
Sehari semalam lebih sudah Evan di rawat tapi nyatanya hingga detik ini masih belum juga menunjukkan tanda - tanda kesadaran akan menghampiri kepada Evan kembali. Keluarga Evan nampak datang silih berganti untuk menemani Rayne dan anak - anaknya berjaga di Rumah Sakit. Makan sebisanya, istirahat pun hanya sekedarnya. Rasanya tak nyenyak tidur dan tak enak makan manakala melihat anggota keluarga mereka sedang tak sadarkan diri di dalam ruangan menakutkan itu. Isak tangis Rayne dan anak - anaknya pun masih seringkali terdengar hingga terasa sangat memilukan menyayat hati. Beruntungnya kandungan Rayne kuat dan Rayne tetap terlihat tegar meski juga sangat terlihat bersedih meratapi keadaan Evan saat ini. Suami tercinta yang sangat mencintai dirinya dan anak - anaknya dengan segenap jiwa dan raganya ini masih belum juga beradu dengan kesadarannya. Jujur saja, saat ini semua keluarga Evan merindukan Evan yang cerewet dan suka semaunya sendiri. Kediaman atas ketidak sadaran yang dialami oleh Evan sungguh terasa teramat sangat menyakitkan untuk keluarganya.
Cup...
" Aku tinggal sebentar ya, Momm... Mami baru aja ngabarin, Alexa muntah - muntah terus katanya. " ucap Raynevandra yang langsung menghampiri Rayne setelah mendapatkan kabar Alexandra dari Mami Syahnaz, Mami Alexandra.
" Kalau ada kabar sama Daddy langsung kabarin aku. " lanjutnya meski akan pergi tetapi tetap mengkhawatirkan kondisi Daddy-nya juga.
" Iya, Sayang... Nggak usah balik kesini kalau udah beres, daripada kamu repot bolak - balik, pulang ke rumah aja lebih dekat. Ini udah malem. " jawab Rayne yang langsung mengurai pelukannya dari Devandroe, Devandroe pun hanya diam sambil melengos menatap ke arah yang lainnya agar tak bersitatap dengan Raynevandra.
" Ya udah... Aku pergi dulu. " jawab Raynevandra sambil mengangguk kemudian mencium punggung tangan Rayne dan mengecup singkat bibir Mommy-nya barulah Raynevandra beranjak.
Trap... Trap... Trap...
" Alexa cuma mual aja kenapa Ray sampai harus kesana sih, Momm? " tanya Nala tak habis pikir.
" Ini juga udah malem. Nggak kasihan Ray apa nyuruh Ray dateng malem - malem gini. " lanjutnya menggerutu dengan sedikit rasa kesal.
" Kondisi Ibu hamil itu berbeda - beda, Sayang... Kalau Alexa ini Baby-nya mau nya nempel sama Ray terus kayanya. Kaya Mommy kalau lagi hamil pasti selalu pengen nempel terus sama Daddy meskipun kadang kalau udah ada Daddy bawaannya suka kesel sama Daddy. " jelas Rayne pelan sambil menyeka air matanya, Nala hanya diam mendengarkan meski juga tak begitu menanggapinya, Devandroe yang tetap bersama Rayne juga hanya diam dan mengalihkan pada ponsel pintar dalam genggamannya tak mau menanggapi soal Raynevandra.
" Mami Sea dulu kalau nggak salah pas hamil Ara itu malah nggak mau deket sama Papi-mu. " lanjutnya.
" Kalau pas Mami hamil aku? " tanya balik Nala setelah menatap Rayne langsung menatap Eric.
" Biasa aja... Nggak ada rewel - rewelnya. " jawab Eric seadanya.
" Palingan Mami-mu muntah - muntah di pagi hari aja. " lanjutnya menjelaskan Nala, pun mengangguk.
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Semua orang yang sedang menunggui Evan di depan ruang ICU tersebut langsung menoleh ke arah Stevano yang ponselnya berdering. Stevano pun langsung mengambil ponsel dari saku celananya kemudian menepi setelah melihat nama Mama Sandra yang menyala pada layar ponselnya. Orang - orang disana pun kembali diam tanpa menatap kepada Stevano lagi.
Trap... Trap... Trap...
Stevano :
Halo...
Assalamjalaikum, Ma...
ucap Stevano menjawab panggilan telepon tersebut.
Mama Sandra :
Hiks... Hiks... Hiks...
