Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 146 - Bodyguard


__ADS_3

Pagi ini Rayne dan Evan nampak berangkat berkerja bersama - sama. Wajah Rayne kembali terlihat sendu. Bagaimana tidak, Suaminya itu kini memilih menjadi pengangguran. Bukan karena pundi - pundi uangnya merosot wajah Rayne nampak bersedih, tapi dikarenakan sang Suami yang nyatanya masih kekeh menolak untuk kembali mengabdikan dirinya pada Kalandra Group setelah terjadinya perdebatan dengan Mama Rosa sebelumnya. Memanglah penghasilan Evan bukan berasal dari Kalandra Group saja meski Evan adalah putra kedua Harsaka Kalandra. Saham milik Evan pun dimana - mana jadi jelas saja mereka tidak begitu memikirkan akan besarnya pundi - pundi uang yang tak akan lagi keluar dari gajinya sebagai Presiden Direktur Kalandra Group. Hanya saja yang disayangkan oleh Rayne adalah jika Suaminya meninggalkan pekerjaan yang tak lain adalah Perusahaan milik Keluarganya sendiri sedangkan perusahaan itu pun sangat membutuhkan Evan.


" Jadi Pengangguran aja sekalian! Kasihan Raka tau nggak kalau posisinya sekarang Mas ambil alih lagi! " gerutu Rayne saat mereka sudah dalam perjalanan menuju Gamyaraa Media yang letaknya satu lokasi dengan Queen Fashion Management.


" Iya, iya! Aku nggak akan ambil alih posisinya Raka. " jawab Evan santai dengan wajah sok kesal sambil menahan tawanya melihat ekspresi Rayne yang menggemaskan.


" Aku jadi Bodyguard Ibu Presdir aja kalau gitu. Kasih bayaran yang banyak ya, Bu... " lanjutnya.


" Ibu Presdir dari mana orang Bapak Presdirnya resign. " jawab Rayne logis.


" Mas nggak malu apa malah nyuruh aku kerja sedangkan Mas sendiri Pengangguran? " lanjut Rayne sewotsambil mencebik.


" Aku nggak ada nyuruh kamu kerja, ya! " jawab Evan yang ikutan sewot, Rayne langsung menatap sebal pada Evan.


" Sedari kita Pacaran sampai selama ini kita nikah aku nggak ada sama sekali tuh nyuruh kamu kerja. " lanjutnya.


" Meskipun aku sekarang Pengangguran aku masih mampu kasih makan kamu sama anak - anak kita. " tegasnya.


" Lah terus apa namanya coba kalau kamu malah mau jadi Bodyguard aku dan minta bayaran? Apa bedanya kamu sama anak buah kamu di Arm Guard? " tanya balik Rayne yang merasa tak habis pikir dengan Evan.


" Emang menurut kamu bayaran itu selalu dalam bentuk duit gitu? " tanya balik Evan sambil geleng kepala, Rayne mengkerutkan keningnya dengan semakin kesal.


" Ya bayaran yang lain lah! " sungut Evan, Rayne langsung mencebik memahami akan gaji yang dimaksud oleh Evan.


" Sini bibirnya dipakai emutin aja daripada dimanyunin gitu malah bikin aku gemes pengen gigit. " goda Evan pada Rayne, Rayne malah langsung melengos, dugaannya seratus persen tepat dan tidak meleset.


" Itu sih maunya Mas Evan aja! " ketus Rayne dan menatap keluar jendela.


" Enak tau kalau lagi nyetir gini ditemenin sambil diemutin... " ucap Evan yang terus menggoda Rayne meski Rayne nampak malas menanggapinya.


" Udah tua jangan aneh - aneh! Yang ada nanti malah nabrak! " ketus Rayne.


" Eits, jangan salah! Tua - tua keladi Suamimu ini, Sayang... Makanya biarpun dikata udah tua masih bisa berhasil bikin bibit bayi... " jawab Evan sambil terkikik, Rayne nampak tak menghiraukan candaan absurd Suaminya.


