
Hari sudah menjelang petang, Evan dan Axelle nampak berjalan keluar bersama setelah menyelesaikan meeting mereka di Perusahan milik Axelle, WJ Company.
Trap... Trap... Trap...
" Lo mau langsung balik, Van? " tanya Axelle, Evan baru saja menyulut rokoknya dan menyodorkan bungkusan rokoknya pada Axelle tapi Axelle menolak karena rokok mereka berbeda, Axelle pun ikut menyulut rokoknya.
" Iya lah... Udah kangen Bini, Gue. " jawab Evan sambil nyengir, Axelle langsung mencebik sembari terkikik sendiri dan menghembuskan asap rokoknya ke arah Evan.
" Tetep aja tingkah Lo dari dulu nggak berubah. " ucap Axelle.
" Ya iya lah tetep... Lo kira Gue berubah jadi Transformer apa. " jawab Evan sambil terkikik juga, kepulan asap rokok Evan dan Axelle nampak beradu di udara.
" Dasar. " umpat Axelle, keduanya nampak semakin tertawa lebar sembari berjalan ke parkiran dengan menikmati rokok di tangan masing - masing.
Trap... Trap... Trap...
" Mobil jemputan saya belum datang? " tanya Axelle pada petugas valet di depan kantornya setelah ia celingak - celinguk mencari mobilnya di parkiran khusus Petinggi kantor WJ Company.
" Sopir Tuan Axelle tadi mengatakan akan menjemput Putra Tuan terlebih dahulu karena Sopir yang mengantar jemput Tuan Muda Aaron tidak bisa menjemput karena sakit. " jelas petugas valet tersebut, Axelle pun mengangguk.
" Bareng Gue aja. " ucap Evan yang juga mendengar percakapan Axelle.
" Boleh, deh... Mobil Lo dimana? " tanya Axelle, Evan langsung menunjuk dengan dagunya ke arah tempat parkir khusus Presiden Direktur Perusahaan tersebut sambil menahan tawanya, karena tempat parkir tersebut adalah tempat parkir mobil Axelle.
" Lo mau ambil alih Perusahaan Gue? " tanya gurau Axelle pada Evan, Evan semakin terkikik saja tanpa menjawab dan langsung berjalan menuju mobilnya diikuti oleh Axelle tak lupa membuang dulu puntung rokok yang sudah pendek itu ke tempat sampah.
Trap... Trap... Trap...
Evan dan Axelle pun masuk ke dalam mobil Evan. Dan Evan mulai menghidupkan mesinnya. Dan mulai bergeraklah mobil yang dikendarai oleh Evan.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
__ADS_1
" Anak - anak sehat, Kak? " tanya Evan pada Axelle kala mereka sedang dalam perjalanan pulang.
" Sehat, alhamdulillah... " jawab Axelle sumringah.
" Oiya, Van... Ray kenapa jadi dianter jemput sama Sopir? " lanjut Axelle bertanya penasaran.
" Lo tau dari mana Ray dianter jemput Sopir? " tanya balik Evan.
" Kapan hari itu Gue jemput Aaron ke sekolah, nggak sengaja ketemu Ray. " jawab Axelle.
" Gue ajakin main ke rumah bilangnya lagi Lo pingit, nggak berani ikut Gue dia jadinya. " lanjut Axelle sambil terkikik, Evan pun terkikik juga.
" Helmnya rusak, katanya jatuh gitu aja. Gue mana percaya orang helmnya parah sedangkan helmnya dia helm Gue dulu. Gue suruh Bram sama Bisma anter jemput jadinya. " jelas Evan.
" Gue takutnya Raynevandra ikut balap liar, makanya Gue suruh Bram sama Bisma anter jemput Ray sama Andru tiap hari. Andru kan selalu nebeng sama Ray naik motor. " lanjutnya, Axelle pun mengangguk paham.
" Tapi motornya gimana? " tanya Axelle.
" Motornya nggak papa... Udah dibawa pulang dari rumah Mama sama Stevano. " jawab Evan.
" Waktu Gue nonton balap mobil Accelio itu helmnya udah pecah kayanya, cuma waktu itu Gue belum lihat helmnya karena Ray sama Andru masih nginep di rumah Mama. " lanjutnya, Axelle pun mengangguk paham.
