Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 122 - Plagiat


__ADS_3

Hiks... Hiks... Hiks...


Sandra dan Teo yang semula masih terlelap dalam buai mimpi indah itu pun langsung terperanjak bersamaan ketika sayup - sayup mendengar suara isak tangis Putri kesayangannya. Yang jelas keduanya merasa malu mengingat usia Putrinya yang sudah beranjak dewasa dan kini disuguhkan dengan pemandangan asli sisa - sisa adegan dalam tontonan 18+ yang pemerannya adalah kedua Orang Tuanya. Memang adegan sudah berakhir dan Maura tak sampai memergoki kedua Orang Tuanya sedang berpeluh keringat bersama. Tapi tetap saja rasanya tak pantas jika Maura melihat sisa - sisa peraduan kedua Orang Tuanya yang bahkan pakaian kedua Orang Tuanya saja masih berserakan di sembarang tempat yang ada di sekitar kamar.


Hiks... Hiks... Hiks...


Teo langsung bergerak menyambar kimono tidur yang tersampir di atas headboard ranjang yang ditidurinya bersama Sandra dan juga memberikan kimono tidur bermotif sama dengan miliknya, milik siapa lagi kalau bukan Sandra dan yang ternyata keberadaanya di lantai yang ada di bawah kakinya berpijak. Keduanya pun langsung bergerak cepat menghampiri sang Putri tercinta dan memeluknya erat secara bersamaan.


Hiks... Hiks... Hiks...


" Sayang, hei... Jangan nangis... " ucap Teo lembut sambil mengusap lembut kepala Putrinya penuh dengan kasih.


" Kenapa Papa dan Mama harus berpisah kalau Papa dan Mama masih saling cinta? " tanya Maura dengan suara bergetar beriringan dengan suara isak tangisnya, mendapati kedua Orang Tuanya sedang tidur lelap berpelukan bersama membuat hatinya kian trenyuh tak karuan.


" Papa nggak akan pernah menyetujui permintaan cerai Mama... Maura nggak boleh sedih lagi, ya... " ucap Teo lembut kepada Putrinya.


" Enggak akan, O! Kita tetap akan bercerai. Rumah Tangga kita sudah tidak bisa lagi dipertahankan. " jelas Sandra tegas dan tetap dengan keputusannya yang mantap untuk mengakhiri biduk Rumah Tangganya bersama Teo, pelukan Sandra pada Maura pun terurai begitu saja, jadilah kini Teo yang memeluk Maura seorang diri.


" Sekeras apa pun sekarang kamu menolak untuk tetap bersama, tapi Adik Maura nanti lah yang akan menyelamatkan Rumah Tangga kita. " ucap Teo tegas, lebih baik ia bersikap keras terhadap Sandra daripada harus membuat Putrinya semakin merasa terluka, Teo sadar dan sangat Sadar bahwa Sandra adalah Perempuan yang kuat, Maura terlihat semakin terisak.


" Plagiat! " cibir Sandra dengan menyunggingkan senyum sinis juga miris melihat Teo yang perangainya tidak jauh berbeda dengan Evan ketika mempertahankan Rumah Tangganya bersama Rayne dulu.


" Kalau Evan yang bersikap seperti itu wajar, Teo! " lanjut Sandra tegas.


" Evan sangat mencintai Rayne dan Evan berbuat gila di luaran sana karena saking terlukanya Evan yang ditinggalkan oleh Rayne. " tegas Sandra lagi.


" Tapi, Lo? " lanjutnya semakin terlihat sinis, bahkan langsung memanggil Teo tak formal.


" Gue selalu ada buat Lo. Gue nggak pergi kemana - mana kaya Rayne yang ninggalin Evan. Rumah Tangga kita sebelumnya juga adem ayem tanpa gangguan. " tegasnya lagi dengan tatapan mata yang kian menyalak tajam.

__ADS_1


" Lalu apa lagi yang bisa kita peratahankan kalau semuanya sudah seperti ini? " imbuhnya bertanya Tegas sambil menatap tajam kepada Teo.


" Ada Maura diantara kita berdua! " tegas Teo, tatapan itu pun ikut menajam.


" Aku nggak mau Putri kita terluka karena kita berpisah. " lanjutnya tegas.


" Maura terluka karena kedua Orang Tuanya berpisah itu wajar... Seiring berjalannya waktu Maura pasti pasti bisa menerima keadaan Rumah Tangga kita. " jawab Sandra tegas juga bijak.


" Kalaupun Gue boleh milih, Gue juga nggak mau ngorbanin Maura demi keputusan Gue. " lanjutnya yang tetap kekeh.


" Tapi sayangnya nggak ada lagi yang bisa Gue pilih selain membesarkan Maura tanpa Lo. " imbuhnya, mata keduanya semakin beradu tajam, Teo tak terima jika Sandra mengatakan akan membesarkan Putrinya aeorang diri.


" Jaga bicaramu, Sandra! Gue masih sangat mampu ngidupin Maura! " bentak Teo yang makin tersulut emosinya.


" Anak haram itu lebih membutuhkan Lo daripada Maura... Ibunya yang hanya seorang pemilik usaha kecil yang merambah menjalang untuk memenuhi kebutuhan sosialitanya itu akan kehilangan pundi - pundi uang dari yang Lo kucurin selama ini. " jawab Sandra tegas, Teo sudah menduga sebelumnya jika Sandra pasti sudah mengorek semua perihal sosok Istri mudanya.