" Amit - amit ya, Nak... Pinter sama penyayangnya Daddy aja yang ditiru, mesumnya buang jauh - jauh ke lait biar dimakan ikan hiu. " ucap Rayne dan terus mengusap perutnya yang sedang hamil itu.


" Hahaha... " tawa Evan pun langsung menggema melihat Rayne sesambat dengan terus mengusap perutnya.


" Kalau mesumnya sama Mommy aja halal kok, Nak... " ucap Evan sambil tertawa, ikut mengusap perut Rayne, Rayne masih saja terlihat kesal dengan Evan.


Plak!


" Mas! " pekik Rayne dan reflek langsung memukul tangan Evan yang tiba - tiba meremas bagian sensitifnya.


" Hahahaha... " tawa Evan kembali menggema sementara Rayne sendiri semakin terlihat kesal dan memegang erat ujung dress pendeknya untuk berjaga - jaga jikalau Evan tiba - tiba kembali menelusupkan tangan dan meremasnya seperti barusan.


" Basah... " ledek Evan sambil terkikik.


" Basah - basah juga Mas Evan suka! " ketus Rayne sewot.


" Mana enak kalau basah! " sanggah Evan yang tiba - tiba nyolot.


" Becek dong jadinya! " lanjutnya, Rayne mencebik seiring dengan gerakan menggeleng - gelengkan kepalanya.


" Mana ada becek, orang selalu keset! " sanggah Rayne tak terima.


" Kalaupun basah pastinya udah digrepe - ***** sama Mas Evan. " lanjutnya semakin kesal tapi juga akhirnya menanggapi ucapan Evan yang melantur ke hal - hal berbau akan panasnya ranjang.


" Hahaha... Emang aku siram pakai air apa? " canda Evan sambil tertawa, Rayne nampak kembali mencebik.


" Air liur singa! " hardik Rayne tapi Evan malah semakin tertawa terbahak.


Tanpa terasa mobil mewah yang dikemudikan oleh Evan pun akhirnya sampai di tempat parkir khusus Petinggi Gamyaraa. Evan turun terlebih dahulu barulah membukakan pintu mobil untuk Rayne. Setelahnya, keduanya pun langsung bergegas bersama masuk ke dalam Queen Fashion Management.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


" Kerja sana, malah ngikutin aku kesini. " gerutu Rayne karena Evan masih membuntutinya hingga ke ruang kerjanya, sudah ada Zeevanea di dalam ruang kerja Rayne, Zeevanea hanya menatap sekilas pada Orang Tuanya dan kembali menunduk berkutat dengan tumpukan sketsa design gaun pengantin yang ada di hadapannya.


" Lah kan emang sekarang aku pengangguran... Aku sekarang Bodyguard kamu. " jawab Evan pongah sambil menjawil dagu Rayne.


" Ada anak kecil dilarang mesum. " pekik Zeevanea meski dengan tetap menunduk berkonsentrasi pada pekerjaannya.


" Hahaha... " Evan langsung tertawa, tapi tak lama kemudian tawa itu pun seketika hilang ketika bayangan Raynevandra tiba - tiba melintas di pikirannya.


" Ya udah kerja sana, aku tungguin disini. " ucap Evan dan langsung berbaring di sofa dengan menaikkan kakinya ke atas sandaran sofa, Rayne pun langsung mendekati Zeevanea dan membicarakan perihal sketsa design yang tengah bertumpuk di hadapan Zeevanea.


Trap... Trap... Trap...


Sementara Rayne dan Evan nampak berkumpul bersama di kantor Gamyaraa, pagi ini di kantor Kalandra group nampak dibuat gempar karena Evan belum juga datang kesana mengingat pagi ini mereka sedang ada jadual meeting dengan seorang calon investor dari luar negeri. Meskipun Eric berada disana tetapi tetap saja Evan masih Prrsidrn Direktur disana.


Kriiing...


Rayne :


Assalamualaikum, Kak...


ucap Rayne menjawab panggilan telepon di ponsel pintarnya yang baru saja berbunyi.


Eric :


Evan kemana?


Ada meeting penting sekarang.


