Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 35 - Tak Seharusnya Terjadi


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore... Raynevandra masih berada di Sekolah dan menolak untuk pulang kala Bram mengajaknya pulang. Raynevandra malas bolak balik pulang karena sore ini ia ada jadwal untuk latihan Basket. Bram pun hanya bisa mengiyakan sembari tetap melaporkannya kepada Evan. Evan tak masalah karena alasan itu masuk akal. Tapi Evan tetap mengutus Bram untuk menunggui Raynevandra di Sekolahnya hingga latihan Basket Raynevandra usai.


Mentari yang sedari tadi membumbung tinggi kini tengah perlahan menepi. Panasnya terik di siang hari perlahan meneduh seiring berpindahnya pergerakan matahari. Raynevandra kini tengah berada di atas gedung tinggi Sekolahnya. Semenjak kejadian helm itu, Raynevandra memang menjadi sering menepi di tempat yang tak banyak diketahui itu. Entah apa alasannya tapi memang sejak saat itu Raynevandra lebih suka menenangkan diri di atas atap gedung Sekolahnya.


Trap... Trap... Trap...



" Ray... Kamu disini... " lirih Alexandra yang sedari tadi mencari keberadaan Raynevandra dan mendapat informasi dari Brylee jika Raynevandra sedang berada di atap, Raynevandra langsung menoleh dan menatap pada Alexandra yang semakin berjalan mendekatinya.


Trap... Trap... Trap...


" Kenapa sendirian disini? " tanya Alexandra pada Raynevandra, Alexandra turut duduk di samping Raynevandra.


" Kamu tau dari mana aku disini? " tanya balik Raynevandra.


" Brylee atau Bradley tadi yang kasih tau waktu aku tanya. " jawab Alexandra jujur, Alexandra juga masih bingung membedakan antara Brylee dan Bradley teman kembar sekelasnya yang masih baru dikenalnya itu, Raynevandra nampak mengangkat sebelah sudut bibirnya paham akan kebingungan Alexandra.


" Apa masih sakit? " tanya Raynevandra pelan bahkan setengah berbisik seolah menaruh rasa khawatir sembari ia tiba - tiba menggenggam tangan Alexandra yang diletakkan di pangkuan Alexandra, Alexandra langsung menggeleng sembari menatap sendu pada Raynevandra.


" Maaf... " lirih Raynevandra penuh rasa sesal, nampak ketulusan pada tatapan matanya yang tajam seperti tatapan mata Daddynya.


" Bukan salah kamu, Ray... " lirih Alexandra dan langsung menyender pada bahu kanan Raynevandra.


" Aku yang harusnya bilang terima kasih karena kamu nyelametin aku waktu itu. " lanjutnya, tangan Stevano yang semula menggenggam tangan Alexandra langsung berpindah mengusap lembut kepala Alexandra, dan tangan kiri Raynevandra kini berpindah menggenggam tangan Alexandra.


" Ray... " panggil Alexandra pelan.


" Hemmm... " jawab Raynevandra pelan juga.


" Ak...u... " ucap Alexandra terbata, Raynevandra langsung menolehkan kepalanya agar bisa menatap wajah Alexandra.

__ADS_1


" Kenapa? Ngomong aja nggak usah sungkan. " tanya Raynevandra pelan.


"Aku boleh jadi pacar kamu? " tanyanya pelan juga dengan menahan malu lantaran harus mengutarakan terlebih dahulu perasaannya kepada seorang Pria, mata Raynevandra masih menatap dalam mata Alexandra yang kini terlihat berkaca - kaca.


" Kamu takut aku lari? " tanya balik Raynevandra, Alexandra langsung menggelengkan kepalanya.


" Aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. " jelasnya jujur.


Cup...


Raynevandra merubah posisinya agar lebih nyaman kala menatap Alexandra. Kecupan Raynevandra pun mendarat di bibir Alexandra tanpa adanya aba - aba. Lama kelamaan posisi keduanya terlihat semakin aktiv tak karuan. Bahkan pakaian keduanya pun mulai terlihat kusut berantakan. Kancing kemeja Alexandra sudah dibuka semua oleh Raynevandra. Raynevandra bahkan seperti Evan ketika hendak memanjakan Rayne di atas ranjang. Tangannya pun sudah masuk ke dalam rok pendek seragam yang dikenakan oleh Alexandra. Sementara bibirnya sedang menyusu layaknya bayi yang sedang kahausan. Alexandra nampak mendongak - ndongak sembari menahan desahnya, ia juga nampak menggigit bibir bawahnya agar mulutnya tidak sampai mendesah dengan tak terkendali. Alexandra membiarkannya karena ia juga mengizinkannya. Di atap gedung Sekolah ini pun akhirnya terjadi pergulatan panas yang seharusnya terjadi di atas ranjang.