" Kalau Lo takut gaji Dokter Gue nggak cukup buat ngidupin Putri kita, Gue juga bisa nawarin diri buat jadi Istri muda Pengusaha kaya dari kalangan kita. " lanjutnya berucap kian pedas dan kian sinis, wajah Teo nampak merah padam menahan murka.


" Gue minta jadi Istri muda Evan pun pasti Rayne izinin. Lo bisa potong lidah Gue kalau sampai Rayne nggak ngizinin meskipun itu terpaksa dan hanya berdasar belas kasihan. " lanjutnya berucap tegas juga sinis, mata Teo nampak membola seketika saking tak menyangka jika Sandra akan sampai berucap seperti ini.


" Cukup! " teriak Teo murka setelah menelaah dengan cepat ucapan Sandra.


" Jangan mimpi! " teriak Teo kencang berbalut murka, Maura yang masih berada dalam pelukan Teo pun langsung terguncang, Sandra nampak tersenyum sinis.


" Lo nggak denger Gue ngomong apa? " tanya balik Sandra sinis.


" Kalau Gue mau! " tegasnya pelan penuh penekanan, Teo terlihat semakin mengeram murka terjebak akan ucapan Sandra.


" Gue juga nggak gila! Gue nggak akan pernah ngidupin Putri semata wayang Gue dari uang haram ataupun dari uang hasil ngerebut Suami orang! " tegasnya lagi dan mencibir Teo beserta Istri mudanya.

__ADS_1


" Lo nggak usah pikirin Maura... Maura pasti bahagia sama Gue meskipun Evan kekeh nggak akan merestui pernikahan Maura dan Stevano nantinya. " tegas Sandra.


" Evan bukan Tuhan yang bisa menentukan jodoh seseorang. Dan lagi pula masih banyak Pemuda baik di luaran sana yang akan berebut mendapatkan hati Putri cantikku ini. " imbuhnya telak, Maura mendiam sejenak, ternyata apa yang diucapkan oleh Stevano benar adanya, dan ia juga baru mengetahui jikalau sang Mama juga sudah mengetahui perihal ini.


" Kalau Lo ngotot jodohin Maura sama Stevano karena sebab materi semata yang memag lebih dari yang kita miliki, Pemuda lain pun juga bisa memberi limpahan materi untuk Maura. Masih banyak kalangan keluarga Konglomerat muda di luaran sana selain Evan dan keluarganya. " ucapan ini semakin membuat Teo dan Maura tercengang, tak menyangka Sandra berucap seperti ini.


" Aku nggak ada niat jodohin Maura sama Steve karena materi. " tegas Teo apa adanya.


" Aku menginginkan hal itu sejak anak - anak masih kecil karena aku ingin memper erat tali persahabatan antara aku dan Evan. " jelasnya tegas dan sedikit melunak.


" Mempererat tali persahabatan? " jawab Sandra yang malah bertanya sinis.


" Memangnya Evan masih mau Sahabatan sama Lo yang tega ngorbanin keluarga terlebih lagi Putri semata wayang kita hanya demi ****** Liar yang Lo pungut asal di luaran sana? " lanjutnya bertanya kian murka, dan memang pada kenyataannya hubungan Teo dan Evan akhir - akhir ini memang sedang tidak baik - baik saja sejak Teo kepergok berselingkuh dengan Istri mudanya, Teo hanya diam dengan wajah memerah meredam amarah, Sandra sendiri juga tetap menatap tajam dan tetap mantab dengan keputusannya untuk berpisah.


" Bukan salah Evan kalau terpaksa harus menuruti keputusan Lo sebagai Ayah kandung dari Maura dan jadinya Evan tetap dengan pendiriannya untuk tak mau merestui hubungan Maura dan Stevano. "


" Bukankah sebelumnya Evan juga sudah menyerahkan keputusan ini sama Lo? " lanjut Sandra berucap tetap tegas.


" Evan cuma nurutin keputusan Lo! " tukasnya dan langsung terlihat Sandra menghela nafas berat saking frustasinya.


" Gue udah males ribut dan memperpanjang perkara ini. Terlebih dengan perdebatan yang disaksikan oleh Putri kita. Lebih cepet lebih baik kita cerai! " ucap Sandra lagi ketika sesaat tadi ketegangan mereka terjeda, Teo yang beberapa saat lalu sempat menunjukkan wajah menyendu langsung kembali terlihat serius.


" Cepet tanda tangani berkas gugatan cerai kita. " lanjut Sandra.


" Kalaupun nantinya Gue hamil anak Lo, itu semua nggak akan pernah membuat keputusan Gue berubah. " tegasnya tetap maju dan mantab untuk bercerai.


" Gue bukan Rayne yang berhati lembut dan pasti luluh sama Evan. Gue Sandra Angelina yang sudah terbiasa melihat pemandangan seorang Atreo Jarvis Mallory bermain bersama Perempuan ****** di luaran sana! " imbuhnya dengan menatap nyalang kepada Teo.


" Sampai kapan pun kita tidak akan pernah bercerai! " tegas Teo pelan penuh penekanan.

__ADS_1


" Oke kalau Lo juga ngotot nggak mau kita cerai. Tapi berikan alasan yang masuk akal untuk mempertahankan Rumah Tangga kita! " jawab Sandra tegas kemudian langsung beranjak pergi ke kamar mandi.


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2