Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 5 - Idola


__ADS_3

Pagi ini di kediaman Evan nampak lebih ramai dari biasanya. Jika biasanya hanya ada Rayne dan Evan dengan kedua anak Perjaka mereka yang masih kelas satu SMA, kini Stevano dan Zeevanea juga sudah ada di rumah karena mereka berdua sama - sama sedang libur kuliah.


" Akh... Mash... Akh... " deru suara nakal Rayne yang terus menguar meski matahari sudah menari.


" Ini nikmat sekali, Sayang... " lirih Evan dengan masih menghentak - hentakkan pinggulnya memepet pada bagian tengah pangkal paha mulus milik Rayne.


" Cepeth, Mash... Anak - anak sekolah. " lirih Rayne dengan nafas tersengalnya, Evan pun semakin mempercepat hentakannya dan segera memuntahkan laharnya di dalam lembah goa gunung berapinya.


" Akhhhh... Oooh... " deru suara keduanya bersahutan seiring dengan pelepasan yang beriringan juga.


Huh... Huh... Huh...


Nafas keduanya tersengal, satu jam lebih mereka berolahraga ranjang pagi ini meski semalam juga tak absen. Evan pun ambyuk di atas tubuh polos Rayne.


" Mas bangun, ih. Berat. " keluh Rayne sembari memukul pelan pundak Evan.


Cup...


Evan mencium bibir Queen sesaat dan tersenyum menatap Istrinya penuh cinta.


" Aku nggak nyangka, anak udah lima tapi rasanya masih tetep legit kaya dulu waktu aku cobain pertama kali. " ucap Evan jahil.


" Ish! Dikira apaan pakai dicobain. " kesal Rayne, Evan hanya terkikik.


" Nambah satu lagi boleh deh, Yang... " ucap Evan lagi.


" Nggak ada! Anak - anak waktunya sekolah. " ketus Rayne dengan nada sedikit meninggi, menolak permintaan Evan yang ingin bermain - main lagi pagi ini.


" Hei... Kamu salah paham, Sayang. " ucap Evan dengan menahan tawanya.


" Salah paham apanya? " sanggah Rayne bertanya tak terima.


" Maksudnya itu aku pengen punya anak satu lagi, Sayang... Bukan minta main satu kali lagi. " jelas Evan sambil tertawa renyah tanpa dosa.


" Astaga, Mas! Enggak, ah! Anak - anak udah pada gede, pasti malu kalau punya Adik lagi. " tolak Rayne.


" Apalagi Zeevanea pasti ngedumel terus kalau tau mau punya Adik lagi. " lanjutnya.


" Ya udah biar nanti aku ngomong sama Zee, dia pasti ngerti dan nggak akan rewel kaya waktu dia kecil dulu. " ucapnya santai, Rayne hanya diam dan mendorong tubuh Evan kemudian ia langsung beranjak ke kamar mandi, Evan pun terkikik sendiri di atas ranjang.


Trap... Trap... Trap...


" Kakak bawa oleh - oleh apa buat kita? " tanya Andru pada Zee dan Steve.


" Lo kaya nggak pernah ngunjungin kita kesana aja pakai tanya oleh - oleh segala, Dek. " sahut Zee ketus, Steve hanya diam sembari memainkan ponselnya tanpa menanggapi sedikit pun.


" Ya kan beda rasanya Kak kalau dibawain oleh - olehnya... " sahut Ray.

__ADS_1


" Nggak ada. " jawab Zee, kedua Adik kembarnya itu pun langsung mencebik bersamaan.


Trap... Trap... Trap...


" Selamat pagi anak - anak Mommy... " sapa Rayne pada keempat anaknya, Rayne turun bersama Evan, Evan juga sudah rapi dengan setelan kerjanya.


" Pagi Momm, Dadd... " balas mereka kompak, tapi Steve hanya menatap sekilas, kecupan pagi di bibir masing - masing pun mengabsen pagi ini.


" Kakak ikut Daddy ke kantor. " ucap Evan pada Steve, Steve pun mengangguk karena itu memang sudah rutinitasnya ketika pulang kampung.


" Kakak Zee ikut Mommy ke galeri. " timpal Rayne tak mau kalah.


" Siyap, Kakak... " balas Zee dengan hormat dan tersenyum lebar, dua adiknya langsung geleng kepala mendengar jawaban Kakak Perempuannya.


" Ya sudah ayo sarapan dulu. " ucap Rayne dan mulai menyiapkan sarapan di piring Evan, anak - anaknya pun bergantian mengambil sarapannya.


Sarapan pun dimulai dengan tenang. Hanya dentingan sendok garpu yang beradu itulah suara yang terdengar hingga acara sarapan ini pun berakhir dua puluh menit kemudian.


" Nanti sore pulang kantor Kakak temenin aku latihan, ya... " ucap Ray pada Steve.


" Latihan apa? " tanya Steve datar.


" Basket, lah... Mau apa lagi. " ketus Andru.


" Kan Minggu depan ada turnamen se Jabodetabek. " lanjutnya menjelaskan.


