
Hiks... Hiks... Hiks...
" Makan dulu ya, Sayang... Abis itu minum obatnya biar lekas pulih. " ucap Sandra pelan, beberapa saat lalu Stevano sudah berhasil menemukan keberadaan Maura dan Mama Sandra yang sudah menunggu kedatangannya di ruang UGD, dan setelah berbincang sejenak dengan Mama dari Kekasihnya itu dan mengetahui apa yang menjadi penyebab dari jatuh sakitnya Maura, Stevano pun kini sudah berada di samping sang Kekasih hati yang sudah tidak pingsan lagi.
" Aku nggak mau, Ma... Perutku sangat sakit... " lirih Maura yang masih terus menolak meski sedari tadi Sandra terus berusaha untuk membujuknya.
" Kalau kamu nggak mau makan dan nggak minum obat pasti akan semakin sakit lagi, Sayang... " sahut Sandra dan terus saja berusaha membujuk Maura agar Maura bersedia untuk segera mengisi perutnya.
" Pertahankan kalau memang dia milikku... Jangan pernah coba - coba berniat untuk melukainya sedikit pun. " ucap Stevano menyela obrolan genting Sandra dan Maura, Ibu dan Anak itu pun langsung terbungkam setelah mendengar penuturan tegas yang keluar dari mulut Stevano.
" Aku tetap menginginkannya meski mungkin kamu tidak menginginkannya. " tukasnya tegas.
" Aku bukan Pengecut yang akan lari dari begitu saja dari tanggung jawab yang sudah seharusnya aku lakukan! " imbuhnya penuh ketegasan dengan guratan lara yang begitu terlihat jelas pada raut wajahnya.
" Meski kamu sudah tak lagi menginginkan aku... Aku tetap menginginkannya. " tukasnya tegas kemudian langsung melangkah pergi dari ruang UGD tersebut.
Trap... Trap... Trap...
Jika sebelumnya Stevano juga mencoba menentang Evan atas hubungannya dengan Maura yang juga tak mendapat restu karena Evan berucap jika tidak bisa melangkahi Teo sebagai Ayah kandung sekaligus pemegang keputusan dan hak tertinggi atas Maura, maka kali ini situasinya nampak berbeda meski nanti pada akhirnya keputusan Evan pun sepertinya akan tetap sama untuk mendepak Stevano seperti yang dilakukan Evan kepada Raynevandra jikalau benar Stevano tetap bertumpu pada hasil keputusan negoisasi-nya dengan Evan. Tetapi berbeda dengan saat - saat sebelumnya ketika Stevano mengucap negosiasi-nya itu kepada Evan secara tegas, kini Stevano nampak kalut untuk merasajan akan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadanya saat ini. Ditambah dengan kondisi Evan yang masih kritis ini membuat Stevano merasa kian gontai untuk menghadapi masalah baru ini.
Flashback On :
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
" Mama! Gimana Maura, Ma? " tanya Stevano dengan panik yang sudah berhasil menghampiri Sandra, Sandra memang berniat menunggu Stevano di depan UGD sebelum membawa Stevano masuk ke dalam UGD untuk menemui Putrinya.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Maura, Kak... Maura... " lirih Sandra berucap dengan sesenggukan dan air mata menderas tentunya.
" Maura kenapa, Ma? Kenapa sampai dibawa ke Rumah Sakit? " tanya Stevano semakin panik karena Sandra langsung menangis di hadapannya.
" Sejak beberapa hari lalu Maura muntah - muntah berkali - kali. Dan tadi, saat Maura sedang berlari ke kamar mandi untuk kesekian kalinya Maura kepleset dan jatuh di kamar mandi. " jawab Sandra menjelaskan kejadiannya secara perlahan, Stevano mendengarkan dalam diam dengan seksama juga dengan kekhawatiran yang terus melanda.
" Sebelumnya Mama dan Maura mengira jika Maura hanya masuk angin saja. Kemudian tadi, Maura terjatuh dan pendarahan, Kak... " lanjutnya dan menatap Stevano kian dalam, Stevano diam tapi bingung dengan maksud Sandra, keningnya pun nampak mengernyit, Sandra yang notabene-nya adalah seorang Dokter seolah merasa gagal dan malu atas profesi lamanya itu karena sama sekali tak menduga akan adanya hal lain dalam keadaan Putrinya.
" Maura hamil, Kak... " lirih Sandra dengan tatapan kian dalam kepada Stevano.
