
Pagi ini kepala Evan sudah dibuat pusing kembali oleh sisa ulah si Raynevandra. Saat Evan baru saja turun dan akan bergabung untuk sarapan, Evan mendapati helm milik Raynevandra yang diceritakan semalam oleh Mama Rosa tergeletak di nakas yang ada di samping kamar mandi yang ada di area dapur. Evan pun menghampirinya.
Trap... Trap... Trap...
" Rayne! " teriak Evan, Rayne yang masih berjalan menuruni tangga pun langsung berlari ke arah Evan berdiri.
" Evan... " lirih Mama Rosa yang sedari tadi sudah menunggu Anak Cucunya untuk segera sarapan bersama.
Trap... Trap... Trap...
" Apa sih, Mas... Pagi - pagi udah teriak - teriak aja. ucap Rayne panik setelah ia menghampiri Evan ke tempat Evan berdiri.
" Raynevandra!!! " teriak Evan dengan suara kian kencang untuk memanggil Raynevandra, Raynevandra yang baru saja menuruni tangga dengan dandanan seragam Sekolah lengkapnya hanya diam sembari menoleh sekilas kepada Daddynya tapi langkah kakinya tetap menuju ke arah sana.
" Kamu kenapa lagi sih, Mas? " tanya Rayne bingung karena Evan masih saja berteriak, Ray pun mendekati Mommy dan Daddynya dengan wajah yang tak bersahabat.
Trap... Trap... Trap...
" Helmnya aja yang jatuh apa kamu yang jatuh dari motor? " tanya tegas Evan dengan menatap tajam kepada Raynevandra.
" Kan Ray udah bilang kalau helmnya jatuh. " jawab Ray angkuh.
" Mulai sekarang ke Sekolah diantar jemput sama Sopir. Nggak ada alasan pulang telat. " tegas Evan dan langsung beranjak ke ruang makan sembari menyulut rokoknya, diikuti oleh Rayne sementara Raynevandra masih mematung di tempat ia berdiri dengan menahan kekesalannya kepada Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Kalau helmnya aja yang jatuh nggak mungkin sampai kaya gitu. " ucap Evan yang langsung mengomel kemudian menghisap kuat pada rokoknya.
" Udah nggak papa, jangan marah - marah terus, yang penting Ray nggak kenapa - kenapa. " jawab Rayne yang berusaha menenangkan Evan.
" Apa susahnya jujur, sih! " pekik Evan yang terlihat frustasi.
" Kalau Raynevandra sampai kenapa - kenapa kamu juga yang bakalan nangis darah. " tegas Evan dengan nada yang masih tinggi, Rayne pun terdiam seketika dan langsung menundukkan kepalanya.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
__ADS_1
" Adekmu jatuh dari motor, Devandroe? " tanya Evan langsung pada Devandroe yang baru saja ikut bergabung di ruang makan.
" Andru nggak tau, Dadd... " jawabnya jujur kemudian mengecup bibir Evan dan Rayne bergantian kemudian Kakak Zee juga Kakak Steve yang juga baru saja turun, setelahnya mencium pipi Oma dan Papi serta Maminya, tak lupa mencium pipi anak - anak Eric dan Sea juga barulah ia menduduki kursi makannya.
Trap... Trap... Trap...
" Motormu dimana, Steve? " tanya Evan pada Stevano.
" Ada di garasi, Dadd... " jawabnya, Evan diam saja dan langsung beranjak pergi menuju garasi, Stevano pun membuntutinya.
Trap... Trap... Trap...
*****... *****... *****...
Setelah menekan beberapa digit angka di tembok garasi basementnya, Evan dan Stevano pun masuk ke dalam.
" Motor Daddy yang nggak ada. " ucap Stevano setelah kepalanya berputar mengitari seluruh penjuru garasi basement, Evan yang sudah menyadari akan ketidak beradaan motor sport kesayangannya itu di garasi sedari tadi nampak memijat keningnya yang tiba langsung berdenyut nyeri meski ia hanya diam tanpa menjawab Stevano.
" Motor Daddy di rumah Oma. " ucap Evan datar yang mengingat jika ia sempat pergi ke rumah utama dengan naik motor dan pulang membawa mobil dari sana.
" Ya sudah ayo sarapan. " ajak Stevano, Evan masih diam khawatir meski mimik wajahnya terlihat biasa saja.
Trap... Trap... Trap...
