Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 145 - Kekecewaan Evan


__ADS_3

Usaha Rayne untuk membujuk Evan pun nampak membuahkan hasil. Evan akhirnya mau untuk berkunjung ke Rumah Sakit. Selain untuk menjenguk calon Menantu serta Cucunya, yang lebih penting tentunya untuk membicarakan soal pernikahan Raynevandra dan Alexandra dengan kedua Orang Tua Alexandra.


Dan kini, setelah beberapa waktu membicarakan pernikahan anak - anak mereka, obrolan penting mereka pun usai. Rayne dan Mami Alexandra berpindah duduk di samping kanan kiri brankar Alexandra sementara Papi Alexandra dan Evan tetap duduk di sofa sambil membicarakan urusan bisnis tentunya.


" Lexa hamilnya nggak rewel, Sayang? " tanya Rayne pada Alexandra, Rayne dan Alexandra sudah selesai membicarakan soal pernikahan dengan kedua Orang Tua Alexandra.


" Eng...gak, Tan... " jawab Alexandra kikuk karena ada Evan disana sedang menoleh sekilas ke arahnya.


" Kok masih panggil Tante... Panggil Mommy aja sama kaya Ray... Kamu sekarang juga anak Mommy. Kita sekarang keluarga... " jawab Rayne, Alexandra pun mengangguk pelan.


" Tadi pagi saya kaget waktu tau Ray yang muntah - muntah malahan, Jeng... " sahut Mami Alexandra.


" Iya, Jeng... Awalnya saya kira Ray masuk angin. Tapi saya juga bingung kenapa tiap pagi aja muntah - muntahnya. Eh nggak taunya morning sickness. " jawab Rayne sambil menghela nafas panjang.


" Kaya kamu banget nggak sih, Mas? " lanjut Rayne berpindah menatap pada Evan, Evan yang duduk di sofa bersama Papi Alexandra nampak tersenyum datar.


" Jeng Rayne sedang hamil dan Pak Evan yang mengalami morning sickness? " tanya Mami Alexandra kepada Rayne.


" Iya, Jeng... Ini baru jalan dua bulan. c jawab Rayne.


" Wah... Selamat... Selain mau dapat Baby juga dapat Cucu... " jawab Mami Alexandra antusias, Rayne dan Mami Alexandra memang jadi lebih akrab setelah berbicara semalam.


" Terima kasih, Jeng... " jawab Rayne sambil tersenyum.


Ceklek...


Ketika mereka semua yang berada di dalam ruang perawatan Alexandra tengah asik mengobrol, pintu ruang perawatan Alexandra tiba - tiba terbuka, nampak Raynevandra yang masuk ke dalam sana. Raynevandra baru saja pulang dari Sekolah. Raynevandra langsung menghampiri Rayne dan mencium bibir Rayne kemudian mencium punggung tangan Rayne juga seperti biasanya. Nampak kedua Orang Tua Alexandra memperhatikan dengan seksama interaksi mesra Raynevandra dengan Rayne karena kecupan di bibir itu sepertinya tak lazim mengingat Raynevandra juga sudah SMA. Setelahnya, Raynevandra pun mencium punggung tangan Mami Alexandra juga, lalu mengecup singkat perut dan kening Alexandra seperti yang seringkali ia lihat dari Evan dan Rayne, tak lupa menyalami juga Papi Alexandra dan terakhir menyalami Evan dan memberikan kecupan seperti biasa di bibir Evan meski keduanya tetap dengan mode saling diam. Interaksi mesra Raynevandra dan Evan ini pun kembali membawa tanda tanya besar bagi kedua Orang Tua Alexandra.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


" Daddy udah lama? " tanya Raynevandra datar, Evan hanya mengangguk, pembicaraan singkat antara Raynevandra dan Evan ini pun seolah membuat hati Alexandra tercubit ketika tatapan tak bersahabat dilihatnya melayang dari mata Evan kepada Raynevandra, Raynevandra pun kembali menghampiri para Perempuan setelah melihat ekspresi Evan yang seperti tidak bersahabat dengannya, Raynevandra tau ia memang bersalah, tapi mereka semua seolah tak mau mengerti awal mula kejadian ini ketika Alexandra mencoba menjelaskannya.


