Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 81 - Cidera


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


" Pagi, Om Evan... " sapa Nicholas pada Evan yang sedang duduk tenang sambil membaca koran di restoran yang ada di Everic.


" Pagi... jawab Evan tanpa menatap Nicholas dan tetap serius dengan korannya.


" Yang lainnya mana, Om? " tanya Nicholas setelah duduk di kursi yang ada di depan kursi yang diduduki oleh Evan.


" Masih di atas. " jawabnya, Nicholas pun menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk melihat notifikasi - notaifikasi.


Trap... Trap... Trap...


" Permisi, Pak Evan... " ucap seseorang yang menghampiri Evan juga kesana, Evan langsung mendongak dan menatap orang tersebut.


" Ini hasil pemotretan Nona Zeevanea kemarin. Barangkali Pak Evan mau akurasi dulu sebelum saya emailkan ke Pak Aksa. " jelas seseorang tersebut mengenai hasil foto Zeevanea.


" Tinggalkan disini, biar Zeevanea yang memilih sendiri. " jawab Evan tegas.


" Baik, Pak Evan. Kalau begitu saya permisi. " ucapnya pamit, setelah Evan mengangguk seseorang yang tak lain adalah Photographer itu pun langsung menundukkan badannya dan beranjak.


Trap... Trap... Trap...


Kriiing...


Nicholas :


Assalamualaikum, Pih...


ucap Nicholas menjawab panggilan telepon dari Dygta, Evan yang juga mendengar ucapan Nicholas nampak melihat hasil foto Zeevanea di kamera DSLR tersebut.


Dygta :


Waalaikum salam, Bang...


jawab salam Dygta.


Joana nyusulin kamu ke Bali...


Jemput di Bandara, ya...


Palingan sebentar lagi landing.


jelas Dygta.


Nicholas :


Siap, Pih...


Bentar lagi Nicki jemput kalau gitu.


jawabnya patuh, mata Nicholas kemudian menatap ke arah beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya.


Trap... Trap... Trap...


Cup...

__ADS_1


Cup...


Cup...


" Pagi, Mas Evan... " sapa Zeevanea sumringah menyapa Daddynya, ia baru saja tiba disana bersama Rayne, Nala, juga dengan Maura dan Stevano, Nicholas nampak menahan tawanya melihat tingkah Zeevanea, Dygta yang di seberang sana pun juga mendengar percakapan ini.


" Pagi, Sugar Babynya Mas Evan... " jawab Evan tak kalah sumringah, Rayne langsung menjewer telinga Evan.


" Sakit, ah! " pekik Evan setelangah berteriak dan langsung menarik tangan Rayne yang menjewer telinganya.


" Hahaha... " mereka langsung tertawa bersama - sama, kecupan selamat pagi pun silih berganti dari Zeevanea juga Stevano dan Nala mendarat di bibir Evan.


" Pagi - pagi bukannya dicium malah dijewer. " gerutu Evan dengan wajah menjengkelkannya.


" Tadi bangun tidur udah. " jawab Rayne dan langsung duduk di samping Evan, tapi sebelum Rayne duduk Evan malah terlebih dulu menarik Rayne sehingga kini Rayne duduk di pangkuan Evan, anak - anak itu langsung tertawa dan geleng kepala, Evan pun langsung meletaķkan kembali kamera DSLR yang dipegangnya itu di meja.


Nicholas :


Nicki sarapan dulu, Pih.


Bye, Papih...


ucap Nicholas yang baru sadar jika panggilan telepon dari Papinya itu belum terputus.


Dygta :


Ya udah...


Jangan lupa jemput Adekmu.


Tut... Tut... Tut..


Panggilan telepon pun terputus, kemudian mereka semua segera sarapan bersama. Sarapan pagi ini nampak hening seperti biasanya. Setelah sarapan usai, Nicholas pun segera pamit menuju ke Bandara untuk menjemput Joana. Tinggalah keluarga Evan yang masih berada di restoran tersebut.


Trap... Trap... Trap...


" Mama kamu gimana, Ra? " tanya Evan pada Maura, Nala nampak duduk tenang sembari menyulut rokonya setelah ia selesai sarapan.


" Masih kekeh, Dadd... Keputusan Mama udah bulat untuk cerai sama Papa. " jelas Maura sendu, Stevano nampak mengusap pundak Maura dari samping, Evan pun ikut mengambil rokoknya tapi langsung ditarik oleh Rayne sehingga Evan gagal merokok setelah sarapan, mencebiklah bibir Evan seketika, Nala nampak memainkan kepulan asap rokoknya memainkan ke hadapan Evan yang langsung meliriknya sinis.


" Kata Mama, Papa juga nggak ada pulang sama sekali. Papa juga belum jawab antara setuju pisah sama Mama atau enggak. " lanjutnya menjelaskan.


" Aku telepon Papa juga nggak dijawab sama sekali. " imbuhnya.


" Teleponin Teo kenapa, Mas... Kasihan Sandra sama Maura kalau berlarut - larut gini. " sahut Rayne prihatin.