" Tapi coba deh Lo tanya sama Aaron, tau nggak soal helmnya Ray. Soalnya Raynevandra ngotot cuma ngomong helmnya jatuh gitu aja. " ucap Evan lagi.
" Gue sih udah males ribut, Gue sadar dia kaya Gue. Meski Mommynya ngedesak dia pun dia masih tetep aja bungkam. " imbuhnya.
" Nanti deh coba Gue tanyain sama Aaron. " " jawab Axelle, Evan mengangguk sembari membelokkan mobilnya masuk ke halaman luas rumah megah Axelle.
Lo mau mampir dulu? " tanya Axelle setelah ia turun lalu berjalan memutar dan berdiri di samping Evan yang masih stay di dalam mobil.
" Nggak, deh... " jawab Evan.
__ADS_1
" Ya udah pulang sono... Gue tau Lo udah pengen main kuda sama Rayne. " ucap Axelle sambil terkikik geli sembari menatap Evan.
" Gue balik. " pamit Evan, Axelle pun mengangguk dan Evan langsung memundurkan mobilnya, kemudian memutarnya di halaman luas rumah megah Axelle dan kembali mengitari jalan raya menuju rumahnya.
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Tiga puluh menit Evan mengendarai mobilnya, mobil Evan pun akhirnya masuk perlahan ke dalam area rumah megah berdesain industrial yang terdiri dari dua Paviliun besar. Setelah mendapat sambutan kemegahan dari sebuah gerbang kokoh menjulang tinggi yang membentengi kemegahan rumah megah ini, jalan mobil di bawahnya seperti memasuki sebuah terowongan. Dimana bangunan yang berada di atas gerbang tersebut adalah ruangan khusus tempat tinggal yang diperuntukkan bagi barisan awak keamanan yang bertugas menjaga rumah megah Evan.
Memasuki area selanjutnya setelah memasuki gerbang depan sebagai pintu keamanan utama rumah megah ini, kini kita memasuki area Paviliun depan. Perpaduan model desain bangunan yang berbentuk kotak dengan garis tegak lurus nampak menghiasi desain Paviliun depan rumah megah ini sedari bentuk gerbang di depan tadi. Bangunan dua lantai yang disebut Paviliun depan ini terlihat semakin mewah ketika lampu mulai dinyalakan seperti petang ini. Perpaduan model desain bangunan bergaya industrial dengan warna bangunan yang dominan akan warna - warna coral, serta lampu - lampu penerangan berwarna keemasan ini menjadikan rumah megah ini terkesan mewah pada pengaplikasian bangunan megah dengan garis yang tegas.
Lanjut memasuki area Paviliun belakang yang Evan tuju dimana kebanyakan kegiatan keharian di dalam rumah megah ini paling banyak dilakukan di area Paviliun belakang. Bentuk model desain tersebut adalah desain bangunan pada Paviliun belakang yang menghadap ke area taman belakang rumah megah ini. Sementara bagian yang menghadap ke depan, ke arah belakang Paviliun depan bentuknya sama seperti bentuk tersebut, hanya saja tak ada kolam renang yang membatasi antara Paviliun depan dan Paviliun belakang. Mobil mahal yang dikendarai oleh Evan pun akhirnya berhenti di depan pintu masuk di depan Paviliun belakang. Evan pun segera turun dan langsung beranjak masuk ke dalam.
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Evan membuka pintu yang masih tertutup itu kemudian masuk dengan santainya sembari melepas balutan jas mahal yang menutupi tubuh berotot nan sexy miliknya. Senyuman hangat dari sang Istri pun langsung menyambutnya. Rasa lelah setelah seharian bekerja terasa luluh lantah setelah Evan mendapatkan senyum teduh dari sang Istri tercinta. Rayne yang sedang berkutat di ruang makan pun langsung menghentikan kegiatannya dan langsung menghampiri sang Suami tercinta.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
Setelah mengambil alih jas dan tas kerja milik Evan, Rayne langsung mencium punggung tangan Evan. Evan pun membalas sambutan bakti Istrinya itu dengan mendaratkan kecupan mesranya pada bibir merekah milik sang Istri tercinta sebagai bentuk pengaplikasian rasa cinta Evan yang begitu besarnya.
" Mandi dulu, yuk... Aku siapin air angetnya. " ucap Rayne, Evan hanya mengangguk sembari tak henti mengulas senyum, keduanya pun bergandengan mesra berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...