Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 161 - Jahil


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


" Loh, loh! Kenapa lari - lari?! " tanya Rayne terkejut setelah melihat Devandroe yang menghampirinya dengan berlari.


" Daddy mana, Momm? " tanyanya cepat sambil celingukan, sebenarnya bisa saja ia mengatakan kepada Rayne langsung, tapi ia merasa tak tega jika harus menyampaikan hal ini kepada Mommynya yang sudah pasti akan bersedih jika mengetahui apa yang akan disampaikan.


" Mommy belum ketemu sama Daddy, Sayang... Kamu lihat sendiri kan kalau Mommy baru pulang. " jawab Rayne seadanya, hari sudah sore dan Rayne baru saja pulang dari galeri, meleset dari perkiraannya kemarin yang akan mengatakan pulang siang hari.


" Ya udah aku cari Daddy dulu. " jawab Devandroe cepat dan langsung bergegas meninggalkan Rayne tanpa kecupan ataupun salam seperti kebiasaan mereka yang saling mengecup bibir juga mencium punggung tangan, Rayne pun langsung melangkah menuju kamar.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


" Loh, Mas... Mas Evan di kamar ternyata... " ucap Rayne ketika sudah membuka pintu kamarnya dan melihat Evan disana.


" Kenapa? Sini sun dulu... " jawab Evan sambil merentangkan kedua tangannya menunggu Rayne masuk ke dalam pelukannya dan menciumnya.


Trap... Trap... Trap...


Cup...


" Devandroe nyariin Mas tadi. " ucap Rayne setelah mengecup singkat bibir Evan.


" Ngapain? " jawab Evan sambil membelai paha Istri yang tengah dipangkunya mesra.


" Nggak tau... Dia nggak bilang. " jawab Rayne seadanya sambil meletakkan tangan Evan yang semula mengusap pahanya untuk mengusap perut hamilnya.


Cup...


" Hai... Lagi ngapain di dalem? " ucap Evan yang langsung membungkuk menyapa hasil karyanya di dalam perut Istrinya.


" Lagi main bola... " jawab Rayne asal sambil mengusap lembut rambut Evan.


" Sehat - sehat di perut Mommy ya, Nak... Daddy nunggu kamu. " ucapnya sambil menciumi perut Rayne yang masih terlihat rata itu dengan menyibakkan dress yang dikenakan oleh Rayne sehingga bibir ceriwis utu langsung bersentuhan dengan permukaan kulit perut Rayne hingga beberapa saat.


" Ough!!! Mash!!! " pekik Rayne terkejut kala jari tangan Evan sudah menerobos menjamah lembah indahnya tanpa permisi.


" Keluarkan, Sayang... Mas akan membantumu mengekuarkannya agar kamu lega. " ucap Evan dan semakin menaikkan ritme keluar masuknya jari telunjuk di dalam sarang goa sempitnya.


" Akh! Akh! Akh! " Rayne terus menjerit keenakan menikmati gerakan Evan.

__ADS_1


" Ough!!! Akhhhh... Mashhh... Akh... " suara jejeritan itu pun kian mendayu memekak nakal menerobos gendang telinga Evan.


Brughhh!!!


" Augh! Mashhh... " Rayne kian menjerit kencang kala Evan sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menggantikan jari tangan yang sejak beberapa saat tadi sudah bergerak liar di dalam lembah goa.


" Oughhh... Mashhh... Akhhh... " Rayne kian menjerit sembari menekan kepala Evan agar semakin memperdalam gerakan daging liar tak bertulang di area lembah indahnya.


" Udah, aku capek... " ucap Evan ambigu, menyudahi begitu saja kegiatannya disaat Rayne sudah berada di ambang pelepasannya.


" Loh, loh... Jangan edan kamu, Mas! " pekik Rayne frustasi, Evan nampak menahan tawa.


" Edan kenapa? Orang aku capek juga... Pijitin napa! " kilah Evan dengan masih menahan tawa, Rayne nampak membelalakkan matanya.


" Kamu sih enak dikocokin sampai merem melek gitu, lah aku? " lanjutnya bertanya dengan wajah menyebalkan.


" Lanjutin, nggak?! " pekik Rayne dan kembali menarik tangan Evan tapi Evan malah mengangkat tinggi tangannya.


" Oke fine! " potong Rayne dan langsung beranjak untuk bergegas menuju kamar mandi.


Brughhh!!!


" Eumph!!! Oughhh!!! " Rayne kembali memekik kala Evan menariknya kembali ke atas ranjang dan menjejali mulut ceriwisnya dengan sosis bakar kesukannya, Evan sudah seperti Spyderman yang sedang membalikkan badannya, kepalanya yang dijungkir ke bawah kembali melanjutkan berjelajah pada lembah goa sedangkan kaki kekarnya nampak terbentang di atas menempel pada dinding.


