
Sore hari ini Zeevanea bersama Anya dan Brian yang tak lain adalah Kekasih Anya tengah berada di sebuah cafe ternama di pusat kota. Ketiganya sengaja bertemu untuk minum kopi bersama di cafe elute tersebut.
" Tunggu, tunggu... Siapa nama lengkap Lo tadi? " ucap Zeevanea bertanya pada Brian karena sebelumnya ketika mengobrol dengan Anya, si Brian sempat mengucap nama lengkapnya, dan nama belakang khas keluarga itu lah yang membuat Zeevanea kian bertanya - tanya.
" Abrizam Farrand Nitinegara. " jawab Brian, Zeevanea nampak menatapnya semakin dalam sembari mengerutkan keningnya.
" Bokap Lo Daddy Dygta apa Uncle Aga? " lanjut Zeevanea bertanya.
" Kok Lo bisa kenal sama Daddy - Daddy Gue? " tanya balik Brian pada Zeevanea.
" Grandma Dina sama Grandpa Wirya, Gue juga kenal kok. Tanya aja sama mereka kalau Lo nggak percaya, pasti mereka inget sama Gue meskipun kita udah lama nggak ketemu. " jawab Zeevanea santai, Brian dan Anya nampak saling bersitatap bingung karena Zeevanea berbicara dengan entengnya jika Zeevanea mengenal keluarga bernama belakang Nitinegara tersebut.
" Mommy Gue dulu sempet deket sama Daddy Dygta... Bahkan mereka berdua udah hampir nikah kalau aja Daddy Gue nggak dateng jemput Mommy Gue ke Paris waktu itu. " jelasnya santai, Anya pun mulai paham dengan arah pembicaraan Zeevanea tapi Brian masih saja terlihat ragu.
" Terus Bokap Lo yang mana sebenernya? Daddy Dygta apa Uncle Aga? " tanya Zeevanea mendesak karena penasaran.
" Daddy Gue yang Lo panggil Uncle Aga... " jawab Brian akhirnya, Zeevanea pun menganggukkan kepalanya sambil menganga.
" Eh, btw... Kenapa usia Lo bisa sepantaran Gue? Sedangkan dulu waktu Gue masih sering ketemu Uncle Aga perasaan Uncle Aga masih belum nikah deh. " tanya Zeevanea lagi antusias.
" Gue bukan anak kandung Daddy Aga, Zee... Kedua Orang Tua Gue meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika akan bepergian ke luar negeri. Akhirnya Daddy Aga ngangkat Gue. Orang Tua Gue masih saudara sama Mommy Gue yang Istrinya Daddy Aga ini. " ucapnya menjelaskan, wajahnya seperti mengenang kepingan kejadian yang dulu selalu dilewatiya bersama sang Kakak serta kedua Orang Tuanya.
" Sorry, sorry, Gue bener - bener nggak tau dan nggak bermaksud untuk nyinggung hal itu. " ucap Zeevanea yang jadi tak enak hati dengan Brian karena mempertanyakan hal tadi.
" Santai aja, Zee... Gue udah ikhlas, kok... Gue tau ini semua adalah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa yang harus Gue lalui. " jawabnya tenang sembari tersenyum.
" Setidaknya sekarang Gue juga bahagia... Daddy dan Mommy Gue sayang sama Gue tulus. " lanjutnya, Zeevanea dan Anya pun mengangguk meski tatapan keduanya berubah sendu.
" Salam sama Uncle Aga ya, Bri... Sama Grandma Grandpa juga. " ucap Zeevanea kemudian, Brian pun mengangguk sembari mengulas senyum.
" Nanti disalamin. " jawab Brian, senyum mereka bertiga kembali bertemu.
Trap... Trap... Trap...
Nampak empat anak Lelaki berseragam SMA dan bersama empat anak Perempuan yang juga sama berseragam SMA memasuki cafe yang sama tempat Zeevanea berada. Meski sebenarnya mereka saling mengenal tapi mereka sama - sama tidak menyadari keberadaan satu sama lain yang sedang berada di tempat yang sama ini.
Trap... Trap... Trap...
" Mau makan apa, Baby? " tanya Raynevandra pada Alexandra.
" Aku pengen rujak buah deh kalau ada... Seger banget kayanya. " ucap Alexandra sambil memegangi lehernya yang tiba - tiba terasa kering dan mendambakan segarnya buah - buahan segar yang dicampur dengan bumbu kacang dengan rasa manis pedas, bayangan membaurnya makanan yang diinginkan begitu sempurna dengan segarnya kunyahan buah potongnya menerobos kerongkongannya.
" Emang disini ada? " tanya balik Raynevandra sembari menatap ke arah Alexandra juga beberapa temannya yang bersamanya ini, teman - temannya hanya menggeleng juga ada yang menggedigkan bahunya karena memang tak tau.
__ADS_1
" Adanya salad buah, Lexa... " ucap Audrey kekasih Brylee yang kebetulan sedang membolak - balikkan buku menu untuk memilih makanan dan minuman yang akan dipesannya.
" Mau salad? " tawar Raynevandra pada Alexandra, Alexandra langsung menggelengkan kepalanya sembari memasang wajah sendunya.
" Di depan tadi kayanya ada Ray... Coba aja Lo lihat. sela Rania, Kekasih Aaron.
" Kok jadi sedih gini... " ucap Raynevandra pelan dan langsung menarik Alexandra ke dalam pelukan hangatnya.