" Teo aja belum ketemu Sandra gimana aku mau ngomong. " jawab Evan seadanya dan masih belum mau ikut berbicara mengenai permasalahan rumah tangga Sahabatnya itu.


" Ya kecuali aku mergokin Teo lagi baru aku bisa ngomong lagi sama Teo. " lanjutnya.


" Daddy pernah pergokin Papa sebelumnya? " tanya Maura.


" Dua kali. " jawab Evan, mata Maura nampak berkaca - kaca seketika, Stevano langsung memeluknya.


" Main air, yuk... " celetuk Nala mengalihkan suasa sendu ini.

__ADS_1


" Lets go! " ucap Evan dan langsung berdiri, mengangkat Rayne juga dari pangkuannya.


" Kita surfing lagi... Mommy kalian sudah makin jago. " ucap Evan sambil tersenyum, Rayne pun tersenyum juga, dan berpindah lah mereka ke area pantai yang dipergunakan untuk surfing.


" Nanti sore snorkling yuk, Bang... "ucap Zeevanea pada Nala.


" Beres, Adekku sayang... " jawab Nala sambil mengacak kasar rambut Zeevanea.


Trap... Trap... Trap...



Ketika Rayne dan Evan sibuk bersiap dan mulai menggandrungi olah raga surfing ini, keempat anak tersebut malah membelot dan hanya bermain air di tepian pantai saja sembari berfoto ria mengabadikan momen kebersamaan mereka tanpa ikut bermain surfing bersama kedua Orang Tuanya. Rasa lelah dan merasakan badan sakit semua saat pertama kali melakukan surfing beberapa hari lalu membuat anak - anak ini enggan untuk mengulangnya lagi. Jadi mereka hanya bersantai sambil melihat pantai juga melihat Evan dan Rayne yang asik dengan papan seluncuran itu.


" Tuh orang berdua nggak capek apa udah pada tua masih semangat aja mainan papan... " celetuk Nala dengan santainya sembari menatap ke arah Rayne dan Evan yang nampak asik dengan papan seluncurannya itu dari kejauhan.


" Hahaha... " Zeevanea terbahak seketika, sementara Maura dan Stevano hanya tersenyum menanggapinya.


" Mumpung liburan, Bang... Kasihan mereka, jarang punya waktu liburan. " jawab Stevano.


" Biarin aja mau ngapain asal mereka berdua seneng... Kalau lagi di rumah pasti sibuk sama kerjaan masing - masing. " lanjutnya, Nala dan lainnya pun setuju dengan ucapan Stevano.



Mommy!!! teriak Zeevanea yang langsung histeris kala papan seluncur yang dipergunakan oleh Mommynya bertabrakan dengan papan seluncur milik orang lain, sementara Evan sudah langsung menghampiri Rayne dengan cepat, mereka berempat langsung berlari ke bibir pantai karena posisi mereka yang agak jauh dari tempat kedua Orang Tuanya berselancar.


Trap... Trap... Trap...



" Sayang!!! " pekik Evan yang baru saja mendekati Rayne di tempatnya terjatuh, Rayne baru saja mengeluarkan kepalanya dari dalam air.


" Mas... " lirih Rayne sambil tersenyum juga ngos - ngosan, anak - anak mereka mulai nampak tenang setelah melihat Mommynya menyembul dari dalam air.


" Keningmu luka. " ucap Evan khawatir dan langsung menangkup wajah Rayne di depan wajahnya.


" Cuma luka ringan, Mas... Aku nggak papa. " ucap Rayne tenang agar Evan tak semakin panik melihatnya terluka.


" Nggak papa gimana orang kegores gini. " ucap Evan emosi, tapi Rayne hanya tersenyum.


" Ayo aku obati dulu. " lanjut Evan tegas dan langsung menggandeng tangan Rayne untuk menepi.


Trap... Trap... Trap...


Setelah sampai di tempat persewaan peralatan surfing itu, Evan langsung meminta kotak P3K dari petugas disana dan langsung sigap mengobati goresan luka di kening Istrinya.



" Perih ini pasti... " ucap Evan sembari mengobati luka tersebut dengan perlahan, menyibakkan rambut Rayne yang basah kemudian mulai mengobatinya, Rayne hanya tersenyum meski sebenarnya memang terasa sedikit perih.


" Maafin Mas, ya... Mas nggak tau kalau kamu bakalan tabrakan sama orang tadi. " ucap Evan lagi dengan wajah yang berubah sendu juga sangat khawatir.


" Ini bukan salah Mas Evan... Mas Evan udah jagain aku terus dari tadi. " ucap Rayne dan menatap sendu juga kepada Evan.


" Namanya orang masih belajar pasti ada aja rintangannya... Dan ini salah satunya. " lanjut Rayne dan tetap bersitatap sendu dengan Evan.

__ADS_1


" Dan yang penting sekarang, aku nggak kenapa - kenapa. Cuma cidera ringan. " tukasnya sambil tersenyum, Evan pun ikut tersenyum meski pandangan matanya masih terlihat begitu sendu.


__ADS_2