
Sementara Devandroe yang tengah berada di Jakarta, kini sedang makan siang di cafe yang ada di dekat sekolahnya bersama beberapa temannya yang sedang menunggu jam ekstra kurikuler olahraga mereka dimulai. Daripada bolak - balik pulang keribetan dan kejauhan, jadi mereka memutuskan untuk makan siang di cafe ini.
Trap... Trap... Trap...
Suasana cafe ini nampak selalu ramai, apa lagi di waktu jam istirahat makan siang orang kantoran ataupun di jam pulang sekolah seperti ini. Pelanggannya selalu memenuhi di setiap sudut titik tempat ini. Tapi meskipun demikian, kenyamanan Pelanggan tetap dinomor satukan. Area di tempat ini ada dua bagian area, yaitu area indoor dan outdoor. Dengan stan pembatas antara meja satu dan meja lainnya sengaja dibuat sedikit berjarak agar Pelanggan bisa lebih leluasa untuk bergerak. Jadi, pemilihan luasnya area meja yang satu dengan yang lain yang berjarak inilah yang membuat Pelanggan merasa nyaman karena tidak harus duduk dengan berdesak - desakan meskipun cafe ini sedang dipadati Pelanggannya.
" Gue kok nggak pernah lihat Ray anter jemput Lo lagi, Ndru? " tanya Kellen, salah aatu Sahabat Devandroe.
" Iya... Bokap Gue udah ngizinin Gue sama Ray bawa mobil sendiri. jawab Devandroe, Kellen pun mengangguk.
" Malah Ray yang sampai sekarang dilarang bawa motor lagi sama Bokap Gue. " lanjutnya.
" Loh emangnya kenapa? Ray abis kecelakaan? " timpal Mahendra, salah seorang Sahabat Devandroe juga, Devandroe menggeleng.
" Gara - gara helmnya Uncle Evan yang pecah itu, Kak? " tanya Arkana menebak, Arkana adalah Putra pertama Raka dan Noela, usianya sepantaran dengan Devandroe dan Raynevandra tapi Raka mengajarkannya untuk memanggil anak - anak Evan dengan sebutan Kakak, Arkana satu sekolah dengan Devandroe tapi mereka tidak berada satu kelas.
" Iya... Gue juga nggak tau pasti sih sampai sekarang helmnya jatuh kenapa. " jawab Devandroe.
Trap... Trap... Trap...
" Devan... " panggil Sarah yang tiba - tiba menghampirinya disana, Devandroe dan gerombolannya pun langsung menoleh menatap pada Sarah yang baru saja datang.
" Gue mau ngomong sama Lo. " ucap Sarah langsung.
" Ngomong aja. " jawab Devandroe pelan dan tenang.
" Please jangan disini. " ucapnya sendu, memohon kepada Devandroe, mau tak mau Devandroe pun berdiri dan mengikuti langkah Sarah yang mengajaknya sedikit menjauh dari tempat duduk gerombolannya.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
" Mau ngomong apa? " tanya Devandroe pelan dan langsung to the point, Devandroe bukanlah Raynevandra yang arogan, Devandroe layaknya Stevano yang kalem tapi juga tetap tegas dan tidak mudah berteriak seperti Evan, Zeevanea, dan Raynevandra.
" Gue tau Lo marah sama Gue soal kemarin... " lirihnya mulai mengutarakan maksudnya, Devandroe tetap terlihat kalem dengan sikapnya yang tenang.
" Tapi beneran, Devan... Gue nggak bohong sama Lo." lanjutnya menjelaskan dengan serius.
" Gue lihat pakai mata kepala Gue sendiri kalau Lexa lagi main di gazebo sama Sodara kembar Lo itu! " tukasnya dengan tatapan tegas.
" Mungkin kemaren Lo salah lihat karena gelap... Kan listriknya padam. " jawab Devandroe tenang, Sarah langsung menggeleng - gelengkan kepalanya, dengan maksud ia tidak salah melihat kejadian vulgar itu.
" Gue beneran nggak salah lihat, Devan... " lirihnya serius dengan tatapan sedih juga sendu.
" Gue lebih percaya sama apa yang Gue lihat kemaren daripada yang kata orang cuma katanya. " tegasnya kemudian langsung beranjak pergi, tak lupa senyum simpul itu terbit sebelum ia meninggalkan Sarah.
Trap... Trap... Trap...
" Oke kalau Lo nggak mau percaya sama apa yang Gue bilang ini. " ucap Sarah frustasi.
" Gue ceritain ini sama Lo karena Gue tau Lo cinta sama Lexa meskipun mungkin Lo belum sepenuhnya menyadari cinta Lo itu. " jelasnya dengan tegas, Devandroe diam karena dia juga sebenarnya masih bimbang dengan perasaannya sendiri kepada Alexandra.