Setelah acara sarapan usai, mereka semua yang berkegiatan di luar rumah pun langsung berangkat. Evan masih terlihat kesal, ia sama sekali tak berucap karena masih merasa dongkol dengan sikap Raynevandra. Ditambah setelah melihat keadaan helm yang terbilang cukup mengerikan itu semakin membuat Evan pusing bukan kepalang. Hingga akhirnya Evan memutuskan untuk berangkat ke kantor bersama dengan Stevano dan Eric dengan menggunakan satu mobil saja. Sementara Zeevanea pergi ke galeri sendirian menggunakan mobil yang lain meski sampai hari ini ia juga lupa dimana keberadaan mobilnya. Sedangkan si kembar kecil langsung diantarkan oleh Bram dan Bisma dengan mobil berbeda. Tinggalah Mama Rosa, Rayne, dan Sea serta anak - anak Sea dan Eric yang memang sedang mudik liburan dan sengaja menghabiskan waktu libur mereka di Jakarta.
Trap...Trap... Trap...
" Bagi uang jajan dong, Oma... Nala mau jalan sama temen, nih... " ucap Nala yang langsung nemplok pada Mama Rosa setelah ia turun dari lantai atas.
" Ini, nih... Nggak usah minta Oma, Mami ada. " potong Sea cepat.
" Aku maunya minta Oma, Mami... " jawab Nala.
" Oma aja nggak kerja tapi kamu malah minta sama Oma, gimana sih, Bang. " jawab Sea sembari menyerahkan segepok uang merah kepada Nala tapi Nala tak mau menerima.
" Oma nggak kerja juga duitnya banyak Mami... " sungut Nala, Rayne dan Mama Rosa hanya tersenyum melihatnya, Sea pun langsung menghela nafas berat.
__ADS_1
" Tadi Evan yang pusing, sekarang kamu Sayang..." ucap Mama Rosa pada Sea, Sea pun langsung geleng kepala sembari menatap Mama Rosa dan Nala bergantian.
" Ambil sendiri di dompetnya Oma. Dompet Oma di tas, tasnya di kamar. " ucap Mama Rosa, Nala pun langsung berlari kembali ke lantai atas dengan wajah girang.
Trap... Trap... Trap...
" Cello sama Ara gimana sekolahnya, Sayang? " tanya Mama Rosa pada kedua Cucunya.
" Lancar Oma, alhamdulillah... " jawab Ara sementara Cello hanya mengangguk.
" Oiya, Mam... Sea sama Eric juga sama anak - anak belum nyekar. " ucap Sea.
" Nanti sore aja nyekarnya, Mi... Nunggu Papi sama Daddy dan yang lain pada pulang dulu. " sela Cello, mereka pun setuju.
Trap... Trap... Trap...
" Aku pergi dulu... Bye semua... " teriak Nala sembari berlari keluar rumah setelah mengambil uang dari dalam dompet Omanya.
" Jangan pulang sore, Bang... Kita belum nyekar ke makam Opa sama Geeva. " teriak Sea.
" Siap, Mi... " jawab Nala berteriak juga dan langsung mengambil salah satu mobil yang ada di dalam garasi basement.
Trap... Trap... Trap...
Mereka semua yang masih tetap tinggal di rumah mengisi waktu dengan membuat kue kering bersama. Kecuali Cello yang kembali sibuk dengan ponselnya dan nampak asik memainkan game mobile legend di ponsel pintarnya.
" Mommy suka bikin kue? " tanya Ara antusias.
" Kadang - kadang aja, Sayang... Kalau lagi nggak ada kerjaan aja. " jawab Rayne jujur.
" Kamu tertarik, Sayang? " timpal Sea bertanya pada si Bungsu.
" Nggak tau, Mi... Ini juga baru liat Mommy bikin kue kering. " jawabnya.
" Mamimu nggak pernah bikin kue kering, Sayang? " timpal Mama Rosa bertanya pada Cucunya.
" Mana sempet... " jawabnya santai sembari terus memperhatikan Rayne yang sedang memberikan remahan kacang tanah pada kue dengan bentuk keranjang tersebut, Sea pun tersenyum malu.
Setelah semua kue keranjang ini selesai, mereka masih harus menunggu hingga kue yang mereka buat bersama - sama ini benar - benar dingin sebelum disimpan dan disajikan nantinya. Ara pun langsung kembali ke kamarnya, sementara ketiga Orang Tua ini kembali ke ruang keluarga. Nala lah yang kini menjadi pembahasan topik yang sedang mereka bicarakan. Obrolan yang semula santai kini sudah menjadi obrolan serius diantara mereka bertiga.
__ADS_1