" Ray... Akhhh... " rancu Alexandra yang sudah berpindah terlentang dengan posisi kedua kakinya yang dibuka lebar dan ditekuk, Raynevandra sedang membungkuk di bawah sana untuk memainkan lidahnya pada pusat Alexandra, tangan Alexandra nampak meremas rambut Raynevandra, sementara tangan Raynevandra pun tengah sibuk meremas dua gunung yang terbilang cukup besar itu secara bergantian.


" Boleh? " tanya Raynevandra beberapa saat kemudian, ia sudah kembali bangkit dan kini membungkuk di atas Alexandra, menatap mata sayu Alexandra.


" Lakukan, Ray... Aku juga menginginkannya lagi darimu. " jawab Alexandra jujur, Raynevandra pun mulai bersiap.



" Akh!!! Sa...kit, Ray... " lirih Alexandra, Raynevandra yang baru saja membenamkan miliknya nampak berhenti sejenak sembari mengalihkan rasa sakit yang dirasakan oleh Alexandra melalui ciumannya.


" Pelan - pelan, Ray... " lirih Alaxandra lagi karena merasa miliknya yang masih sempit itu tiba - tiba terasa penuh sesak dan panas oleh milik Raynevandra yang terbilang besar dan panjang.


Hampir satu jam lamanya keduanya bergerak liar di atas dak beton yang ada di atas atap tinggi gedung Sekolahnya. Hingga akhirnya lelehan lava putih itu pun sudah semakin berlari kencang, Raynevandra pun menariknya dari dalam sangkar Alexandra dan memuntahkannya di atas mulut Alexandra. Keduanya langsung kembali berciuman sembari menikmati lelehan lava putih yang baru saja disemburkan oleh Raynevandra.


Keduanya berpelukan hangat setelah usainya pertempuran tak seharusnya itu. Alexandra terlihat nyaman berada dalam dekapan hangat seorang Raynevandra Gamyara Kalandra. Raynevandra pun mengecupi kening Alexandra berkali - kali.


" Kamu mau jadi Pacar aku, Ray? " tanya ulang Alexandra sembari memeluk erat Raynevandra.


" Kalau aku nggak mau mana mungkin kita seperti ini... " jawab Raynevandra enteng.

__ADS_1


" Thanks, Baby... " ucap Alexandra senang dan semakin memeluk Raynevandra erat, Raynevandra hanya mengangguk seraya mengulas senyum.


" Tapi kenapa kamu langsung terima aku? " tanya Alexandra penasaran.


" Aku juga sama denganmu... Rasanya aku juga jatuh cinta pada pandangan pertama kita. " jawab Raynevandra jujur, semakin berbinar saja hati dan wajah Alexandra.


" Thanks, Baby... Aku makin cinta kamu. " ucap Alexandra bahagia.


" Mee too... " balas Raynevandra sembari mencibut gemas hidung Alexandra, dan keduanya nampak tertawa bahagia bersama.


" Kamu turun duluan gih, nanti aku nyusul... Biar nggak ada yang curiga. " ucap Raynevandra sambil membersihkan debu pada rok yang terlihat masih menempel di bagian bokong Alexandra.


" Baby... " panggil Alexandra yang sejak hari ini merubah panggilannya kepara Raynevandra menjadi Baby.


" Yess, Baby... " jawab Raynevandra yang baru saja selesai membersihkan rok Alexandra.


Cup...


Alexandra berjinjit kemudian mengecup singkat bibir Raynevandra. Alexandra pun berlari sembari merona malu setelah mencium bibir Kekasihnya itu. Sementara Raynevandra langsung geleng kepala melihat Kekasihnya itu. Seperti Evan sekali bukan si Bungsu ini, dimana tempat pun jadi jika ia sedang menginginkan bercocok tanam.


Trap... Trap... Trap...


Setelah beristirahat sejenak dan merapikan kembali dandanannya, keduanya pun turun bergantian. Raynevandra menyuruh Alexandra untuk turun terlebih dahulu barulah ia akan menyusul.


Trap... Trap... Trap...


" Ray, ayok latihan! " teriak Aaron kencang, ia baru saja menyusul Raynevandra ke atas atap.


" Ayok... " jawab Raynevandra dan wajahnya sangat persis seperti Evan yang pandai menampakkan wajah datar seolah baru saja tidak terjadi apa - apa, Raynevandra dan Aaron pun turun bersama - sama.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


__ADS_2