
" Kalau begitu kami sekeluarga mohon pamit... " ucap Aga yang kali ini benar - benar merasa sungkan dengan keluarga Armaya, para Orang Tua nampak mengangguk tetapi Richie masih nampak menatap keluar.
" Kami juga mohon maaf karena tanpa sengaja telah menodai kesakralan acara pertunangan Brian dan Anya dengan terjadinya keributan ini. " timpal Dygta ikut bicara karena Nicholas lah yang menyebabkan kericuhan ini.
" Begitulah Evan... Kalian semua juga sudah tau akan perangai Menantu kesayangan saya itu. " ucap Ayah Rudi santai tapi terlihat sangat angkuh sama seperti lagak dari Menantu kesayangannya.
" Kamu benar - benar mencintai Cucu Kakek? " tanya Rudiansyah Armaya sembari menatap tegas kepada Nicholas yang matanya juga sudah terlihat berkaca - kaca karena tak tega melihat keadaan Zeevanea yang masih terus saja menangis, Ayah Rudi merasa perlu untuk mengambil alih pembicaraan ini agar tidak semakin berlarut - larut jika tidak segera diselesaikan.
" Saya mencintai Zeevanea, Kek... Saya bersungguh - sungguh dengan hubungan ini. Saya benar - benar serius ingin menjadikan Cucu Kakek sebagai Istri saya. " jelas Nicholas dengan penuh ketegasan.
" Kamu nggak kepingin ngomong apa - apa sama Kakek? " ucap Ayah Rudi bertanya kepada Zeevanea, Zeevanea langsung beringsut dari pelukan Nicholas dan masuk ke dalam pelukan Kakeknya, sementara jawaban dan raut wajah Nicholas dirasanya sudah cukup menjawab pertanyaannya.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Zee juga sayang Nicky, Kek... Zee takut sama Daddy. " adu Zeevanea kepada Kakeknya dan langsung menangis terisak dalam pelukan Kakeknya, Rudiansyah Armaya langsung menghela nafas berat.
" Apakah sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan ini kamu sudah memikirkan resikonya, hmmm? " tanya balik Ayah Rudi sambil mengusap lembut kepala Zeevanea, Zeevanea pun mengangguk perlahan.
" Kakek, Grandpa, Papici, Papi Eric, serta Eyangmu yang sudah tua renta itu pun tak akan ada yang bisa membujuk Daddy-mu. Bahkan Oma-mu yang melahirkan Daddy-mu pun tidak akan bisa merubah keputusan Daddy-mu. Kamu pasti tau itu. " ucap Ayah Rudi lagi, Zeevanea hanya diam mendengarkan meski tetap saja menangis.
" Dan kali ini juga, bujuk rayu Mommy-mu pun pasti tidak akan mempan meski Daddy-mu itu bucin setengah mati kepada Mommy-mu karena kesalahan itu berasal dari Mommy-mu. " lanjutnya.
" Kakek berbicara seperti ini karena Kakek tidak akan berpihak kepadamu ataupun kepada Daddy-mu... Kalian sama - sama kesayangan Kakek. Jadi berjuanglah... " imbuhnya tegas, meski ucapannya terkesan sadis tetapi jika dipikir lagi memang ada benarnya.
" Bukan maksud Kakek atau yang lain tidak mau membantu kalian, tapi kalian berdua pasti sudah tau kalau tidak akan ada seorang pun disini yang bisa membantu kalian selain diri kalian sendiri. " tukasnya tegas sambil menatap Zeevanea dan Nicholas bergantian.
" Terima kasih, Kek... Nicky akan terus berjuang bersama Zeevanea. " ucap Nicholas dan langsung ikut memeluk Rudiansyah Armaya, Kakek yang masih terlihat gahar ini pun mengangguk kemudian menepuk - nepuk bahu Nicholas.
__ADS_1
Hiks... Hiks... Hiks...
" Ayo, Bang... Kamu sudah harus berangkat ke Airport. " ucap Aga mengingatkan Nicholas yang memang akan segera bertolak ke Jepang.
" Nicky pamit, Kek... Nicky titip Zee... " ucapnya berpamitan kepada Rudiansyah Armaya, yang dipamiti pun langsung mengangguk.
" Setelah musim balap ini usai Nicky janji akan menemui Om Evan lagi. " lanjutnya, Rudiansyah Armaya pun kembali mengangguk lagi.
" Aku berangkat, Sayang... " ucapnya berpindah kepada Zeevanea dan langsung memeluk Zeevanea mesra plus erat di depan banyaknya mata keluarga yang memandang, air mata Nicholas pun akhirnya jatuh juga meski sedari tadi ia sudah berusaha menahannya, Zeevanea hanya mengangguk dan kembali terisak hebat.
" Maafin aku yang terpaksa harus pergi di saat situasi masih memanas seperti ini. " lanjutnya menjelaskan rasa penyesalannya karena terpaksa meninggalkan Zeevanea, Zeevanea hanya menangis, ia seolah tak bisa lagi berkata - kata.
