
Selepas kepergian Nicholas, Zeevanea tetap berdiam di kediaman Armaya. Sungguh terasa berat bagi Zeevanea dan Nicholas untuk berpisah mengingat masalah besar mereka dengan Evan yang belum terselesaikan. Selain memang karena masih takut untuk bertemu dengan Daddy-nya, Kakeknya pun memintanya untuk tetap tinggal sementara waktu di kediaman Armaya agar Zeevanea juga bisa menenangkan dirinya. Rudiansyah Armaya jelas tahu jika saat ini Evan pasti masih bergelut dengan amarahnya. Maka dari itu Rudiansyah Armaya meminta Zeevanea untuk tetap berada di kediaman Armaya.
Dan benar juga dugaan Rudiansyah Armaya yang mengatakan bahwa Rayne pun tak akan bisa membujuk Evan untuk merubah keputusannya atas hubungan Zeevanea dan Nicholas. Saat ini pun Rayne memang masih saja tak berhasil membujuk Evan meski selepas kepulangannya dari kediaman keluarga Armaya tadi Rayne terus saja menangis, merengek, mengiba kepada Evan tetapi Evan malah mendiamkannya. Untuk hal - hal yang berhubungan dengan keluarga Nitinegara memang sangat tak bisa ditoleransi oleh Evan. Kesakitan hatinya memang masih membekas dalam meski sudah berpuluh tahun lamanya.
" Ya udah kalau kamu lebih mentingin egomu yang setinggi langit itu daripada kebahagiaan anakmu sendiri. " potong Rayne frustasi, bujukan - bujukannya kepada Evan tak mempan sama sekali, Rayne pun menyerah untuk saat ini tetapi Rayne jelas akan membahasnya lain kali kalau Evan sudah kembali tenang.
" Disini aku yang salah, ini bukan salah anakmu. Kalau mau salahin orang harusnya kamu salahin aku, bukan malah salahin anakmu dan sangkut pautin anakmu sama kesalahan fatal yang pernah aku perbuat dulu. " lanjutnya.
" Aku nggak tau lagi sekarang mesti ngomong gimana sama kamu... Aku udah minta maaf sama kamu, dan aku juga udah ngebuktiin kesetiaan dan baktiku sama kamu selama ini. Tapi kalau memang kamu masih belum bisa memaafkan kesalahanku dulu ya aku bisa apa meskipun aku juga nggak mau Zeevanea sedih karena kamu menentang hubungannya dengan Nicholas... " lanjutnya lagi, tak ada kata panggilan Mas seperti biasanya kepada Evan, Rayne pun sudah merasa jengah menghadapi keras kepalanya Evan, Rayne pun keluar begitu saja meninggalkan Evan sendirian di dalam kamar mereka.
Trap... Trap... Trap...
Tak lama setelah Rayne turun, Evan juga nampak menyusul untuk turun. Tapi bukan bermaksud untuk menyusul Rayne, Evan terlihat berjalan keluar dari rumah begitu saja tanpa menyapa Rayne sama sekali, Rayne pun hanya bisa menatap dalam diam.
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Raka mana? " tanya Evan pada salah seorang Pembantu di rumah Raka, Evan masuk ke rumah Raka dari pintu penghubung di belakang rumah megah mereka yang memang berdempetan.
" Bapak sama Ibu belum pulang, Pak Evan... " jawab Pembantu tersebut, Evan nampak meremas kasar rambutnya.
__ADS_1
" Kalau sudah pulang suruh langsung ke rumah saya. " tegas Evan dan berlalu begitu saja.
" Baik, Pak. " jawab Pembantu tersebut meski Evan sudah beranjak pergi.
Trap... Trap... Trap...
" Evan mana? " tanya Eric pada Rayne, Eric dan Sea beserta yang lainnya baru saja tiba di kediaman Evan.
" Keluar tadi, Kak... Nggak tau kemana, kayanya keluar nggak bawa mobil juga. Aku nggak denger suara mobil keluar. " jawab Rayne lemas, Sea langsung duduk di samping Rayne dan mengusap lembut bahu Rayne sementara anak - anak mereka sudah langsung berhamburan ke kamar masing - masing.