" Kakak sibuk. " jawabnya singkat.


" Ngomong aja lagi kejar target buat nikah muda. " lanjutnya meledek Kakaknya, Evan dan Rayne saling bersitatap dan memicingkan matanya bersamaan.


" Les balet sana! " ketus Steve yang balik meledek Zee.


" Ogah! Kakak les balet sendiri aja sana! " jawab Zee dengan wajah menjengkelkannya.


" Ajak Daddymu kalau Kakakmu sibuk. " sela Rayne memberi saran.


" Males ah, Momm. " jawab Ray dengan wajah menyebalkannya.


" Kamu ngeremehin Daddy ini ceritanya. " sungut Evan tak terima.


" Lari bentaran aja udah ngos - ngosan kembang kempis Senin Kemis gitu gimana mau nemenin kita main basket. " lanjutnya mencibir Daddynya.


" Iya lah ngos - ngosan orang ngerokok aja setiap hari habis dua bungkus. " celetuk Andru menimpali.


" Masih pagi udah main keroyokan aja nih si kembar... " timpal Zee sambil nyengir.


" Emang Lo nggak kembar? " potong Ray, Zee langsung memelototinya sebal.

__ADS_1


" Iya, nih... Ngeremehin banget sama mantan Kapten basket. " ucap Evan tak terima.


" Emang itu adanya... " jawab Andru.


" Oke... Nanti sore kita buktikan. Kalau Daddy masih kuat dan menang lawan kalian, jatah jajan kalian satu bulan hangus. " ucap Evan dan langsung beranjak dari duduknya, Ray dan Andru nampak kesal seketika, sementara Rayne dan Zee langsung tertawa, tapi Steve hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya.


Cup...


" Aku berangkat dulu, Sayang... " pamit Evan pada Rayne dan mencium bibir Rayne singkat.


" Iya, Mas. Hati - hati. " jawab Rayne dan langsung mencium punggung tangan Evan, Evan pun menganggukkan kepalanya.


" Ayo, Kak. " ucap Evan pada Steve.


" Daddy duluan aja, nanti aku nyusul. " jawabnya, Evan pun mengangguk dan keluar dari rumah duluan bersama Rayne.


Trap... Trap... Trap...


" Kenapa muka Lo pada? " ucap Zee menggoda pada Ray dan Andru yang masih nampak memberengut kesal.


" Daddy Lo nggak asik! jawab Ray dan langsung beranjak untuk berangkat ke sekolah bersama Andru meski sekolah mereka berdua tidak sama, tak lupa mengecup singkat bibir kedua Kakaknya dan salim, karena memang begitulah kebiasaan keluarga Evan.


Trap... Trap... Trap...


" Ayo, Sayang... Kita ke galeri sekarang. " ucap Rayne yang baru saja masuk kembali ke dalam rumah dan menghampiri Zee yang masih tetap berada di ruang makan bersama Steve.


" Iya, Momm... Aku ambil tas dulu di kamar. " jawab Zee, Zee pun beranjak dan Queen menunggunya di ruang makan.


Trap... Trap... Trap...


" Sibuk banget kayanya, Kakak... " ucap Rayne sembari mengusap lembut kepala Putra Sulungnya, Steve masih duduk di tempatnya sembari mengutak - atik ponsel pintarnya, Steve pun langsung mendongak menatap Mommynya, ia pun mengulas senyum teduhnya.


" Enggak, Mom... Lagi chat sama temen aja. " jawab Steve, Steve memang sangat manis jika bersama Mommynya, karena memang Steve sangat menyayangi Mommynya.


" Udah punya Pacar belum gantengnya Mommy ini? " goda Rayne pada Steve, lagi - lagi Steve hanya tersenyum.



" Momm... " panggil Steve.


" Iya, Sayang... " jawab Queen.


" Dulu waktu Daddy ngajak nikah Mommy, apa Daddy pengangguran? Kan Mommy sama Daddy nikah waktu masih kuliah. " tanyanya serius, kedua pangkal alis Rayne menaut seketika.


" Enggak, dong... Meskipun Mommy sama Daddy masih sama - sama kuliah tapi Daddy udah mulai ngelola Gamyaraa. Dan seperti yang selama ini kamu ketahui, Gamyaraa berdiri tanpa campur tangan Oma dan Opa. " jelas Rayne.


" Jadi setelah Mommy dan Daddy nikah, Daddy sama Mommy nggak numpang hidup sama Oma dan Opa? " lanjutnya bertanya, Rayne pun menggeleng.

__ADS_1


" Daddymu itu pekerja keras, Sayang... Lagaknya memang arogan seperti itu, tapi Daddymu adalah sosok seorang Suami dan Ayah yang sangat bertanggung jawab. " jelas Rayne, Steve pun menganggukkan kepalanya dan merasa semakin kagum dengan sosok Daddy yang selama ini diidolakannya.


" Mau nikah muda anak tampan Mommy ini? " tanya Rayne penuh selidik, lagi - lagi Steve hanya mengulas senyumnya.


__ADS_2