
Pagi ini Nala sudah tiba di sebuah Rumah Sakit yang ada di Jakarta. Ia mendatangi Rumah Sakit tersebut dengan ditemani oleh Evan dan Eric juga ada Bianca yang ikut bersama mereka. Wajahnya terlihat pucat pasi... Meski ia merasa tidak melakukan hal tersebut kepada Peremuan yang sengaja menjeratnya itu tapi tetap saja ia merasa deg - degan. Ia takut jika Perempuan tersebut mengetahui Rumah Sakit tempat Nala menyerahkan hasil tes DNA itu dan memanipulasi hasilnya. Nala tidak bisa lagi membayangkan jika sampai hasil dari tes DNA itu nantinya benar - benar positif. Sudah dipastikan jika nanti hasilnya positif maka Evan lah yang akan bertindak, bukan lagi Papinya yang penyabar meski juga tegas. Maklum saja... Perempuan nekad tersebut juga seorang Putri dari keluarga Pengusaha besar berkebangsaan Singapura dan menetap di London sementara waktu untuk menekuni sekolah modelling disana.
Trap... Trap... Trap...
Nala
" Permisi, Mbak... Saya mau ambil hasil tes DNA atas nama Byaktashaka Niscala Kailash Kalandra. " ucap Evan di depan meja Resepsionis unit tersebut sembari menyerahkan secarik kertas pengantar untuk pengambilan hasil tes DNA.
" Silahkan tunggu sebentar, Pak. " jawabnya sopan, Evan pun langsung menghampiri Nala dan Eric yang sudah terlebih dahulu duduk di kursi yang berada tak jauh dari sana.
Trap... Trap... Trap...
" Seneng nih bentar lagi punya Cucu... " ledek Evan pada Eric yang terlihat tegang meski wajahnya terlihat biasa saja, Nala langsung berdiri dari duduknya kemudian menoleh dan mentap sengit kepada Evan.
" Bangsat, Lo! " gumam Eric pelan sembari menatap sinis pada Evan dengan sekilas pandang, Evan pun nampak terkikik sendiri.
" Opa datang, Opa bawa mainan... " lanjut Evan yang masih saja menggoda Kakaknya dengan menirukan suara anak kecil.
" Evan! " teriak Eric kesal.
" Hahaha... " Evan tertawa ngakak sebenarnya ia ingin menghibur Kakaknya yang tengah gundah gulana memekirkan hal ini, tapi sebenarnya Evan pun tengah gusar, terbukti dengan tingkahnya yang kini mondar - mandir kesana kemari meski sembari menggigit kukunya.
Eric
" Maafin aku ya, Pi... " lirih Nala yang tiba - tiba bersimpuh di kaki Papinya yang sedang duduk di kursi, sementara Nala dan Evan berdiri di dekat Eric duduk.
" Sudah... Sekarang kita tunggu saja hasilnya. " ucap Eric sembari mengusap lembut kepala sang Putra untuk menenangkannya.
" Papi percaya dengan usaha pembuktian kamu jika janin itu bukanlah darah dagingmu. " lanjutnya, Nala hanya menganggukkan kepalanya.
Trap... Trap... Trap...
" Byaktashaka Niscala Kailash Kalandra... " ucap salah seorang Petugas.
Eric langsung mengajak Nala berdiri dan berjalan bersama mendekat ke arah Petugas tersebut. Sementara Evan sudah berdiri disana duluan karena Evan berdiri lebih dekat dengan meja tersebut.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
Daddy Evan...
" Ini hasil tes DNAnya, Pak... " ucap Petugas tersebut dan menyerahkan amplop berisikan hasil tes DNA milik Nala, Evan yang menerimanya dan langsung merobek amplop pembungkusnya, sedangkan Eric dan Nala terihat harap - harap cemas.
" Gimana, Dadd? " tanya Nala penasaran, Evan langsung memutar tubuhnya dan menyembunyikan dari Nala perihal isi hasil tes DNA pada kertas yang dipegangnya tersebut.
" Lo jangan bercanda, Dek! " pekik Eric kesal karena Evan tak mau memberitahukan langsung hasil tes DNA tersebut.
" Nggak sabaran banget. " ucap Evan santai, wajah Eric nampak semakin kesal sementara Nala semakin terlihat panik.
" Selamat, Opa... " ucap Evan dan langsung memeluk Eric, tubuh Eric dan Nala membeku seketika saat mendengar ucapan Evan yang memberikannya selamat.
" Daddy jangan bercanda! " pekik Nala frustasi, mata Eric langsung berkaca - kaca, ia tak sanggup membayangkan jika ia benar - benar akan menikahkan Nala dengan keadaan seperti ini.
" Selamat nggak jadi dipanggil Opa... " lanjut Evan sambil mengurai pelukannya dan langsung terkikik sendiri sembari menyerahkan kertas tersebut pada Eric.