" Gue cinta sama Lo, Devan... Tapi Gue juga nggak mau egois untuk maksain cinta Gue ke Lo. Gue cuma nggak mau Lo sakit hati, Gue nggak mau Lo kecewa kalau suatu saat nanti Lo bener - bener ngelihat sendiri apa yang dilakuin Lexa sama Ray itu kebukti di depan mata kepala Lo sendiri di saat Lo baru menyadari perasaan cinta Lo ke Lexa. " jelasnya perlahan juga pengakuan cintanya kepada Devandroe.
" Thanks banget Lo udah ingetin Gue. " ucap Devandroe menggantung.
" Mungkin Lo bener kalau sekarang Gue emang masih bimbang sama perasaan Gue yang sebenarnya ke Ale kaya gimana, tapi Gue juga nggak mau jadi egois karena sudah ada Ray yang lebih dulu bersama Ale. " tegasnya.
__ADS_1
" Gue nggak mau merusak kebahagiaan mereka yang lebih jelas di depan mata. " imbuhnya tegas tanpa mau menyinggung perkara apa yang dikatakan oleh Sarah sebelumnya perihal Raynevandra dan Alexandra yang dipeegoki oleh Sarah saat mereka berada di villa, kemudian beranjak pergi meninggalkan Sarah yang tak lagi mengejarnya.
Trap... Trap... Trap...
Sarah terduduk pilu di salah satu kursi yang ada di cafe tersebut sembari menatap ke arah Devandroe yang sudah kembali bergabung bersama para gerombolannya semula. Air mata Sarah mengalir kian deras meski ia tak sampai terisak. Ia yang juga baru saja mengungkapkan perasaan cintanya kepada Devandroe hanya tak mau membuat Devandroe sedih jikalau suatu saat nanti apa yang dikatakannya dengan jujur ini terbukti kebenarannya. Ia rela tak mendapat balasan cinta Devandroe, asalkan Devandroe juga tidak sampai bersedih karena Alexandra nantinya. Ia sangat sadar, jika Devandroe hanya menganggapnya sebatas Sahabat.
Setelah acara berkumpul makan siang usai, Devandroe dan gerombolannya ini pun langsung bergegas kembali ke sekolah mereka. Mereka hanya berjalan kaki karena jarak cafe dengan sekolah mereka memang dekat. Dan setelah sampai kembali di sekolah, mereka semua yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler olahraga basket ini pun langsung menuju loker masing - masing untuk segera mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian olahraga.
Berbeda dengan Devandroe, berbeda pula dengan Raynevandra. Dua sejoli yang tak lain adalah Raynevandra Gamyara Kalandra dan Alexandra Medina Razaf ini kembali menikmati harinya dengan menonton bioskop sepulang dari sekolah. Sementara Raynevandra tengah mengantri membeli tiket untuk mereka berdua, Alexandra nampak membeli pop corn juga minuman dingin yang nantinya akan dijadikan camilan bagi mereka ketika mereka sedang menonton di dalam bioskop ini. Setelah selesai membeli makanan perbekalan untuk menemani menonton, Alexandra pun kembali menghampiri Raynevandra yang masih berdiri mengantri di depan loket penjualan tiket bioskop.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
Tanpa diduga, Alexandra yang baru saja menghampiri Raynevandra yang masih setia mengantri itu langsung mengecup pipi Raynevandra sembari tersenyum malu.
" Makasih udah ditemenin nonton hari ini... " lirihnya senang sembari menyandarkan kepalanya di sebelah pundak Raynevandra.
" Cape tau Baby dari tadi berdiri ngantri nggak kelar - kelar... " gerutu Raynevandra yang memang sudah merasa lelah berdiri mengantri saking banyaknya penonton yang juga antusias dengan film romantis ini, membosankan sekali pikirnya hanya berdiri menunggu giliran dengan waktu yang lama.
" Kita bisa nonton bioskop di rumah tanpa harus cape ngantri. " lanjutnya menggerutu dengan wajah memelas kesal.
" Jadi kamu nyesel nih ceritanya nurutin keinginan aku? " tanya balik Alexandra dengan wajah memelas juga masih ingin menonton film romantis ini berdua, Raynevandra terlihat menghembuskan nafas kasar kemudian menenggak minuman dingin yang masih berada di tangan Alexandra dengan wajah frustasinya.
" Iya, iya, ayo lanjut nontonnya... " jawab Raynevandra setengah hati dan akhirnya mereka pun melanjutkan acara menontonnya hari ini.
__ADS_1