Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 143 - Salah Paham


__ADS_3

Hoek... Hoek... Hoek...


Hoek... Hoek... Hoek...


Pagi - pagi sekali Rayne dan Evan sama - sama terbangun dari tidurnya. Perempuan hamil ini ternyata hanya sesaat mengalami mual muntah ketika didekati Suaminya. Hanya saja kali ini kedua sejoli itu nampak muntah - muntah bersamaan, menunduk berdua di atas wastafel yang sama. Tetapi Evan lah yang terlihat lebih parah dibanding dengan Rayne yang sedang mengandung.


Huh... Huh... Huh...


Huh... Huh... Huh...


Setelah beberapa saat bergelut bersama dengan rasa mual yang seolah mengaduk perut mereka, keduanya nampak ngos - ngosan bersamaan. Deru nafas naik turun dengan cepat itu terdengar menggema disana hingga beberapa saat.


" Aku paham sekarang, Raynevandra setiap pagi muntah - muntah karena kehamilan Alexandra... Ternyata Ray juga mengalami gejala kehamilan simpatik sama kaya kamu, Mas... " ucap Rayne lirih mengingat hari - hari belakangan ini Raynevandra mengalami muntah di pagi hari, Evan hanya diam kemudian langsung beranjak ke kamar mandi yang berada tak jauh dari tempat wastafel.


Trap... Trap... Trap...


Rayne menyusul Evan ke kamar mandi dan langsung menyalakan kran air hangat. Sementara Evan yang terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi sedang merokok dengan duduk di atas kloset.


Trap... Trap... Trap...


" Jangan ngerokok di dalem ruangan dong, Mas... Aku kan lagi hamil... " ucap Rayne pelan, khawatir dengan janin di dalam perutnya.


" Kalau lagi nggak ada aku sih terserah, orang disuruh berhenti juga susah. " lanjutnya meski sebenarnya Rayne masih merasa takut untuk memulai berbicara duluan dengan Evan, Evan langsung membuang rokoknya pada tempat sampah kemudian langsung nyemplung ke dalam bak mandi yang baru terisi airnya separuh itu, sementara Rayne langsung keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan pakaian ganti Evan terlebih dahulu.


Trap... Trap... Trap...


" Mau kemana? " tanya Evan.


" Mas Evan mandi dulu aja. Aku mau siapin baju ganti buat Mas dulu. " jawab Rayne terus terang.


" Sekalian ambilin cukuran baru, yang disini rusak kayanya. " ucap Evan, Rayne mengangguk kemudian langsung bergegas.


Trap... Trap... Trap...


Ketika Rayne akan kembali masuk untuk memberikan alat cukur kepada Evan, tiba - tiba saja Rayne menghentikan langkahnya. Rayne terdiam melihat Evan yang sedang melamun di dalam sana... Evan sudah merebahkan tubuhnya di dalam bak mandi dengan tatapan kosongnya. Sementara Evan sendiri saat ini tengah terdiam memikirkan kemelut permasalahan hidupnya. Mulai dari rasa cemburunya kepada Rayne yang masih mengoyakkan hatinya hingga saat ini, ucapan Mama Rosa, sampai yang terakhir adalah perkara Raynevandra.


Perkataan Rayne perihal Raynevandra yang mengalami muntah - muntah di pagi hari membuat Evan kian memikirkan Raynevandra. Sejujurnya Evan merasa tersayat hatinya, kecewanya termat dalam, ia juga merasa gagal menjadi seorang Ayah yang baik atas kejadian yang menimpa Raynevandra saat ini. Kesibukannya dan Rayne membuatnya merasa bersalah kepada Raynevandra meski sepatah kata pun tak terucap sama sekali dari bibirnya Karena kesibukan dirinya dengan Rayne yang sama - sama padat lah sehingga membuat Raynevandra juga anak - anak mereka yang lain tidak dapat terkontrol dengan benar oleh mereka. Evan merasa pengawasannya kepada anak - anaknya kurang karena saking sibuknya Rayne dan Evan.

__ADS_1


" Kok diem disitu? " ucap Evan yang gantian menatap pada Rayne yang berdiam di ambang pintu kamar mandi.


" Eh... Ini cukuran yang Mas minta. " ucap Rayne dan langsung berjalan mendekati Evan kemudian menyodorkan cukuran tersebut.


Trap... Trap... Trap...


" Ini, Mas... " ucap Rayne lagi karena Evan hanya diam menatap padanya dan tak segera mengambil alat cukur yang disodorkan oleh Rayne.


" Ya cukurin sekalian, dong... Kok malah bengong. " jawab Evan setengah nyolot.


" Sini biar bibirmu yang ceriwis itu yang aku cukur! " ketus Rayne, nampak suasana sedikit mencair disana.


" Siapa juga yang mau cukuran jambang! " ucap Evan yang masih nyolot.


" Lah terus? " tanya Rayne tak paham, Rayne menatap serius pada Evan.


" Tuh yang dibawah bikin gatel... " ucap Evan santai seolah tanpa dosa sambil mengibas - ngibaskan pusaka berharganya yang sudah menegang siap ditempurkan.


" Nggak mau. Biasanya juga dicukur sendiri. " jawab Rayne cepat sebenarnya Rayne takut Evan masih marah makanya Rayne menolak.


