Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 107 - Air Mata Sandra


__ADS_3

" Lo punya utang penjelasan sama kita semua! " ucap Galang pada Teo yang masih saja terlihat murka meski Evan sudah pergi dari sana, Teo tetap diam tak menjawab ucapan Galang.


" Ayo bubar, kita harus siap - siap. " ucap Galang lagi kepada gerombolan besarnya itu kemudian beranjak beriringan bersama para Sahabatnya, meninggalkan Teo yang masih mendiam penuh amarah.


Trap... Trap... Trap...


" Papa... " ucap Selingkuhan Teo yang langsung menghampiri dan memeluk Teo mesra saat gerombolan itu baru saja beranjak.


" Aku harus pergi. " ucap Teo tergesa - gesa dan langsung menghempaskan tanga Selingkuhan yang ternyata sudah dinikahinya ini, tapi Peremuan ini pun langsung sigap menahan tangan Teo agar Teo juga tidak meninggalkannya.


" Stop! " hardiknya menahan Teo.


" Aku butuh kamu, Baby kita nggak bisa jauh dari kamu! " hardiknya lagi terus berusaha menahan Teo agar tidak pergi menemui Maura dan Sandra.


" Ku harap kamu tau akan batasanmu! " tegas Teo dingin kemudian langsung beranjak setelah menghempaskan pelan tangan si Selingkuhan.


Trap... Trap... Trap...


" Haiiii... " ucap Nadine dan Moza heboh kala jalan yang mereka lewati menuju kamar sedang berdiri sosok Dygta dan Istrinya disana, anggota gerombolan yang tidak mengenal Dygta tetap berjalan menuju kamar.


" Hai... " balas Dygta dan langsung berpelukan dengan Moza terlebih dahulu, Istri Dygta hanya tersenyum menyapa yang menghampiri Dygta.


" Kangen banget... Berapa tahun kita nggak ketemu? " ucap Nadine manja kala kini gilirannya berpelukan dengan Dygta, Moza pun langsung berpindah menyapa Kinan, Istri Dygta.


" Lama banget... Stephen sama Vava aja udah segede itu, padahal dulu pada masih TK. " jawab Dygta sambil tersenyum, Nadine pun ikut tersenyum bersama Moza juga, tapi Dante dan Gavin hanya diam saja, Gavin adalah nama Suami Moza.


" Emang Lo udah ketemu Zee sama Steve? " tanya Nadine antusias, Dygta pun mengangguk.


" Udah... Ketemu di Jakarta beberapa minggu lalu. " jawab Dygta jujur.


" Eh kok nggak ada cerita Zee sama Gue... " sahut Moza.


" Siapa Elo! " ucap Nadine sok sewot padahal hanya bercanda, Dygta langsung terkikik, sudah lama sekali ia tidak melihat Moza dan Nadine ribut, Moza pun langsung nyengir.


" Apa kabar Pak Dante? " tanya Dygta menyapa Dante yang berdiri di samping Gavin sembari menjulurkan tangan untuk bersalaman.


" Baik. " jawab Dante pendek dan hanya membalas singkat jabat tangan Dygta.

__ADS_1


" Suaminya Moza? " lanjut Dygta bertanya pada Gavin sambil menjulurkan tangannya, Gavin pun mengangguk kemudian membalas juluran tangan jabat tangan Dygta.


" Gavin... " ucapnya memperkenalkan diri.


" Saya Dygta. " jawab Dygta sambil tersenyum, Gavin pun mengangguk dan tersenyum sekilas.


" Oiya kenalin Istri Gue, namanya Kinan... " ucap Dygta kembali berpindah pada Nadine dan Moza, ketiga Perempuan ini nampak saling melempar senyum, dan mereka pun beekenalan dangan Kinan, Dante dan Gavin juga nampak saling berjabat tangan.


" Ayo, Baby... Kita harus siap - siap. " potong Dante mengajak Nadine pergi, Nadine yang semula santai jadi kikuk terhadap Dygta dan Kinan, begitupun Moza yang langsung melirik sengit pada Dante.


" Kita duluan, ya... " pamit Nadine akhirnya, Dygta dan Kinan pun tersenyum, Nadine dan Moza beserta para Suaminya pun langsung beranjak, Dygta dan Kinan pun melanjutkan tujuannya.


Trap... Trap... Trap...


Setelah terjadinya pertikaian besar tadi, mereka semua pun membubarkan diri dan mulai mempersiapkan diri masing - masing untuk menghadiri undangan dari Sandra yang akan berlangsung malam ini. Teo juga terlihat berdebat dengan Selingkuhannya setelah tadi ia ribut dengan Evan. Dan kini, Teo malah berada di dalam kamar yang ditempati oleh Sandra dan Maura.


Trap... Trap... Trap...


" Ayo dirias dulu, Sayang... MUA kita sudah datang... " ucap Sandra lembut kepada Putrinya, Maura yang sudah selesai mandi sejak tadi itu nampak berbaring di ranjang dipeluk oleh Teo dari belakang meski keduanya sama sekali tidak ada yang berucap, Maura langsung bergerak setelah Mamanya memanggil tapi Teo malah mengeratkan rangkulannya.


" Lepas, O! MUA sudah datang. " ucap Sandra datar kepada Teo, tak ada lagi panggilan Sayang ataupun Papa yang terucap dari bibir Sandra untuk Pria yang masih berstatus Suaminya ini, Teo pun pasrah dan langsung melepaskan Putrinya, dan Maura pun langsung mengikuti langkah sang Mama, dan Teo pun langsung beranjak membersihkan diri di kamar mandi di dalam kamar Sandra dan Maura.


