Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 140 - Mimpi Itu Nyata


__ADS_3

Evan yang sudah berjalan sedikit jauh dari Rayne dan Raynevandra nampak memegangi dada sebelah kirinya. Evan berhenti berjalan untuk memastikan apa yang dirasanya. Nyeri... Itulah yang dirasakan Evan pada dada sebelah kirinya. Evan kembali berjalan setelah beberapa saat terdiam.


Trap... Trap... Trap...


Bruggghhh!!!


Gredek... Gredek... Gredek...


Trap... Trap... Trap...


Hiks... Hiks... Hiks...


" Kamu tenang, ya... Aku pasti bertanggung jawab. " ucap Raynevandra yang baru saja masuk ke dalam ruang UGD bersama Rayne.


" Firasat aku benar, Ray... Mimpi aku tentang anak itu kini benar - benar nyata. " lirih Alexandra yang terisak dalam dekapan Raynevandra.


" Aku akan bertanggung jawab. " jawab Raynevandra setenang mungkin, Rayne yang berdiri di samping Raynevandra masih terus menitikkan air matanya sambil mengusap - usap punggung Raynevandra yang tengah membungkuk memeluk Alexandra.


" Kamu tenang ya, Sayang... Mommy pastikan jika Raynevandra akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. " sela Rayne sok tenang saat Raynevandra sudah kembali berdiri, padahal sedari tadi air matanya tak berhenti mengalir membasahi wajahnya.


" Maafkan kami, Tante... " lirih Alexandra dan langsung menarik Rayne ke dalam pelukannya meski sebenarnya Alexandra juga merasa takut dengan Rayne.


" Kami tau kami sudah melakukan kesalahan... Tapi awal dari kejadian ini karena Raynevandra sebenarnya menyelamatkan aku. " lirih Alexandra yang mencoba menjelaskan kepada Rayne, Rayne hanya mengangguk, mengiyakan saja ucapan Alexandra dengan tujuan agar Alexandra merasa lebih tenang setelah sedikit bercerita.


" Aku ketemu Dokter dulu ya, Momm... Titip Alexandra sebentar. " ucap Raynevandra, Rayne mengangguk kemudian kembali berdiri sambil tetap menggenggam tangan Alexandra.


" Aku ketemu Dokter dulu... Aku mau tanya lebih jelas soal kondisi kalian. " ucap Raynevandra pada Alexandra, Alexandra mengangguk sambil menatap sendu Raynevandra.


" Cepat kembali. Aku takut... " lirihnya, gantian Raynevandra lah yang kini menganggukkan kepalanya.


" Papa tinggal sebentar, ya... Anteng sama Mama... Kasihan Mama perutnya lagi sakit. Mama dan Papa akan mempertahankanmu. " lirih Raynevandra berucap lembut di atas perut Alexandra.

__ADS_1


Hiks... Hiks... Hiks...


Cup...


Mata Raynevandra nampak berkaca - kaca, sekuat tenaga ia menahan tangisnya. Jujur saja Raynevandra masih terkejut. Tangan yang sedang mengusap lembut perut Alexandra itu pun nampak bergetar saking merasa terkejutnya ia dengan kenyataan ini. Alexandra kembali menangis terisak saking merasa terharunya dengan ucapan Raynevandra. Sementara tangis Rayne juga kembali menderas, ia sangat tidak menyangka jika Putra Bungsunya ini sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah di usia yang terbilang masih sangat belia. Kata panggilan Papa yang terucap dari bibir Raynevandra membuat hati Rayne seolah tersayat ribuan belati, ia merasa gagal mendidik Raynevandra. Tapi rasa lega tetap menghinggapi benak Rayne saat ini... Raynevandra bisa bersikap tegas dan mau mempertanggung jawabkan perbuatannya membuatnya lega karena sang Putra tidak berniat untuk lari dari tanggung jawabnya. Raynevandra pun bergegas setelah mengecup perut Alexandra.


Trap... Trap... Trap...


" Anda harus dirawat, Tuan Muda... " ucap Dokter yang baru saja selesai memeriksa Evan.


" Tidak usah. Saya baik - baik saja. " tolak Evan tegas tak mau menjalani rawat inap di Rumah Sakit seperti yang disarankan oleh Dokter.


" Tapi jantung anda sedang tidak baik - baik saja, Tuan Muda... " tegas Dokter tersebut.


" Berikan saja obat saya. Saya tidak akan kenapa - kenapa. " tegas Evan dingin.


