
" Lo kenapa kusut gitu? " tanya Eric penuh selidik kepada Adiknya itu, mereka berdua baru saja selesai meeting dan meetingnya berjalan lancar sehingga mereka kembali mendapatkan kerja sama baru lagi, tapi Eric bingung melihat Evan yang seperti sedang banyak pikiran dan sama sekali tak bersemangat meski baru saja mereka mendapatkan umpan besar untuk kemajuan pesat Kalandra Group.
" Nanti malem ke rumah Mama, yok... " ajak Evan tiba - tiba, Eric kembali dibuat bingung oleh Evan, perasaan kemarin Evan bertengkar dengan sang Mama perihal Kalandra Goup dan diketahuinya belum berbaikan hingga sekarang , dan kini tiba - tiba mengajak kesana bagi Eric adalah sebuah hal yang janggal.
" Lo kalau mau minta maaf sama Mama ya udah kesana aja, tumben ke rumah Mama aja ajak - ajak Gue. Lagian kalaupun Gue mau ke rumah Mama juga nggak pakai nungguin ajakan Lo. " jawab Eric panjang lebar mengira Evan akan mengajaknya meminta maaf kepada Mama Rosa, dan kembali lagi Eric dibuat bingung karena kini Evan menatapnya dalam.
" Ya udah kalau Lo nggak mau. " jawab Evan dan langsung berdiri kemudian beranjak meninggalkan Eric yang otaknya semakin dibuat bingung oleh tingkah Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Pak Evan... " seru Davi memanggil Evan, Evan pun langsung berhenti dan menunggu Davi yang mendekat kepadanya.
" Maaf, Pak... Satu jam lagi ada meeting. " jelasnya langsung menghentikan langkah Evan yang sudah bisa ditebak jika Evan akan meninggalkan kantor kembali.
Tuuut...
Richie :
Halo...
Ada apa?
jawab Richie di seberang sana yang dihubungi oleh Evan.
Evan :
Mau meeting apaan abis ini?
tanya Evan langsung.
Richie :
Memangnya Asisten Lo nggak kasih tau?
tanya balik Richie.
Evan :
Gue belum tanya sama dia.
jawab Evan seadanya.
Richie :
Proyek pertambangan kita di Kalimantan bermasalah.
jawab Richie.
Evan :
Urusin sama Kak Eric.
jawab Evan.
__ADS_1
Richie :
Ya kan Presdirnya Lo.
Kalau ada Lo ngapain sama Eric.
Lo gimana, sih!
Lagian ini darurat.
gerutu Richie menjawab logis.
Evan :
Gue udah ngajuin resign.
jawab Evan dan langsung mematikan panggilan telepon tersebut sementara Richie nampak terdiam tercengang dan mencerna ucapan Evan yang terasa tidak masuk akal.
Tut... Tut... Tut...
" Maaf, Pak... Pak Evan serius mau resign? " tanya Davi memberanikan diri.
" Memangnya yang kamu lihat wajah saya sedang bercanda? " tanya balik Evan sambil menatap dalam pada Davi.
" Biasanya juga serius terus wajahnya. " gerutu Davi dalam hati tapi wajahnya terlihat sendu tak menyetujui kemunduran Evan, Evan langsung mengayunkan kembali langkah tegapnya setelah Davi tak lagi berucap.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Trap... Trap... Trap...
" Maaf, Mbak... Pak Evan ada? " tanya Dygta kepada Resepsionis yang bertugas di lobby.
Wah, sayang sekali... Pak Evan baru saja keluar. jawabnya dan memang melihat jika Evan baru saja meninggalkan kantor.
Trap... Trap... Trap...
" Kamu lihat Evan keluar? " tanya Eric yang baru saja sampai disana setelah Davi mengabarkan ucapan Evan dan belum menyadari keberadaan Dygta yang juga berada disana.
" Iya, Pak Eric... Baru saja. Dan Bapak ini juga mencari Pak Evan. " jawab Resepsionis sambil menunjukkan bahwa ada tamu yang juga mencari Evan.
" Eh, Pak Dygta... " ucap Eric, keduanya langsung berjabat tangan.
" Iya, Pak... Saya ada keperluan dengan Pak Evan. " ucap Dygta.
" Sayang sekali Evan tidak ada... Saya juga sedang mencari Evan tapi ternyata Evan baru saja pergi. " jawab Eric.
" Ya sudah kalai begitu, saya pamit. " ucap Dygta dan keduanya pun kembali berjabat tangan kemudian langsung berpisah arah.