" Apa??? " pekikan teriakan Stevano pun menggema saking terkejutnya dengan ucapan Sandra kali ini, Sandra kian berlinang air mata saat wajah Stevano terlihat emosi, padahal sebenarnya Stevano merasa sangat terkejut, Stevano semakin terlihat gusar, diremasnya kasar rambut hitam legamnya di hadapan Sandra.
" Kakak... " lirih Sandra memanggil Stevano, wajah Stevano sudah mulai berubah pucat pasi, Stevano langsung menoleh menatap Sandra.
" Apa Cucu Mama ini adalah darah dagingmu? " tanya Sandra pelan dengan berjuta kekhawatiran yang menyeruak di dalam dada setelah melihat ekspresi wajah Stevano yang nampak tidak bersahabat, jujur saja Sandra takut jikalau Ayah dari janin yang dikandung Putrinya itu bukanlah Stevano makanya Stevano sampai seperti itu, di sisi lain Sandra juga berpikir bahwa Stevano tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya yang menjadikan Maura sampai hamil di luar nikah seperti ini, Stevano yang mendapatkan pertanyaan mengejutkan itu pun langsung terlihat menghela nafas berat seberat beban hidupnya saat ini, Sandra kian was - was karena Stevano tak kunjung berucap menjawab, hanya diam datar dengan tatapan menerawang ke depan.
__ADS_1
" Jikalau Maura memang benar tidak pernah disentuh oleh Pria lain selain aku... " jawab Stevano menggantung, wajah Sandra semakin terlihat panik tak karuan.
" Bisa jadi janin itu adalah darah dagingku. " tukasnya menjawab pertanyaan Sandra dengan pengakuannya meski nampak tersirat keraguan yang terlihat tipis saja, memang tak dapat dipungkiri jikalau seringkali Stevano dan Maura menghabiskan hari bersama di atas ranjang hotel yang mereka sewa.
" Apa maksudmu, Stevano? " tanya balik Sandra penuh ketegasan setelah mulai tersadar akan ucapan Stevano yang mengatakan jikalau Maura tidak pernah disentuh oleh Pria lain.
" Mama tanyakan sendiri saja kepada Maura... " jawab Stevano datar, hancur hati Sandra mendengar jawaban Stevano yang tak bersemangat.
" Maura yang lebih berhak menjelaskan semuanya kepada Mama. " lanjut Stevano tetap dengan kedatarannya.
" Dan kalaupun janin itu memang darah dagingku... Aku pasti akan mempertanggung jawabkannya karena itu adalah kuwajibanku sebagai Ayahnya. " tukasnya penuh ketegasan.
" Mama masih nggak ngerti apa maksud kamu ngomong kaya gini, Kak... " ucap Sandra yang memang masih bingung dengan maksud dari ucapan Stevano, gemuruh di dalam dada Sandra kian menyeruak tak karuan.
" Aku sangat mencintai Maura, Ma... Aku juga tak hentinya berjuang meski Daddy tak mau menerima pernikahan kami nantinya kalau memang Papa masih dengan keputusannya. " jawab Stevano yang mulai menjelaskan.
" Mungkin Maura menyerah... Terbukti dengan adanya orang ketiga yang baru - baru ini hadir diantara kami berdua... " lanjutnya dengan tatapan sendu menyayat hati, kepala Sandra bagaikan tertumpuk batu besar, kepala Sandra langsung terasa berat setelah mendengar penjelasan Stevano.
" Maksud kamu Maura selingkuh? " tanya Sandra to the point, tak sabar akan ucapan Stevano yang dinilai bertele - tele, padahal maksud Stevano hanya untuk menjelaskan terlebih dahulu.
" Aku tidak berhak menjawab pertanyaan Mama. " jawab Stevano datar sedatar datarnya, Sandra yang panik itu pun kian merasa frustasi, sangat tidak menyangka jikalau Putrinya sampai berani menyelingkuhi Pria sebaik Stevano, kepala Sandra semakin berdenyut pusing kala membayangkan Putrinya melemparkan dirinya kepada Pria lain selain Stevano yang sangat bertanggung jawab bahkan bersedia menentang Evan Ayahnya sendiri demi memperistri Putrinya, ditambah lagi ia juga jelas memikirkan bagaiman hancurnya perasaan Stevano saat ini.
__ADS_1
Flashback Off :