
Hiks... Hiks... Hiks...
" Langkahi dulu mayat saya! " pekik Evan pelan penuh penekanan saat kalimat mengejutkan itu baru saja didengar oleh indera pendengarannya, tak ada toleransi sama sekali.
" Mas! " pekik Rayne yang langsung berteriak dan kian khawatir saat mendengar kalimat menakutkan itu terlontar begitu saja dari mulut Suaminya, Rayne pun sangat terkejut.
" Evan! " pekik Ayah Rudi dan Papi Ardi serta Eyang Alam bersamaan dengan pekikan panggilan Rayne kepada Evan, Raynevandra langsung mendekati Evan yang sudah beranjak berdiri dan menepuk - nepuk bahu Evan agar bisa bersikap tenang.
Flashback On :
" Mohon maaf saya menyela sebentar... Ada yang ingin saya sampaikan kepada Om Evan. " ucap Nicholas kala makan siang gabungan tiga keluarga Konglomerat ini baru saja usai dan mereka semua sudah kembali duduk di ruang tamu, orang - orang disana pun mendiam dengan obrolan ringannya, fokus mendengarkan apa yang akan Nicholas sampaikan, Zeevanea dan Nicholas pun sudah terlihat semakin tegang tetapi Nicholas terus berusaha mengendalikan dirinya, tetapi Evan masih terlihat cuek.
" Om Evan... " panggil Nicholas, Evan yang semula terlihat asik mengabaikan dan menikmati rokoknya di samping Ayah Rudi pun langsung menolehkan kepalanya setelah mendengar namanya dipanggil kembali oleh Nicholas, Dygta dan Aga saling pandang sesaat kemudian nampak menghela nafas panjang beriringan.
" Sebelumnya saya minta maaf sama Om Evan... " lanjutnya mulai mengutarakan apa yang akan disampaikannya.
" Langsung pada intinya saja. " potong Evan cepat sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara, buyar sudah rancangan kata demi kata yang sebelumnya disusun susah payah oleh Nicholas setelah melihat Evan memotong ucapannya dengan tegas.
" Saya dan Zeevanea berpacaran dan saya ingin menikahi Zeevanea. " ucap Nicholas sok tenang meski sebenarnya sangat gemetar melihat tatapan mata Evan yang semakin terlihat menajam menatap nyalang ke arahnya.
Saat seluruh prosesi acara pertunangan Abrizam Farrand Nitinegara dan Ardhiona Nyata Btari Armaya usai, Nicholas pun langsung bergerak tegas dan mengungkapkan hubungannya dengan Zeevanea kepada Evan di depan mereka semua. Evan jelas langsung murka dan langsung menatap Zeevanea yang sedang menunduk ketakutan. Semua orang pun terbungkam dengan keadaan yang sangat mencekam. Suasana mengharu biru yang semula terlihat kala prosesi pertunangan Anya dan Brian itu pun kini sudah berubah drastis dan dramatis dengan keadaan yang berubah mencekam.
Evan terlihat shock... Sangat terkejut dengan penuturan Nicholas, sementara Zeevanea hanya diam saja karena memang sudah merasa ketakutan sejak awal meski Nicholas dan Zeevanea sudah sepakat untuk berterus terang saat ini juga. Eric yang nampak lega dengan keterusterangan Nicholas pun kini juga terlihat tegang dengan aura kemarahan Adiknya yang sudah nampak terlihat disana. Mereka semua yang berada disana pun nampak terlihat tegang melihat kemarahan besar Evan yang langsung meledak begitu saja. Keringat dingin pun membanjiri...
Flashback Off :
" Zeevanea Gamyara Kalandra, angkat kepalamu! " tegas Evan pelan penuh penekanan setelah ia mengutarakan penolakan kejamnya terhadap Nicholas, Zeevanea masih saja menunduk takut, air matanya nampak semakin menderas, Rayne langsung memeluk Zeevanea, Nicholas yang melihat ketakutan Zeevanea seolah tak tega, tetapi kalau Nicholas langsung menghampiri Zeevanea juga Nicholas takut jikalau Evan kian murka, keluarga Armaya pun masih nampak tercengang dengan keadaan ini.
__ADS_1
" Mas... " lirih Rayne memelas, memohon kepada Evan agar tidak bersikap kasar kepada Zeevanea.
" Zeevanea Gamyara Kalandra! " bentak Evan dengan suara yang langsung meninggi.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Daddy, ampun! " ucap Zeevanea gemetaran, Zeevanea langsung beringsut dari pelukan Rayne dan langsung bersimpuh di bawah kaki Evan, Nicholas langsung ikut bersimpuh juga di bawah kaki Evan, nampak hujan tangis mulai menghiasi ruangan megah ini.
" Maafkan kami, Om... Tapi kami bersungguh - sungguh, kami saling mencintai. " ucap Nicholas yang kembali meminta maaf kepada Evan, suasana terlihat sangat tegang.
