Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 169 : Berjuang Bersama


__ADS_3

Cup...


" Sangunya mana! " todong Nala pada Evan kala Nala akhirnya menyerah dan menuruti permintaan Bianca untuk ikut bersamanya ke rumah Bianca.


" Kamu nggak salah ngomong, minta sangu sama Pengangguran? " tanya balik Evan dengan mengangkat sedikit sebelah sudut bibirnya.


" Pelit! " umpatan sekaligus cibiran Nala kepada Evan sembari mencebikkan bibirnya, para Ibu disana hanya tersenyum menatap interaksi keduanya yang begitu sangat dekat meski sikap keduanya seringkali bak anjing dan kucing yang lebih sering bertengkarnya daripada akurnya meski semua itu juga hanya candaan belaka.


" Berangkat sana! " tegas Evan serius, ia tau Nala sengaja mengulur waktu karena sebenarnya malas untuk ikut dengan Bianca, Nala pun langsung mencium punggung tangan Evan dan tak lupa mengecup singkat bibir Evan barulah ia melangkah keluar dari rumah.


Trap... Trap... Trap...


" Gue pulang dulu, ya... " ucap Bianca pamit, Nala meninggalkannya keluar rumah terlebih dahulu, mereka mengangguk mengiyakan, setelah saling bercipika - cipiki Bianca pun langsung beranjak keluar menyusul Nala, sejujurnya Bianca tadi tidak ikut pergi bersama Rayne dan yang lain, Rayne dan yang lain berpapasan dengan Bianca kala Bianca akan masuk ke rumah Evan dan Rayne untuk menemui Nala tentunya.


Trap... Trap... Trap...


Setelah acara makan siang bersama tadi usai, Bianca langsung mengatakan jika ia ingin mengajak Nala ke rumahnya. Bianca sangat merindukan Nala yang memang jarang sekali bersamanya. Maka dari itu, di setiap ada kesempatan selalu dipergunakan Bianca untuk menghabiskan waktu bersama Nala meski Nala sebenarnya seperti ogah - ogahan untuk ikut bersamanya. Dan karena disana ada Evan, Nala pun tak bisa menolak dan jadilah Nala pasrah kemudian langsung ikut bersama Bianca tanpa berani membantah Evan. Sementara anak - anak mereka sudah berpencar meski masih berada di area rumah megah Evan. Ada yang masuk kamar, dan ada juga yang kembali bermain game bersama. Dan setelah Bianca pergi bersama Nala, para Orang Tua pun langsung bergegas ke ruang kerja Evan untuk membicarakan persiapan pernikahan Raynevandra dan Alexandra.


Trap... Trap... Trap...


" Semuanya udah beres, Mas... Tinggal WO-nya aja. " ucap Rayne langsung.


Bagiannya Mas yang itu. lanjutnya mempertegas.


" Suruh Raka aja, omongin sama Raka. " jawab Evan santai, Rayne pun langsung menatap malas pada Evan.


" Bapaknya Raynevandra ini Lo apa Raka sih sebenernya, hah? Rayne udah jelas ngomong kaya gitu tapi Lo malah seenaknya aja ngelimpahin tugas sama Raka. " sahut Sea bertanya sambil berdecak kesal kepada Evan.

__ADS_1


" Lagian yang mau Mantu juga kalian berdua, bukan Raka. " lanjutnya tegas juga kesal.


" Ya udah kalau nggak mau suruh Raka ya suruh Ray sendiri... Ray juga punya WO. " jawab Evan dengan nada malas.


" Gue aja Pengangguran, kerja juga kagak, gimana Gue mau ngerjain? " lanjutnya beralasan logis sambil menatap Sea dengan sorot mata malas.


" Terus kenapa bukan Lo sendiri aja yang suruh Raka! " tegas Sea, malas juga Sea berdebat dengan Evan.


" Aku setuju... " sahut Rayne menimpali, sementara Vivian sedari tadi hanya menyimak karena Vivian juga tidak terlalu dekat dengan Evan, canggung juga bagi Vivian jika harus banyak berbicara dengan Evan yang seringkali ketus jika berbicara meski itu juga sudah menjadi ciri khas Evan.


Tuuut...


Evan tak menjawab tapi langsung mengambil ponselnya dan nampak menghubungi seseorang. Rayne dan Sea juga Vivian hanya memperhatikan saja menunggu reaksi Evan selanjutnya.


.......... :


si penjawab telepon baru saja akan berucap tetapi Evan langsung memotong ucapannya.


Evan :


Ke rumah Gue sekarang, cepetan!


tegasnya kemudian langsung mematikan panggilan telepon tersebut, ketiga Ibu ini pun akhirnya paham jika Evan baru saja menghubungi Raka.


Tut... Tut... Tut...


