mereka untuk terus bersama san berusaha meluluhkan kerasnya hati Evan.
Dan di tempat yang lainnya, kini Zeevanea juga nampak duduk termenung seorang diri. Zeevanea memang sedang berada di dalam ruang kerja Mommy-nya yang ada di galeri dengan berdiam seorang diri. Hari ini Rayne nampak tak datang ke galeri tapi Zeevanea juga tidak mempermasalahkan dan juga tidak mempertanyakan. Zeevanea nampak berbeda dari biasanya yang selalu cerewet kepada Rayne dan siapa saja yang berada di sekelilingnya.
Zeevanea sendiri kini juga tengah berada dalam kekalutan hati yang teramat menyesakkan dada. Di satu sisi, ingin rasanya ia merengkuh indahnya cinta pertama yang tengah bermekaran bunga - bunga cintanya di tengah kedamaian dalam sebuah keluarga yang penuh cinta tanpa adanya luka lama yang masih menganga. Ingin rasanya Zeevanea bersikap egois seperti sikap ke-Barbaran-nya biasanya dan melawan kepada Evan untuk mempertahankan cinta pertamanya yang kini masih hangat - hangatnya. Akan tetapi apa lah daya-nya... Evan tetaplah Ayah kandungnya... Evan juga lah cinta pertama Zeevanea... Lelaki tangguh yang selama ini menaungi kehidupannya, Lelaki tangguh yang dengan sangat rela mengorbankan hidup dan matinya untuk Istri dan anak - anaknya.
Sungguh buntu pikiran Zeevanea kali ini... Ia sangat menginginkan untuk bisa terus bersanding dengan Nicholas yang ternyata sudah berhasil mengoyakkan seisi hatinya dan mengisi kedinginan hatinya dengan hangatnya cinta dan kasih sayang yang penuh dengan ketulusan. Tetapi apa lah daya-nya yang sudah dihadapkan dengan penolakan yang sudah terlihat jelas di depan mata. Dan... Apabila Zeevanea terus mempertahankan percintaannya dengan Nicholas, kuatkah nantinya ketika ia melihat kesakitan yang teramat dalam itu kembali dirasakan oleh Ayah tercintanya?
Zeevanea sungguh tak kuasa membayangkan penolakan dari Evan. Sedangkan di sisi yang lain, untuk membayangkan kondisi Daddy-nya saat ini pun rasanya sudah membuat dadanya teremat tak karuan. Banyaknya masalah yang tengah membelit keluarganya membuat nyali Zeevanea semakin menciut untuk bisa sesegera mungkin menghadap kepada Evan. Tetapi Zeevanea juga paham dan bahkan sangat paham jikalau sampai Evan mengetahui perihal hubungan Zeevanea dengan Nicholas dari orang lain pasti akan membuat Evan semakin kecewa dan terluka lebih dalam, dan Zeevanea tidak mau hal itu terjadi. Zeevanea sangat - sangat menyayangi Evan. Evan tetaplah sosok Ayah terbaik sepanjang masa untuk Zeevanea.
Tok... Tok... Tok...
Lamunan Zeevanea tiba - tiba dibuyarkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Meski tak sampai menangis tetapi raut wajah Zeevanea sangat jelas terlihat bahwa Zeevanea sangat bersedih. Dengan langkah lemah dan malas, Zeevanea pun berjalan dengan perlahan untuk membuka pintu yang sedari tadi dikuncinya dari dalam itu.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
" Un...cle... " ucap Zeevanea terbata dan lirih, nampak punggung kekar Raka yang sedang berdiri menghadap ke arah lain, setelah mendengar suara Zeevanea langsung saja Raka menoleh kembali, menatap ke depan dan kini berhadapan dengan Zeevanea.
" Kenapa ini wajahnya sedih begini Princess-nya Uncle? " tanya Raka santai sembari terus menatap mengamati pancaran raut wajah Zeevanea, Zeevanea langsung menunduk, entah mengapa setelah melihat keberadaan Raka di hadapannya ini seolah ia sedang berhadapan dengan Daddy-nya.
" Kita ngobrol di dalam saja... " ucap Raka cepat dan langsung menggiring Zeevanea untuk kembali masuk ke dalam ruang kerja Rayne.
Trap... Trap... Trap...
" Cerita sama Uncle, siapa tau Uncle bisa bantu. " lanjutnya sembari terus mengusap lembut kepala Zeevanea, dengan perlahan Zeevanea pun mendongakkan kepalanya dan bersitatap dengan Raka.
" Apa Uncle tau kalau Daddy itu sebenernya sakit? " tanya Zeevanea lirih dengan diiringi tetesan air mata yang langsung menderas, Raka nampak mendongak sembari menghela nafas panjang.
" Daddy baik - baik aja, Princess... Jangan khawatir... Daddy adalah orang yang kuat. " ucap Raka yang tidak menjawab langsung tetapi langsung berusaha menenangkan Zeevanea, tatapannya juga langsung ikut berubah menyendu.
__ADS_1
" Jadi Uncle sudah tau mengenai kondisi Daddy yang sebenarnya? " tanya Zeevanea lagi menginginkan jawaban pasti dati Raka, dan akhirnya Raka pun menganggukkan kepalanya, karena hanya Raka yang diberitahu oleh Evan.
" Jadi... Apa Uncle juga tau tentang semua masalah di keluargaku? ' tanya Zeevanea lagi, Raka pun kembali mengangguk karena Raka memanglah orang kepercayaan Evan, Raka adalah tangan kanan Evan selama ini.
" Uncle Kaka... " panggil Zeevanea setelah beberapa saat lalu keduanya saling mendiam, keduanya nampak bersitatap.
" Hmmm... " jawab Raka.
" Ada apa? Ada masalah lain? " tanya Raka yang sebelumnya sudah bisa menebak dari raut wajah Zeevanea, Zeevanea nampak menautkan jari jemarinya karena masih takut juga untuk bercerita kepada Raka.
" Cerita aja... Uncle akan mendengarnya. " lanjut Raka sambil mengusap lembut kepala Zeevanea yang sudah dianggapnya seperti Putrinya sendiri.
" Seberapa bencinya Daddy sama keluarga Nitinegara, Uncle? " tanya Zeevanea, Raka diam dan nampak mengerutkan keningnya, ia tidak menduga Zeevanea akan mempertanyakan perihal kebencian Evan kepada keluarga Nitinegara.
" Princess... Daddy membenci keluarga Nitinegara bukanlah tanpa sebab, Daddy membenci mereka karena Daddy sangat menyayangi Mommy... Kamu pun tahu itu. " jawab Raka pelan.
" Lalu, ada apa sebenarnya dengan keluarga Nitinegara? " lanjut Raka yang malah kembali bertanya.
__ADS_1
" Kalau aku cerita yang sebenarnya apa Uncle akan mengadukan kepada Daddy? " tanya balik Zeevanea yang merasa takut kalau sampai nanti Raka mengadu kepada Evan, Raka langsung terlihat menghela nafas kasar.
" Ceritakan saja... Uncle tidak akan mengadukannya kalau memang itu tidak membahayakan keluarga Kalandra. " jawab Raka, meski mengiyakan tetapi juga tetap patuh dengan Evan dan terbukti dengan penjelasannya.