Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 192 - Diam!


__ADS_3

Sampai detik ini Zeevanea pun tetap saling bertukar kabar dengan Nicholas yang sedang bertugas di Jepang. Devandroe pun masih menyimpan kekecewaan mendalam kepada saudara kembarnya yaitu Raynevandra. Suasana di depan ruang ICU itu pun masih mencekam hingga saat ini. Seluruh keluarga nampak sangat bersedih dengan keadaan Evan. Rayne juga semakin terlihat tertekan karena hingga hari berganti tapi nyatanya Dokter belum juga mengabarkan apa pun kepadanya perihal keadaan Suaminya di dalam sana. Mama Rosa pun kini sudah nampak berada disana dengan air mata yang menderas. Mama Rosa yang baru saja dikabari oleh Eric langsung bergegas cepat menuju ke Rumah Sakit. Seluruh keluarga Armaya yang lainnya pun kini juga sudah berada disana untuk menunggui Evan. Teman - teman dekat juga kerabat mereka pun nampak beberapa yang juga berada di sana. Jangan tanyakan makan, sejak semalam mereka semua belum ada yang menelan apa pun kecuali air putih saja. Rayne yang sedang hamil itu pun langsung muntah ketika keluarganya memaksanya untuk mengisi perutnya dengan makanan.


Trap... Trap... Trap...


" Assalamualaikum... " ucap Alexandra yang baru saja datang siang ini, ia masih mengenakan seragam sekolah yang ditutupi atasannya dengan sweater rajut pemberian Raynevandra.


" Waalaikum salam. " balas mereka semua pelan, kecuali Raynevandra yang langsung berdiri menyambut kedatangan sang calon Istri.


Cup...


Tanpa kata Raynevandra langsung menyambut kedatangan calon Istrinya dengan mengecup kening Alexandra sekejap kemudian menggandeng Alexandra untuk mendekat kepada Rayne yang sedang duduk dipeluk oleh Stevano. Mereka semua pun langsung menatap pada kedatangan dari calon anggota baru keluarga mereka tersebut. Tatapan nyalang Devandroe kembali menghiasi suasana penuh kesedihan ini.


Trap... Trap... Trap...


" Mommy... Kak Steve... " lirih Alexandra yang sudah berada di depan Rayne dan Stevano, dengan Raynevandra tentunya juga.


Setelah mencium punggung tangan Rayne dan memeluknya sekejap, Alexandra pun mengembalikan Rayne dalam pelukan Stevano. Rayne masih menangis meski tanpa suara, Rayne pun semakin sedih karena sampai siang ini nyatanya Evan tak juga membuka matanya. Dan Alexandra pun langsung kembali berdiri bersama Raynevandra setelah meyalami juga para Orang Tua yang berada disana.


" Ajak Lexa makan dulu, Ray... Belum makan siang dia, langsung minta diantar kesini. " adu Brylee kepada Raynevandra, Alexandra tak datang sendiri melainkan bersama Brylee, Bradley, dan Aaron.


" Thanks kalian udah anterin Alexa kesini. " jawab Raynevandra pelan, ketiga remaja tampan ini hanya mengangguk


" Kenapa nggak makan dulu? " tanya Raynevandra kepada Alexandra.


" Tadinya Aku mau makan dulu di kantin sebenarnya... Tapi langsung muntah. " jelas Alexandra dengan tatapan sendunya.


" Minggir, Lo! " hardik Raynevandra kepada Zeevanea yang duduk diam memperhatikan mereka, nampak tak ada lagi kursi kosong disana karena para Orang Tua nampak menduduki semua kursi itu, hanya Stevano dan Zeevanea saja yang muda maka dari itu Stevano langsung menggusur Zeevanea, Zeevanea langsung melengos dengan tatapan sengitnya, ia enggan berpindah hanya untuk menuruti Raynevandra.


" Lo yang buat Daddy Gue kaya gini! Inget baik - baik, kalau sampai Daddy Gue kenapa - kenapa Gue sendiri yang bakalan tembak kepala Lo! " ancam Raynevandra tapi Zeevanea tetap tak menggubrisnya meski Zeevanea juga mengkhawatirkan kondisi Evan.


" Gue dukung Lo, Ray! " sahut Nala dengan wajah kesalnya menatap malas kepada Zeevanea, mereka sudah menceritakan kepada keluarga lainnya jikalau Evan menjadi seperti ini setelah bersitegang dengan Zeevanea, maka dari itu Nala yang sangat menyayangi Evan juga langsung emosi ketika melihat Zeevanea.


" Nggak ada tembak - menembak! Kakek yang akan menembak kepala kalian bertiga terlebih dahulu sebelum kalian yang baku tembak! " potong tegas Ayah Rudi melerai perdebatan sengit ketiga Cucunya, mereka pun langsung terdiam bungkam tak berani membantah lagi.

__ADS_1


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Permisi, semuanya... " ucap salah seorang Perawat yang tiba - tiba keluar dari ruang ICU tempat dimana Evan berada.