" Alhamdulillaaah... " ucap Eric lega, air matanya menetes begitu saja, Nala pun langsung terduduk di lantai tapi ia juga lega.
" Main - main boleh tapi kalau Lo ulangin kaya gini lagi Gue bunuh, Lo! " canda tegas Evan sembari menimpuk kepala Nala dengan jas yang dipegangnya, Nala tak menghiraukan, sementara Evan langsung beranjak.
" Jangan diteruskan... Nggak baik. " lirih Eric mengingatkan Nala kembali agar tidak mengulangi berhubungan *** bebas lagi, Nala tampak diam membisu karena ia masih merasa kalut.
Trap... Trap... Trap...
" Maafin aku ya, Pi... " lirih Nala kembali lagi meminta maaf kepada Papinya sembari memeluk erat Papinya.
" Ayo pulang. " ucap Eric sembari tersenyum kepada Nala, Nala pun menganggukkan kepaanya dan keduanya pun beranjak pulang.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Eric dan Nala bisa bernafas lega setelah mereka megetahui hasil tes DNA yang telah mereka nantikan dengan perasaan tak karuan. Perjalanan mereka pulang ke rumah pun terlihat lebih nyaman dibandingkan dengan pagi tadi ketika mereka akan berangkat ke Rumah Sakit. Tapi kini keduanya masih terlihat mendiam dan entah apa yang sedang mengitari pikiran keduanya.
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
__ADS_1
" Hapenya bunyi, Nak... " ucap Eric pada Nala karena Nala terlihat tak bergerak meski mendengar suara deringan ponselnya.
" Biarin aja, lagi nyetir juga. " jawab Nala, Eric hanya diam sembari menganggukkan kepalanya.
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
" Minggir dulu, itu bunyi lagi. " ucap Eric karena ponsel Nala kembali berdering, Nala tak menyahut tapi tetap merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Prak!!!
" Siapa? Kenapa nggak dijawab? " tanya Eric karena setelah Nala mengambil ponselnya dan membaca tulisan di layarnya, Nala langsung melemparkan ponselnya ke dashboard mobil.
" Mami. " jawabnya datar, Eric pun mendiam seketika, tak mungkin juga ia menjawab panggilan telepon tersebut.
" Bagaimanapun juga itu Mami mu... Orang yang telah mempertaruhkan nyawanya demi berjuang melahrikanmu. " lirih Eric sembari membuka kaca mobil kemudian menyulut rokoknya.
" Tetap hormati dan sayangi dia seperti kamu menyayangi Mami Sea. " lanjutnya.
" Udah kodratnya kalau Perempuan yang dipanggil Ibu itu melahirkan anaknya terlebih dahulu. " jawabnya datar, Eric nampak menghela nafas panjang.
" Kecewa boleh... Kita cuma manusia biasa yang seringkali merasakan pahitnya kekecewaan. " jawab Eric.
" Tapi Mami mu juga manusia biasa sama dengan kamu dan Papi yang tak luput dari salah. Maafkan Mami mu... Bersikaplah lembut kepadanya. Ingatlah jika Mami mu merawatmu dan memperhatikanmu dengan segenap ketulusan jiwanya. " lanjutnya.
" Mami mu sangat menyayangimu lebih dari segalanya dan lebih dari siapa pun juga. " imbuhnya.
" Daddy lebih sayang Nala... Daddy juga ngerawat Nala penuh ketulusan dan kasih sayang meski waktu itu Daddy sedang kesusahan dan terus berjuang mencari keberadaan Mommy. " jawabnya datar dan seolah mengalihkan pembicaraan, kembali lagi Eric terlihat menghembuskan nafas berat.
" Sesayang - sayangnya Daddy kepadamu tetap lebih sayang Mami dan Papi kepadamu. " jawab Eric.
" Daddy tulus menyayangi Nala... Dan Daddy juga yang selalu mengajarkan Nala untuk tegar meski Mami dan Papi berpisah. " lanjutnya.
" Daddy lah penguat dan pengobat luka hati Nala kala Nala merasa bersedih akan perpisahan Papi dan Mami. " tukasnya.
" Maafkan Papi, Nak... " lirih Eric, Nala nampak tersenyum pias.
" Karena perpisahan Papi dan Mami dulu membuatmu merasakan kesedihan hingga kamu dewasa sekarang ini. Tapi Papi juga tidak bisa melanjutkan pernikahan kami jika tanpa didampingi kepercayaan dari Mami mu. " lanjutnya.
" Semua sudah terjadi... Mami dan Papi juga tidak akan mungkin bersatu hanya demi Nala. " jawab Nala datar.
__ADS_1
" Lalu dengan apa Papi bisa menebus rasa bersalah Papi terhadapmu dan meyakinkanmu jika Papi benar - benar menyayangimu? " lirih Eric, Nala hanya melirik sekilas sembari tersenyum penuh makna yang tersembunyi.