" Kamu udah coba buat bujuk Evan, hmm? " tanya Eric lagi, Rayne pun mengangguk lesu, melihat dari ekspresi Rayne jelas Eric dan Sea tau jikalau Evan masih tetap kekeh pada pendiriannya dan Rayne masih belum berhasil membujuk Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Susi... " ucap Rayne sedikit kencang memanggil Susi agar membuatkan kopi untuk Evan, Evan yang sudah beranjak di tengah tangga langsung menghentikan langkahnya.
" Aku minta sama kamu bukan minta sama Susi! " tegas Evan dengan menatap datar kepada Rayne.
" Aku bukan Pembantu! " tegas Rayne dengan mata berkaca - kaca dan berucap tanpa menatap pada Evan, Susi yang sudah beranjak pun mendiam meski sudah mendekat ke arah Rayne.
" Belain aja terus keluarga Nitinegara! " teriak Evan kencang, ia merasa semakin marah melihat Istrinya berani menolak permintaannya yang sepele itu yang sudah biasa Istrinya lakukan untuknya.
__ADS_1
" Aku belain anak kamu! Zeevanea Gamyara Kalandra itu anakmu kalau kamu lupa! " tegas Rayne yang langsung berdiri dari duduknya dan menatap marah bercampur sedih kepada Evan.
" Harusnya kamu merasa beruntung karena anakmu nggak sampai gelap mata kaya kita dulu yang sampai rela ngelakuin segala cara demi mendapatkan restu dari Mama! Kamu beruntung karena anakmu dan Nicholas tetap berusaha untuk jujur dan tidak melakukan hal terlarang seperti yang dulu pernah kamu lakukan kepadaku meski mereka sudah tau kalau kamu pasti akan menentang hubungan mereka! Apa kejujuran anakmu tidak cukup membuatmu sadar? " teriak Rayne murka dan langsung bersimbah air mata.
" Cepat bawakan kopiku dan segera bawakan ke atas. Kalau sampai Susi atau Pembantu lain yang mengantarkannya jangan salahkan aku kalau aku akan menikahi mereka saat ini juga! " tegas Evan mengancam kemudian langsung bergegas menaiki tangga kembali.
Trap... Trap... Trap...
" Anda saja aku mau, Dygta pasti masih mau kembali sama aku. Dan kalau aku mau juga, Zeevanea pun tak perlu memohon menyembah kepadamu untuk meminta belas kasih dan restumu. Tapi pada kenyataannya aku tetap memilihmu. Aku tetap menghormatimu tapi aku juga menginginkan Putriku bahagia. " ucap Rayne yang langsung menyinggung soal Dygta dan keluarganya.
" Bicara saja semaumu... Menghormatiku memang sudah menjadi kewajibanmu sebagai Istriku. Dan apa pun yang kamu katakan kepadaku tidak akan pernah merubah keputusanku! " jawab Evan datar, Rayne malah semakin frustasi mendengar jawaban Evan yang sama sekali tak lembut seperti biasanya.
" Bikinin aja... Biar Kakak yang bawa ke atas. " ucap Eric, Rayne pun bergegas membuatkan dua cangkir kopi untuk Evan dan Eric, Susi yang sedari tadi terdiam pun ikut membuntut pada Rayne menuju ke dapur.
Trap... Trap... Trap...
" Maaf, Kak... Aku malah jadi ngerepotin Kakak. " ucap Rayne sungkan kala menyerahkan nampan berisikan dua cangkir kopi itu kepada Eric.
" Sudah nggak usah terlalu dipikirkan. Kamu juga harus tetap tenang karena kamu sedang mengandung. Kasihan Baby-nya... " jawab Eric, Rayne pun mengangguk sementara Eric langsung bergegas menyusul Evan dengan menenteng nampan di tangannya.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
Selepas Eric beranjak naik ke lantai atas, Sea pun langsung memeluk Rayne yang terlihat sangat rapuh. Rayne pun akhirnya kembali menangis dalam pelukan Sea. Sea pun terus berusaha untuk menenangkan Rayne. Sea paham jikalau saat ini Rayne memang membutuhkan sandaran untuk meluapkan keluh kesah kesedihannya lantaran masalah Zeevanea yang jelas akan berbuntut panjang ini.