
Setelah semalam berbicara dengan keluarganya, Nicholas pun juga langsung memberitahukan kepada Zeevanea. Dan kebetulan sekali, sore ini keluarga mereka memiliki acara bersama, mereka berdua pun berniat akan mengungkapkan hubungannya disana. Nicholas memang sangat berharap perkara ini lekas terlewati meski nantinya jelas penolakan dari Evan yang akan ia terima. Akan tetapi, Nicholas juga merasa jikalau hubungan mereka berdua harus sesegera mungkin diberitahukan kepada Evan agar tak semakin membuatnya resah berkepanjangan.
Tuuut...
..... :
Richie :
Waalaikum salam.
ucap Richie judes, Richie menelepon Evan dan berniat untuk mengingatkan kepada Evan tentang acara keluarga yang akan digelar di rumah utama keluarga Armaya, tapi seperti biasa, Evan menjawab panggilan telepon tersebut dengan diam tanpa salam, jadilah Richie merasa kesal dengan kebiasaan Evan.
Evan :
Apaan?
tanya balik Evan tak kalah judes.
Richie :
Lo nanti jangan sampai nggak dateng.
Gue sunatin lagi Lo kalau Lo sampai nggak dateng.
tegas Richie dengan nada ketus meski sebenarnya ia hanya bercanda.
Nggak ada alasan sibuk buat Pengangguran.
lanjutnya.
Evan :
Lagian ngapain dadakan, sih?
Anya nggak kenapa - kenapa, kan?
tanya Evan penuh selidik, sejujurnya semalam Richie sudah mengabarkan hal ini kepada Rayne, jadilah baru saat ini Evan bisa mengutarakan tanya di otaknya.
__ADS_1
Richie :
Brian mau lanjutin usaha mendiang Orang Tua kandungnya di Jerman.
Jadi Brian minta ketemuan sekeluarga biar bisa ngiket Anya dulu sebelum Brian berangkat kesana.
jelas Richie.
Mulut Lo jangan asal ngejeplak aja pakai nanyain Anya nggak kenapa - kenapa!
lanjutnya kesal, sementara Evan nampak terkekeh mendengar umpatan Richie kepadanya.
Evan :
Gue nggak janji.
jawab Evan sembari menahan tawanya kemudian langsung mematikan sepihak sambungan teleponnya, bertambah kesal saja Richie karena ulah Evan.
Tut... Tut... Tut...
Detik, menit, jam pun berlalu... Kini tibalah waktunya bagi Abrizam Farrand Nitinegara untuk segera datang meminang dan sang pujaan hati yang tak lain adalah si cantik Ardhiona Nyata Btari Armaya. Seluruh keluarga Armaya dan Nitinegara sudah berkumpul bersama di kediaman Armaya. Hanya keluarga Evan saja yang nampak belum terlihat disana. Richie nampak kesal. Padahal Eric dan Sea beserta anak - anak mereka yang lain pun juga sudah berada disana sejak siang hari.
" Mulai aja... Nanti juga datang. " ucap Ayah Rudi dengan santainya sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.
" Ayahmu benar, Ci... Evan dan Adikmu pasti datang. " timpal Eyang Alam, meski usianya sudah tua tetapi masih terlihat sehat, hanya saja kini Eyang Buyut ini sudah duduk di kursi roda lantaran selalu gemetaran jika sedang berdiri, Richie pun mengangguk pasrah dan langsung kembali ke tempat duduknya.
Berbeda Richie berbeda pula Nicholas yang sudah jelas menantikan kehadiran calon Permaisurinya juga disana. Keringat dingin nampak membasahi tubuhnya. Duduknya pun tak tenang karena belum bisa melihat keberadaan Zeevanea disana. Ditambah mepetnya waktu karena sore nanti ia juga harus segera berangkat ke Jepang.
" Baiklah... Kita mulai saja sekarang. " ucap Richie kembali membuka suara kepada keluarga Nitinegara yang sudah beberapa saat tadi sempat didiamkan olehnya.
Trap... Trap... Trap...
" Assalamualaikum... " ucap Rayne dan anak - anaknya bersamaan, sementara Evan nampak menahan tawa kala tatapannya beradu dengan tatapan mata penuh kekesalan yang Richie tunjukkan kepadanya.
" Waalaikum salam... " balas mereka semua yang sudah berada disana dan langsung menoleh serempak ke arah orang - orang yang baru saja datang, sementara Richie hanya diam dan tetap menatap Evan penuh kekesalan, tatapan Nicholas dan Zeevanea pun juga beradu meski keduanya hanya diam, Nicholas merasa lega akhirnya Zeevanea datang juga, keluarga Evan pun langsung membaur disana dan saling menyapa satu sama lain, Dygta pun terus berusaha biasa saja kala melihat Rayne yang terlihat anggun siang hari ini.
" Kalau mau ngerjain Kakakmu lihat - lihat, dong! " ketus Ayah Rudi berbisik saat Evan baru saja mencium punggung tangannya.
