Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 159 - Pisang Spesial


__ADS_3

Selepas menina bobokkan Alexandra, Raynevandra pun langsung bergegas pulang. Papi dan Mami serta Kakak Alexandra masih tetap berada di tempat yang sama saat Raynavandra akan berpamitan. Setelah berpamitan kepada mereka, Raynevandra pun pulang.


Bruuum... Whuuussszzzhhhh...


Dalam diamnya Raynevandra nampak memikirkan banyak hal. Benar kata Evan jika kini Raynevandra harus dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Tapi Raynevandra juga tetap semangat untuk bangkit dan ingin hidup lebih baik lagi bersama Alexandra dan janin kembar yang kini sudah tumnbuh sehat di dalam rahim Alexandra.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


" Apaan? " tanya Raynevandra langsung kala sudah membuka pintu kamar Zeevanea tapi ia masih berdiri sambil memegangi knop pintu kamar Zeevanea, di dalam kamar Zeevanea sudah ada Stevano juga Devandroe.


" Masuk dulu kenapa sih, Ray! Kaya orang lagi nagih utang aja! " pekik Zeevanea, Stevano nampak terkikik sesaat melihat dua adik Barbarnya, sementara Devandroe hanya diam memperhatikan.


" Gue ngantuk, buruan ngomong. " tegas Rayenvandra yang sebenarnya merasa tak nyaman dengan keberadaan Devandroe disana.


" Lo kemarin minggat? " tanya Zeevanea langsung, tak tahan berbelit - belit.


" Masuk dulu, Dek... Kakak juga mau tanya sama kamu. " sela Stevano angkat bicara, mau tak mau Raynevandra pun mendekat.


Trap... Trap... Trap...


" Lo ada masalah apa sih sebenernya sama Daddy, hah? Lo bikin ulah apa? Mau pergi pakai pamitan panjang lebar, bawa tas ransel penuh segala. " tanya Zeevanea yang langsung mencecar dengan pertanyaan panjang lebarnya, Stevano menepuk bahu Zeevanea untuk memberi kode agar Zeevanea diam.


" Tanya apaan? " sungut Raynevandra ketus dan langsung bertanya pada Stevano, Raynevandra tetap mengabaikan pertanyaan Zeevanea.


" Pertanyaan Gue jawab dulu! " sungut Zeevanea kesal, Raynevandra langsung menjulurkan lidahnya meledek pada Zeevanea, Zeevanea pun membalas menjulurkan lidahnya meledek Raynevandra.


" Kamu ada masalah, hmmm? " tanya Stevano pelan tapi langsung.


" Udah beres. " jawabnya cuek tapi tetap sopan jika berbicara dengan Stevano.

__ADS_1


" Ya udah, syukur kalau udah beres... Kita ini keluarga, kalau ada apa - apa ceritakan saja, kita akan saling bantu. " jawab Stevano mengiyakan meski belum mengetahui penyebab dan jawaban pasti dari Raynevandra dan tersirat makna agar Raynevandra mau berbagi keluh kesahnya.


" Makasih, Kak... " jawabnya, Stevano pun mengangguk pasrah meski tidak mendapatkan jawaban, sementara Zeevanea nampak kesal dengan Stevano yang tak mau bertanya lebih lanjut kepada Raynevandra.


" Ray! " pekik Zeevanea memanggil, Raynevandra dan Stevano langsung menoleh bersamaan.


" Lo ada masalah apa sih? " tanya Zeevanea lagi mengulangi pertanyaannya yang sedari tadi belum juga mendapatkan jawaban dari mulut ceriwis Raynevandra.


" Udah beres, udah kelar. Gue udah nggak punya masalah. " jawabnya yang masih saja terus berkilah.


" Iya tapi masalahnya apa, Ray? Kenapa Lo sampai pamit kaya kemarin? Pakai bawa - bawa tas penuh juga. Bener nggak sih kalau Daddy marah dan sampai ngusir Lo? " tanya Zeevanea tak sabar.


" Gue yang mutusin pergi dari rumah ini karena Daddy nggak mau ngakuin Gue sebagai anaknya lagi, meskipun Mommy juga berusaha nahan Gue. " jawab Raynevandra.


" Terus penyebabnya? Tinggal ngomong aja apa susahnya, sih! " sentak Zeevanea kesal juga penasaran.


" Zeevanea... " ucap Stevano pelan sembari menggelengkan kepala agar Zeevanea tidak terus mencecar Raynevandra, ia merasa mungkin sekarang Raynevandra belum siap untuk bercerita kepada mereka.


Trap... Trap... Trap...


Sementara keempat anak ini baru saja mengakhiri perdebatannya dengan masalah yang tengah dihadapi oleh Raynevandra, Rayne dan Evan sendiri kini juga sedsng berdebat kembali perkara kolor pisang yang tadi dibeli Rayne untuk Evan.


" Pakai, Mas... Aku pengen lihat Mas Evan pakai itu... " rengek Rayne.


" Males, ah! " pekik Evan yang sedari tadi tetap menolak meski ia sendiri juga yang membawa boxer bergambar pisang itu ke meja Kasir saat berada di toko tadi.


" Pasti tambah sexy kalau pakai itu... " bujuk Rayne yang terus berusaha merayu meski rasanya sudah pegal membujuk si Bengal yang memang pada dasarnya keras kepala.


" Ini waranya terang, pasti dia tambah kelihatan kegagahannya di dalam sana. " lanjutnya sambil melirik nakal juga kesal ke arah pangkal paha Suaminya.