Trap... Trap... Trap...


Trap... Trap... Trap...


" Bajuku mana? " tanya Teo pada Sandra sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil di tangannya.


" Aku tidak membawakan pakaian untukmu. " jawab Sandra tenang dan tetap melakukan kegiatannya, Teo pun tak mau memperpanjang perkara, ia langsung kembali ke kamar mandi dan mengenakan lagi pakaiannya semula dan kembali menghampiri Sandra yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.


Trap... Trap... Trap...


" Ma... " panggil Teo pelan, Sandra tak menyahut, ia tetap menunduk menatap dengan serius pada layar ponselnya.


" Mama... " panggil Teo lagi dengan nada sedikit kencang, karena Sandra tak menyahut dan tetap mengabaikannya, Teo pun langsung menyahut ponsel Sandra dan membaca pesan yang sedang dibaca oleh Sandra, Sandra menatap Teo yang sedang memeriksa ponselnya.


" Aku ganti baju dulu. " ucap Teo kemudian memberikan ponsel Sandra kembali dan langsung beranjak keluar.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


Hiks... Hiks... Hiks...


Sepeninggal Teo dari kamarnya, Sandra pun langsung terduduk pilu di lantai kamarnya. Air matanya tumpah seketika. Ia yang semula pergi dari kerumunan untuk menumpahkan tangisnya nyatanya tetap harus bersikap kuat di depan Putri semata wayangnya. Dan kini, tumpahlah sudah air matanya...


Hiks... Hiks... Hiks...


" Kenapa semuanya berakhir menyakitkan seperti ini, Ya Tuhan... " lirih Sandra disela derai tangis kehancurannya.


" Apa salahku sehingga Suami yang selama ini selalu bersikap manis itu kini tega menduakanku??? " tanyanya sendiri.


" Maafkan Mama, Maura Sayang... Mama terpaksa harus mengambil keputusan yang sulit ini. " lanjutnya kian terisak memikirkan kesedihan mendalam yang juga dirasakan oleh Putri Semata Wayangnya, apa lagi jika nanti Maura sudah mengetahui jikalau Evan tidak akan merestui hubungan Maura dan Stevano ke jenjang pernikahan.


Seiring berjalannya waktu, Sandra pun masih terisak di dalam kamar Resort yang ditempatinya. Ia menunmpahkan segala kesedihannya dengan deraian tangis air mata yang tumpah ruah yang selama ini ditahannya. Sementara semua Sahabat Sandra dan Teo yang hadir disana pun kini nampak sedang mempersiapkan diri di kamar yang ditempati masing - masing. Tapi sepasang Kakak beradik ini nampak maaih duduk berdua di salah satu sudut balkon yang berada di area Lux Resort ini.


" Lo kenapa lagi, sih? " tanya Aga malas, ia mendapati sang Kakak yang tiba - tiba terlihat berbeda kala mereka sekeluarga berkumpul, Aga pun mengajak Kakaknya ini untuk berbicara di tempat yang terpisah dari keluarga mereka.


" Queen hamil... " lirihnya dan menatap sendu kepada Aga, Aga langsung memelototkan matanya, tidak menyangka karena hal ini lah yang membuat Lingga Pradygta Nitinegara tiba - tiba mendiam.


" Lo jangan mulai lagi, ah! " pekik Aga frustasi sambil meremas rambutnya.


" Queen udah bahagia sama Evan! Kalaupun sekarang Queen hamil lagi itu juga harusnya Lo seneng karena Queen hidup bahagia. " lanjut Aga dengan nada suara meninggi.


" Kalau Lo bener - bener sayang sama Queen, harusnya Lo seneng sekarang Queen hidup bahagia meskipun itu bukan sama Lo! " tegas Aga sambil menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan sang Kakak yang tetap saja tak bisa menahan perasaannya untuk Rayne.


" Lepasin perasaan Lo sama Queen, Kak... Coba resapi ketulusan cinta Kak Kinan... " lirih Aga mencoba menyadarkan sang Kakak.


" Kalau saja waktu itu kami tidak bertengkar pasti anak kami sudah besar, Ga... Dan Evan pasti tidak akan pernah bisa lagi memiliki Queen. " lirih Dygta dengan mata berkaca - kaca.


" Astaga, Kakak! Selalu aja Lo ungkit soal ini! " jawab Aga jengah.


" Move on! " teriak Aga frustasi, Dygta masih saja menatapnya dengan mata berkaca - kaca.


" Kalaupun bisa pasti Gue udah move on sejak lama. " jawab Dygta sambil tersenyum miris juga langsung mengusap kasar air matanya yang baru saja menetes.


" Lalu selama ini Lo anggap Kak Kinan apa, Kak? " tanya tegas Aga penuh kefrustasian.

__ADS_1


" Kalau Lo nggak pernah bisa mencintai Kak Kinan, kenapa sampai ada Joana? " tanya Aga yang tak habis pikir dengan sang Kakak.


" Setiap Gue ngelakuin itu sama Kinan, wajah Queen lah yang seolah ada di hadapan Gue... Queen tetap yang terbaik buat Gue. " jawabnya pelan sambil mendongak untuk menahan air mata yang akan jatuh.


__ADS_2