
" Please, Sayang! Jangan kaya gini! " pekik Teo frustasi.
" Kamu tinggal tanda tangan aja, aku udah urus semuanya. " jawab Sandra kekeh.
" Aku nggak mau kita cerai! " bentak Teo yang juga kekeh tidak mau berpisah dari Sandra, Sandra nampak tersenyum miris.
" Kalau kamu nggak mau kita cerai, sekarang kamu ngomong apa kurangnya aku buat kamu sampai - sampai kamu tega hianatin aku, Atreo! " ucap Sandra histeris, tak bisa lagi ia bersikap sok tenang di hadapan Teo.
" ****** itu sudah mengandung anakmu dan kamu juga sudah menikahinya! Nggak ada lagi yang bisa aku perbuat untuk menahanmu dan memaksamu mempertahankan rumah tangga kita! Rumah tangga kita sudah hancur! " teriak Sandra kian histeris, Teo langsung memeluk Sandra meski Sandra meronta.
" Sakit, Ooo... " ucap Sandra dengan suara melemah, tubuhnya bergetar, tangisnya pun pecah seketika itu juga.
" Maaf... " lirih Teo mengucapkan permintaan maafnya dengan singkat, Teo juga nampak menitikkan air mata.
" Nggak ada gunanya lagi kamu ngomong maaf, Teo! " tegas Sandra pelan penuh penekanan, air matanya mengalir semakin deras.
" Sekalipun aku memaafkan dan sejuta kali pun kamu mengucap maaf, semua itu tak akan pernah bisa merubah semuanya dan mengembalikan keutuhan rumah tangga kita yang sudah hancur lebur ini seperti sedia kala. " tegas Sandra dengan berderai air mata.
" Enggak! Aku nggak mau kita cerai! " tegas Teo, ia mengurai pelukannya dan menatap dalam mata Sandra yang basah dengan air mata.
" Aku akan perbaiki semuanya. " tegas Teo sembari menatap Sandra dan menghapus lembut air mata Sandra.
" Terlambat! Sudah tidak ada lagi yang bisa diperbaiki! " tegas Sandra, ia beringsut dari pelukan Teo dan berpindah menuju balkon di dalam kamarnya.
Trap... Trap... Trap...
" Kalau saja itu hanya sekedar kegilaanmu mencari kesenangan di luar aku masih bisa mempertimbangkan... Aku sudah terbiasa dengan kebiasaanmu dulu sebelum kita menikah. " tegas Sandra.
" Tapi aku nggak akan pernah bisa terima karena ****** itu sudah menjadi Istrimu ditambah dia juga sudah mengandung anakmu! " teriak Sandra kembali histeris.
" Kalau kamu memang menginginkan anak kenapa selalu menolak jika aku mengatakan ingin memiliki anak lagi, hah? " lanjutnya bertanya semakin histeris, suaranya kian kencang.
" Jawab, Atreo!!! " bentak Sandra.
" Enggak, Sayang! Aku memang nggak ada niatan tambah anak lagi. " tegas Teo dan langsung memeluk Sandra.
__ADS_1
" Aku bener - bener nggak tega liat kamu kesakitan saat kamu melahirkan Muara dulu. " lanjutnya jujur dan memang dulu Teo sampai menangis kala melihat perjuangan Sandra saat melahirkan Maura.
" Apa aku juga kurang liar di ranjang sampai kamu tega berpaling dariku selama itu? " tanya Sandra kembali membentak Teo histeris, Teo tak menjawab, ia menatap Sandra dalam.
" Aku tau semuanya, Teo! Aku tau sudah berapa lama kalian bermain di belakangku! " bentak Sandra lagi, Sandra langsung berpindah tempat lagi dan nampak mengemasi pakaiannya, menaruh kopernya di atas ranjang dan memasukkan asal pakaiannya, Teo pun membuntutinya.
" Sayang, stop! Kita belum selesai bicara. " tegas Teo yang langsung menghentikan gerakan cepat tangan Sandra yang sedang berkemas.
" Semua sudah selesai, O! Keputusanku sudah final! Mita tetap akan bercerai! " tegas Sandra dan langsung melepaskan genggaman tangan Teo dan melanjutkan berkemas.
Brugh!!!
" Aku akan turuti kalau kamu memang menginginkan anak lagi meski aku tak akan pernah tega melihatmu kesakitan saat melahirkan nanti! " tegas Teo seolah membalikkan ucapan Sandra tadi.
Teo pun bergerak cepat dan langsung melepas paksa resleting belakang gaun pendek yang Sandra kenakan. Meski Sandra meronta tapi Teo tetap tak menghiraukannya. Teo tetap melancarkan aksinya kepada Sandra. Dan Sandra pun terpaksa pasrah, ia menyerah karena jelas tenaga Teo memang lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Anggap saja itu adalah sentuhan terakhir mereka sebelum palu perceraian diketuk di persidangan.