" Baiklah kalau Tuan Muda memaksa. Kami sebagai tenaga medis hanya ingin memberikan penanganan semaksimal mungkin kepada Pasien. Apalagi Tuan Muda adalah anggota keluarga Armaya. Akan tetapi jikalau Tuan Muda tetap menginginkan seperti itu kami juga tidak berani memaksakan kehendak Tuan Muda. Kami siap kapan pun Tuan Muda membutuhkan kami. " jawab Dokter panjang lebar dengan penuh rasa sesal karena Evan tetap bersikeras menolak untuk dirawat di Rumah Sakit ini, setelah selesai Evan pun langsung bergegas keluar meski sebenarnya dadanya masih terasa nyeri meski tak separah tadi sebelum Dokter memberinya obat pertama kali.


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


" Permisi, Sus... Ada yang ingin saya tanyakan. " ucap Raynevandra yang langsung masuk ke ruang UGD.


" Iya, Dek... Ada yang bisa saya bantu? " tanya kembali Suster tua tersebut.

__ADS_1


" Bapak - bapak yang baru saja keluar dari sini tadi kenapa, ya? " tanya Raynevandra.


" Tuan Muda Evan maksudnya? " tanya balik Suster itu lagi, Raynevandra langsung mengangguk.


" Maaf, Dek... Kami tidak bisa memberitahu. Kami harus menjaga kerahasiaan data - data Pasien kami. " jawab Suster sesuai dengan prosedur pekerjaannya.


" Tolong beri tahu saya, Sus... Saya Putranya. " mohon Raynevandra, wajah Suster tersebut nampak bingung tapi ia juga melihat kemiripan di wajah Raynevandra.


" Saya khawatir Daddy saya menyembunyikan sakitnya. " lanjutnya berucap karena Suster tersebut masih saja diam.


" Saya mohon maaf Tuan Muda Kecil, saya tidak mengenali anda. " ucap Suster tersebut sungkan karena Raynevandra mengatakan jika dirinya adalah anak Evan.


" Jangan panggil saya Tuan Muda. " potong Raynevandra tak nyaman.


" Maaf, Tuan Muda... Itu sudah menjadi peraturan disini untuk seluruh anggota keluarga Armaya. " jawab Suster.


" Memangnya apa hubungan Rumah Sakit ini dengan keluarga Mommy saya? " tanya Raynevandra yang belum juga paham.


" Rumah Sakit ini adalah Rumah Sakit milik keluarga Armaya. Wajib bagi kami seluruh Staff untuk menghormati Pemikik Rumah Sakit beserta keluarganya. " jelas Suster lagi.


" Astaga! " pekik Raynevandra yang baru sadar ia berada dimana.


" Ya sudah, jadi sekarang tolong Suster katakan Daddy saya kenapa. " tegas Raynevandra.


" Beberapa waktu tadi kami melihat Tuan Muda Evan pingsan di depan UGD. Setelah diperiksa oleh Dokter, ternyata Tuan Muda Evan terkena serangan jantung ringan. Tapi Tuan Muda Evan menolak untuk dirawat. Meskipun serangan jantung ringan tapi juga harus tetap segera dilakukan tindakan agar tidak semakin parah. " jelasnya.


" Dasar keras kepala! " pekik Raynevandra kesal dengan Evan.


" Terima kasih, Sus... Saya permisi. " ucap Raynevandra pamit, keduanya pun langsung bergegas berpisah arah.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


Hiks... Hiks... Hiks...


Setelah sampai di dalam mobil miliknya, Raynevandra duduk termenung disana. Air matanya luruh menderas saking sedari tadi ia menahannya. Ditambah lagi kini ia mengetahui tentang kesehatan Daddynya yang sedang tidak baik - baik saja. Raybevandra semakin merasa bersalah, Raynevandra pun menduga jika serangan jantung ringan yang dialami oleh Evan ada hubungannya dengan kelakuan gilanya yang baru saja diketahui oleh Rayne dan Evan. Raynevandra menangis terisak sendirian... Sekuat tenaga ia menyembunyikan tangis dari mereka yang sedari tadi berada bersamanya. Tapi kini ia sudah tidak kuat lagi untuk membendung tangisnya. Raynevandra paham jika Evan dan Rayne sudah pasti terluka atas kejadian ini. Bagi Raynevandra, menyesal boleh saja karena Raynevandra telah bertindak di luar batas. Tapi Raynevandra juga tak mau larut dalam penyesalannya. Ada Alexandra dan juga janin kecilnya yang saat ini lebih membutuhkan dirinya dengan segudang ketegaran agar Alexandra tidak semakin terpuruk karena sampai saat ini Orang Tua Alexandra pun belum mengetahui perihal kejadian ini.


__ADS_2