Beberapa saat kemudian tersembur deraslah cairan yang berasal dari lembah indah kepunyaan Nyonya Evano Gamya Kalandra ini. Evan sampai menjengit kaget karena cipratan airnya langsung menghambur deras menerjang pada wajahnya. Tapi kembali lagi ia masih tetap menuntaskan untuk menyapu sisa air keni kmatan yang baru saja mengucur deras dari li a ng kenikmatan Istrinya.


Huh! Huh! Huh!


Deru nafas Evan nampak memburu. Ia sudah berbaring di samping Rayne dengan deguban di dada yang berdetak kencang tak beraturan.


" Lanjutkan, Sayang... " ucap Evan dengan nafas yang masih tersengal.


" Aku capek, Mas. " jawab Rayne dengan deguban di dada yang juga masih memburu tak karuan, Rayne berniat membalas mengerjai Evan.


" Enak, aja! Udah dibikin merem melek keenakan malah mau kabur di tengah jalan! " pekik Evan yang langsung berteriak frustasi.


" Ibu hamil nggak boleh capek, Masku... " sanggah Rayne sambil menahan tawanya.


" Sumpah ini nggak mau lanjutin? " tanya balik Evan dengan mata yang membelalak karena kesal juga menahan gejolak.


" Please, Mas... Aku capek. " lirih Rayne yang masih berkilah dan menyembunyikan tawanya.

__ADS_1


" Oke, fine! " balas Evan dan langsung berdiri kembali dan memakai celananya dengan cepat.


Trap... Trap... Trap...


" Loh, loh... Mau kemana? " tanya Rayne panik kala melihat Evan beranjak dan mencari kunci mobil di dalam laci, Evan tak menjawab, Evan juga berniat membalas akal - akalan Istrinya yang tanpa disadari telah diketahui.


Trap... Trap... Trap...


" Kalau mau pergi cari pelampiasan, pergi sana! " tegas Rayne yang kembali memancing.


" Tapi nggak usah bawa pisang bakarku untuk menemanimu mencari pelampiasan di luar. " lanjutnya sambil berkacak pinggang di depan Evan.


" Hahaha... Enak aja. " cibir Evan sambil tertawa kencang.


" Nih... Gede kan? Pasti mereka di luar sana pada kesenengan kalau dapet yang jumbo gini. " lanjut Evan yang kembali menggoda dengan menyelundupkan keluar apa yang dimaksud oleh Istrinya dari celah resleting celananya dan mengibas - ngibaskannya di depan Istrinya.


Brughhh!!!


" Auw!!! Auwwwww!!! " teriak Evan kesakitan karena Rayne langsung menarik paksa apa yang telah dikibaskan.


" Akh!!! Sakit tau, nggak! Kalau putus gimana, coba! " teriak Evan sambil meringis kesakitan dan mengusap - usap benda berharganya.


Syukurin! jawab Rayne sinis meski sebenarnya juga khawatir melihat Evan benar - benar meringis kesakitan.


Cup...


Rayne yang merasa tak tega lantaran berbalik mengerjai Evan langsung berjongkok di hadapan Evan, membuka pengait celana yang dikenakan oleh Evan dan membantu Evan mengusap lembut pusaka pisang berharganya. Setelah menyingkirkan tangan Evan yang mengusap rasa sakit akibat tarikan Rayne, Rayne pun langsung memasukkan pisang kesukannya ke dalam mulutnya dan langsung menikmatinya tanpa tunggu lama lagi.


" Kalau gini kan sama - sama enak... " lirih Evan yang sudah merem melek sambil mendongak - ndongak menatap ke atap kamarnya.


Setelah beberapa saat mengerang merasakan kenikmatan tiada tara, Evan pun langsung menggendong Rayne dan membaringkannya di atas ranjang. Menyelesaikan kembali pertarungan yang sempat terhenti akibat ulah jahil keduanya. Hingga erangan panjang keduanya bersahutan menyambut hujan mayonais dari pisang bakar jumbo kesukaan Rayne.


" Buruan mandi, nggak enak nanti kalau kemaleman ke rumah Alexa. " ucap Evan yang langsung berdiri setelah puas mengukung Rayne, belanjaan seserahan yang semalam mereka beli sudah diserahkan Rayne pada anak buahnya di galeri pagi tadi, dan sudah selesai dikemar indah, kini masih berada di dalam mobil hasil ngidam Evan yang pagi tadi dipakai Rayne untuk pergi ke galeri miliknya.


" Mas aja dulu, aku masih capek... " jawabnya jujur dengan masih menetralkan deruan nafas serta cucuran sisa keringat pertarungan.


" Mandi bareng aja... Takutnya kamu lama. " jawab Evan tak mau dibantah.


" Tapi jangan minta tambah, ya? " tanya Rayne untuk memastikan.


" Iya. " jawab Evan serius dan langsung menggendong Rayne ke kamar mandi.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2