Memang setelah acara ulang tahun Sandra usai, Teo langsung mengikuti Sandra. Sementara Maura pamit pergi dengan Stevano. Sandra pun langsung menyerahkan berkas gugatan cerainya kepada Teo. Dan seperti inilah kelanjutan mereka.
Berbeda Sandra dan Teo, berbeda pula dengan Zeevanea dan Nicholas. Keduanya kini berada di dalam kamar Nicholas. Zeevanea enggan kembali ke kamarnya maka Nicholas pun mempersilahkan Zeevanea untuk menenangkan diri di kamarnya.
" Kenapa tadi ngomong sama Daddy sama Uncle kalau kita pacaran? Kamu udah janji untuk menyembunyikan hubungan kita sementara waktu sampai aku siap. " tanya Zeevanea pelan, setelah beberapa lama terdiam akhirnya Zeevanea berucap juga.
" Sudah resiko kita dari awal kalaupun nantinya Om Evan tau soal hubungan kita. " lanjutnya.
" Nggak usah ngomongin Daddy! Aku benci Daddy! " ketus Zeevanea, Nicholas nampak mengernyitkan keningnya.
" Nggak boleh kaya gitu dong, Sayang... Semarah apa pun kamu sama Om Evan, Om Evan tetap Daddymu, Orang Tuamu. " ucp Nicholas, Zeevanea hanya diam, enggan membahas Daddynya.
" Jadi kamu nangis ini gara - gara marah sama Om Evan? " lanjutnya bertanya menyimpulkan, Zeevanea kembali diam enggan menjawab, Zeevanea merasa kecewa dengan Daddynya tapi ia enggan mengungkapkannya kepada Nicholas.
" Aku anterin ke kamar, yuk... Udah jam satu, nih. Nanti Om Evan sama Tante Rayne nyariin kamu. " ucap Nicholas yang sudah tak membahas lagi pertanyaannya semula, ia menunggu Zeevanea bercerita dengan sendirinya nanti.
" Malem ini aku nebeng disini, ya? " tanya Zeevanea sendu sambil mendongak menatap Nicholas.
" Bukannya aku ngelarang... Tapi, apa kata keluargamu nanti kalau kita berdua bobo sekamar? " ucap Nicholas.
__ADS_1
" Nggak ada yang tau juga! " kesal Zeevanea.
" Lagian kita juga nggak ngapa - ngapain, aku cuma numpang semalem aja. " lanjutnya.
" Kalau orang lain yang tau sih mungkin nggak akan jadi masalah, palingan cuma nyinyir aja... Tapi kalau Om Evan sampai cek CCTV dan mergokin kita bobo beruda disini gimana, hemmm? " jawab Nicholas memberikan pertimbangan.
" Kamu siap? " lanjutnya.
" Kalau kepergok terus dinikahin nggak masalah, Sayang... Kalau kita dipisahin aku bisa gila! " tegasnya lagi.
" Kamu kan bisa nyuruh Pegawai matiin CCTV se resort ini... Bukannya Daddy Dygta udah nyerahin resort ini sama kamu? Kalau matiin CCTV kamar ini aja kan gampang. " kesal Zeevanea.
" Lagian Daddy pasti sibuk sendiri sama Mommy! " imbuhnya.
" Zeevanea denger aku... " ucap Nicholas tegas dan langsung mengangkat Zeevanea untuk duduk di pangkuannya.
" Meskipun sekarang hubungan kita masih sembunyi - sembunyi, tapi aku serius sama hubungan ini. " tegasnya sambil manatap dalam kepada Zeevanea yang masih terlihat kesal.
" Om Evan akan semakin sulit menerima aku kalau sampai Om Evan mergokin kita bobo sekamar. Om Evan pasti mikir kita ngelakuin yang enggak - enggak meskipun pada kenyataannya kita nggak ngapa - ngapain. " imbuhya.
" Nanti aku yang ngomong sama Daddy kalau Daddy mergokin kita. " tantang Zeevanea, Nicholas nampak diam berfikir.
" Tapi kamu juga harus janji nggak bakalan ngapa - ngapain aku. Kalau perlu kamu bisa tidur di sofa. " tegasnya.
" Eh, eh... Siapa yang numpang siapa juga yang nyuruh aku tidur di sofa. Tega banget, Bu... " jawab Nicholas sambil menahan tawanya.
" Udah, ah! Aku mau tidur. Ngantuk! " ketus Zeevanea dan langsung beranjak masuk ke dalam kamar tidur Nicholas tanpa permisi.
Trap... Trap... Trap...
" Aku tinggal keluar sebentar, ya... " ucap Nicholas yang menghampiri Zeevanea ke dalam kamar, Zeevanea yang sudah berbaring dan sudah berselimut hingga leher hanya mengangguk.
Cup...
__ADS_1
" Selamat tidur, calon Istriku... " ucap Nicholas sambil mengecup singkat kening Zeevanea kemudian langsung beranjak keluar.
Trap... Trap... Trap...