
Pagi ini Raynevandra sudah selesai bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia bersiap dari Rumah Sakit tentunya karena memang semalaman tadi ia juga menginap di Rumah Sakit untuk menjaga Alexandra meski Alexandra sudah ditemani oleh kedua Orang Tuanya. Drama muntah - muntah pun tak terlewatkan pagi ini seperti pagi - pagi sebelumnya yang dialami oleh Raynevandra. Dan bahkan Alexandra yang sedang hamil saja malahan sama sekali tidak mengalami morning sickness sama sekali. Morninh sickness kehamilannya dibebankan kepada Raynevandra... Dan demi kasih sayang serta rasa tanggung jawabnya sebagai calon Suami plus sebagai calon Ayah yang tengah diembannya bersamaan, Raynevandra pun sama sekali tidak merasa keberatan untuk turut serta menjaga Alexandra yang masih terbaring lemah di Rumah Sakit juga tak keberatan jikalau ia yang harus mengalami morning sickness atas kehamilan Alexandra.
" Aku berangkat sekolah dulu, ya... Nanti telepon aja kalau ada apa - apa. " ucapnya pamit pada Alexandra, si calon Ibu muda ini pun mengangguk, Raynevandra mengusap lembut kepala Alexandra kemudian langsung berpindah fokus pada Papi dan Mami Alexandra.
" Papa tinggal dulu, ya... Baik - baik sama Mama... Papa sayang kalian. " ucapnya pamit pada si Jabang Bayi sambil memegang perut Alexandra, nampak tersipu malu Alexandra ketika Raynevandra mengucapkan hal ini, Papi dan Mami Alexandra pun turut tersenyum
" Ray berangkat dulu ya, Om, Tante... Kabarin Ray kalau ada apa - apa sama Alexa. Ray titip Alexa. " pamit Raynevandra sopan pada kedua Orang Tua Alexandra, kedua Orang Tua ini pun mengangguk sembari mengulas senyum bersamaan dan Raynevandra pun lalu mencium punggung tangan kedua calon Mertuanya secara bergantian, Raynevandra menatap Alexandra sekilas kemudian langsung bergegas keluar dari dalam kamar rawat Alexandra.
Trap... Trap... Trap...
" Sayang banget rupanya Ray sama kamu, Dek... Mami seneng lihatnya meskipun apa yang kalian telah lakukan ini salah. "ucap Mami Alexandra kepada Alexandra dengan mimik wajah sendu juga bahagia, Alexandra hanya tersenyum sambil tersipu malu.
" Saking sayangnya si Ray kali Mi sampai yang muntah pagi - pagi gini si Ray... " sahut Papi Alexandra.
" Tapi Ray kasihan kalau pagi jadi nggak pernah sarapan... " sela Alexandra dengan wajah sendunya jika melihat Raynevandra muntah - muntah parah sepagi ini.
" Aku baru paham sekarang, kenapa akhir - akhir ini Ray sering muntah - muntah kalau pagi, Ray juga serinh bawa salad buah buat bekal ke sekolah, dan pilih - pilih makanan juga dia akhir - akhir ini. jelas Alexandra.
" Ya memang buah itu bisa meredakan mual, Sayang... " sela Mami Alexandra, Alexandra pun mengangguk.
" Kasihan lagi pagi ini kuga dia nggak sarapan, nggak aku bawain salad juga. " ucap Alexandra penuh rasa bersalah.
" Nggak usah khawatir, nanti menginjak bulan kehamilan ke empat pasti Ray nggak kaya gini lagi... Biasanya kan memang cuma di trimester pertama aja parahnya. " jawab Mami Alexandra, Alexandra kembali mengangguk dan semakin memahami.
Cup!
__ADS_1
Plak!
" Terus sekarang gimana, Mas? Kapan mau nganter Raynevandra melamar Alexandra? " tanya Rayne pada Evan.
" Terserahmu. " jawah Evan malas diiringi dengan desah nafas berat.
" Kamu nggak pengen jenguk Alexa, Mas? Orang Tua Alexa sudah datang kemarin sore. Kita harus bicara dengan mereka sebelum kita anter Ray melamar. " tanya Rayne penuh harap, Rayne ingin mempertemukan Suaminya dengan kedua calon Besannya untuk membicarakan pernikahan Putra - Putri mereka berdua, Evan hanya diam.
" Jenguk Alexa, yuk... " ajaknya lagi pada Evan.
" Ya udah buruan mandi. Aku mau ngrerokok sebentar. " jawab Evan, wajah Rayne langsung terlihat sumringah, Rayne mengecup singkat pipi Evan kemudian beranjak, Evan yang kaget hanya geleng - geleng kepala sambil menabok pantat Rayne ketika Rayne melangkahi tubuhnya, dan Evan pun langsung menyalakan sebatang rokok miliknya.
" Auw! " jerit nakal Rayne sambil terkikik.
Trap... Trap... Trap...
