Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 54 - Bertahan


__ADS_3

" Bertahan Tuan Muda!!! " pekik Bram yang memang sedari pagi mengantarkan Raynevandra ke sekolah karena Raynevandra sedang tidak enak badan.


Bram meletupkan senjata apinya ke udara setelah Raynevandra meliriknya dan memberikan simbol dengan lirikan matanya. Bram langsung dipanggil oleh Raynevandra sebelum Raynevandra naik ke atas atap gedung sekolah. Jelas Bram langsung paham, dan Raynevandra beserta Bapak Guru juga Bram pun berhasil mengalihkan perhatian Anastasya yang tadinya tengah berdebat dengan Alexandra. Dan berhasil ditarik pula tubuh Anastasya untuk berpindah ke tengah. Tapi naasnya, karena Anastasya terus meronta sehingga kini tubuh Raynevandra pun menjadi bergelantungan di atas gedung. Karena tumpuan kaki yang tidak tepat, Raynevandra terhuyung hingga akhirnya terpelanting ke tepian atap gedung sekolahnya. Dan kini, Bram sedang memegangi tangan Raynevandra untuk menahan tubuh Raynevandra agar tidak sampai jatuh ke bawah sana. Jerit histeris itu seketika menguar kala mereka semua yang berada disana melihat tubuh Raynevandra terpelanting ke tepian hingga kini bergelantungan di tepian atap gedung sekolah tersebut.


" Ray... Kuat, Ray! Kamu pasti kuat! " teriak Alexandra yang langsung menangis histeris kala melihat tubuh Raynevandra terpelanting hingga kini bergelantungan, Raynevandra hanya tersenyum sembari menatap Alexandra yang sedari tadi sudah mendekat ke arahnya.


" Bertahanlah Raynevandra! " pekik Bu Guru yang sedari yadi berada disana juga mengkhawatirkan keselamatan Raynevandra.


" Tarik, Uncle. Aku siap. " ucap Raynevandra yang tetap berusaha tenang, Bram pun tetap terlihat tenang meski kini sebenarnya detak jantungnya sedang berontak tak karuan karena nyawanya kini sedang dipertaruhkan untuk keselamatan Raynevandra, jelas Evan akan memenggalnya kalau Raynevandra sampai terjatuh ke bawah sana.


" Mohon minggir sebentar, Nona Muda. " ucap Bram sembari melirik Alexandra yang berjongkok di sebelahnya, Bram pun sudah dalam posisi tengkurap sembari menahan tangan Raynevandra, Alexandra pun menepi meski dengan berat hati dan berjuta kekhawatiran.


Bapak Guru yang baru saja kembali setelah membopong Anastasya yang pingsan untuk dibawa ke ruang UKS langsung merengkuh sebelah tangan Raynevandra dan membantu Bram untuk menarik tubuh Raynevandra.


" Satu, dua, tiga! " ucap Bram memberi aba - aba kepada Raynevandra juga Bapak Guru sebelum akhirnya bergerak kompak untuk menarik Raynevandra dengan sekali tarikan.


Brugh!!!


" Baby!!! " teriak Alexandra histeris saat tubuh Raynevandra dihentak kencang oleh Bram dan Bapak Gurunya, kaki jenjang Raynevandra nampak menjejak pada dinding disana untuk bisa melompat naik kembali ke atas.


Hiks... Hiks... Hiks...


Bersyukurnya mereka semua yang berada disana karena Raynevandra berhasil ditarik ke atas oleh Bram dan Bapak Guru tersebut. Bram langsung duduk dengan berselonjor kaki saking leganya setelah melihat Tuan Mudanya selamat tanpa luka. Alexandra pun langsung mendekati Raynevandra dan memeluk erat dengan menangis terisak dan bersimbah air mata. Bapak Guru itu pun terlihat terduduk lega diantara mereka. Bu Guru yang ada disana langsung memberikan air mineral kepada Bapak Guru, Bram, dan Raynevandra tentunya.


" Syukurlah, Nak... Kamu selamat. " ucap Bu Guru tersebut dengan berlinang air mata sembari menatap Raynevandra, Raynevandra pun mengangguk sembari tersenyum kepada Ibu Gurunya juga merasa lega karena ia terselamatkan.


" Iya, Bu... Alhamdulillah. " ucap Raynevandra sopan, Bu Guru tersebut langsung memeluk singkat Raynevandra.