" Udah... Kasihan Nico kalau kamu terus nangis gini. Nico pasti tambah berat ninggal kamunya. " ucap Stevano yang langsung mengambil alih Zeevanea dari pelukan Nicholas, Zeevanea tak menjawab malah menangis semakin kencang dalam pelukan Saudara kembarnya itu.
" Kamu jangan merasa sendirian, hubungan Kakak dan Maura juga belum mendapatkan restu dari Daddy... Kita berdua sama. " lanjutnya yang mencoba menenangkan Zeevanea, Zeevanea tetap saja masih menangis sesenggukan.
" Papi tau ini berat... Papi akan bantu bujuk Daddy meskipun hasilnya banyak nihilnya. Tapi setidaknya kita semua akan mencoba membantu untuk membujuk Daddy-mu. " ucap Eric menyela dan berpindah memeluk Zeevanea.
" Terima kasih, Papi... " ucap Zeevanea yang baru kali ini berucap meski dengan sesenggukan, Eric tersenyum teduh sambil mengusap lembut kepala Zeevanea.
" Stop nangisnya, anter Nico ke depan dulu... Kasihan nanti kalau ketinggalan pesawat. " ucap Eric lagi, Zeevanea pun mengangguk kemudian langsung bergegas ikut keluar rumah dengan anggota keluarga Armaya yang lain yang juga turut mengantar calon keluarga Besannya keluar dari dalam ruang tamu.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Maafin Papih ya, Princess... Papih juga akan coba buat ngomong sama Daddy-mu. " ucap Dygta yang yang ikut merangkul Zeevanea bersama Nicholas juga saat mereka semua beranjak keluar, Zeevanea hanya diam sembari terus menangis meski tidak separah tadi.
__ADS_1
" Mau ikut? " tawar Nicholas tiba - tiba saat mereka semua tiba di teras depan.
" Jangan. Biar Zeevanea disini berusaha memperbaiki hubungannya dulu dengan Daddy-nya. " sela Aga menjawab, Nicholas langsung memeluk erat Zeevanea, keduanya terlihat sama - sama menitikkan air mata, tangis Zeevanea pun kembali menderas.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Aku berangkat, ya... Jangan nangis lagi. Aku bakalan makin nggak tega ninggalin kamu kalau kamu sedih gini meski aku juga sedih. " ucap Nicholas sambil menangis juga, semakin tak tega meninggalkan Zeevanea, keduanya saling berhadapan dan bersitatap dengan sama - sama mengusap air mata Pasangannya.
" Jangan ditinggal dulu kalau memang memungkinkan. " sela Dygta tak tega melihat keadaan keduanya yang sama - sama terlihat sangat bersedih.
" Kalau seandainya memungkinkan, aku pasti akan tinggal lebih lama lagi, Pih... Jujur aku juga nggak tega ninggalin Zeevanea sendirian disini apalagi dengan keadaan seperti ini. " lirih Nicholas tanpa menatap Dygta dan tetap saling bersitatap dengan Nicholas.
" Tinggal saja. Zee pasti baik - baik saja. Zeevanea tidak sendirian disini. " potong Ayah Rudi dan langsung menarik Zeevanea, kemudian Ayah Rudi memeluk Zeevanea.
" Berani berseteru dengan Evan haruslah siap dengan segala konsekuensinya. " lanjutnya sambil menatap dalam kepada Nicholas yang berdiri di hadapannya, Dygta dan Aga nampak menghela nafas berat merasa kasihan dengan Nicholas dan Zeevanea.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Aku tinggal, ya... " ucap Nicholas lagi kepada Zeevanea, Zeevanea beringsut dari pelukan Kakeknya dan kembali memeluk Nicholas, air mata itu pun kembali tumpah, orang - orang disana pun nampak dibuat terharu dengan adegan mengharukan ini.
" Kamu pasti kembali kesini, kan? " tanya balik Zeevanea dengan sesenggukan dan menangis histeris.
" Aku pasti balik lagi kesini buat kamu... Aku nggak akan janji sama kamu, nanti aku akan buktikan. " tegas Nicholas yang sejujurnya masih merasa berat.
" Aku sayang kamu... Aku cinta sama kamu. Meski kita harus terpisah jarak dan waktu, tetaplah menemaniku untuk terus berusaha meluluhkan kerasnya hati Om Evan. " ucap Nicholas setelah melihat sekilas jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
" Aku juga sayang kamu... Aku cinta sama kamu. " ucap Zeevanea dengan semakin berderai air mata, sedikit lega rasanya setelah mendengar Zeevanea mengucap kata cinta yang selama ini dinantikannya akhirnya terbalas juga.
__ADS_1
" Kamu ati - ati, ya... Jangan lupa untuk selalu kasih kabar sama aku. " lanjut Zeevanea, Nicholas merasa sedikit tenang melihat Zeevanea yang mulai sedikit tenang meski masih menangis histeris.