Trap... Trap... Trap...
Evan yang setelah beberapa saat berkutat di atas kerasnya aspal jalan raya pun akhirnya sampai juga di tempatnya semula pagi tadi. Evan masuk dan langsung menuju ke gedung sebelah kantor Gamyaraa Media. Gedung apa lagi kalau bukan galeri Queen Fashion Management milik Istrinya.
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Udah selesai meetingnya, Mas? " tanya Rayne saat Evan menghampirinya dan langsung memeluk Rayne dari belakang, bergelanyut manja kepada Rayne, Rayne sedang berdiri sambil merapikan meja kerjanya karena sekarang adalah jamnya istirahat.
" Zee mana? " tanya Evan balik karena tak melihat Zeevanea yang tadi pagi terlihat sibuk di ruangan Mommynya.
" Pergi makan siang keluar sama temennya. " jawab Rayne.
" Kasian Mommynya dianggurin sendirian. " jawab Evan.
" Kan ada Daddy pengangguran yang sekarang nemenin. " jawab Rayne sambil manahan tawanya karena meledek Evan.
" Nanti malem kita ke rumah Mama. Aku mau ngomongin soal Ray. " ucap Evan dengan tetap memeluk Rayne dari belakang.
" Iya. " jawab Rayne sambil menoleh dan mengusap lembut tangan kekar Evan yang mengusap - usap perutnya.
" Aku nggak nyangka kita udah mau punya Cucu secepat ini, Mas... Padahal rasanya baru kemarin aku lahiran Raynevandra. " ucap Rayne dengan wajah sendu.
" Ya mau diapakan lagi... Dan memang sekarangà kenyataannya seperti itu. Meski aku juga sebenarnya sama tidak menyangkanya sepertimu. Padahal selama ini kita juga sudah mewanti - wanti anak - anak sedemikian rupa, kita juga tidak pernah mengekang kebebasan mereka asal mereka tetap dalam koridor yang benar. Nggak taunya masih saja kita kecolongan sama Ray. " jawab Evan seadanya, wajahnya juga sendu, baru kali ini keduanya berbicara dari hati ke hati perihal perkara Raynevandra meski Evan juga masih tetap bersikap acuh kepada Raynevandra dan tetap menutupi kekecewaan mendalamnya dari Rayne.
" Jangan benci sama Cucu kita ya Mas kalau nanti Cucu kita udah lahir... Bagaimanapun salahnya Ray sama Lexa sekarang yang jelas akan membuat malu keluarga kita, tapi tetap saja yang dikandung Lexa itu Cucu kita. Dalam darahnya mengalir darah Mas Evan juga. " ucap Rayne setelah sesaat keduanya terdiam memikirkan Raynevandra.
" Yang salah Orang Tuanya, bukan bayinya. " jawab Evan seadanya.
" Jadi mau ini nanti dipanggil Opa? " goda Rayne untuk mencairkan suasana meski rasa kecewa terhadap kesalahan Raynevandra pun masih saja ada.
" Ogah! " jawab Evan malas, Rayne langsung mengerutkan kenignya.
" Lah emang beneran udah mau jadi Opa nggak mau dipanggil Opa. " jawab Rayne.
" Mau dipanggil Kakek? Apa mau dipanggil Aki? " lanjutnya bertanya.
" Kalau dipanggil Oppa ala Korea boleh deh. " jawab Evan sekenanya.
" Ish! Udah tua, nggak pantes. " jawab Rayne.
" Yang manggil Oppa kan kamu... Eonninya aku. " jawab Evan sambil nyengir geli.
" Oppa... " ucap Rayne yang langsung mempraktekkan memanggil Oppa kepada Evan dengan wajah sok melucu, Evan pun langsung tertawa.
" Sarangheo... " ucap Evan sambil menjulurkan tangannya seperti ucapan orang - orang jika menirukan ucapan bahasa Korea tersebut.
" Sarangheo, Oppa... " balas Rayne juga menirukan tangan Evan.
" Hahahahaha... " keduanya tertawa bersama, sejenak melupakan beban pikiran yang menyita kehidupan mereka saat ini.
Tok... Tok... Tok...
" Siapa sih, ganggu aja! " pekik Evan kesal karena pintu ruang kerja Istrinya tiba - tiba diketuk dari luar, bagi keduanya pembicaraan ringan tapi menenangkan seperti ini sudah cukup mengutarakan bentuk quality time mereka.
__ADS_1