" Kalau mau buruan, nggak usah pakai itu. Mas nggak mau, Dek! " tolaknya memakai boxer tersebut tapi mau untuk bercinta.

__ADS_1


" Tapi ganti dulu sama yang ini, ya? Aku jamin Mas Evan pasti makin sayang sama aku nanti. " rayu Rayne terus penuh percaya diri.


" Yang penting itu pusakanya, bukan sempaknya! " ketus Evan yang sudah merasa malas karena kini ia juga sedang menahan sesak.


" Mas... Lingerie ini pun sama halnya dengan celana boxer itu... Mas Evan seringkali bilang kalau aku bakal kelihatan semakin menggoda di mata Mas Evan kalau aku memakai lingerie warna merah, warna lingerie kesukaan Mas Evan. " ucap Rayne mencoba menjelaskan dengan perlahan.


" Boleh kan aku juga menginginkan hal itu dari Mas Evan? " lanjutnya bertanya.


" Eh, mana tadi lingerie barunya? " tanya balik Evan semangat dan langsung celingukan mencari lingerie yang dipilihkan untuk Rayne ketika mereka berbelanja tadi.


" Aku akan pakai lingerienya seperti yang Mas Evan minta... Mas juga pakai ya, boxernya? " jawab Rayne yang juga mengharap Evan akan luluh kali ini.


Iya, iya, ayok buruan! Udah kebelet nyembur dari tadi nih! " jawab Evan sembari mengomel kesal tapi juga mengiyakan, Rayne tersenyum samar dan Evan pun langsung melucuti piyama tidurnya serta mengganti boxer hitam yang dikenakannya dengan boxer bergambar pisang yang diinginkan oleh Istrinya.


" Lah... Kok belum buka baju? Aku udah pakai nih! " pekik Evan yang melihat kimono tidur Rayne masih rapi tak tersentuh.


" Mas Evan saja yang buka... " jawabnya sambil tersenyum menggoda pada Evan.


Brughhh!!!


Evan yang semula akan menarik tali kimono yang dikenakan oleh Istrinya nampak terkejut seketika tatkala Istrinya malah mendorongnya ke belakang meski tak tergeletak sempurna di atas ranjang. Rayne yang semula duduk bersebelahan dengan Evan langsung berpindah posisi. Dengan gerakan pelan dan perlahan, Rayne pun mulai merayap dari arah kaki Evan. Sembari merayap pelan layaknya cicak yang tengah memburu mangsanya, tangan lentik itu pun mulai mengusap lembut kaki jenjang berbulu milik Suaminya yang selama ini berlelah tanpa keluh kesah untuk menghidupi dirinya dan anak - anaknya hingga mereka semua hidup berkecukupan dengan bergelimangan kemewahan yang seolah tak ada habisnya. Merayap naik hingga sampai pada boxer bergambar pisang yang diidamkannya.


Mengusap boxer itu dengan pelan... Memainkan jarinya menirukan bentuk pisang yang tergambar pada boxernya. Naik turun, memutar, mengitari pisang sesungguhnya yang berada di dalamnya. Menundukkan kepala dan mulai menjulurkan panjang lidahnya dengan gaya yang sangat menggoda. Kepala Evan yang semula mendongak menatap penuh tanya kepada Istrinya itu pun akhirnya digeletakkan dengan sempurna di atas ranjang setelah memastikan apa yang sedang dilakukan oleh Istrinya. Mata tajamnya mulai merem melek merasakan sentuhan sensual yang diberikan oleh Istrinya. Juluran lidah panjang itu pun mengobrak - abrik pertahanan sang pisang di dalam penutup bergambar pisang yang membungkusnya. Lidahnya menjulur panjang dan terus bergerak.


" Pisang apa ini, Mas? Kenapa lwbih besar dari gambarnya? " ucap Rayne bertnya ambigu, menghentikan sejenak apa yang sedang dilakukannya.


" Jangan banyak bicara, nikmatilah pisangmu sekarang juga. " jawab Evan sembari menahan erangan karena Rayne tiba - tiba berhenti.


" Aku akan menikmatinya agar membuatmu semakin bahagia. " jawab Rayne dan langsung kembali bergerak.


Pisang berbeda gambar itu pun dikeluarkan Rayne dari pembungkusnya. Dipegangnya rapat kemudian menggerakkan lidah menj ilat dengan juluran lidah yang panjang, seolah tengah memakan buah pisang dengan gaya sensual seperti pada gambar boxernya hingga beberapa saat dan Evan mengajaknya berubah posisi. Evan merebahkan Rayne di atas ranjang dengan sempurna dan menarik tali kimono yang dikenakan oleh Rayne yang tadi gagal ditariknya. Taraaa... Lingerie berwarna merah yang tadi mereka beli pun ternyata sudah melekat indah pada tubuh sexy Istri Evano Gamya Kalandra.

__ADS_1


Berbagai macam gaya penyatuan pisang spesial pun diperagakan oleh keduanya. Tema pisang kali ini sungguh berada di luar kepala bagi Evan. Gambar pisang yang semula ditentang keras oleh Evan nyatanya juga berhasil membuat Evan kelabakan dilanda buncahan kenikmatan tak terduga tiada tara. Evan sungguh tidak menyangka jika Istrinya sudah menggambarkan langsung akan gambar - gambar pisang yang terdapat pada celana boxernya itu.


__ADS_2