__ADS_1


" Tapi saya mohon kepada pihak sekolah untuk tidak memberitahukan perkara ini kepada kedua Orang Tua saya. " ucap Raynevandra kepada Ibu dan Bapak Gurunya setelah ia melepaskan pelukan tersebut.


" Tapi, Ray... Kalau Pak Evan tau berita ini dari orang luar pasti Pak Evan akan bertambah marah kepada kami. " jawab Bapak Guru itu khawatir.


" Saya sendiri yang akan mengatakan tentang kejadian ini kepada kedua Orang Tua saya. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir. Semua akan baik - baik saja. " jawab Raynevandra tegas, Bapak Guru ini pun menganggukkan kepalanya.


Setelah evakuasi penyelamatan Raynevandra usai, mereka semua pun bubar jalan dan kembali ke tempat masing - masing. Berhubung sekarang sudah habis jam sekolah, maka sekuruh Siswa yang sedari tadi berkumpul disana pun langsung membubarkan diri untuk pulang.


Trap... Trap... Trap...


" Mau langsung pulang, Tuan Muda? " tanya Bram saat semua orang sudah sepi.


" Iya, Uncle. Anterin Alexa dulu. " ucap Raynevandra dan langsung membantu Alexandra untuk berdiri karena mereka bertiga masih pada duduk di atas dak beton tersebut.


" Kita pulang, Baby... " ajak Raynevandra kemudian menggenggam tangan Alexandra dan beranjak meninggalkan atap gedung sekolah mereka dengan dikawal oleh Bram yang berjalan di belakang mereka.


Trap... Trap... Trap...



" Jangan sedih lagi, ya... " ucap Raynevandra tulus semabari menangkup wajah Alexandra dengan kedua tangannya, Alexandra masih saja menampakkan wajah sendunya.


" Aku nggak mau lihat kamu nangis atau sedih lagi... Apa lagi sampai ngomong kaya tadi. Aku nggak suka! " tegas Raynevandra, tentu Alexandra pun paham dengan maksud Raynevandra yang tak akan pernah menyetujui untuk menyelipkan seorang Anastasya di dalam hubungan mereka.


" Promise? " tanya Raynevandra dengan tatapan yang terlihat sangat serius sembari mengacungkan jari kelingkingnya, Alexandra pun mengangguk kemudian menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Raynevandra, senyum keduanya pun bertemu.


" Ayo masuk... Aku antar kamu pulang. " ucap Raynevandra dan langsung menggandeng Alexandra untuk masuk ke dalam mobilnya yang pintunya sudah dibukakan oleh Bram, Alexandra pun mengangguk dan menurut.

__ADS_1


Setelah Bram menutup pintu samping tersebut, Raynevandra pun langsung menutup pembatas yang ada di dalam mobilnya. Bram pun mulai melajukan mobil milik Raynevandra ini keluar dari area tempat parkir sekolah.


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Cup...


Keheningan kembali tercipta kala mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Alexandra. Raynevandra dengan penuh kasih dan cinta memeluk mesra Alexandra sembari mengusap lembut kepala Alexandra juga sesekali mengecup puncak kepala Alexandra. Alexandra pun semakin merasa nyaman diperlakukan bak Ratu yang selalu dilimpahi cinta dan kasih sayang oleh Raynevandra. Hingga tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi ini pun telah sampai di halaman rumah megah Alexandra dan Bram pun juga sudah menghentikan laju mobil Raynevandra yang dikendarainya.



" Masuk dulu, yuk... " tawar Alexandra kepada Raynevandra.


" Boleh, deh... " jawab Raynevandra tak enak hati dengan Alexandra karena sebelumnya selalu menolak jika Alexandra menawarinya mampir.


" Ya udah, ayuk... " ucap Alexandra, Raynevandra pun tersenyum kemudian membuka pintu mobil di sampingnya, setelahnya langsung menggandeng Alexandra keluar dari mobilnya.


" Uncle masuk juga, yuk... " ajak Alexandra pada Bram yang sudah berdiri di samping mobil.


" Saya disini saja, Nona Muda. " jawab Bram sungkan sembari membungkukkan badannya.


" Ya sudah, biar Bibi buatkan kopi untuk Uncle. Uncle tunggu sebentar. " ucap Alexandra lagi, Bram pun menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih, Nona Muda. " ucap Bram, Alexandra mengangguk dan tersenyum kemudian menarik tangan Raynevandra yang sedari tadi menggenggam tangannya dan membawanya mmberanjak menuju ke dalam rumahnya.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2