__ADS_1
" Ayah nuduhnya suka bener. " jawab Evan santai kemudian langsung duduk di samping Ayah Rudi yang langsung mengehela nafas kasar, lainnya ada yang terkikik tapi ada juga yang tak berani menyela.
" Baiklah... Saya langsung saja. " potong Aga cepat, muak rasanya berlama - lama melihat wajah angkuh Evan, mereka semua pun langsung diam memperhatikan dan Evan langsung terlihat menyulut rokoknya dengan begitu santai dan dengan gaya angkuhnya.
" Bukan bermaksud terburu - buru... Hanya saja, seperti yang kami sudah sampaikan sebelumnya bahwasanya Putra saya sebentar lagi akan pindah ke Jerman. " lanjutnya menjelaskan.
" Dan maksud kedatangan kami sekeluarga kemari tak lain karena Putra saya bermaksud untuk meminang Anya terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke Jerman. " lanjutnya lagi mengutarakan maksud kedatangannya bersama keluarga besar Nitinegara, suasana hening, seluruh orang disana nampak menatap Anya yang tengah menatap Brian dengan mata berkaca - kaca.
" Saya mewakili Brian juga keluarga besar kami berharap, pinangan Putra kami kepada Anya ini bisa diterima oleh Anya dan juga seluruh keluarga besar Armaya. " tukasnya tegas penuh wibawa.
" Jawab, hoey! Malah mewek lagi! " sela Nala sambil menyenggol lengan Anya yang memang duduk di depannya, Sea langsung menepuk lutut Nala dengan maksud agar bisa mengkondisikan dirinya, sementara Evan nampak terkikik tipis sembari menatap Nala.
" Saya selaku Ayah dari Ardhiona Nyata Btari Armaya mengucapkan terima kasih atas kedatangan serta niat baik keluarga Nitinegara. " ucap Richie yang langsung mengambil alih acara.
" Akan tetapi, saya sebagai Ayah tidak mempunyai kuasa untuk menjawab. " lanjutnya berkata pelan dan tegas, Evan yang mencoba menjahilinya dengan gerakan - gerakan tak penting itu diabaikan karena memang saat ini Richie merasa sangat tegang.
" Putriku tersayang... Ardhiona Nyata Btari Armaya... " panggil Richie kepada Anya, Anya yang semula menunduk menyembunyikan tangis harunya langsung mendongak secara perlahan dan menatap kepada Richie, Anya beringsut dari tempat duduknya dan langsung bersimpuh di bawah kaki Richi dan Sea yang kali ini duduk bersebelahan sebagai kedua Orang Tua kandung dari Anya serta tak lupa mengajak Eric mendekat karena bagaimanapun juga Erik adalah Ayah sambungnya.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Papi... Mami... Papi Eric... Sebelum Anya menjawab, apakah Papi dan Mami juga Papi Eric merestui jikalau Anya menerima lamaran ini? " ucap Anya meminta restu terlebih dahulu kepada Orang Tuanya sambil bersujud di bawah kaki Richie, Sea, dan Eric, mengharu biru suasana ini seketika.
" Kami merestuimu, Sayang... " ucap Richie pelan dengan mata yang langsung berkaca - kaca setelah menatap singkat kepada Eric dan Sea, Sea bahkan sudah menangis karena tak kuat menahan keharuannya, para Ibu disana pun juga nampak memasang wajah haru.
" Doa Papi, Mami, Papi Eric senantiasa bersamamu, Putriku... " timpal Sea dengan sesenggukan, Nala langsung menepuk - nepuk bahu Sea agar merasa tenang.
" Terima kasih Papi, Mami, Papi Eric... " ucap Anya kemudian mereka berempat pun langsung berpelukan dan menangis haru bersama hingga beberapa saat.
" Berbahagialah... Ini adalah hari bahagiamu. " ucap Eric, Anya pun mengangguk.
" Terima kasihku untuk semua keluarga besarku... Terima kasih juga untuk semua keluarga Brian... " ucap Anya perlahan setelah keharuan itu terurai, suasana masih terlihat mengharu biru dengan terlihatnya kasih sayang yang tergambarkan pada keluarga ini.
" Terima kasih juga untuk Abrizam Farrand Nitinegara... " lanjutnya dan menjeda sejenak ucapannya.
" Aku menerima pinanganmu. " tegasnya langsung karena bingung juga harus berkata apa lagi, yang penting restu dari kedua Orang Tuanya sudah dikantongi.
Prok... Prok... Prok...
__ADS_1
Tepuk tangan meriah bercampur suasana yang masih terlihat mengharu biru itu pun menguar begitu saja. Siapa lagi pelopornya kalau bukan Nala yang langsung bertepuk tangan dengan paling hebohnya. Dan prosesi semat cincin pun langsung dilaksanakan, tak lupa pengabadian moment dengan pengambilan gambar acara.