
Trap... Trap... Trap...
Siang ini Rayne bersama Zeevanea tengah berada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Keduanya tidak pergi ke galeri hari ini. Ibu dan anak bak Kakak beradik itu nampak kompak kala menyiapkan makan siang mereka. Diselingi canda tawa yang membuat kehangatan kian terasa.
Trap... Trap... Trap...
" Assalamualaikum, Bidadariku... " ucap Evan yang baru saja tiba dan langsung memeluk Rayne dari belakang, Zeevanea langsung menggelengkan kepalanya melihat kemesraan dan kebucinan kedua Orang Tuanya ini.
" Eh, Mas... Waalaikum salam. " balas Rayne sambil menolehkan kepalanya agar bisa menatap wajah Evan.
" Waalaikum salam... " balas Zeevanea berbarengan dengan Rayne.
Cup...
Cup...
Kecupan mesra itu mendarat di bibir Rayne, setelahnya Evan juga mengecup singkat bibir Zeevanea meski posisinya masih memeluk Rayne dari belakang.
" Tumben siang - siang udah pulang... " ucap Rayne sembari membalikkan badannya dan sekarang posisi mereka berdua berhadapan, Zeevanea yang sudah biasa melihat kemesraan kedua Orang Tuanya hanya tersenyum saja.
" Iya, nih... Siapin bajuku gih. Aku mau ke Bali siang ini. " ucap Evan, Rayne dan Zeevanea terlihat mengernyit kaget.
" Kok mendadak? " tanya Rayne bingung.
" Sebenernya nggak mendadak, cuma aku aja yang lupa bilang. " jawab Evan.
" Mau ngapain ke Bali? " sela Zeevanea bertanya penasaran.
" Kerja dong, Baby Sugar... " jawab Evan sambil mengusap kepala Zeevanea meski sebelah tangannya tetap memeluk Rayne mesra, Zeevanea langsung mencebik dipanggil Baby Sugar yang maksudnya juga adalah Sugar Baby, sementara Rayne langsung melengos.
" Nggak baik tau panggil anak sendiri Sugar Baby. " protes Rayne tak terima, Evan hanya nyengir kuda.
" Daddy berapa hari di Bali? " tanya Rayne.
" Tiga atau dua hari kayanya. " jawab Evan dengan menatap sendu pada Istrinya, seolah tak tega meninggalkan Istrinya di rumah meski seringkali ia juga meninggalkan Rayne ketika ia menjalani pekerjaannya di luar kota.
__ADS_1
" Proyek baru, Dadd? " tanya Zeevanea.
" Bukan... " jawab Evan.
" Kunjungan rutin ke resort sama pembahasan pembangunan perluasan resort lagi. " jelasnya, Zeevanea pun mengangguk paham.
" Ikut, yuk? Sekalian honeymoon. " ajak Evan pada Rayne.
" Siapa tau pulang dari Bali langsung isi... " lanjutnya sembari menyeringai licik, Rayne yang semula terlihat aneh langsung mencebik mendengar kata isi yang diucapkan Suaminya.
" Nggak sabar banget kelihatannya yang mau punya anak lagi... " cibir Rayne sambil terkikik.
" Mommy! " teriak Zeevanea kencang, Rayne dan Evan langsung menjengit saking kagetnya.
" Ya Allah, Zeevanea! Bikin Mommy kaget aja. " hardik Rayne karena memang kaget dengan teriakan Zeevanea.
" Aku nggak mau punya Adik lagi! " tegasnya sembari melengos dan memberengut kesal.
" Hahahaha... " tawa Evan menggema seketika itu juga melihat ekspresi wajah Zeevanea, Rayne langsung menatap Evan seolah memberi isyarat agar tidak menggoda Zeevanea, Evan pun mendiam dan tertawa tanpa suara, hingga akhirnya ia juga sampai menahan tawanya karena Rayne memelototinya, berpindahlah Evan duduk ke kursi makan yang ada di ruang makan tersebut.
" Zeevanea takut, Mommy... " ucapnya serak dengan mata memerah berkaca - kaca, Rayne nampak mengernyitkan keningnya, Evan langsung mendongak menatap keduanya meski sesekali tetap terlihat sibuk dengan ponselnya.
" Sebenernya Zee nggak masalah kalaupun punya Adik lagi... Tapi Zee selalu ketakutan kalau ingat Mommy marah waktu Zee bilang pengen Adik bayi waktu Zee kecil dulu. " lirihnya dan mengubah posisi Rayne agar berpelukan berhadapan dengannya, Rayne pun setia memeluk Zeevanea, Evan langsung meletakkan ponselnya dan menatap tajam pada Rayne yang juga sedang menatap Evan dengan tatapan sendunya.
" Mommy nuduh Daddy yang suruh Zee padahal memang Zee sedih karena waktu itu Zee nggak jadi punya Adik bayi. Daddy sampai pukul Mommy karena Mommy bentak Zee, bahkan Daddy sampai mau tembak kepala Mommy... Zeevanea nggak mau itu kejadian lagi. Zeevanea takut! " jelasnya dengan berteriak - teriak frustasi juga ketakutan, tubuhnya langsung luruh ke bawah seketika itu juga seiring dengan terungkapnya alasannya yang selama ini dipendamnya sendirian tanpa Orang Tuanya ketahui, Rayne pun langsung merengkuh Zeevanea kembali ke dalam pelukannya, Rayne ikut menangis bersamaan dengan Zeevanea.