Tinggal nunggu Evan.


jawab Eric langsung, saking paniknya ia sampai lupa tak menjawab salah Rayne.


Rayne :


Oh, ini Mas Evan...


Trap... Trap... Trap...


" Kak Eric, Mas... " ucap Rayne sambil menyerahkan ponselnya.


" Suruh handle meetingnya. " jawab Evan dengan memejamkan mata memikirkan Raynevandra, Rayne menurut dan langsung meloadspeaker panggilan tersebut.


Rayne :


Mas Evan bilang Kakak aja yang handle meetingnya.


ucap Rayne menirukan ucapan Evan.


Eric :


Jangan gila!


Ini yang datang calon Investor yang udah lama kita kejar.


tegas Eric sambil meraup kasar wajahnya.


Evan :


Urusin.


Gue kan udah ngajuin resign.


sahut Evan.


Eric :

__ADS_1


Lo jangan gila, Bangsat!


pekik Eric murka, Zeevanea yang semula nampak serius dengan pekerjaannya langsung mendongak menatap Evan setelah mendengar Eric mengumpati Evan.


" Ngantor, gih... Biar makin keren. " bujuk Rayne yang diselingi dengan bercandaan tapi juga tetap serius.


Evan :


Gue udah bukan siapa - siapa lagi disana.


sahut Evan lagi.


Eric :


Oke kalau Lo nggak mau dateng.


Gue juga nggak bakalan urusin kantor lagi.


Mau kantor ini bubar jalan juga Gue nggak perduli!


tegas Eric.


" Mas... " lirih Rayne yang sudah kembali mendekati Evan dan menggenggam tangan Evan, Rayne berusaha membujuk Evan.


Evan :


Iya, iya, Gue kesana!


Besok nggak ada lagi Gue kesana.


jawab Evan malas.


Cup...


" Kalau bukan karena Bini Gue melas gini Gue nggak bakalan dateng kesana lagi. "


lanjutnya, Eric yang berada di seberang sana langsung menghembuskan nafas lega karena Evan sudah mau datang, dan Evan pun langsung beranjak setelah menyempatkan mengecup singkat bibir Istrinya, setelah Rayne mematikan panggilan teleponnya pun ia langsung bekerja sama dengan Zeevanea untuk merampungkan pemilahan sketsa design gaun pengantin yag akan segera diluncurkan.


Tut... Tut... Tut...


Trap... Trap... Trap...


Tok... Tok... Tok...


" Masuk... " ucap Zeevanea berteriak setelah mendengar pintu diketuk dari luar, Rayne hanya mendongak tanpa berucap.


Ceklek...


" Hai, Uncle... " sapa Zeevanea sambil menampilkam deretan gigi putihnya.


" Hai, Princess... " jawab Raka kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sementara Rayne tetap menatap Raka.


Kenapa, Ka? tanya Rayne melihat kebingungan di wajah Raka.


" Mas Evan nggak ada disini, Kak? " tanya balik Raka sambil celingukan.


" Mas Evan meeting sama Kak Eric. " jawab Rayne seadanya karena memang Evan sudah beranjak beberapa saat lalu.


" Astaga! " pekik Raka frustasi sambil menepuk kening juga langsung berkacak pinggang dengan sebelah tangan.


" Kenapa, sih? " tanya Rayne penasaran.


" Kan kemaren Mas Evan bilang mau ambil alih kantor lagi... Makanya saya kesini mau cari Mas Evan untuk diajak meeting. " jelas Raka dan kembali lagi mengacak kasar rambutnya.


" Hahaha... Posisi Uncle Kaka aman sampai kapan pun. Daddy nggak akan balik kesini, Zee jamin. Zee yakin serstus persen. " timpal Zeevanea sambil tertawa.

__ADS_1


" Bukan masalah posisi aman, Zee... Kalau gini caranya juga posisi Uncle juga nggak aman kalau mau batalin meeting karena Daddymu nggak ada disini. " jawab Raka semakin frustasi, Zeevanea semakim tertawa, Rayne dan Raka jadi saling melempar pandang.


__ADS_2