" Aduh mentang - mentang Pacaran baru maen peluk - peluk aja anaknya Mas Evan. " cibir Grace, Kekasih Bradley sambil terkikik, Grace adalah Putri tunggal dari Sahabat lama Evan yaitu Jeffry, tapi Grace tidak satu sekolah dengan Raynevandra dan yang lainnya.
" Lazaco Gue ratain sama tanah baru tau rasa, Lo! Pakai sebut - sebut Daddy Gue. " pekik Raynevandra yang sok emosi ketika Grace menyahutkan nama sang Daddy pada obrolan mereka.
" Lo mau belain, Brad? " lanjut Raynevandra yang berpindah menatap Bradley, Bradley hanya nyengir saja.
" Tunggu aja Heaveris juga bakalan rata sama tanah kalau ambruk kena gempa. " lanjutnya sok kesal dengan wajah menjengkelkannya seperti Evan.
" Hahaha... " mereka semua tertawa, Raynevandra dan Alexandra pun ikut tertawa karena candaan Raynevandra.
" Tinggian juga Kalandra, pasti Kalandra dulu yang bakalan rata sama tanah kalau kena gempa. " sahut Aaron sambil terbahak, benar adanya jikalau Kalandra Group memang paling besar dibandingkan dengan Perusahaan milik para Sahabat Evan, merka semua kembali tertawa bersama.
" Hahaha... " suara tawa mereka menggema seketika.
Tanpa mereka semua ketahui, kini Evan dan gank lawasnya sedang berjalan masuk ke dalam cafe yang sama dengan cafe yang dihuni oleh anak - anak tersebut.
Trap... Trap... Trap...
" Aaron! " lanjut Axelle menirukan Ben.
" Grace! " lanjut Jeffry yang juga mengikuti ucapan mereka sebelumnya.
" Raynevandra Gamyara Kalandra! " pekik Evam pelan penuh penekanan, ikut - ikutan juga.
" Dadd, Dadd... Aaron mau ratain Kalandra sama tanah katanya. " celetuk Raynevandra mengadu pada Evan yang baru saja menyebutkan nama lengkapnya.
" Eh, buset! Mulut Lo pinter banget muter balikin fakta. " ucap Grace tak terima.
" Mulut Lo tuh yang asal ngomong duluan mau ratain Lazaco sama Heaveris. " lanjut Grace.
" Kan Gue tadi bilang kalau ada gempa. " ralat Raynevandra tak mau kalah.
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
" Bukannya pada cium tangan malah nyerocos nggak berhenti. " ucap Teo dan langsung menimpuk kepala kelima remaja anak - anak Sahabatnya ini, yang terakhir mendarat di kepala Raynevandra, Raynevandra pun langsung melepaskan genggaman tangannya pada Alexandra dan langsung menghampiri Daddynya, Evan diam saja sedari tadi karena ia sedang menatap kedua tangan remaja yang bertaut itu, anak - anak yang lain pun turut berdiri kemudian berbaris untuk salim.
Cup...
Raynevandra paling duluan salim kepada Daddynya kemudian mengecup singkat bibir Daddynya seperti biasanya. Selanjutnya hal yang sama pun dilakukan juga oleh teman - temannya. Teman - teman Raynevandra nampak menahan tawanya ketika melihat Raynevandra mengecup bibir Daddynya. Mereka tak berani tertawa karena ada Evan disana. Ben dan Axelle sudah saling kenal dengan Kekasih sang anak, hanya Evan saja yang belum kenal dengan Kekasih Raynevandra meski sebelumnya sudah pernah bertemu di ruang Kepala Sekolah.
" Papi sama Uncle semua kaya anak muda aja pakai ngumpul di cafe... " celetuk Grace dengan santainya sembari menatap Jeffry juga gerombolannya secara bergantian.
" Kalau ngumpulnya di tempat arisan ya Mamimu jadinya... " jawab Jeffry sambil terkikik, Grace pun langsung nyengir.
" Kan bisa ngumpul di club, Uncle... " sela Brylee dengan santainya.
" Anak club ini ceritanya... " sahut Teo sembari tersenyum jahil dan langsung menatap Evan dan Raynevandra bergantian.
" Kalau aku sih bukan anak club, tapi anaknya yang punya club... " ucap Raynevandra dengan santainya, wajahnya terlihat angkuh menjengkelkan seperti wajah Evan biasanya.
" Hahaha... pinter jawab juga kembaran Gue. " ucap Evan sambil ngakak.
" Pinter lah... Anak siapa dulu dong... " ucap Raynevandra pongah.
" Buset! Bapak sama anak sama - sama congkaknya. " ucap Teo sambil geleng kepala, yang lainnya jadi tertawa.
" Ya sudah, lanjut acara kalian. " ucap Evan santai, anak - anak ini pun mengangguk senang.
" Tagihan kita ini bayarin juga ya, Dadd... " ucap Raynevandra.
" Iya. " jawab Evan.
" Tumben Lo punya duit mau bayarin semuanya. " ucap Dante membuka suara, menggoda Evan.
" Tuh... Sugar Baby Gue yang bakalan bayar tagihan kita. " ucap Evan sambil terkikik dan menoleh ke arah Zeevanea yang masih duduk bersama Anya dan Brian.
" Hahaha... " mereka tertawa bersama mendengar Evan menyebut Zeevanea Sugar Babynya.
" Dasar Bapak Durhaka! " pekik Teo kemudian beranjak mencari tempat duduk kosong di sebelah, diikuti oleh Bapak - Bapak yang lain.
" Sebelum Maghrib sudah harus di rumah, Ray. " ucap Evan sembari melangkah.
" Siap, Dadd... " jawab Raynevandra mengangkat tangannya hormat.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1