Trap... Trap... Trap...
Evan langsung melompat dari duduknya setelah mendengar penjelasan Zeevanea. Ia langsung merengkuh Zeevanea ke dalam pelukannya. Evan mengambil alih Zeevanea dari dekapan Rayne seketika itu juga.
" Itu semua nggak akan pernah terjadi lagi, Sayang. Daddy bisa pastikan itu! " tegas Evan sembari menatap tajam pada Rayne yang tengah menundukkan kepalanya.
" Zee takut, Dadd!!! " pekiknya sembari terisak dalam dekapan hangat Daddynya.
" Bukankah waktu Mommy mengandung kedua Adikmu kamu juga baik - baik saja? " lanjut Evan bertanya penasaran.
__ADS_1
" Zee memang sebenarnya merasa takut tapi Zee lupa karena Zee banyak main karena Zee masih kecil. Dan sekarang Zee benar - benar takut setiap kali Daddy dan Mommy mengatakan hal ini. " jawabnya sambil tetap memeluk Daddynya erat, mata tajam Evan terlihat berkaca - kaca sambil menatap tajam ke arah Rayne yang masih menunduk takut.
" Sudah nangisnya, Sayang... Zeevanea nggak boleh nangis, nggak boleh takut lagi. Ada Daddy disini. " tegas Evan sembari mengusap lembut kepala Putrinya dan mengecupi puncak kepala Zeevanea penuh rasa sayang.
" Daddy bisa pastikan kalau semua itu nggak akan pernah terjadi lagi. Daddy janji! " tukasnya kemudian mengurai pelukan mereka dan menggendong Zeevanea di belakang punggungnya menuju kamar tanpa menatap Rayne sedikit pun.
Trap... Trap... Trap...
Setelah beberapa saat menenangkan dirinya, Rayne menyusul Evan dan Zeevanea ke kamar Zeevanea. Tapi ketika Rayne sampai di kamar Zeevanea, Rayne tak melihat keberadaan Evan disana. Hanya Zeevanea saja yang sudah nampak terlelap di ranjangnya. Rayne pun melanjutkan mencari Evan. Dan ketemu lah di ruang kerjanya.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
Evan sedang duduk berjigang di kursi kebesarannya sembari menenggak wine yany dipegangi dengan tangan kanannya, sementara pada tangan kirinya terlihat sebatang rokok yang tengah menyala menyelundup diantara sela - sela jarinya. Rayne mendekat dan langsung duduk di pangkuan Evan. Dengan sekali tenggak, wine yang berada di sloki itu pun tandas. Evan langsung meletakkan sloki kosong tersebut seiring dengan pergerakan Rayne yang duduk di pangkuannya. Tak lupa meletakkan juga rokoknya yang masih menyala itu di atas asbak.
" Mas marah sama aku? " lirih Rayne sendu sambil menatap dalam mata Evan.
" Kamu bisa lihat sekarang Zeevanea yang terlihat setangguh itu ternyata mempunyai sebuah trauma atas atas kejadian di masa kecilnya dulu yang baru kita ketahui sekarang... " lirih Evan datar dengan menatap pigura kecil berisikan foto masa kecil Zeevanea.
" Maafin aku ya, Mas... Aku yang salah karena nggak percaya sama Zeevanea dan nuduh kamu waktu itu. " lirih Rayne sambil menolehkan kepala Evan agar mau menatapnya meski kepalanya sudah menoleh tapi tetap saja Evan masih menatap ke arah lainnya.
" Dimana - mana kalau orang udah pernah dicap Bangsat emang sulit buat dapetin kepercayaan dari siapa pun juga. Termasuk Istri sendiri. Dan begitulah yang aku alami saat Putri kecilku merengek menginginkan seorang Adik bayi waktu itu. " jawab Evan sambil tersenyum hambar mengingat kala itu Rayne menuduhnya menghasut Zeevanea agar meminta Adik bayi kepadanya.
" Maafian aku, Mas... Memang aku yang salah. " ucap Rayne dan langsung membenamkan tubuhnya di dada kekar Evan meski Evan terlihat tak bergeming sama sekali.
" Kita tunda dulu soal momongan. Fokus sama trauma Zeevanea dulu. " tegas Evan dan langsung menurunkan Rayne dari pangkuannya kemudian berdiri.
" Siapkan pakaianku. Kamu di rumah saja, biar Zeevanea yang ikut ke Bali. " tegasnya lagi Rayne hanya mengangguk kemudian beranjai ke kamarnya, meninggalkan Evan di ruang kerja.
Trap... Trap... Trap...
Evan berdiri menatap keluar jendela. Ia sungguh sangat tak menyangka jika Putrinya menyimpan trauma itu sendiri selama ini. Ia merasa bersalah. Air mata itu menetes perlahan membasahi pipinya.
__ADS_1