" Ya udah buruan panggilin Susi kalau nggak mau. " jawab Evan santai.


Trap... Trap... Trap...


" Dasar! Masa iya mau cukuran itunya minta dipanggilin Susi! Pasti sengaja bikin aku panas! " gerutu Rayne sambil berjalan keluar.


" Palingan juga nggak bakalan mau disentuh! Dasar tukang kompor! Bisanya manas - manasin aku aja! " lanjutnya berkomat - kamit kesal dengan tingkah Evan.


Beberapa saat kemudian Rayne dan Susi pun sampai kembali di dalam kamar. Tapi kamar mandi itu sudah kosong, dan terdengar dari suara pergerakannya Evan sedang berada di dalam walk in closet. Rayne pun langsung menghampiri Evan.


Trap... Trap... Trap...


" Tuh, si Susi! ucap Rayne ketus.


" Iya bentar. " jawab Evan sambil mengancingkan celananya.


" Apa lihat - lihat! Dia udah anteng tidur nggak usah dilihatin, tadi disuruh cukurin nggak mau tapi sekarang lihat - lihat terus! " gerutu Evan yang semakin mencair dan mulai menggoda Rayne, Rayne langsung melengos dan mengerucutkan bibirnya, Evan pun beranjak keluar dari walk in closet untuk menemui Susi, Rayne pun membuntut dengan wajah masam cemberut.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


" Saluran air di wastafel kamar mandi mampet, suruh orang beresin. " titah tegas Evan pada Susi, Susi langsung mengangguk dengan wajah takut tapi Rayne malah terlihat cengoh, dan keduanya tadi menggunakan wastafel yang ada di kuar kamar mandi.


" Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi. " ucap Susi pelan dan langsung beranjak.


Trap... Trap... Trap...


" Apaaa??? " tanya Evan sok sewot sambil menatap Rayne.


" Nggak papa! " ketus Rayne sambil menatap kesal dengan Evan.


" Makanya punya otak jangan ngeres! " cibir Evan sambil menyentil kening Rayne.


" Mana ada otakku ngeres, yang ada juga otaknya Mas Evan yang selalu ngeres! " ketus Rayne menjawab sambil mengusap keningnya yang baru saja disentil Evan.


" Mana ada juga aku ngeres? " tanya balik Evan sambil menahan tawanya dan menunjukkan wajah sok emosi di depan Rayne, Rayne langsung melenggang masuk ke dalam mandi dengan menahan malu karena sudah salah sangka dengan Evan, sementara Evan sendiri langsung tertawa tanpa suara melihat wajah Rayne memerah karena salah paham, mengira Evan menyuruhnya memanggil Susi untuk membantunya bercukur.


Trap... Trap... Trap...


Evan yang sudah rapih langsung turun ke lantai bawah. Sudah ada ketiga anaknya di ruang keluarga. Zeevanea nampak sedang bercanda dengan Devandroe sementara Stevano yang juga sudah berada disana sedang membetulkan tali sepatunya. Evan yang baru saja turun pun langsung duduk bersama mereka sambil membaca koran.


Trap... Trap... Trap...


Keheningan kembali tercipta di ruang keluarga rumah mewah tersebut kala Evan sudah duduk disana. Ketiga anak ini pun hanya saling pandang dalam diam tanpa berucap, mereka masih saja takut untuk memulai berbicara dengan Daddynya. Kesalah pahaman beberapa hari lalu diantara keluarga mereka itu masih tersisa hingga saat ini. Dan setelah Rayne bergabung dengan mereka, suasana kaku itu terlihat sedikit mencair meski kecanggungan diantara mereka masih kentara. Hingga akhirnya setelah sarapan usai, ketiga anak ini pun langsung berpamitan kepada kedua Orang Tuanya untuk melanjutkan aktivitas seperti biasanya.


Trap... Trap... Trap...


" Aku mau ngomong sesuatu, Mas... " ucap Rayne tegas saat anak - anaknya sudah berangkat semuanya.


" Ngomong aja. " jawab Evan sambil mengutak - atik ponselnya, keduanya masih tetap duduk di ruang makan.


" Semalem di Rumah Sakit aku udah ketemu Orang Tua Alexandra. Mereka minta pernikahan Ray dan Alexandra segera dilaksanakan sebelum perut Alexandra semakin besar. " jelas Rayne dengan menatap sedih juga takut pada Evan.


" Anakmu laki - laki, nggak butuh aku untuk Wali. Ya udah suruh nikah sana, suruh tanggung jawab. " jawab Evan dingin sok tak perduli, sesungguhnya ingin sekali Evan berteriak kencang memberitahukan kekecewaan hatinya yang teramat sangat mendalam, Putra Sulungnya yang digadang - gadang akan dicalonkan sebagai Presiden Direktur Gamyaraa Media ini kini telah mencabik - cabik hatinya.


" Mas... Ray itu Putra kita... Aku tau Mas Evan kecewa sama Ray, aku pun juga... Meskipun Mas marah, tapi setidaknya aku mohon dengan sangat, dampingi Putra kita Raynevandra sampai dia menikah... " lirih Rayne tegas juga sedih, Evan langsung berdiri dari duduknya dan keluar begitu saja tanpa berucap apa pun lagi kepada Rayne.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


Rayne pun kembali menangis meratapi nasib Raynevandra.


__ADS_2