__ADS_1
Waalaikum salam, Sayang...
jawab Sandra yang tak lain adalah Istri dari Teo, Sahabat Evan.
Stevano :
Mama kenapa, Ma?
Mama kenapa nangis?
tanya Stevano penasaran karena Sandra menghubunginya dengan menangis sesenggukan.
Mama Sandra :
Hiks... Hiks... Hiks...
Kamu ke Rumah Sakit sekarang ya, Nak...
ucap Sandra dengan tetap menangis tanpa menjawab pertanyaan Stevano.
Stevano :
Loh...
Siapa yang sakit, Ma?
tanya Stevano yang masih dengan kebingungannya.
Mama Sandra :
Hiks... Hiks... Hiks...
Maura, Sayang...
jawab Sandra sambil meremas ujung blouse pendeknya.
Stevano :
Maura!!!
pekik Stevano yang sangat terkejut sekaligus panik mendadak.
Mama di Rumah Sakit mana, Ma...
Steve kesana sekarang.
__ADS_1
jawabnya tergesa - gesa sembari berjalan menghampiri keluarganya untuk berpamitan.
Trap... Trap... Trap...
Mama Sandra :
Mama di Rumah Sakit punya Armaya, Sayang...
Mama di Armaya Hospital.
jawab Sandra.
Mama masih di UGD.
lanjutnya menjelaskan keberadaannya secara lebih rinci kepada Stevano, nampak keluarganya yang masih berada di depan ruang ICU mulai menatap ke arah Stevano.
Stevano :
Mama tunggu aku.
Aku kesana sekarang.
ucap Stevano yang langsung mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Tut... Tut... Tut...
" Aku tinggal ke UGD dulu ya, Momm... Mama Sandra bilang Maura sakit dan dibawa ke UGD. " ucap Stevano yang langsung menjelaskan sambil berjongkok di depan Rayne yang sedang duduk di kursi tunggu.
" Maura kenapa, Kak? " tanya Rayne sambil menyeka air matanya, memang Rayne tak henti menangisi keadaan Evan.
" Aku juga nggak tau pasti. Mama Sandra cuma bilang kalau Maura sakit dan sekarang di UGD. " jelasnya seadanya dengan cepat, Rayne pun menganggukkan kepalanya sembari mengusap lembut kepala Stevano.
Cup...
" Kakak tinggal sebentar ya, Dek... Baik - baik sama Mommy... Kasihan Daddy masih harus berjuang sendirian di dalam sana. " ucap Stevano panjang lebar sembari mengecup singkat perut Mommy-nya yang sedang berisikan Adiknya, ucapan Evan kemarin yang mengatakan jika Stevano adalah tangan kanannya membuat Stevano harus memulai belajar untuk menggantikan Daddy-nya jika memang Daddy-nya sudah benar - benar tidak ada, Rayne semakin menangis kala melihat perlakuan Stevano kepadanya, Stevano pun langsung berdiri tak lupa mencium punggung tangan juga mengecup bibir Mommy-nya singkat.
" Jangan bilang sama mereka kalau Daddy-mu sakit. " ucap Ayah Rudi menyela.
" Dan untuk yang lainnya usahakan untuk tidak memberitahukan keadaan Evan kepada pihak luar. " lanjutnya berkata tegas, mereka pun nampak mengangguk patuh.
" Iya, Kek... Steve pergi dulu. Steve titip Mommy. " jawab Stevano patuh kemudian langsung mencium punggung tangan Kakeknya juga punggung tangan para Orang Tua yang ada disana, selain Ayah Rudi disana juga ada Bunda Sekar, Mama Rosa, Eric, Richie, Sea, Raka, dan anak - anak Rayne yang lain beserta anak - anak Eric tentunya, Stevano pun langsung bergegas pergi untuk menghampiri Maura di ruang UGD.
Trap... Trap... Trap...
Dengan langkah seribu bayangan Stevano pun bergerak cepat meninggalkan tempatnya semula menuju ke ruang UGD tempat dimana Kekasih hatinya berada. Perasaannya semakin teradukk tak karuan. Daddy-nya yang masih kritis kini Stevano harus kembali dikejutkan dengan kabar mengenai Maura yang tiba - tiba dilarikan ke Rumah Sakit. Stevano terus berlari kencang, tak pedulikan tatapan marah orang - orang yang sempat ditabraknya ketika berlari dengan perasaan yang tak karuan. Stevano tetap berlari dengan cepat agar segera bertemu dan mengetahui langsung keadaan Maura.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...