" Iya, Sus... " jawab Stevano yang langsung berdiri sambil memapah Rayne.


" Kondisi Tuan Muda masih lemah, akan tetapi Tuan Muda baru saja sadar... " ucap Perawat menyampaikan kondisi Evan kepada mereka semua.


" Alhamdulillah... " ucap syukur seluruh keluarga Evan.


" Tuan Muda mencari Tuan Muda Kecil Raynevandra dan Pak Raka. Selebihnya Tuan Muda mengatakan tidak mau bertemu dengan yang lain dulu. " jelas Perawat tersebut.


" Suster, tolong katakan saya juga ingin bertemu dengan Suami saya. " sahut Rayne cepat, ia merasa sedikit kecewa karena Suaminya tak mengizinkannya menemuinya terlebih dahulu.


" Maafkan saya, Nyonya Muda... Bukan maksud saya untuk bersikap tidak sopan kepada anda, akan tetapi saya tidak berani mengizinkan karena saya hanya menjalankan perintah sesuai dengan permintaan Tuan Muda. " jelasnya sungkan.


Cup...


" Tapi aku Istrinya, Kak... Nggak biasanya Mas Evan kaya gini. " jawab Rayne kecewa.


" Kamu memang Istrinya... Kamu memang Istri kesayangan Adikku... Tapi Kakak mohon, biarkan dulu, ya... Nanti Evan pasti memanggilmu untuk menghampirinya. " jawab Eric dengan sendu.


" Kakak yakin Evan bersikap seperti ini karena Evan juga sangat mengkhawatirkanmu. " jelas Eric, Rayne tetap diam meski sebenarnya sangat kecewa.


" Gue titip Alexa bentar... Jauhin dari Andru. " bisik pelan Raynevandra pada Brylee, Brylee hanya mengangguk pelan sambil menepuk bahu Raynevandra, tapi Aaron dan Bradley juga bisa membaca gerak bibir Raynevandra.


" Aku masuk sebentar... Kalau capek bilang aja sama mereka buat gantian duduk. Jangan sungkan. " pesan Raynevandra pada Alexandra kemudian mengecup singkat kening Alexandra, Alexandra pun langsung mengangguk.


" Ayo, Uncle... " ucap Raynevandra kepada Raka, Raka pun menganggukkan kepalanya dan keduanya langsung bergegas masuk ke dalam ruang ICU setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang telah disediakan di depan ruang ICU, tak lupa Raynevandra menyempatkan untuk mengusap lembut perut Alexandra sembari ia beranjak bersama Raka.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


" Ale... " panggil Devandroe yang kini sudah mendekat pada Alexandra.


" Devan... " balas Alexandra, Brylee dan Bradley serta Aaron pun nampak saling pandang seketika.


" Aku mau ngomong sebentar sama kamu. " ucap Devandroe langsung.


" Ngomongnya disini aja, Dev... Aku nunggu Ray. " jawab Alexandra kikuk, celingak - celinguk menatap pada ketiga remaja Sahabat dari calon Suaminya.


" Tapi tidak disini. " jawab Devandroe dan menatap sekilas pada ketiga Sahabatnya juga itu.


" Jangan dibawa pergi... Nanti kalau Ray keluar dan Alexa nggak ada disini Ray pasti marah, Ndong. " sela Brylee menahan Alexandra sesuai perintah Raynevandra.


" Gue cuma sebentar. Cuma minggir kesana. " jawab Devandroe yang jelas ngototnya, Alexandra nampak bingung dan menatap ketiga Sahabat Raynevandra dengan gelisah.


Ketiga Sahabat Raynevandra ini pun langsung kompak menahan kembaran Raynevandra itu agar tidak membawa Alexandra menepi dari tempat itu meski Devandroe juga bersikukuh untuk terus membawa Alexandra menepi. Yang membuat Devandroe kesulitan adalah karena Alexandra juga menolak jadi Devandroe juga harus terus memutar otaknya agar bisa membawa Alexa menepi. Dan hingga setengah jam lebih mereka berlima masih nampak berdebat.


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Raka... " panggil Rayne saat Raka baru saja keluar dari ruang ICU, Raka menoleh sebentar kemudian langsung meninggalkan tempat tanpa kata, mereka semua pun kembali bertanya - tanya.


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


Srekkk!!!


" Bangsat!!! " teriak Raynevandra murka dan langsung menyeret tubuh Zeevanea secara paksa dan tiba - tiba, semua Orang Tua yang sedang duduk itu pun langsung berdiri seketika kecuali Eyang Alam yang memang duduk di kursi roda.


" Lo yang Bangsat! Nggak usah seret Gue kaya gini! " teriak Zeevanea Barbar, tak terima diperlakukan seperti itu oleh Raynevandra.

__ADS_1


" Diam! " teriak Ayah Rudi tak kalah murka sembari melepaskan Zeevanea dari genggaman erat Raynevandra meski tatapan tajam Zeevanea dan Raynevandra masih beradu begitu tajam.


__ADS_2