Sementara Evan yang tak lama kemudian langsung kedatangan tamunya yaitu Raka, Evan pun langsung membicarakan perihal pernikahan Raynevandra dengan Raka juga dengan Rayne tentunya. Meskipun demikian, Vivian dan Sea juga masih tetap berada disana. Mereka semua siap jikalau Evan dan Rayne membutuhkan bantuan mereka. Sedangkan Zeevanea yang tak berada di rumah kali ini sudah jelas jika ia sedang bersama Nicholas. Keduanya pergi ke Puncak sejak pagi tadi. Dan kini, keduanya tengah bersantai bersama menikmati makan siangnya meski hari sudah mulai berpindah sore. Keduanya memutuskan untuk makan siang dengan menu makanan khas Sunda.

__ADS_1


" Makan dulu, Sayang... Nanti kita pikirin lagi gimana caranya ngomong terus terang sama Daddy. " ucap Nicholas lembut sambil mengusap penuh cinta kepada Zeevanea, Zeevanea mengangguk samar kemudian mulai mencuci tangannya untuk makan, Nicholas pun juga segera bersiap makan siang.


Selama keduanya berada di Puncak, keduanya memilih berdiam di villa milik keluarga Nitinegara. Keduanya yang semula berencana jalan - jalan pun mengurungkan niatnya mengingat ada pembicaraan penting yang harus segera dibicarakan dengan Evan. Memang setelah mendengarkan nasehat dari Eric tadi pagi wajah Zeevanea langsung terlihat menyendu. Nicholas yang semula berniat akan membawa Zeevanea untuk jalan - jalan di Puncak itu pun langsung mengurungkan niatnya dan memilih membawa Zeevanea ke villa milik keluarga Nitinegara agar Zeevanea bisa menenangkan dirinya. Dan setelah keduanya selesai makan siang bersama, Nicholas langsung membawa Zeevanea kembali ke villa.


Bruuum... Whuuussszzzhhh...


Trap... Trap... Trap...


" Mau ya ngomong secepetnya sama Om Evan? " bujuk Nicholas lagi karena sedari tadi Zeevanea menolak untuk memberitahukan kepada Evan perihal hubungan keduanya, keduanya baru saja tiba kembali di villa dan kini keduanya sedang duduk di ruang keluarga.


" Aku masih takut... " jawab Zeevanea lirih, jawaban yang sama sejak pagi tadi Nicholas mengatakan keinginannya untuk berkata jujur kepada Evan, matanya kembali berkaca - kaca.


" Daddy pasti marah besar, Sayang... " lanjutnya, Nicholas yang semula duduk di hadapan Zeevanea itu pun kini langsung berpindah ke samping Zeevanea, Nicholas langsung memeluk Zeevanea, mengusap lembut kepala Zeevanea dengan penuh kasih.


" Ada aku, Sayang... Aku akan terus berusaha untuk memperjuangkanmu apa pun yang akan terjadi nanti. " jawab Nicholas pelan dan sungguh - sungguh, Nicholas sangat berharap Evan mau menerimanya karena memang yang bermasalah dengan Evan adalah Dygta, bukan dirinya dan Zeevanea, Nicholas nampak sesekali mengecupi juga kepala Zeevanea sembari ia mengusap lembut kepala sang Kekasih yang tengah berada dalam pelukan hangatnya.


" Kita hadapi berdua... Kita hadapi sama - sama. Dan aku harap kamu juga mau untuk tetap perjuangkan aku. Kita akan terus berjuang sama - sama untuk meluluhkan Om Evan. " lanjutnya.


" Beri aku waktu sebentar lagi, Sayang... Aku belum siap. Bukan hal mudah bagi kita untuk berterus terang kepada Daddy perihal hubungan kita ini. " jawab Zeevanea lemah sembari mengusap lembut air matanya yang mulai terlihat menetes kembali, Zeevanea memang sudah mulai merasakan kenyamanan bersama Nicholas, tapi di sisi lain Zeevanea juga sangat takut


kepada Evan.


" Maaf... " lanjutnya dengan raut wajah yang penuh akan guratan kesedihan yang berbalut dengan ketakutan.



" Aku harap kamu siap secepatnya, ya... Bukan aku bermaksud memaksamu, tapi apa yang dibilang sama Om Eric pagi tadi juga ada benernya, Sayang. " jawab Nicholas yang sejujurnya juga tak mau memaksa Zeevanea tapi Nicholas juga tak dapat memungkiri jikalau ucapan Eric pagi tadi sangat membuat pikirannya kalut, Nicholas merenggangkan pelukannya dan kini keduanya saling bertatap dengan tangan Nicholas yang sedang menangkup wajah sendu sang Kekasih.

__ADS_1


" Aku rasa lebih cepat juga lebih baik. Agar kita berdua juga bisa segera memikirkan kemungkinan lain kalau memang nanti Daddy benar - benar menentang hubungan kita. " imbuhnya.


__ADS_2