Trap... Trap... Trap...


" Aku mau turun... " ucap Alexandra yang jelas bisa didengar oleh mereka semua kala Raynevandra sudah berdiri di samping Rayne yang sudah kembali duduk di kursi samping brankar Alexandra.


" Mau kemana? " tanya Rayenevandra cepat dan khawatir.


" Mumpung ada Om Evan disini aku pengen kita berdua minta maaf sama Orang Tua kita. " jawabnya.


" Eh! Nggak usah turun, Sayang. " potong Rayne cepat karena khawatir jika Alexandra terlalu banyak bergerak akan menimbulkan pendarahan kembali.


" Ngomongnya dari sini aja, kita semua bisa dengar. Biar Daddy aja yang kesini. " lanjut Rayne, Alexandra nampak menatap Raynevandra seolah meminta persetujuan tapi Raynevandra hanya diam.


" Papi juga sini, Pi... " timpal Mami Alexandra memanggil Suaminya, tanpa tunggu lama lagi Papi Alexandra pun langsung bangkit dan bergegas tapi Evan masih berdiam di tempatnya.


" Mas Evan... " lirih Rayne tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak sambil menatap sendu pada Evan, matanya pun sudah berkaca - kaca, betapa malunya ia nanti jikalau sampai Evan dan Raynevandra bertingkah gila di tempat yang sedang ada kedua Alexandra ini.


Dengan tiba - tiba Raynevandra langsung memajukan tiang infus milik Alexandra, setelah dinilai aman Raynevandra pun langsung mengangkat tubuh Alexandra sementara ketiga Orang Tua yang sedang mengelilinginya langsung siaga. Raynevandra pun membawa tubuh Alexandra untuk bersimpuh di bawah kaki Evan yang malah berjigang santai selolah tak terjadi apa pun disana. Rayne pun langsung mendorong tiang infus tersebut mengikuti langkah Raynevandra.


Trap... Trap... Trap...


Hiks... Hiks... Hiks...


" Om Evan... Lexa minta maaf, Om... Lexa sama Ray emang salah, tapi ini semua berawal karena Ray berniat menyelamatkan Lexa. " ucap Alexandra langsung kepada poinnya, air matanya merembes seiring dengan keluarnya ucapan dari bibirnya yang bergetar, ia bersimpuh berdua di bawah kaki Evan yang masih berjigang dengan arogan, Mami dan Papi Alexandra terdiam merasa trenyuh, mereka baru paham jikalau Evan ternyata masih menyimpan amarah meski sudah datang dan berbicara mengenai pernikahan Putra Putri mereka, Evan sendiri masih saja berlagak diam datar.

__ADS_1


" Kalau saja waktu itu Ray tidak menyelamatkan Lexa, mungkin bisa saja Lexa hamil tanpa tau siapa Ayah dari janin yang Lexa kandung, atau mungkin Lexa juga sudah bunuh diri sejak kejadian itu kalau saja Ray tidak datang menyelamatkan Lexa meski saat itu Ray sendiri baru saja mengalami kejadian mengerikan. " lanjutnya menjelaskan sembari terisak sambil memegang pergelangan kaki Evan sementara tangan yang memegang kaki Evan itu digenggam oleh Raynevandra, Rayne juga beserta kedua Orang Tua Alexandra mulai benar - benar mencerna ucapan Alexandra tempo hari setelah Alexandra mengatakan hal ini kepada Evan, tapi pikiran Evan dan Rayne semakin berat karena mendengar jika Raynevandra sempat mengalami hal mengerikan yang tidak diketahui.


" Kalian tidak salah kalau memang melakukan hal itu hanya sekali dan karena Raynevandra benar - benar menyelamatkanmu meski berimbas akan terjadinya kehamilanmu. " jawab Evan tenang penuh ketegasan, egonya yang tinggi membuatnya menahan diri untuk tidak mempertanyakan perihal Raynevandra yang sempat mengalami kejadian mengerikan, Evan tetap fokus pada masalah kehamilan Alexandra sekarang.