" Tolong jangan pisahkan kami, Om... " lanjutnya kian mengiba belas kasihan kepada Evan, Evan tetap berdiri dengan keangkuhannya menatap nyalang ke arah Dygta yang juga sudah berdiri dari duduknya setelah melihat Putranya berlutut di bawah kaki Evan.
" Mas... " lirih Rayne yang kembali mengiba dan kini sudah berdiri di samping Evan, Rayne menggenggam tangan Evan tapi Evan hanya diam saja, meski Rayne tak tega melihat kesedihan Zeevanea akan tetapi Rayne juga tidak berani membela Zeevanea karena Rayne sangat paham akan besarnya kesalahannya di masa lalu yang membuat Evan membenci keluarga Nitinegara, dan sudah pasti akan merembet kemana - mana kalau sampai Rayne membela Zeevanea sekarang.
" Tidak semudah itu Fergusooo... " ucap Evan menjawab sinis ucapan Eric.
" Pak Evan tolong jangan ungkit lagi perkara kita dulu. Benar kata Pak Eric bahwa anak - anak kita tidak bersalah, anak - anak kita berhak bahagia. Tolong jangan jadikan anak - anak kita korban dari masa lalu kita. " sela Dygta yang akhirnya ikut berbicara, Evan nampak tersenyum tapi tersenyum sinis dan sangat terlihat bengis seolah ingin memangsa Dygta hidup - hidup.
" Dan sesungguhnya Nicky bukanlah Putra kandung saya... Nicky dan Brian adalah Putra dari Saudara kami yang meninggal karena kecelakaan pesawat sehingga saya dan Aga memutuskan untuk membesarkan mereka. Tolong izinkan Nicky dan Zeevanea bersama. " lanjutnya mencoba meluluhkan Evan untuk Nicholas.
" Saya tidak akan pernah menyetujui hubungan Zeevanea dengan Nicholas meskipun darah Nitinegara tidak mengalir di dalam tubuh Nicholas. Karena Nicholas tetaplah Nitinegara. " tegas Evan kemudian langsung menarik Zeevanea agar bisa berdiri sejajar dengan dirinya, Nicholas pun juga ikut berdiri, Nicholas yang sebenarnya ingin berucap mengurungkannya setelah melihat pergerakan Evan.
Prakkk!!!
Hiks... Hiks... Hiks...
__ADS_1
" Evan!!! " teriak Richie dan Eric bersamaan kala melihat Evan merogoh ke belakang punggungnya.
" Tembak kepada Daddy kalau kamu memang menginginkan menjadi Istri dari Putra seseorang yang pernah menghancurkan kehidupan Daddy hingga sedemikian rupa. " tegas Evan sambil melemparkan senjata api yang baru saja diambilnya dari belakang punggungnya, suasana pun semakin mencekam karena mereka semua tahu bahwa ucapan Evan tidaklah isapan jempol belaka.
" Nih... " ucap Evan dengan seringaian santainya sambil menyerahkan senjata api yang baru saja diambilnya di meja tersebut kepada Zeevanea.
" Daddy siap mati demi kamu... Daddy pasti bahagia melihatmu bahagia dari atas sana meski Daddy harus terlebih dahulu pergi menyusul Opa yang sudah damai di Surga. " lanjutnya sambil menatap dalam kepada Zeevanea, tangis Zeevanea semakin tak karuan melihat Evan yang dengan rela mengorbankan nyawanya demi Zeevanea, Ardiansyah Armaya dan Rudiansyah Armaya nampak memijit pelipisnya bersamaan.
" Keputusan ada di tanganmu... " ucap Evan lagi setelah kembali terdiam beberapa saat.
" Daddy siap mati demi kamu. " lanjutnya kembali menegaskan ucapannya.
" Benarkah tidak ada kesempatan untuk mereka berdua? " sela Ayah Rudi ikut angkat bicara.
" Tidak, Ayah. " jawab Evan tegas.
" Sekali tidak tetap tidak. " tegasnya lagi.
" Hanya karena alasan masa lalu itu kamu rela mengorbankan kebahagiaan Cucu Ayah yang sama sekali tak ada sangkut pautnya? " lanjut Ayah Rudi kembali bertanya.
" Tidak akan pernah ada nama keluarga Nitinegara yang akan menjadi anggota keluarga Kalandra. " tegas Evan, Rudiansyah Armaya menatap semakin dalam kepada Evan karena ia merasa tak tega melihat Zeevanea.
" Om Evan... Saya bisa mengganti nama Nitinegara dan memakai nama keluarga saya yang sebebarnya kalau memang Om Evan tak menghendaki nama keluarga Nitinegara. " sela Nicholas, ia baru berani mengutarakan hal ini karena tadi Dygta sudah menjelaskan sebelumnya.
Evan hanya tersenyum sinis kemudian langsung beranjak pergi setelah dirasa tak ada lagi yang perlu dibahasnya disini. Tak lupa menggandeng tangan Rayne untuk turut serta pergi dari kediaman keluarga Armaya.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...