" Jangan lupakan sebentar lagi dipanggil Opa... " goda Rayne pada Evan, Evan langsung melengos dan wajahnya kembali datar, Rayne pun kembali beranjak menuju kamar mandi.
Trap... Trap... Trap...
Ketika Rayne sudah tak bersamanya, Evan nampak melamun tiba - tiba. Rokok yang sudah dibakar ujungnya itu didiamkan karena lamunan tiba - tiba. Ucapan Raynevandra terngiang di pikirannya. Tapi Evan meyakini Raynevandra mengetahui tentang kesehatannya karena saat itu Raynevandra juga tengah berada di Rumah Sakit.
Flashback On :
Evan kembali lagi ke dalam rumah saat Rayne tak kunjung keluar. Evan memang sengaja menunggu Rayne karena Evan juga berniat akan kembali berdinas di kantor Gamyaraa. Tapi saat Evan memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah, Evan melihat Rayne yang sedang menangis di ruang makan.
__ADS_1
" Hei... Kenapa lagi? " tanya Evan dungu, sudah jelas ia tahu jika Istrinya mengangis karena tengah memikirkan Raynevandra.
" Maafin Ray, Mas... Dulu kita juga melakukannya sebelum kita menikah. " lirih Rayne semakin terisak di hadapan Evan.
" Anggap itu karma untuk kita karena kita dulu juga melakukannya sebelum menikah. Kita juga salah. " lanjutnya dan langsung memeluk Evan.
" Mas... Maafin Ray... Kesalahan kita sama... " lirihnya sambil memukul - mukul dada Evan.
Cup...
" I'm going in, Honey... " ucap Evan ambigu kemudian langsung mendongakkan kepala Rayne dan melumay rakus bibir merah merona di hadapanya.
" Eumph... Mash... Akh! Aku nggak mau! Akh! mash! Mas Evan, stop! " pekik Rayne frustasi disela pemberontakannya, meskipun tenaga Evan lebih kuat tapi Rayne tetap bersikeras untuk menolak melayani Suaminya pagi ini, bisa - bisanya Evan langsung pemanasan untuk memasuki liang surganya sementara kini air mata Rayne tak henti mengalir untuk Raynevandra.
" Nurut! " lirih Evan tegas dengan nafas yang semakin memburu, Rayne melemah, menolak dan membangkang rasanya percuma meski isak tangisnya sudah perlahan mereda dsn berganti desah manja yang perlahan mulai menguar membakar gendang telinga Evan.
Kecupan - kecupan liar yang dimulakan oleh Evan pun mulai bertemu dengan peraduannya. Rayne memilih menurut dan menyerah, Rayne sudah kembali pasrah di bawah kungkungan Evan. Meja makan yang semula masih menyisakan banyak piring - piring di atasnya sudah terhancurkan tanpa disadari oleh keduanya. Sepasang dalaman berwarna hijau botol yang dikenakan oleh Rayne pun sudah terekspos sempurna tanpa penghalang. Dan dengan perlahan, Evan membawa Rayne untuk menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas. Berjalan seiringan dengan cumbuan yang tengah diperagakan. Pakaian keduanya pun sudah nampak terlepas dan entah tercecer dimana saja keduanya pun sudah tak memikirkannya. Saat di tengah - tengah tangga kata - kata yang diucapkan Evan tadi benar - benar nyata... Evan memasuki liang surga Istrinya saat langkah kaki keduanya sampai di tengah - tengah undakan tangga.
Jleb!!!
" Pe...lan - pelan, Ma...shhh... Akh... Aku takut jatuh. " ucap Rayne tersengal, nafasnya naik turun menggebu tak beraturan, tangannya berpegangan erat pada teralis tangga sementara seranagan Evan digencarkan dari belakang.
Rayne sebenarnya sudah jelas paham jika singa liar berkedok Suami ini jika sehari saja tidak mendapat jatah makanan khusus kesukaannya pasti akan mengamuk dan melakukan aksi liar di luar dugaan. Dan seperti pagi ini lah jadinya sekarang... Setelah beberapa hari tak mendapatkan asupan spesial kesukaannya, singa liar ini pun terlihat sangat buas memangsa buruannya. Tak perdulikan meja makan yang rawan akan kedatangan para Asisten Rumah Tangga hingga undakan tangga yang memang berbahaya jika pijakan kaki tak seimbang pun seolah tidak menjadi masalah untuknya. Hentak demi hentak dilancarkan oleh Evan dengan penuh tenaga ekstra. Rayne yang terus mendapatkan hujaman kenikmatan dari Evan hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan yang kini tengah ia rasakan. Peluh keringat pun bercucuran kian deras seiring dengan pergerakan dari keduanya. Dan kegiatan panas pagi ini pun berakhir di dalam kamar setelah melalui perjalanan panas dari ruang makan hingga ke dalam kamar keduanya.
Flashback Off :
__ADS_1