" Tapi apa penyebab pendarahmu terjadi bukan karena ulah Raynevandra? " jawab Evan diiringi dengan tatapan menyelidik sinis, Alexandra dan Raynevandra saling pandang sekilas kemudian kembali menunduk bersama, Evan menundukkan arah pandang matanya yang tajam ke arah sepasang anak manusia yang masih bersimpuh di bawah kakinya.


" Raynevandra Gamyara Kalandra! Jawab! " bentak Evan murka meski tubuhnya tak bergerak sedikit pun karena berteriak.


" Tenang, Mas! " sahut Rayne ikut memekik, Rayne merasa malu melihat Evan berteriak karena disana ada Orang Tua Alexandra.


" Ray emamg salah, Dadd... Kami memang melakukannya tidak hanya sekali waktu itu saja. " jawab Raynevandra pelan tanpi tegas juga malu, apa lagi Rayne dan Evan, Rayne dan Evan juga lebih malu lagi mendengar Putranya mengatakan hal memalukan ini di depan kedua Orang Tua Alexandra, Evan langsung mengusap kasar wajahnya diiringi dengan desah nafas berat.


" Daddy kecewa sama kamu, Ray! " jawab Evan dengan frustasi juga bercampur kekecewaan yang amat dalam.


" Ampuni Ray, Dadd... Ray memang salah. Ray akan mempertanggung jawabkan perbuatan tercela Ray yang salah ini. " jawab Raynevandra merasa tersayat hatinya melihat raut wajah Evan menyiratkan kekecewaan yang teramat mendalam.


" Lalu dengan apa kamu akan mempertanggung jawabkan rasa malu yang didapatkan oleh keluarga kita karena tindakan memalukanmu ini, hah? " bentak Evan murka, Rayne mendekati Evan dan menggenggam tangannya, Rayne takut Evan akan memukul Raynevandra karena saking emosinya.


" Sekalipun kamu bertanggung jawab dengan tetap menikahi Alexandra, tetap saja aib memalukan ini akan membuat malu keluarga kita! Mau ditaruh dimana muka Daddy? Kamu pikir Daddy nggak malu sama Orang Tua Alexandra karena tak becus mendidikmu dengan benar hingga menghamili Putri mereka? " lanjutnya kian berteriak, Rayne semakin mengeratkan genggaman tangannya karena tangan Evan malah mengepal.


" Lexa juga minta maaf, Om... Lexa mohon Om Evan jangan hanya menyalahkan Ray saja. Lexa juga salah... " sela Alexandra.


" Kalau saja Lexa tidak memutuskan untuk pindah ke sekolah Ray mungkin kami berdua tidak akan keterusan meski pada akhirnya Lexa tetap mengandung anak Ray. " lanjutnya menyela untuk membela Raynevandra yang terus disalahkan oleh Evan.


" Ja...di... Alasan kepindahan sekolahmu waktu itu karena Ray? " tanya Papi Alexandra terbata, wajah Papi Alexandra nampak sangat terkejut, Evan dan Rayne nampak menggelengkan kepala bersamaan, pantas saja beberapa hari setelah bertemu Alexandra dan Orang Tuanya di ruang Kepala Sekolah langsung ada panggilan telepon mesra di ponsel Raynevandra.


" Kira - kira setelah satu bulan berlalu semenjak kejadian itu, Lexa jadi terus kepikiran sama Ray. Lexa merasa bersalah karena tanpa sengaja melibatkan dan membebani hidup Ray sejak awal kejadian Ray langsung mengatakan jika Ray tetap akan bertanggung jawab kalaupun Lexa sampai hamil meski saat itu kami juga belum saling mengenal. Dan dari kejadian itu juga karena Ray sebenarnya menjadi korban pertanggung jawaban untuk kehamilan Lexa karena menolong Lexa. " jelasnya panjang lebar meski dengan balutan ketakutannya.

__ADS_1


__ADS_2